NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISA IKUT SEKALIAN!

“Kesabaran saya sudah habis, Bayu.”

Maira menatap pria itu lurus-lurus. “Saya sudah berbaik hati memberi kamu waktu dua hari untuk selesaikan semuanya."

Lalu ia melirik tajam ke arah Dini. “Karena kamu dan Dini sudah mengganggu ketenangan saya, maka tunggu saja kedatangan polisi ke rumah kalian!" Ancam Maira.

Nada bicaranya datar, tapi cukup untuk membuat Bayu membelalak, wajahnya mendadak pucat.

“Maira!” Pekik Bu Susi akhirnya, memecah ketegangan. Sejak tadi ia diam, menimbang situasi. Tapi kini ia tak bisa lagi menahan dirinya.

“Sekalipun Bayu salah, kamu nggak harus bawa-bawa polisi segala…” Ucapnya, hampir seperti merintih.

Dini langsung menoleh ke arah ibunya seolah mendapat dukungan, sementara Bayu masih berdiri kaku, nyaris tak bernapas.

Maira menatap ibunya perlahan. Matanya dingin. “Kenapa, Bu? Ibu nggak terima kalau menantu Ibu ini aku penjarain?” Suaranya masih datar, tanpa getar emosi, tapi kata-katanya menohok. “Kalau gitu gampang… Ibu bisa ikut dia, sekalian.”

Bu Susi tertegun. Tangannya langsung memegangi dadanya karena shock, seolah tak percaya Maira bisa berkata sejauh itu.

Sementara itu, Farid yang berdiri tak jauh dari istrinya hanya memejamkan mata sejenak. Ia tahu betul, Maira sudah sampai di batas kesabarannya. Ucapan-ucapannya tajam, tegas, dan tak bisa dibantah.

Namun entah mengapa… di tengah ketegasan itu, satu wajah lain tiba-tiba muncul di benak Farid.

Wajah lembut Vina terlintas begitu saja, disertai dengan tutur katanya yang menenangkan. Terlalu kontras jika dibandingkan dengan Maira yang saat ini berdiri penuh amarah, dingin, dan menebar ancaman di depan keluarganya sendiri.

“Udahlah, nggak mungkin dia beneran laporin kamu ke polisi. Paling juga cuma ngancem-ngancem." Ucap Bu Susi dengan nada suara santai sambil mengunyah kacang di ruang tengah. “Buktinya dari kemarin juga nggak ada polisi yang datang ke rumah ini, kan?”

Setelah kejadian panas di rumah Maira kemarin, Dini dan Bayu memang pulang dengan hati yang masih terbakar amarah—namun juga dibalut ketakutan. Mereka berdua sangat waswas. Bahkan malam pun terasa panjang.

Dini meskipun tadinya membela suaminya mati-matian di depan Maira, kini justru diam seribu bahasa sejak kemarin.

Ia duduk bersedekap, matanya hanya menatap kosong ke lantai. Ada kekesalan yang ia tahan. Terutama setelah tahu Bayu hanya memberinya enam juta rupiah dari total enam puluh lima juta rupiah uang yang ia gelapkan.

“Bayu…”Suara berat dan mendadak dari Pak Bowo memecah keheningan sore itu.

“Kemana semua uang proyek Maira yang kamu ambil?” Tanyanya mencoba memancing pengakuan.

Pak Bowo memandang Bayu penuh harap, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan satu hal: ia ingin tahu, kalau-kalau ada sisa uang yang bisa ia keciprati sedikit.

Pertanyaan itu membuat Bu Susi dan Dini sontak menoleh ke arah Bayu. Sorot mata mereka berubah.

“Iya, Mas.” Desak Dini. “Kamu bawa uang puluhan juta, tapi yang kamu kasih ke aku cuma enam juta.” Nada suaranya meninggi karena menahan emosi sejak kemarin.

Bayu gelagapan. Ia seperti tikus yang terpojok, napasnya mulai tak beraturan. Tangan kanannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal—kebiasaan lamanya kalau sedang merasa terdesak.

“Mas…” Sentak Dini kembali. “Jangan bilang… kamu habiskan semua sendiri?”

Bayu menunduk makin dalam. "U...uangnya udah habis buat judi. Aku… aku kecanduan main slot.”

“APA?!” Seru Dini, melompat dari duduknya.

“Kamu habisin enam puluh juta buat judi?!”

Belum habis keterkejutan mereka atas pengakuan Bayu, tiba-tiba terdengar suara asing dari arah luar rumah. “Selamat siang. Dengan Pak Bayu?” Suara berat itu terdengar tegas, sopan namun penuh wibawa, cukup keras untuk didengar dari ruang tamu.

Semua kepala langsung menoleh. Bu Susi sontak bangkit dari duduknya, Dini mendekat ke jendela dengan jantung berdegup tak karuan. Pak Bowo berdiri setengah badan, matanya menyipit curiga.

Bayu membeku. Seolah tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Wajahnya pucat pasi.

“Siapa itu, Mas?” Tanya Dini panik, separuh berbisik. Namun Bayu tak menjawab, mulutnya bahkan terasa kaku untuk bicara.

Beberapa detik kemudian terdengar kembali suara itu, lebih jelas. “Kami dari pihak kepolisian. Bisa dibantu sebentar, Pak Bayu?”

Suasana rumah mendadak hening, seakan seluruh oksigen tersedot dari dalam ruangan. Bu Susi terdiam, mulutnya terbuka tanpa kata. Pak Bowo terlihat bingung antara kaget dan takut.

Bayu menoleh perlahan ke arah Dini. Matanya menyiratkan panik dan penyesalan yang terlambat.

Dini mundur satu langkah. “Mas… jangan kayaknya… mbak Maira—beneran—laporin kamu?” Suaranya terdengar bergetar.

“Ti-tidak ada yang namanya Bayu di sini." Ujar Bayu gugup, matanya bergerak liar mencari jalan keluar entah untuk lari atau bersembunyi.

Namun dari gerak-geriknya yang gelisah dan suara gemetar itu, semua sudah jelas. Polisi hanya saling pandang singkat, lalu mengangguk pelan. Mereka tahu, inilah orangnya.

“Silakan ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Ucap petugas dengan suara tegas tapi tetap profesional.

Seketika dua petugas lainnya bergerak cepat menghampiri Bayu.

“Lepaskan! Saya nggak salah!" Bayu mulai meronta, tubuhnya berusaha melepaskan cengkeraman dua petugas yang menahan lengannya.

“DINI! DINI, TOLONG AKU!” Teriaknya histeris, wajahnya memerah. “Aku nggak mau di penjara! DINI!!”

Dini akhirnya bergerak. Dengan langkah cepat ia menghampiri polisi yang menggiring Bayu keluar rumah. “Pak! Lepasin suami saya! Pak, suami saya nggak salah!” Pekiknya, berusaha mendorong salah satu petugas.

Petugas itu menghentikan langkahnya, menatap Dini dengan tatapan serius.

“Bu, kami hanya menjalankan tugas berdasarkan laporan dan bukti yang ada. Jika memang tak bersalah, silakan buktikan nanti di kantor.”

“Tapi dia cuma pinjam! Pinjam, bukan mencuri!" Dini histeris, kembali mencoba untuk membela suaminya. Matanya basah, wajahnya kalut.

“DINI!!” Teriakan terakhir Bayu menggema saat tubuhnya akhirnya berhasil dibawa paksa ke dalam mobil polisi.

Dini hanya bisa berdiri di teras, menggigit bibir menahan tangis, dan menyaksikan pintu mobil itu tertutup.

Di sampingnya, putrinya yang baru berusia tiga tahun mulai menangis keras, tak tahu apa yang terjadi tapi cukup paham bahwa sesuatu yang buruk sedang berlangsung.

“Mamaaaa!”

Suara kecil itu menembus dada Dini. Ia buru-buru merunduk, mengangkat putrinya yang tubuh mungilnya kini ikut bergetar dalam tangis.

Dengan langkah cepat dan geram, Dini masuk ke dalam rumah. Ia mendudukkan anaknya di sofa, lalu meraih tas selempangnya. Suara gesekan resleting terdengar kasar, seirama dengan napasnya yang mulai memburu.

“Bu, Pak!” Teriaknya lantang sambil berbalik.

Bu Susi yang duduk lemas di kursi hanya bisa menoleh, wajahnya penuh syok. Pak Bowo berdiri mematung, seolah tak tahu harus berbuat apa.

“Kita harus temui Mbak Maira sekarang juga!”

Nada suara Dini membakar udara. “Aku nggak terima! Aku nggak terima kalau sampai mas Bayu harus dipenjara cuma karena uang proyek mbak Maira diambi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!