NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Orang yang Berdiri Paling Dekat

Kalimat itu masih menggema di kepala Aluna.

Orang yang saat ini berdiri paling dekat denganmu.

Telepon sudah terputus.

Namun dampaknya seperti bom yang meledak di tengah ruangan.

Semua orang membeku.

Arkan masih berdiri tepat di sampingnya.

Tangannya menggenggam tangan Aluna dengan erat—terlalu erat, seolah ia takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Kevin berdiri di sisi kanan ruangan, wajahnya tegang.

Surya sedikit menjauh, matanya mengamati semua orang dengan perhitungan tajam.

Dan di belakang, ayah Arkan menatap mereka dalam diam.

Sunyi itu bukan sekadar hening.

Itu hening yang dipenuhi kecurigaan.

Aluna menelan ludah.

“Dia bilang… orang yang berdiri paling dekat denganku.”

Suaranya hampir tak terdengar.

Arkan menatapnya.

“Kau tidak percaya itu, kan?”

Aluna ingin langsung menjawab ya.

Namun ia tidak bisa.

Karena rasa takut mulai merambat pelan, seperti air yang menyusup di bawah pintu.

Lima tahun lalu.

Gudang.

Api.

Siluet seseorang.

Suara sepatu menyentuh lantai beton.

Ia memejamkan mata.

Mencoba mengingat.

Namun yang muncul justru rasa sakit berdenyut di kepalanya.

“Aku… aku benar-benar tidak ingat,” bisiknya.

Kevin angkat bicara, mencoba rasional.

“Kalimat itu bisa berarti apa saja. Bisa secara emosional. Bisa secara fisik. Bisa juga hanya manipulasi.”

“Cemalia bukan tipe orang yang bicara tanpa maksud,” gumam Surya.

Ayah Arkan menyilangkan tangan.

“Dia ingin kalian saling curiga.”

Arkan menoleh tajam pada ayahnya.

“Dan Anda terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja disebut sebagai dalang besar.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Ketenangan adalah hasil dari pengalaman.”

“Pengalaman mengorbankan orang?” balas Arkan dingin.

Udara kembali menegang.

Aluna menarik napas dalam.

Jika terus berada di ruangan itu, pikirannya akan semakin kacau.

“Aku butuh udara,” katanya pelan.

Arkan langsung bergerak.

“Aku ikut.”

Mereka keluar ke halaman rumah lama itu.

Angin malam terasa dingin menusuk kulit.

Lampu taman menyala redup.

Dari kejauhan, suara kota terdengar samar.

Namun kepala Aluna jauh lebih bising daripada dunia luar.

“Arkan…” ia menoleh padanya.

“Apa?”

“Kalau seandainya… orang itu benar-benar berdiri dekat denganku saat ini?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatapnya lama.

“Kau mencurigai aku?”

Pertanyaan itu tidak bernada marah.

Lebih seperti luka yang belum sempat sembuh.

Aluna menggigit bibir.

“Aku tidak ingin mencurigaimu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku hanya takut,” akhirnya ia jujur.

Arkan menghela napas pelan.

“Aku juga.”

Ia mendekat sedikit.

“Tapi ada satu hal yang pasti.”

“Apa?”

“Kalau aku pernah berdiri di tempat itu malam itu, aku akan mengingatnya. Dan aku tidak pernah ada di sana.”

Aluna menatap matanya.

Dan untuk sesaat, ia percaya sepenuhnya.

Namun rasa percaya itu mulai retak ketika sebuah potongan ingatan kecil muncul.

Seseorang berdiri sangat dekat dengannya malam itu.

Seseorang memegang bahunya.

Seseorang berkata, “Jangan lihat.”

Suaranya tidak asing.

Tapi juga tidak sepenuhnya jelas.

“Arkan…” suaranya gemetar. “Apa kau pernah datang ke gudang sebelum malam kecelakaan?”

Arkan terdiam sesaat.

“Ya.”

Jawaban itu membuat napas Aluna tercekat.

“Kenapa?”

“Ayah menyuruhku memeriksa dokumen tambahan. Tapi itu dua hari sebelumnya.”

“Dan malam itu?”

“Aku tidak datang.”

Kepalanya kembali berdenyut.

Ia mencoba menghubungkan waktu.

Rumah sakit selesai pukul delapan lewat.

Kebakaran gudang terjadi pukul sembilan lewat.

Kecelakaan utama pukul sepuluh tiga puluh.

Ada jarak waktu.

Dan dalam jarak itu—

Sesuatu terjadi.

Tiba-tiba suara pintu rumah terbuka.

Kevin keluar dengan wajah serius.

“Kita punya masalah.”

Arkan menoleh.

“Apa lagi?”

“Rekaman CCTV rumah lama ini… baru saja terhapus.”

“Terhapus?” ulang Arkan tajam.

“Semua rekaman dua jam terakhir hilang.”

Surya menyusul keluar.

“Itu berarti seseorang sudah mengantisipasi kita datang ke sini.”

Aluna merasakan bulu kuduknya meremang.

“Kita diawasi.”

Ayah Arkan keluar paling akhir.

Namun yang membuat jantung Aluna berdetak keras—

Adalah senyum tipis di wajahnya.

Bukan panik.

Bukan marah.

Melainkan seperti seseorang yang baru saja melihat bidaknya bergerak sesuai rencana.

Arkan menangkap ekspresi itu.

“Anda tahu sesuatu.”

“Aku tahu banyak hal,” jawabnya ringan.

“Termasuk siapa yang berdiri paling dekat dengan Aluna malam itu?”

Pria itu menatap Aluna dalam.

“Ya.”

Semua kembali hening.

“Siapa?” tanya Arkan, rahangnya mengeras.

Namun sebelum pria itu menjawab—

Sebuah suara mesin mobil terdengar di luar gerbang.

Semua menoleh.

Lampu mobil menyorot halaman.

Mobil hitam berhenti tepat di depan rumah.

Pintu terbuka perlahan.

Sepasang sepatu hak tinggi menyentuh tanah.

Jantung Aluna seperti berhenti.

Siluet wanita itu berjalan mendekat.

Anggun.

Percaya diri.

Dan sangat familiar.

Cemalia.

Ia berhenti beberapa meter dari mereka.

“Sepertinya kalian sudah mulai mengingat,” katanya ringan.

Arkan melangkah maju.

“Kau punya keberanian besar datang ke sini.”

Cemalia tersenyum tipis.

“Keberanian atau kepastian?”

“Jangan bermain kata.”

Cemalia menatap Aluna langsung.

“Malam itu kau berdiri tepat di sampingku.”

Aluna membeku.

“Apa?”

“Kau melihatku mendorong ayahmu.”

Udara terasa hilang dari paru-parunya.

“Tapi kau bukan targetku.”

“Lalu siapa?” tanya Arkan dingin.

Cemalia memiringkan kepala sedikit.

“Kau.”

Arkan menegang.

“Apa maksudmu?”

“Ayahmu ingin menyingkirkanmu dari perusahaan. Ia takut kau akan menghancurkan sistem yang sudah dibangunnya.”

“Itu tidak masuk akal.”

“Oh, sangat masuk akal.”

Cemalia tersenyum tipis.

“Karena kau terlalu jujur. Terlalu berbeda.”

Surya terlihat gelisah.

“Jadi kebakaran itu—”

“Pengalihan,” potong Cemalia.

“Dan dorongan itu?”

“Peringatan.”

Aluna merasa tubuhnya melemah.

“Kau membunuh ayahku hanya untuk mengirim pesan?”

Cemalia menatapnya.

“Tidak.”

Hening.

“Dia seharusnya hanya terluka.”

Keheningan berubah menjadi kemarahan membara.

“Kau pikir itu pembelaan?” teriak Aluna.

Cemalia tidak gentar.

“Masalahnya bukan padaku.”

“Lalu?”

Cemalia mengalihkan tatapannya ke arah ayah Arkan.

“Masalahnya adalah orang yang memerintahkan semuanya.”

Semua mata tertuju pada pria itu.

Ia berdiri tanpa bergerak.

Tanpa emosi.

Tanpa penyangkalan.

Arkan menatap ayahnya dengan mata yang kini bukan lagi ragu.

Melainkan sadar.

“Anda memerintahkan ini.”

Pria itu menghela napas pelan.

“Aku memerintahkan pengalihan. Bukan pembunuhan.”

“Tapi Anda tahu risikonya!” bentak Arkan.

“Aku tahu.”

Jawaban itu jatuh tanpa penyesalan.

Aluna merasa dadanya sesak.

Jadi memang benar—

Ayah Arkan berdiri sangat dekat dengannya malam itu.

Dan dialah yang paling dekat dengannya sekarang.

Namun sebelum Arkan bisa bergerak lebih jauh—

Cemalia berkata pelan,

“Masih ada satu orang lagi yang berdiri paling dekat denganmu malam itu, Aluna.”

Semua membeku.

“Siapa?” bisik Aluna.

Cemalia tersenyum samar.

“Orang yang menarikmu menjauh sebelum api membesar.”

Ingatan itu muncul jelas sekarang.

Seseorang menariknya.

Seseorang memeluknya.

Seseorang berbisik di telinganya.

Dan suara itu—

Sangat ia kenal.

Aluna perlahan menoleh.

Ke arah Arkan.

Jantungnya berdetak tak terkendali.

“Tidak…” bisiknya.

Arkan membeku.

“Apa yang kau pikirkan?”

Cemalia tertawa pelan.

“Karena ya… Arkan memang datang malam itu.”

Dunia runtuh.

Arkan menggeleng.

“Itu bohong.”

“Kau datang diam-diam. Kau melihat semuanya. Dan kau memilih tidak menghentikannya.”

Aluna menatapnya.

Mencari kebenaran di matanya.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan kebohongan.

Tapi rahasia.

“Arkan…” suaranya gemetar. “Apa kau benar-benar tidak ada di sana?”

Keheningan menjawab lebih dulu.

Dan dalam hening itu—

Arkan tidak langsung berkata tidak.

END BAB 13 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!