Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta yang Terbakar
Rencana terbaik selalu lahir dari kelelahan.
Matteo duduk di ruang bawah tanah yang dingin, punggungnya menempel dinding, peta kota terbentang di lantai. Bukan peta wisata—melainkan coretan tangan, garis tebal, titik-titik kecil yang menandai pintu masuk, kamera, kebiasaan patroli. Carmela berdiri di seberangnya, lengan terlipat, wajahnya tenang tapi matanya bekerja cepat.
“Kita tidak bisa mengulang pola,” kata Carmela. “Mereka belajar.”
“Karena itu kita tidak akan lari,” jawab Matteo. “Kita akan keluar.”
Carmela mengangkat alis. “Keluar ke mana?”
“Ke tempat yang tidak ingin mereka sentuh,” kata Matteo, menunjuk satu area di peta—zona abu-abu, bukan milik siapa pun. “Terlalu kotor untuk dipamerkan, terlalu bersih untuk dihancurkan.”
Carmela menatap titik itu lama. “Siapa yang memegang kuncinya?”
Matteo tidak langsung menjawab. “Lorenzo.”
Nama itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Riaknya terasa.
“Dan kamu percaya padanya?” tanya Carmela.
“Tidak,” jawab Matteo jujur. “Tapi aku memahami motifnya.”
“Motif bukan jaminan,” sahut Carmela.
“Tidak,” kata Matteo. “Tapi prediktabilitas adalah.”
Lorenzo datang menjelang tengah malam. Ia mengenakan mantel gelap, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tatapannya menyapu ruangan—peta, kabel, laptop.
“Kalian bergerak cepat,” katanya.
“Tidak cukup cepat,” jawab Carmela.
Lorenzo menoleh padanya, senyum tipis. “Kamu mulai terdengar seperti dia.”
“Itu pujian atau peringatan?” tanya Carmela.
“Fakta,” jawab Lorenzo. “Dan fakta jarang peduli perasaan.”
Matteo menunjuk peta. “Kita butuh akses. Dua jam. Tanpa sorotan.”
Lorenzo menghela napas. “Dua jam di wilayah itu sama dengan mengundang badai.”
“Badai sudah datang,” sahut Matteo.
Lorenzo terdiam. Ia menimbang, bukan dengan ragu—melainkan dengan perhitungan dingin. “Aku bisa membuka pintu,” katanya akhirnya. “Tapi harganya naik.”
“Apa?” tanya Carmela.
“Nama,” jawab Lorenzo. “Bukan ke publik. Ke meja tertentu.”
Matteo menggeleng. “Bukan Carmela.”
“Bukan,” kata Lorenzo cepat. “Nama lain. Nama yang… pantas.”
Carmela menyipitkan mata. “Siapa?”
Lorenzo menatap Matteo. “Seseorang yang selama ini mengira dirinya aman.”
Keheningan meregang.
“Kamu mengkhianati?” tanya Carmela.
“Tidak,” jawab Lorenzo. “Aku menyeimbangkan.”
Matteo menutup mata sejenak. “Berapa lama?”
“Empat puluh delapan jam,” kata Lorenzo. “Setelah itu, pintu tertutup.”
Matteo mengangguk. “Lakukan.”
Lorenzo berbalik pergi, lalu berhenti di ambang pintu. “Satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh. “Jika rencana ini gagal, jangan cari aku.”
“Tidak pernah,” jawab Matteo.
Mereka bergerak sebelum fajar. Mobil tua tanpa tanda, rute memutar, berhenti dua kali untuk berganti kendaraan. Carmela mencatat waktu dalam kepalanya, bukan di kertas. Matteo memeriksa pantulan di kaca spion—tidak ada bayangan yang bertahan.
Zona abu-abu itu terlihat seperti kawasan industri mati: gudang-gudang tua, lampu rusak, bau logam. Mereka masuk melalui pintu samping yang terbuka seolah lupa dikunci.
Di dalam, lorong panjang membawa mereka ke ruang server kecil—bukan megah, tapi cukup. Matteo membuka casing, menyambungkan perangkat.
“Kita tidak menyalin,” katanya. “Kita memindahkan.”
“Memindahkan ke mana?” tanya Carmela.
“Ke tempat yang akan memaksa mereka saling mengunci,” jawab Matteo. “Cermin.”
Carmela mengangguk. Ia berdiri di pintu, berjaga. Detik berjalan lambat.
Ponsel bergetar di saku Carmela—kode dari Lorenzo. Bersih. Lalu, beberapa detik kemudian: Tidak lagi.
Langkah kaki terdengar di kejauhan.
“Matteo,” bisik Carmela.
“Aku tahu,” jawabnya. “Dua menit.”
Langkah makin dekat. Suara radio berderak. Carmela menutup pintu, mengunci dari dalam.
“Kita terjebak,” katanya.
“Tidak,” sahut Matteo. “Kita tepat waktu.”
Ia menarik kabel terakhir. Lampu kecil berkedip—selesai.
Pintu didorong dari luar. Dentuman. Sekali. Dua kali.
“Lewat sini,” kata Matteo, menarik Carmela ke panel samping yang terbuka. Mereka merayap melalui lorong servis, udara pengap. Dentuman makin keras di belakang.
Mereka keluar di sisi lain gudang, berlari menyusuri bayangan. Mobil menunggu, mesin hidup.
Saat mereka melaju, sirene menyala di belakang. Jauh—lalu dekat.
Matteo membelok tajam, mematikan lampu. Carmela menahan napas.
Mereka lolos—nyaris.
Berita meledak siang itu. Bukan tentang Matteo. Bukan tentang Carmela. Tentang perang internal—akun dibekukan, rapat darurat, pengunduran diri mendadak. Cermin bekerja.
Carmela menatap layar, jantungnya berdebar. “Ini akan memicu balasan.”
“Sudah,” jawab Matteo, menunjukkan ponsel. Pesan singkat dari nomor tak dikenal: Kalian melewati garis.
“Lorenzo?” tanya Carmela.
“Bukan,” kata Matteo. “Ini orang yang namanya diserahkan.”
Carmela menghela napas. “Jadi… pengkhianatan itu nyata.”
“Terukur,” jawab Matteo. “Dan itu membuat Lorenzo—”
“Terbuka,” potong Carmela.
Matteo mengangguk.
Malam itu, Lorenzo menghilang.
Tidak ada pesan. Tidak ada jejak. Apartemennya kosong. Kantornya ditutup. Orang-orang bertanya—tanpa jawaban.
Carmela duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. “Dia mengorbankan seseorang, lalu lenyap.”
“Dia menyelamatkan kita,” kata Matteo.
“Dengan harga yang bukan miliknya,” jawab Carmela.
Matteo terdiam. “Aku tidak menyangkal.”
Keheningan itu jujur, dan karenanya berat.
“Apa langkah berikutnya?” tanya Carmela.
“Kita berpisah rute,” jawab Matteo. “Sebentar. Membersihkan sisa.”
Carmela menatapnya. “Dan jika salah satu tertangkap?”
Matteo mendekat. “Maka yang lain harus hidup.”
Carmela menelan ludah. “Aku benci aturan itu.”
“Aku juga,” kata Matteo. “Tapi aku tidak akan memintamu lebih dari yang bisa kamu beri.”
Carmela berdiri. “Aku akan ke utara. Kontak lama.”
“Aku ke selatan,” jawab Matteo. “Dua minggu.”
“Dua minggu,” ulang Carmela.
Mereka berpelukan. Lama. Seperti orang yang tahu waktu adalah barang mewah.
Di kota lain, seseorang menonton layar dengan senyum tipis. Nama yang diserahkan kini menjadi pusat badai. Ia menutup laptop, meraih ponsel.
“Kita mulai,” katanya.
Dua hari kemudian, Carmela menerima pesan terenkripsi dari Mira: Narasi bergeser. Tapi ada tangan baru. Lebih rapi.
Carmela menatap jendela kereta. Lanskap berubah—hutan, sungai, kota kecil. “Kita belum selesai,” gumamnya.
Ponsel bergetar lagi—kode Matteo. Aman. Bergerak.
Ia membalas: Aku juga.
Di kejauhan, petir menyambar tanpa hujan. Peta mungkin terbakar, tapi rute masih ada—selama mereka mau membaca ulang.
Dan Carmela tahu: rencana ini berhasil bukan karena sempurna, melainkan karena mereka memilih bergerak bersama, meski terpisah.