Ayundya Nadira adalah seorang istri dan ibu yang bahagia. Pernikahan yang sudah lebih dari 20 tahun mengikat dirinya dengan suami dengan erat.
Pada suatu sore yang biasa, dia menemukan fakta bahwa suaminya memiliki anak dengan wanita lain.
Ternyata banyak kebenaran dibalik perselingkuhan suaminya.
Dengan gelembung kebahagiaan yang pecah, kemana arah pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Mencoba Untuk Memberi Pemahaman.
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Kilat kemarahan terlihat jelas di kedua matanya, tetapi tidak membuat Rio menjadi gentar. Apalagi laki-laki itu sudah membuat keributan di rumahnya.
"Lebih baik kau segera pergi, sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu dari rumahku!" ucap Rio dengan penuh penekanan. Sebuah cibiran terlihat jelas di bibirnya yang tersenyum sinis.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Evan baranjak pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam mobilnnya. Dia memukul setiur mobil itu dengan kuat, karena merasa geram tidak bisa menemukan di mana Ayun dan kedua anak mereka.
"Awas saja dia, aku pasti akan memberi pelajaran agar tidak bersikap sombong dan kurang ajar." Dia kesal melihat tingkah Rio. "Cih, semua ini gara-gara Ayun!"
Evan berdecak kesal karena perbuatan Ayun, dia lalu kembali pulang ke rumah untuk bersiap-siap berangkat ke kantornya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang mengobrol dengan kedua anaknya. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini, karena selalu disibukkan dengan sekolah dan juga main.
"Bu, nanti kalau aku udah sehat, kita jalan-jalan ke taman bermain yah," ucap Adel sambil menikmati buah apel yang baru selesai dikupas oleh Ayun.
"Belum sembuh, tapi maunya udah banyak kali," cibir Ezra dengan heran, membuat Adel menatap sengit.
Ayun tersenyum lebar saat melihat kedua anaknya seperti tikus dan kucing, lalu dadanya terasa sesak saat membayangkan jika mereka tidak bersama dengannya.
"Bu, Ibu!"
Ayun tersentak kaget saat mendengar panggilan Ezra, sampai tidak sadar jika menjatuhkan buah apel yang berada dalam genggamannya.
"Y-ya, ada apa?" tanya Ayun dengan tergagap.
Ezra terdiam sambil menatap ibunya dengan tatapan yang menusuk, membuat Ayun mengalihkan pandangannya ke arah Adel.
"Ibu masih punya aku dan Adel, jadi gak perlu mikirkan orang yang tidak penting," ucap Ezra dengan tajam membuat Ayun dan Adel langsung menatapnya.
Ayun mengangguk paham sambil mengusap lengan putranya itu. "Iya, Ibu mengerti. Yaudah, sana cari sarapan keluar. Udah siang ini."
Ezra menghela napas kasar lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk membeli sarapan sesuai dengan ucapan sang ibu, sementara Ayun tetap berada di ruangan itu untuk menemani Adel.
***
Waktu terus berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa pagi sudah berganti dengan siang. Ayun yang masih setia menemani Adel tampak sedang berbincang dengan Dokter, yaitu membahas tentang keadaan putrinya.
"Hasil pemeriksaan putri Anda sudah keluar, dan hasilnya adalah negatif," ucap Dokter sambil memberikan kertas hasil dari pemeriksaan darah Adel.
Ayun langsung mengusap syukur yang teramat besar pada Tuhan karena ternyata putrinya tidaj terkena demam berdarah. "Terima kasih, Dokter. Saya merasa sedikit tenang saat melihat hasil pemeriksaannya." Dia tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.
Dokter itu juga ikut tersenyum. "Sama-sama, Buk. Setelah ini, pasien sudah bisa dibawa pulang. Saya akan siapkan resep obat untuknya." Dia beranjak berdiri dari kursi yang sedang diduduki.
"Alhamdulillah. Baik, Dokter. Sekali lagi terima kasih," ucap Ayun dengan senyum mengembang sempurna. Kekhawatiran yang sejak semalam menghantuinya, kini berangsur hilang mendengar keadaan Adel baik-baik saja.
Tidak berselang lama, Ezra kembali masuk ke ruangan itu sambil membawa makan siang untuk mereka. Lalu Ayun segera pergi untuk mengurus administrasi kepulangan Adel, sekaligus menebus resep obat yang di beri oleh Dokter.
Setelah semua urusan selesai, mereka beranjak pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Wajah Adel masih tampak sedikit pucat, tetapi gadis belia itu tetap ceria seperti mana biasanya.
"Oh ya, Ezra. Apa kau sudah menghubungi ayahmu?" tanya Ayun. Dia baru ingat jika belum mengabari Evan jika mereka sedang berada di rumah sakit.
"Untuk apa, Bu? Dia saja tidak mengabari Ibu saat berada di rumah simpanannya, 'kan?" ucap Ezra dengan sinis. Wajah yang semula biasa saja, kini berubah menjadi penuh kebencian.
Ayun hanya bisa diam dengan helaan napas kasar saja. Biar bagaimana pun, Evan adalah ayah dari anak-anaknya, jelas laki-laki itu punya hak untuk mengetahui ke mana mereka pergi.
"Apa Ibu dan ayah benar-benar akan berpisah?"
Deg.
Ayun dan Ezra langsung menatap Adel saat mendengar ucapan lirih gadis itu. Dia menundukkan kepala, dengan tangan yang saling bertautan menahan perasaan takut yang menyesakkan dada.
Ezra yang akan menjawab pertanyaan Adel langsung ditahan oleh Ayun, dia memberi isyarat agar dia saja yang mengatakannya pada sang putri.
"Sebelum ibu jawab, ada sesuatu yang ingin ibu tanya pada Adel," ucap Ayun dengan memasang senyum tipis. Dia berusaha keras untuk bersikap biasa saja, walau apa yang akan mereka bahas saat ini serasa mencabik-cabik hatinya.
Adel mendongakkan kepala dan menatap sang ibu penuh tanda tanya. Dia penasaran tentang apa yang ingin ibunya tanyakan, karena biasanya sang ibu tidak bertanya apapun padanya.
Ayun diam sejenak untuk memantapkan hati, dan mencari keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Apa Adel menyayangi ibu dan ayah?" tanya Ayun membuat Adel menatap dengan bingung.
"Aku sayang sama Ibu dan ayah, tapi kenapa Ibu bertanya seperti itu?" Dia menatap heran, dengan mimik wajah yang menggemaskan.
"Karna ibu dan ayah berpisah demi kebaikan bersama. Jadi kalau Adel sayang sama ibu dan ayah, pasti Adel akan mendukungnya," ucap Ayun dengen pelan untuk memberi pemahaman pada putri kecilnya itu.
Adel terdiam saat mendengar ucapan sang ibu. Bukankah kalau sayang itu harus bersama? Tetapi, kenapa kedua orang tuanya malah berpisah?
"Ibu dan ayah pisah karena wanita itu 'kan? Aku enggak mau punya ibu tiri." Adel berucap dengan penuh penekanan. Dia tetap keukeh tidak mau punya ibu tiri, karna cuma mau bersama dengan ibunya saja.
"Kenapa enggak mau, Nak? Ibu kan tetap ada, jadi gak akan ada yang berbeda. Hanya saja ibu dan ayah tidak tinggal bersama, jadi biar wanita itu yang tinggal bersama dengan ayah." Ayun berusaha untuk tetap memberi penjelasan.
"Tapi aku maunya tinggal sama ayah dan ibu, enggak mau sama yang lain."
•
•
•
Tbc.