NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi itu matahari baru saja menyelinap lewat celah-celah jendela bambu kontrakan mereka. Xiao Han terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena alarm, tapi karena amplop tebal yang masih tergeletak di samping bantal. Lima juta tunai plus transfer lima juta yang sudah masuk ke rekening nya semalam. Total sepuluh juta. Angka itu terasa tidak nyata, seperti mimpi buruk yang berubah jadi berkah.

Dia duduk di lantai, memandang ibunya yang masih tertidur lelap di kasur tipis. Wajah ibunya pucat, bibirnya kering, napasnya pendek-pendek seperti orang yang berjuang menarik udara dari celah sempit. Sudah hampir dua tahun ibunya lumpuh dari pinggang ke bawah setelah kecelakaan motor yang menabraknya saat pulang dari pasar. Dokter bilang ada kerusakan saraf permanen, tapi ada kemungkinan kecil untuk perbaikan jika dilakukan terapi intensif dan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit besar.

Xiao Han menggenggam amplop itu erat-erat. Ini pertama kalinya dia punya uang sebanyak ini sekaligus, dan yang pertama kali terpikir bukan beli motor baru atau bayar cicilan kontrakan setahun di muka, tapi ibunya.

"Xiao Mei," panggilnya pelan ke adiknya yang masih meringkuk di kasur sebelah.

Xiao Mei menggeliat, mata sipitnya terbuka setengah. "Apa, Kak? Masih pagi banget…"

"Kakak mau bawa Ibu ke RS Harapan Jiwa hari ini. Kamu siap-siap sekolah sendiri ya, nanti pulang langsung ke rumah Bu RT kalau Kakak belum balik."

Xiao Mei langsung duduk tegak. "Ke dokter spesialis saraf itu? Beneran, Kak? Uangnya dari mana?"

Xiao Han tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa. "Ada orderan besar kemarin malam. Lumayan. Cukup buat cek up lengkap sama konsultasi."

Adiknya menatapnya curiga, tapi akhirnya mengangguk. Xiao Mei tahu kakaknya jarang bohong, tapi juga tahu kakaknya sering menyembunyikan hal-hal yang berat.

Setelah membantu ibunya mandi dan sarapan bubur instan yang dia tambahi telur satu butir, Xiao Han memesan taksi online, pertama kalinya dalam hidupnya naik mobil online bukan motor sewaan. Sopirnya melirik dua kali melihat ibunya yang dibopong masuk ke jok belakang dengan hati-hati.

"Ke RS Harapan Jiwa ya, Mas?" tanya sopir.

"Iya, Bang. Tolong pelan-pelan."

Perjalanan ke pusat kota terasa panjang. Xiao Han memegang tangan ibunya sepanjang jalan. Ibu hanya diam, matanya menatap keluar jendela, tapi sesekali menekan jari anaknya pelan, tanda terima kasih yang tak pernah diucapkan.

Di rumah sakit, Xiao Han langsung menuju poli saraf. Antrean panjang, tapi dengan uang tunai di tangan, dia memilih jalur VIP. Petugas pendaftaran tersenyum ramah begitu melihat nomor rekening dan transfer yang sudah masuk.

"Untuk Ibu Siti Rahayu, ya? Bisa langsung ke ruang konsultasi dr. Hendra Wijaya. Beliau spesialis saraf terbaik di sini."

Nama Xiao Han dan Xiao Mei di ambil dari nama dan marga mendiang ayahnya, yang bernama Xiao Chan.

Xiao Han mengangguk, hatinya berdebar. Dr. Hendra adalah nama yang sering disebut-sebut di grup WhatsApp pasien lumpuh yang dia ikuti diam-diam. Dokter itu katanya bisa melakukan prosedur minimally invasive yang belum banyak dilakukan di Kota Golden Core, ada harapan kecil, tapi tetap harapan.

Setelah pemeriksaan awal, MRI, EMG, dan serangkaian tes darah yang membuat ibunya lelah, akhirnya mereka duduk berhadapan dengan dr. Hendra di ruang konsultasi.

Dokter pria berusia lima puluhan itu membaca hasil scan dengan tenang, alisnya berkerut sesekali.

"Kerusakan saraf tulang belakangnya cukup parah di segmen L3-L4 dan L4-L5," kata dokter itu pelan. "Tapi ada sinyal positif. Ada sebagian serabut saraf yang masih hidup, meski sangat lemah. Kalau kita lakukan kombinasi terapi sel punca dan stimulasi elektrik intensif selama enam bulan ke depan, ada kemungkinan 30–40% untuk bisa menggerakkan jari kaki atau bahkan lutut."

Xiao Han menahan napas. "Berapa biayanya, Dok?"

Dr. Hendra menatapnya lurus. "Untuk paket lengkap, termasuk rawat inap awal, obat-obatan, dan terapi rutin, sekitar 180–220 juta rupiah. Bisa dicicil, tapi minimal DP 50 juta di awal."

Xiao Han merasa dunia berhenti berputar sesaat. Sepuluh juta yang dia dapat semalam tiba-tiba terasa seperti setetes air di lautan. Tapi setidaknya… ada harapan. Ada angka persentase. Ada kemungkinan.

Ibu menoleh ke arahnya, matanya berkaca-kaca. “Han… sudah, Nak. Kita nggak usah memaksakan. Ibu sudah terima.”

"Jangan bilang gitu, Bu," potong Xiao Han cepat. Suaranya bergetar. "Kakak cari caranya. Pasti bisa."

Dr. Hendra tersenyum tipis. "Saya kasih waktu seminggu untuk memutuskan. Kalau mau lanjut, hubungi saya langsung. Saya akan bantu koordinasi dengan pihak asuransi atau program bantuan kalau ada.”

Mereka pulang dengan taksi online lagi. Sepanjang perjalanan, ibunya memegang tangan Xiao Han erat-erat, tapi tak ada kata yang keluar. Xiao Han menatap keluar jendela, memandang gedung-gedung tinggi Golden Core yang berkilau di bawah matahari siang.

Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sama semalam.

Lin Qing: "Besok malam jam 8. Sama seperti kemarin. Bayaran 15 juta. Kali ini bukan makan malam keluarga. Hanya kita berdua. Datang ke apartemen. Jangan terlambat."

Xiao Han menatap pesan itu lama sekali. Jantungnya berdegup kencang, campur aduk antara takut, jijik pada dirinya sendiri, dan... kelegaan kecil karena ada jalan lain untuk mengumpulkan uang.

Dia mengetik balasan singkat.

Xiao Han: "Siap, Bu Lin. Saya datang."

Dia menekan kirim, lalu mematikan ponsel. Di sampingnya, ibunya tertidur lelap karena kelelahan. Xiao Han menarik selimut tipis menutupi bahu ibunya, lalu menatap ke depan, ke arah kota yang terus bergerak, tak peduli berapa banyak pengorbanan yang harus dia lakukan.

Uang itu dingin. Tapi setidaknya, untuk sementara, bisa membeli harapan.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!