NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Bertahan Tidak Lagi Cukup

Mobil melaju menembus jalan pesisir yang kosong. Lampu-lampu kota tertinggal jauh di belakang, digantikan gelap yang pekat dan sunyi. Matteo menyetir dengan satu tangan; tangan lainnya menekan perban kasar di lengan, darah masih merembes perlahan. Carmela duduk di sampingnya, diam, matanya tak lepas dari jalan di depan—seolah jika ia berpaling, sesuatu akan runtuh.

Ricardo memecah keheningan. “Lorenzo sengaja membiarkan kalian pergi.”

“Aku tahu,” jawab Matteo tanpa emosi. “Dia ingin aku bergerak.”

“Dan kau akan memberinya apa yang dia mau?” tanya Ricardo.

Matteo menoleh sekilas ke Carmela, lalu kembali ke jalan. “Tidak. Aku akan memberinya apa yang dia takutkan.”

Rumah aman berikutnya berada di luar jaringan lama—sebuah vila tua di perbukitan, jauh dari jalur perdagangan dan mata-mata Lorenzo. Di sana, Matteo akhirnya duduk. Diam. Membiarkan sakit datang setelah adrenalin pergi.

Carmela membersihkan lukanya dengan tangan yang kini lebih mantap. Tidak ada gemetar. Tidak ada ragu.

“Kau seharusnya tidak ada di pelabuhan,” kata Matteo pelan.

“Aku seharusnya,” jawab Carmela tanpa menatapnya. “Karena itu hidupku yang diperdagangkan.”

Matteo menghela napas. “Aku membuat pilihan.”

“Kau membuat pilihan untukku,” Carmela akhirnya menatapnya. “Dan aku menerimanya. Tapi mulai sekarang, aku ingin duduk di meja yang sama.”

Keheningan jatuh, berat dan jujur.

Matteo mengangguk. “Baik.”

Itu bukan kompromi kecil. Itu pengakuan.

Ricardo membawa kabar buruk sebelum malam benar-benar turun.

“Lorenzo mengunci pelabuhan lama dan memindahkan operasi ke utara. Dia membersihkan jejak—dan mengirim pesan.”

“Apa pesannya?” tanya Carmela.

Ricardo ragu. “Dia membocorkan sebagian arsip lama. Tentang keluargamu.”

Carmela menegang. “Keluargaku?”

“Bukan keluargamu,” koreksi Ricardo. “Tentang alasan kau dijodohkan.”

Matteo berdiri. “Tunjukkan.”

Di layar, dokumen lama terbuka: kontrak, aliran dana, tanda tangan yang sudah pudar. Nama Matteo muncul—bukan sebagai pengantin, tapi sebagai jaminan stabilitas. Pernikahan itu bukan hanya ikatan keluarga. Itu perjanjian damai.

“Lorenzo yang mendorongnya,” kata Ricardo. “Tahun-tahun lalu. Dengan tujuan mengikatmu—tanpa kau sadari.”

Carmela memejamkan mata. Seluruh tubuhnya terasa dingin.

“Aku bukan kebetulan,” katanya lirih. “Aku… alat.”

Matteo menghampirinya, suaranya tegas. “Tidak. Kau adalah variabel yang tidak dia perhitungkan.”

“Karena aku jatuh cinta?” tanya Carmela pahit.

“Karena kau memilih,” jawab Matteo. “Dan dia tidak bisa mengendalikan pilihan.”

Malam itu, Matteo menyusun serangan. Bukan frontal. Bukan balas dendam impulsif. Pembongkaran.

Ia memutus aliran dana Lorenzo satu per satu, membuka kesepakatan lama kepada pihak yang tepat, menyalakan konflik internal yang selama ini dipadamkan dengan uang dan takut. Telepon berdering, pesan masuk, wajah-wajah lama muncul kembali—semuanya bergerak.

Carmela memperhatikan dari kejauhan, lalu berkata, “Dia akan menyerang balik.”

“Aku berharap begitu,” jawab Matteo. “Karena itu berarti dia keluar dari bayangan.”

“Dan jika dia menyentuh orang-orang yang tersisa?” tanya Carmela.

Matteo menoleh, tatapannya dingin. “Aku sudah memindahkan mereka.”

Carmela mengangguk. Ia mengerti. Ini dunia Matteo—keras, kejam, tapi terstruktur. Dan malam ini, ia memilih berdiri di dalamnya, bukan di pinggir.

Serangan balik datang sebelum fajar.

Ledakan kecil di gudang kosong—bukan untuk melukai, hanya untuk mengingatkan. Pesan suara menyusul, suara Lorenzo tenang seperti biasa.

“Kau membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup, Matteo. Dan kau melibatkan seorang perempuan yang tidak pernah kau miliki.”

Matteo menutup sambungan. “Dia milik dirinya sendiri.”

Carmela berdiri di sampingnya. “Apa langkah berikutnya?”

Matteo menatapnya lama. “Kau yakin?”

“Sejak pelabuhan,” jawab Carmela. “Aku berhenti berharap dunia akan adil.”

Matteo mengangguk. “Kita akan memukul jantungnya. Bukan kekuasaannya—narasinya.”

Mereka bergerak ke kota utara saat hujan turun. Di sana, Lorenzo menyimpan yang paling ia jaga: bukti. Bukan senjata, bukan uang—cerita tentang siapa yang berutang pada siapa.

Di sebuah gedung tua bekas bank, Matteo dan Carmela masuk lewat pintu samping. Ricardo mengamankan perimeter. Waktu berdetak cepat.

Di ruang arsip, Carmela menemukan berkasnya sendiri—foto lama, alamat, catatan yang ditulis tangan. Ia menahan napas.

“Dia mengawasiku sejak lama,” katanya.

Matteo berdiri di belakangnya. “Dan malam ini, kita mengambil kembali hidupmu.”

Mereka menyalin, memotret, mengamankan. Saat alarm akhirnya berbunyi, itu sudah terlambat.

Pelarian berlangsung cepat. Di mobil, hujan makin deras. Carmela menatap layar ponsel, data tersimpan aman.

“Jika ini tersebar,” katanya, “semua akan tahu.”

“Dan itu akan memecahnya,” jawab Matteo. “Lorenzo hidup dari cerita bahwa dia tak tersentuh.”

Telepon berdering lagi. Nomor tak dikenal.

“Kau menang satu bab,” suara Lorenzo terdengar dingin. “Tapi cerita ini belum selesai.”

Matteo menjawab pelan, “Aku tidak menutup buku. Aku mengubah akhirnya.”

Telepon terputus.

Mereka berhenti di tepi jalan, hujan membasahi kaca. Untuk pertama kalinya sejak lama, Matteo mematikan mesin dan menoleh ke Carmela.

“Aku tidak tahu bagaimana ini berakhir,” katanya jujur. “Aku hanya tahu—aku tidak akan mengakhirinya tanpa kau.”

Carmela mendekat, menyentuh dahi Matteo dengan dahinya sendiri. “Aku tidak butuh akhir yang bersih. Aku butuh akhir yang jujur.”

Matteo tersenyum tipis. “Itu yang paling sulit.”

“Dan paling layak diperjuangkan,” balas Carmela.

Mereka berciuman—singkat, tenang, penuh keputusan. Bukan pelarian, bukan janji kosong. Kesepakatan dua orang dewasa yang tahu harga dari setiap langkah.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!