Kisah cinta dua saudara kakak beradik bernama Virly Rastanty dan Berliana Anggraini yang dramatis penuh deraian airmata.
Virly Sang Kakak batal menikah dan diputuskan begitu saja oleh tunangannya. Karena sedih, ia akhirnya mau juga dijodohkan oleh Eyang Uti-nya dengan seorang pria muda tampan bernama Rendy Saputra.
Ternyata Rendy dulunya adalah pacar pertama sang adik di masa SMA.
Kisah bergulir dengan banyak cerita.
Setelah beberapa tahun kemudian, terkuaknya misteri masa lalu Mama mereka. Membuat Berliana memutuskan untuk menikah dengan Kuncoro, mantan tunangan sang kakak yang ternyata adalah anak kandung dari Mama mereka juga.
Justru Berliana-lah yang bukan anak kandung Hilda dan Sapto, orang tua mereka.
(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
Yuk kemon para reader tercinta🤗mampir dukung Bubun🙏 please, mohon bantuannya LIKE, KOMEN dan FAVORITNYA 🙏🙏🙏 Semoga semua pembaca berbahagia 🤲 mendapat rezeki yang berlimpah 🤲 aamiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JYT BAB 31 - Kecelakaan Lalu Lintas
"Mas..."
"Iya, Sayang?"
"Boleh Aku berhenti bisnis?"
"Ehh? Kenapa? Ada apa, Sayang?"
"Aku ingin bekerja seperti kamu juga Berliana!"
Perkataan Virly di pagi hari sebelum Rendy berangkat kerja cukup mengagetkan.
Tentu saja Rendy tertawa kecil sembari menjawil dagu istrinya yang cantik jelita.
"Pendapatanmu itu bisa dua tiga kali lipat penghasilanku, Virly!" tutur Rendy membuat Virly menundukkan kepala.
"Tapi wawasanku jadi lebih luas. Circle pertemanan juga jauh lebih elit kesannya!"
"Kata siapa? Dunia kerja itu menyeramkan, Yang!"
Rendy berkata apa adanya.
Ia menghela nafas mengingat kejadian yang hampir membahayakan Berliana yang tidak diketahui Virly serta Keluarga besarnya.
Rendy dan Berliana terpaksa tutup mulut demi sebuah nama besar yang dipertaruhkan. Nama besar perusahaan Matta Network, juga nama baik Berliana sendiri sebagai seorang perempuan single yang belum punya pasangan.
Rendy menyimpan rahasia besar Virly dari sang istri.
Dia tidak menyadari kalau sesuatu hal yang besar bisa saja terjadi. Bahkan jauh lebih besar dampaknya dari kejadian pahit yang Berliana alami.
Setelah menikmati sepiring nasi goreng spesial buatan Virly, pria muda itu berangkat ke kantor tanpa berfikiran aneh-aneh.
Cup
Dikecupnya kening Virly. Rendy juga sempat bersenda gurau dengan Leo, buah hati kesayangannya yang kian besar dan tambah pintar.
"Papa berangkat kerja dulu ya, Sayang! Bye bye, sampai jumpa sore nanti, Leo!" pamitnya dengan begitu percaya diri.
Virly yang berakting sangat alami ternyata menyimpan perasaan marah dan kembali akan mengikuti sang suami diam-diam.
Kali ini kendaraan yang dikemudinya adalah mobil Kijang Innova Rendy.
Tanpa sepengetahuan sang suami, Virly telah mengikuti kursus mengemudi kilat hampir tiga minggu belakangan ini.
Tentunya ada tekad kuat agar bisa memantau pergerakan Rendy dalam bekerja sekantor dengan Berliana.
Walaupun Rendy telah menceritakan kalau mereka bekerja beda divisi, tapi Virly terlanjur sakit hati dan tak percaya pada ucapan Rendy.
Rendy seperti biasa. Mendatangi rumah besar CEO Matta Network dan mengganti kendaraan bermotor milik Virly dengan mobil pribadi Pak Gunawan.
Kini mereka hanya berdua karena Delon sudah berangkat ke kantor dengan kendaraan roda duanya sendiri.
"Ren...!"
"Ya, Pak?"
"Bagaimana kasus Berliana? Kalau tak salah dengar, hari ini jadwal sidang pria mesum itu ya?" tanya Pak Gunawan membuat Rendy mengangguk.
"Jadi kalian akan berangkat ke persidangan siang nanti?"
"Iya, Pak!"
"Ya sudah! Maaf, Saya tidak bisa memberi kalian support secara langsung! Ada meeting di ballroom hotel Pesanggrahan."
"Tidak apa-apa, Pak! Kami hanya datang untuk sekedar melihat ketuk palu vonis hakim saja pada pria bej*d itu! Paling hanya se-jam. Setelah itu kami akan kembali ke kantor lanjutkan pekerjaan."
"Iya. Semangat ya?! Sampaikan permohonan maaf saya juga pada Berliana! Mungkin Maura akan datang nanti mendukung kalian! Tapi Maura juga ada pertemuan dulu di pagi hari dengan perusahaan multimedia asing yang berminat dengan produk iklannya. Jadi kamu dan Berliana terpaksa pergi ke pengadilan berdua dulu!"
"Tidak apa-apa, Pak! Saya akan menjaga Berliana juga. Terima kasih banyak atas semua kebaikan bapak pada kami!"
Rendy senang sekali. Bekerja hampir satu bulan tapi perkembangan kariernya melesat. Walaupun saat ini hanyalah ditempatkan di bagian driver, tetapi Rendy merasa sangat puas dengan CEO perusahaan Matta Network yang menghargai setiap langkah kerjanya.
Bahkan kabarnya gaji Rendy awal bulan ini lebih besar dari nominal driver Matta Network yang lain.
Mungkin karena dia menjadi supir pribadi seorang CEO. Otomatis bayaran kerjanya jauh lebih dihargai diatas yang lain.
Pukul sembilan Rendy menelpon Berliana.
Ia memang sudah janjian dengan adik kandung sang istri lewat prakarsa Delon, asisten pribadinya Pak Gunawan.
Rendy dan Berliana hampir tidak pernah memulai hubungan setelah kejadian. Walaupun Rendy memiliki nomor WhatsApp Berliana, tapi dia tidak punya keinginan untuk menchat pacar pertamanya itu.
Ada Virly, ia harus menjaga perasaan istrinya. Begitu fikirnya.
Berliana kini hanyalah rekan kerjanya saja.
Tidak lebih. Dan tidak boleh lebih.
"Berlin!"
Mata Rendy tak bisa berkedip.
Berliana telah menunggunya di lobi wisma Matta Network. Mereka memang janjian akan jalan bersama menuju gedung pengadilan negeri pidana di wilayah selatan.
Cantiknya! Elo emang perempuan yang menarik banget, Ber! Beruntunglah pria yang bakalan jadi Suami Lo nanti! Gumamnya dalam hati.
Berliana tersenyum manis. Mereka hanya saling bertatapan dan tanpa basa-basi langsung menuju basemen tempat mobil CEO Matta Network diparkir.
Sepasang mata indah milik Virly menatap keduanya dengan penuh amarah. Dia memantau pergerakan Rendy dan Berliana dari seberang jalan raya.
"Mas Rendy! Anna! Jahatnya kalian berdua! Mata kalian sudah buta oleh cinta lama yang belum kelar! Sampai lupa kalau ada seorang anak laki-laki yang perlu diperhatikan dan butuh tanggung jawab Papanya!"
Virly mengoceh sendiri.
Airmatanya mengalir setitik.
"Ga! Gue gak boleh nangis! Gue harus kuat buat nge-gap mereka berdua sampe mereka malu hati dan pergi menjauh tak lagi bertemu!"
Virly menghapus air mata di pipinya dengan cepat.
Mobil yang dikendarai Rendy terlihat keluar dari gedung perkantoran Matta Network.
Virly mulai kembali lancarkan aksinya mengekor suami dan adik kandungnya itu.
"Mau kemana kalian? Apa atasan kalian gak tau dan gak larang? Mas Rendy bukannya sopir pribadi Boss CEO yang tadi pagi dijemputnya di rumah? Ck ck ck... Pintar sekali kalian bermain peran. Bahkan di jam kerja pun kalian bisa enak-enakan berduaan! Ya Tuhan!!!"
Virly yang sudah diliputi fikiran-fikiran buruk semakin terpuruk, memacu mobilnya cepat agar tidak sampai kehilangan jejak.
Sementara Rendy dan Berliana tidak sadar sama sekali kalau mereka sedang dimata-matai oleh Virly.
"Ber..."
"Hm?"
"Kenapa Lo ga pindah ke rumah Virly?"
"Dan liat keromantisan kalian setiap hari! Ogah!"
Rendy tertawa kecil. Mengikik dan jadi malu hati.
Iya juga. Kenapa gue jadi ga ngotak!? Pasti Berliana jengah liat kemesraan gue sama kakaknya.
"Tapi niat gue baik. Buat keselamatan Lo juga!"
"Maura juga baik. Sangat baik malahan! Gue lebih aman tinggal di kost-an Maura. Walaupun Dia pernah bohongin gue dan ternyata dia adalah anaknya Pak Gunawan!"
"Gue udah tau itu dari awal kerja. Tapi gue ga bisa bilang sama Lo, karena Mas Delon minta gue jaga rahasia. Hhh..."
"Iya. Tapi Maura adalah teman terbaik gue. Bahkan selama gue hidup dua puluh lima tahun ini, dia adalah teman yang paling baik!"
"Karena dia kaya?"
"Ck, bukan, Dodol!"
"Jiaah haha... sejak kapan gue berubah jadi dodol ya?" Rendy tertawa. Ekor matanya melirik Berliana yang duduk tepat disamping.
"Emang Lo itu Dodol asem yang bau tengik! Tapi Lo pria sejati, baik hati dan tulus."
"Hehehe..., terima kasih pujiannya, Ber!"
"Ga! Gue bukan muji Lo ya! Jangan ge'er!"
"Hahaha...! Ada ya, orang muji tapi tarik ulur gitu!? Hahaha..."
Berliana ikut tertawa lebar.
Rendy tersenyum bahagia. Gadis masa lalunya itu kini telah kembali ceria, setelah hampir beberapa hari ini terlihat tegang, pucat pias tanpa senyuman setiap kali mereka papasan di kotak elevator gedung Matta Network.
Semoga kamu bahagia selalu, Berliana! Doa hati kecil Rendy yang terdalam.
Hingga tiba-tiba, sebuah suara menggelegar dari arah belakang.
"Ada apaan sih?" tanya Berliana penasaran.
Rendy mengintip dari kaca spion.
Ehh??? Kecelakaan lalu lintas! Dan mobil yang tabrakan beruntun tepat lima meter dari belakang koq plat nomor mobilnya kayak gue kenal???
"Itu, mobil gue!!! Itu Innova gue yang jungkir balik itu!!! Siapa yang bawa???"
Pucat pasi seketika wajah Rendy.
Mobilnya yang dikendarai seseorang mengalami kecelakaan lalu lintas.
"Lo salah liat, kali!!!" pekik Berliana tak kalah panik. Ia berkali-kali menoleh ke belakang. Sampai Rendy menepi dan berhenti untuk memastikan.
"Itu betul mobil gue!!!"
BERSAMBUNG