Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berapa harga mu?
"Nona, siapa nama Anda?”
“Queenora,” jawabnya lirih.
“Nona Queenora,” lanjut sang dokter, kembali menatap Darian.
“Putra Anda, Elios, mengalami penolakan oral akut terhadap susu formula. Kondisi yang langka, tapi terjadi. Tubuhnya menolak segala sesuatu yang bukan ASI. Kami sudah mencoba semua merek, bahkan mencoba memberinya dengan sendok dan pipet. Hasilnya nol, Bank ASI juga blm bisa memastikan ketersediaan stoknya. Tingkat bilirubin Elios mulai naik, dan berat badannya turun drastis. Dia berada di ambang krisis.”
Dokter itu berhenti sejenak, membiarkan informasi itu meresap.
“Suster Rina melapor pada saya beberapa menit yang lalu, mengatakan bahwa ada keajaiban. Bahwa Elios akhirnya mau menyusu dari seorang wanita. Wanita ini.” Ia mengangguk ke arah Queenora.
“Tindakan Nona Queenora mungkin melanggar seratus protokol rumah sakit, Tuan Darian. Tapi secara medis, ia baru saja melakukan satu-satunya hal yang bisa membuat putra Anda bertahan hidup saat ini.”
Dunia Darian seakan terbalik. Wanita yang ia pandang hina, yang ia tuduh sebagai pemeras kotor, ternyata adalah penyelamat.
Logika dan emosinya berperang hebat. Rasa jijiknya bertabrakan dengan fakta medis yang tak terbantahkan. Ia menatap putranya, yang tangisannya kini berubah menjadi isakan lemah di pelukan Suster Rina. Lalu ia menatap Queenora lagi.
Wanita itu telah merapikan gaunnya, duduk dengan punggung tegak, memeluk dirinya sendiri seolah kedinginan. Ada luka memar samar di lengannya yang tidak ia perhatikan sebelumnya.
Penghinaan di wajah Darian perlahan surut, digantikan oleh topeng dingin tanpa ekspresi. Ia sedang berpikir, menghitung, memproses.
Jiwa pengusahanya mengambil alih saat jiwanya sebagai seorang ayah dan suami gagal total. Ini bukan lagi soal moral atau perasaan. Ini adalah masalah. Dan setiap masalah memiliki solusi. Sebuah transaksi.
“Dokter, Suster,” ucap Darian tiba-tiba, suaranya datar dan tanpa emosi.
“Bisa tinggalkan kami sebentar?”
Dokter Gunawan menatapnya dengan waspada.
“Tuan Darian, saya tidak yakin—”
“Saya hanya ingin bicara dengannya,” potong Darian tajam.
“Lima menit. Saya tidak akan menyakitinya. Anda punya kata-kata saya.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Dokter Gunawan akhirnya mengalah. Ia mengangguk pada kedua suster itu.
“Baiklah. Kami akan menunggu di luar. Jika bayi ini menangis lagi, kami akan segera masuk.”
Suster Anjani tampak tidak puas, tetapi ia mengikuti perintah dokter. Suster Rina melirik Queenora dengan cemas sebelum keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Dan tangisan Elios yang mulai mereda menjadi rengekan pelan.
Darian tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia mengamati Queenora dari ujung rambut sampai ujung kaki, tatapannya dingin dan analitis, seolah sedang menilai aset atau liabilitas.
Queenora balas menatapnya, ketakutannya kini bercampur dengan secercah keberanian yang diberikan oleh pembelaan sang dokter.
Keheningan terasa berat, sarat dengan penghakiman yang tak terucap.
Akhirnya, Darian memecahnya dengan suaranya yang dingin.
“Kau pasien di rumah sakit ini,” katanya. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan fakta.
“Kau pasti butuh uang untuk membayar tagihan.”
Queenora mengerutkan kening, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
“Saya tidak melakukannya untuk uang.”
“Semua orang melakukan segalanya untuk uang,” balas Darian sinis. Ia mengambil satu langkah mendekat.
“Aku tidak peduli apa motifmu. Aku tidak peduli siapa kau atau dari mana asalmu. Yang aku pedulikan hanya anak itu.”
Ia berhenti, matanya yang kelabu menyorot tajam. Topengnya retak sejenak, memperlihatkan jurang keputusasaan di baliknya, sebelum kembali mengeras.
“Aku butuh air susumu.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti saat ia mungkin memesan kopi atau menandatangani kontrak dingin.
“Jadilah ibu susunya,” lanjutnya, suaranya semakin rendah dan menusuk.
“Aku akan membayarmu. Berapa pun. Sebutkan saja hargamu.”
Tawaran itu menggantung di udara yang beku, berbau antiseptik dan keputusasaan. Kata-kata Darian dingin, tajam, dan transaksi seharusnya menjadi sebuah penghinaan.
Namun, bagi Queenora, itu adalah pelampung yang dilemparkan ke tengah lautan. Ia tidak peduli betapa kasarnya pelampung itu, yang penting ia bisa meraihnya.
Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam mata kelabu pria itu yang tampak kosong sekaligus membara. Untuk sesaat, ia tidak melihat seorang duda yang berduka atau pengusaha yang arogan. Ia hanya melihat seorang ayah yang putus asa, sama hancurnya dengan dirinya, meski dengan cara yang berbeda.
“Aku tidak butuh uangmu,” bisik Queenora, suaranya serak tetapi mantap, memotong keheningan dengan ketegasan yang mengejutkan Darian.
Darian mengerutkan kening, topeng dinginnya sedikit retak.
“Semua orang butuh uang.”
“Aku tidak,” ulang Queenora. Ia menoleh sedikit, matanya tertuju pada pintu tempat Elios baru saja dibawa keluar.
“Aku hanya butuh dia… selamat.” Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah kebenaran telanjang yang lahir dari lubang di hatinya.
Merawat bayi itu, memberinya kehidupan, terasa seperti satu-satunya cara untuk menebus nyawa yang telah hilang dari rahimnya. Itu bukan amal. Itu adalah kebutuhan egoistis untuk merasakan dirinya utuh kembali.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih berat. Darian mengamatinya, mencoba membaca wanita di hadapannya. Ia terbiasa dengan orang-orang yang bisa dibeli, yang motifnya jelas.
Queenora adalah anomali yang membingungkan sekaligus mengganggunya. Tapi, ia tidak punya waktu untuk teka-teki. Putranya butuh makan.
“Baik,” kata Darian akhirnya, nadanya kembali datar.
Darian melangkah lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Queenora, memaksanya untuk sedikit bersandar di kursi. Aura dominasinya begitu kuat, seperti dinding es yang bergerak.
“Kalau begitu, anggap ini bukan pekerjaan, tapi kewajiban. Tapi aku tetap punya aturan. Aku harus tahu siapa yang akan menyentuh anakku.”
Ia berhenti tepat di depan Queenora, menatapnya dari atas.
“Siapa namamu?”
“Queenora.”
“Nama lengkap.”
Queenora ragu sejenak. Menyebutkan nama keluarganya terasa seperti mengundang para iblis dari masa lalunya untuk ikut masuk ke dalam ruangan ini.
“Hanya Queenora.”
“Orang punya nama keluarga,” desis Darian, tidak sabar.
“Aku tidak punya,” balas Queenora, kebohongan itu meluncur mulus. Dalam hatinya, ia sudah membuang nama itu bersamaan dengan darah yang membasahi seprai rumah sakit.
Darian mendengus, jelas tidak percaya, tetapi ia tidak mendesaknya lebih jauh.
“Alamat terakhir?”
“Jalan Kamboja nomor 14,” jawabnya, menyebutkan alamat rumah yang tak akan pernah ia sebut rumah lagi.
“Keluargamu?”
Sebuah sengatan dingin menjalari tulang punggungnya. Gambar wajah ayahnya yang murka dan kakaknya yang menyeringai melintas di benaknya.
“Aku sendirian.”
“Tidak ada yang benar-benar sendirian,” cibir Darian.
“Orang tua? Saudara?”
“Mereka… jauh,” kata Queenora, memilih kata-kata yang secara teknis tidak bohong. Jauh di neraka, mungkin.
“Kami tidak berhubungan.”
Darian mengamatinya lagi, matanya menyipit, mencoba menemukan celah dalam ceritanya. Ia melihat memar samar di lengan Queenora yang tidak tertutup gaun rumah sakit.
“Kenapa kau ada di sini? Di rumah sakit ini?”
Jantung Queenora berdebar kencang. Inilah pertanyaan yang paling ia takuti. Kebenaran akan membuatnya tampak seperti korban yang rusak, barang bekas yang tidak layak menyentuh bayi suci seperti Elios.
Dia tidak akan memberikan kepuasan itu pada pria ini. Ia tidak akan membiarkan dirinya dihakimi lebih jauh.
“Kelelahan,” jawabnya pelan.
“Saya pingsan karena terlalu banyak bekerja dan kurang makan.” Kebohongan yang setengah benar. Jiwanya memang lelah hingga ke akar.
Darian tampak menimbang-nimbang jawabannya. Ia mungkin tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia juga tidak punya bukti untuk menyanggahnya. Dan yang terpenting, ia tidak punya pilihan lain.
“Baiklah. Queenora-yang-tidak-punya-siapa-siapa,” katanya dengan nada sarkastis yang menusuk.
“Dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Kau akan tinggal di rumahku. Akan ada kamar untukmu di dekat kamar bayi. Tugasmu hanya satu, menyediakan air susu untuk anakku kapan pun ia butuh. Pagi, siang, malam. Dua puluh empat jam sehari.”
Darian berhenti, memastikan Queenora menyerap setiap katanya.
“Kau tidak akan berkeliaran di rumahku. Kau tidak akan menyentuh barang-barang pribadiku. Kau tidak akan bicara padaku kecuali jika itu menyangkut Elios. Kau hanya akan melakukan fungsimu, mengerti? Kau adalah sumber makanan Elios. Tidak lebih.”
Setiap kata adalah belati es yang ditancapkan ke harga dirinya.
Sumber makanan.
Queenora direduksi menjadi sepasang organ tubuhnya yang berfungsi. Ironisnya, ia tidak merasa marah. Ia justru merasa lega. Batasan yang jelas ini adalah perisai. Hubungan yang dingin dan profesional berarti tidak ada emosi yang bisa terluka.
“Saya mengerti,” jawab Queenora dengan suara yang lebih stabil dari yang ia duga.
“Bagus.” Darian mundur selangkah, seolah kesepakatan itu telah selesai dan ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat ‘komoditas’ barunya.
“Dokter akan mengurus surat keluarmu. Aku akan menyuruh sopir menjemputmu sore ini. Bawa barang-barangmu.”
“Saya tidak punya apa-apa untuk dibawa,” sahut Queenora pelan.
Darian menatapnya sekilas, ekspresinya tidak berubah.
“Kalau begitu, bawa saja dirimu.”
Pria itu berbalik, hendak meninggalkan ruangan, meninggalkan Queenora sendirian dengan perjanjian aneh yang baru saja mereka segel tanpa kertas, tanpa saksi, hanya dengan tatapan dingin dan kebutuhan yang putus asa.
Queenora memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Ia berhasil. Ia akan tetap bersama bayi itu. Ia akan melindunginya. Itu saja yang penting.
Saat itulah pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar, memecah keheningan yang baru saja terbentuk.
Suster Rina berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi dan napasnya terengah-engah. Matanya bergerak panik dari Darian yang berhenti melangkah ke Queenora yang masih duduk di kursi.
“Tuan Darian!” panggilnya, suaranya terdengar seperti bisikan yang mendesak.
“Maaf, Tuan… saya sudah mencoba menahan mereka, tapi…”
Darian berbalik, alisnya bertaut kesal.
“Ada apa lagi, Suster?”
Suster Rina menelan ludah, tampak ketakutan.
“Keluarga Anda… Nyonya Adreine sudah tiba di lobi. Beliau tidak sendirian. Dan… dan mereka memaksa untuk naik. Mereka ingin bertemu dengan…,” Suster Rina melirik Queenora dengan tatapan cemas yang begitu kentara, “…dengan Ibu Susu yang menyelamatkan cucunya.”