"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN TAMA
BAB 5
PERHATIAN TAMA
Hari – hari berjalan seperti biasanya, hari ini Tama sudah mulai kembali beraktifitas, menjalani kesehariannya di kantor yang masih jadi misteri, lalu bagaimana dengan Alisya?
Wanita cantik berambut ikal itu hanya bisa menunggu kepulangan suaminya.
Bosan ? sudah pasti, Alisya tidak memiliki kegiatan lain selain menunggu Suaminya.
“Non, mau di masakan apa?” Tanya Bi Fatimah dengan sangat lembut, wanita paruh baya ini mungkin seusia dengan ibunya, Alisya begitu menghormati walaupun Fatimah hanya asisten rumah tangga.
“Nanti saja Bi, tunggu Suami aku pulang..”
“Baik Non”
Alisya mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi seseorang yang sangat dekat dengannya, sahabat seperjuangan, begitulah Alisya memanggilnya.
“Halo!”
“Alisya? Ada apa? Kamu baik – baik saja kan?”
“Aku baik Jess,, Posesif banget sih..”
“Loh kamu yang selalu bikin aku cemas, kenapa telepon aku?”
“Kamu sibuk ya?” dengan nada lembut Alisya berbincang dengan sahabatnya itu.
“Aku masih kerja Al.. nanti jam istirahat aku hubungi kamu lagi ya?”
Alisya mengangguk dia mematikan sambungan teleponnya dan kembali ke aktivitas sebelumnya, yaitu menunggu sang suami pulang.
Sedangkan yang di tunggu sedang sibuk di ruangan kerjanya, beberapa hari meliburkan diri membuat pekerjaan Tama menjadi menumpuk.
“Apa ada kabar baik dari Nadia, Sel?”
“Belum ada Tam, Terakhir aku dapat kabar Nadia masih aman..”
Tama menganggukan kepala, beruntung dia memiliki Selin di dalam aktifitas kerjanya, kalau tidak mungkin Sudah pecah kepala lelaki ini.
“Tam.. boleh bicara sebentar?” mendengar ucapan Asistennya Tama langsung mendongakan kepala, dia meninggalkan aktifitasnya dan langsung duduk santai di samping Selin.
“Why?”
“Besok lusa aku izin untuk main ke rumahmu, Tam..”
“mau ngapain?” Tanya Tama masih dengan nada santainya.
“Alisya mengundangku untuk berkunjung, aku tidak mau dia curiga, maka dari itu aku menyetujuinya.”
Tama mengusap dagunya, kenapa Istrinya seperti ingin sekali dekat dengan Selin? Dan itu membuat Tama curiga.
“Boleh saja, datanglah selagi kamu mau, tapi ingat jaga ucapanmu, jangan sampai kamu kelepasan bicara.”
“Kamu meragukanku?” Tama menggeleng dengan sedikit senyum kecilnya.
“Aku tidak bilang begitu, hanya mengingatkan saja..”
“Aku lebih paham atas apa yang aku lakukan dan ucapkan Tama..”
“Good!” Tama mengacak – acak rambut Selin dan meninggalkannya kembali ke meja kerjanya.
“Apa yang di sukai istrimu?”
“Nasi goreng buatanku..” jawab Tama dengan santai.
“Baiklah buatkan sekarang..”
Tama menoleh dengan tatapan elangnya.
“Apa? Kamu baru saja memerintahku Sein?”
“Ya gimana ya? Kan katanya buatan mu? Masa aku suruh pak Yono yang masak?”
Tama menggoyangkan dasinya, sehingga membuatnya sedikit gerah.
“Yang lain saja.. dia suka anggur merah, belikan saja itu..”
“Bir?”
“Buah Bodoh!”
“Loh santai, kenapa kamu marah?”
Tama menggelengkan kepala, jika gilanya kumat Selin memang suka sekali membuat dia marah.
“aku akan menemui Istrimu selepas jam makan siang..”
“Jangan matikan ponselmu..”
Selin mengangguk, dia sangat tau walaupun posisinya hanya Asisten tapi Bosnya ini sangat posesif dengannya.
Jam satu siang dan benar saja Selin datang berkunjung ke kediaman Tama, ada Alisya yang memang menunggu kedatangannya, dan saat melihat kedatangan Selin, Wanita cantik itu langsung tersenyum.
“Hai Sein... Masuk..”
Selin tersenyum kecil, lagi – lagi dia melihat satu pigura besar yang terpampang di luar tamu, foto pernikahan Tama dan juga Alisya, begitu elegan, Tama tersenyum lebar terlihat sekali lelaki itu sangat mencintai wanitanya.
“Aku sangat takut Tam, aku takut kamu tidak bisa tersenyum seperti ini lagi..” Selin membatin, dia memandang lekat gambar besar di depannya itu sampai tepukan pada lengannya begitu mengagetkannya.
“Sein, kenapa bengong?” Selin yang tersadar langsung mengukir senyum di bibirnya.
“Ah tidak Sya, enam tahun aku bekerja dengan Tama tapi baru bertemu kamu sekarang, suamimu banyak sekali cerita tentang kamu..”
“Oh ya? Cerita apa?”
Selin memeluk lekat tubuh kecil Alisya, seakan merasakan kedekatan yang sudah lama terjalin.
“Tama sangat menyayangi kamu Alisya, setiap hari dia bercerita banyak tentangmu, jadi bolehkah aku meminta satu hal padamu?”
Alisya mengangguk dan membalas pelukan erat Selin.
“Katakan saja Sein.”
“Tetaplah di sisi Tama apapun yang terjadi, percayalah dia sangat mencintaimu..”
Terkesan aneh saat Selin membicarakan soal perasaan suaminya, tapi entah mengapa ucapan Selin terdengar sangat tulus, bahkan Alisya merasakan detak jantung Selin berirama keras.
“Terimakasih sudah menemani Mas Tama selama ini Sein, aku tau kamu orang baik, aku juga sangat mempercayai kamu..”
Keduanya berpelukan, tak lama Alisya mengajak Selin untuk bersantai di halaman belakang rumahnya, disanalah Alisya menceritakan semua keluh kesahnya terhadap suaminya itu, salah satunya Alisya tidak boleh mengandung.
“Tama memang sangat posesif padamu, mungkin dia tidak mau kamu kesakitan..”
“Aku mengandung anaknya Sein, bagaimana mungkin aku kesakitan?”
“Saat melahirkan itu sakit Sya.”
Alisya menggelengkan kepala, entahlah alasan Selin sangat tidak tepat.
“Jangan pikirkan apapun, berdoalah semoga Tama berubah pikiran dan mengizinkan kamu mengandung anaknya..
Selesai berkunjung dan berakhir saling cerita akhirnya Selin izin untuk pulang, Gadis itu berpapasan dengan Tama yang juga baru tiba di rumah, senyum nampak di wajah Pria tampan ini.
“Mas sudah pulang?”
“Sudah sayang.” Di kecup lembut kening Alisya sehingga membuat Selin membuang pandangannya, Gadis itu lantas tersenyum.
“Tam, aku izin pulang, mungkin besok aku akan datang lebih awal untuk mengecek pekerjaanmu hari ini..”
“Lakukan Sein..”
Setelah berpamitan Selin meninggalkan kediaman Tama, lelaki berparas tampan itu seketika mengubah mimik wajahnya dengan penuh kelembutan.
“Ngapain saja hari ini sayang?”
“Aku banyak ngobrol sama Selin Mas, ternyata Selin itu anaknya asik yaa..”
Tama menganggukan kepala dengan tersenyum dia sangat paham bagaimana sifat dan karakter seorang Selin.
Cup.
“Mas.. kamu belum mandi..”
“Memangnya badanku bau?” jawab Tama masih dengan nada lembutnya.
“Tidak Mas, hanya saja mas harus mandi dulu biar seger badannya, aku siapkan air hangat ya?”
Tama kembali mengangguk, memiliki Alisya dalam hidupnya sudah membuat Tama sangat bahagia, bahkan secapek dan selelahnya Tama tak akan dia rasakan jika sudah dekat dengan sang Istri.
Kedua mata elang itu tak lepas menatap kepergian Istrinya untuk menyiapkan air hangat, namun tangan kanan Tama bergerak mencari sesuatu pada ponselnya.
“Halo Tam?”
“Sein, kamu pulang sendiri?” rupanya yang di hubungi Tama adalah Selin, gadis itu menjawabnya dengan nada pelan.
“Aku naik Taxi Online Tam, mobil aku tinggalkan di kantor..”
“Are you Oke?”
“Oke Tam,, jaga Alisya dengan baik..”
“Iya Sein, besok pagi berangkat sama aku ya, aku akan jemput ke Apartemen kamu..”
“Iya Tam..”
Entah apa maksud perhatian Tama pada Selin tapi yang pasti Selin sangat tidak pantas di curigai memiliki perasaan pada Bosnya, dia sangatlah Profesional dalam bekerja.
Huft..
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya