NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FONDASI LEMBAH SUNYI

Lembah yang mereka tempati dikenal dalam peta kuno sebagai Lembah Patah Hati, sebuah celah raksasa di jantung Hutan Kematian yang dikelilingi oleh tebing-tebing curam yang seolah membelah langit. Di sini, energi magnetik dari bijih besi purba di dalam tanah mengacaukan navigasi kapal terbang, menjadikannya benteng alami yang sempurna dari kejaran armada Istana Karma.

Kapal logistik yang berkarat itu kini tergeletak miring di tepi sungai jernih yang membelah lembah. Dua ribu pelayan, yang selama ini hanya terbiasa memegang sapu, kuali, dan cangkul, kini duduk berserakan di tanah. Wajah mereka kusam, pakaian mereka compang-camping, dan mata mereka memancarkan kekosongan yang lahir dari trauma.

Feng berdiri di atas sebuah batu besar, menatap massa manusia yang malang ini. Di sampingnya, Xuelan sedang membagikan sisa tanaman obat kepada mereka yang terluka, sementara Guru Lin sibuk mendirikan tenda darurat dari layar kapal yang robek.

"Feng, mereka butuh harapan," bisik Xuelan saat ia mendekat, menyeka keringat di dahinya. "Mereka melihatmu sebagai dewa, tapi mereka sendiri merasa seperti sampah yang dibuang. Jika kita tidak memberi mereka tujuan, lembah ini akan menjadi kuburan massal dalam seminggu."

Feng menatap telapak tangannya. Tato teratai hitam itu masih berdenyut pelan, seolah-olah sedang menghisap sisa-sisa energi dari atmosfer lembah yang kaya akan aura alam.

“Dua ribu beban, Feng,” suara Yue Er menggema di kepalanya, kini terdengar lebih jernih setelah menyerap energi selama pelarian. “Kau ingin membangun sekte? Dengan apa? Tepung gandum dan sapu lidi? Mereka tidak punya akar kultivasi. Mereka adalah 'aset macet' dalam istilah perbankanmu.”

"Maka aku akan melakukan 're-strukturisasi'," jawab Feng dalam batinnya.

Feng menarik napas dalam, lalu suaranya menggelegar menyapu seluruh lembah, diperkuat oleh sedikit otoritas karma yang tersisa.

"Dengarkan aku, semuanya!"

Dua ribu kepala mendongak serentak. Kesunyian instan tercipta.

"Di Puncak Awan Putih, kalian adalah pelayan. Kalian adalah orang-orang yang keberadaannya ditentukan oleh berapa banyak lantai yang kalian pelajari atau berapa banyak obat yang kalian racik untuk para 'Tuan Muda'. Malam ini, Puncak Awan Putih sudah musnah. Dan di mata Istana Karma, kalian tidak lebih dari tumpukan hutang yang harus dihapuskan."

Isak tangis terdengar dari beberapa sudut. Ketakutan kembali merayap.

"Tapi!" Feng menghantamkan kakinya ke batu, menciptakan retakan yang berpendar emas. "Di lembah ini, tidak ada tuan dan tidak ada pelayan. Mulai hari ini, kalian adalah Sekte Tanpa Hutang. Kalian tidak berhutang nyawa pada siapa pun, termasuk padaku. Aku akan memberi kalian kekuatan, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai modal awal yang harus kalian kembangkan sendiri!"

"Tapi Tuan Feng," Zhao, sang mantan asisten, berdiri dengan gemetar. "Kami tidak punya bakat. Meridian kami kaku. Guru-guru di sekte dulu bilang kami adalah limbah..."

"Limbah hanya terjadi jika kau menggunakan cara yang salah," Feng menyeringai, sebuah seringai malas yang mengandung kepercayaan diri yang mengerikan. "Kalian tidak akan berkultivasi seperti penganut Tao biasa yang mengemis energi pada langit. Kalian akan berkultivasi dengan cara Menyita."

Feng mengangkat Kitab Hukum Karma yang kini bermanifestasi sebagai proyeksi cahaya di depannya. Ia mulai menggambar simbol-simbol rumit di udara yang kemudian turun dan hinggap di dahi setiap orang di lembah itu.

"Ini adalah Seni Transmutasi Kolektif," jelas Feng. "Kalian semua terhubung sekarang. Jika satu orang berlatih, sepuluh persen energinya akan dibagikan ke orang di sebelahnya. Jika kalian bekerja sama membangun lembah ini, keringat kalian akan berubah menjadi energi Chi. Semakin keras kalian membangun rumah kalian sendiri, semakin kuat basis kultivasi kalian."

Seketika, orang-orang di lembah itu merasakan kehangatan yang aneh. Rasa lelah yang luar biasa mendadak berkurang, digantikan oleh dorongan untuk bergerak.

Xuelan menatap Feng dengan takjub. "Kau membagi beban karma mereka secara merata? Itu jenius, Feng... tapi itu juga berarti jika satu orang dikhianati, seluruh sistem bisa goyah."

"Itu sebabnya aku butuh kau, Xuelan," Feng memegang tangan gadis itu, matanya menatap dalam. "Aku akan menjadi 'Kepala Bank' yang mengelola modalnya. Tapi aku butuh kau untuk menjadi 'Penegak Hukum'-nya. Ajari mereka teknik pedang es-mu, tapi ubah polanya. Jangan fokus pada serangan, tapi pada pertahanan yang saling mengunci."

Xuelan tersenyum, pipinya sedikit merona namun matanya berkilat penuh tekad. "Aku akan menjadikannya pasukan pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun, bahkan oleh armada Istana Karma."

Malam itu, lembah yang tadinya sunyi menjadi riuh oleh aktivitas. Pohon-pohon ditebang dengan presisi yang dipandu oleh energi Chi baru mereka. Fondasi bangunan mulai didirikan. Guru Lin memimpin tim medis untuk menanam tanaman obat di tanah yang kini telah diberkati oleh energi Feng.

Feng duduk di puncak tebing tertinggi, mengawasi ribuan titik api unggun di bawahnya.

“Kau terlalu baik, Feng,” Yue Er bermanifestasi di sampingnya, mengenakan gaun perak yang melambai ditiup angin malam. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Feng. “Membangun sekte dari nol adalah cara tercepat untuk menarik perhatian Kekaisaran Pusat. Mereka tidak suka ada orang yang menciptakan sistem ekonomi energi yang independen.”

"Aku tahu," jawab Feng pelan. "Itu sebabnya aku harus melakukan satu hal lagi sebelum fajar."

Feng mengeluarkan sisa serpihan Liontin Giok yang ia kumpulkan dari aula alkimia. Ia menggenggamnya erat, lalu menutup matanya.

"Yan Ling... jika kau masih mendengarkan di balik tirai reinkarnasi..." Feng berbisik. "Aku tahu kau meninggalkan satu 'harta karun' terakhir di lembah ini sepuluh ribu tahun lalu. Berikan padaku sekarang sebagai kompensasi atas penderitaanku."

Tiba-tiba, sungai di tengah lembah berhenti mengalir. Airnya mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang menyingkap dasar sungai. Dari sana, sebuah peti mati yang terbuat dari es abadi perlahan naik ke permukaan.

Di dalam peti itu, bukan mayat yang terbaring. Melainkan sebuah Pedang Besar yang terbuat dari emas murni, dengan gagang yang berbentuk timbangan.

Pedang Keseimbangan Agung.

Begitu pedang itu muncul, seluruh energi di Hutan Kematian seolah-olah tunduk.

Namun, di saat yang sama, kapal emas tunggal dari Kekaisaran Pusat yang tadi mengawasi di langit utara, mulai menurunkan jangkar energinya tepat di atas lembah. Seorang pria dengan baju zirah emas yang menyilaukan melompat turun dari kapal, membelah udara seperti meteor.

DUAARRR!

Pria itu mendarat di depan Feng, menciptakan kawah kecil di puncak tebing.

"Tian Feng," pria itu berbicara, suaranya seperti guntur yang diredam. "Aku adalah Jenderal Wei dari Kekaisaran Pusat. Kau baru saja membangkitkan senjata yang telah dilarang oleh Kaisar selama seribu generasi. Serahkan pedang itu, dan aku mungkin akan membiarkan 'sekte pelayan'-mu ini hidup sebagai budak kekaisaran."

Feng berdiri perlahan, memegang gagang Pedang Keseimbangan Agung yang baru saja melayang ke tangannya. Rasa berat dari pedang itu tidak membuatnya lelah; justru ia merasa seolah-olah ia memegang kendali atas seluruh berat dunia.

"Jenderal Wei," Feng menyeringai, rasa kantuknya menghilang sepenuhnya. "Kau tahu apa masalah dengan Kekaisaranmu? Kalian selalu berpikir bahwa semua yang ada di dunia ini adalah aset kalian. Tapi malam ini... aku baru saja mendeklarasikan bahwa lembah ini adalah wilayah yang bebas pajak."

Feng mengangkat pedang emas itu.

"Dan aku benci penagih pajak yang kasar."

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!