Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dimas yang sudah kehilangan akal sehat karena kepanikan dan obsesi, tidak lagi mempedulikan kondisi fisik Swari yang kian melemah.
Melihat perlawanan Swari yang keras kepala, kemarahannya memuncak.
"Diam kamu, jalang! Kamu seharusnya bersyukur aku masih mau menerimamu!" bentak Dimas.
Ia kembali menekan kain berisi cairan bius itu ke mulut Swari dengan kasar.
"Mmmmpphh!! MMMMPPHHH!!"
Swari meronta dengan sisa tenaganya. Dalam pandangannya yang mulai mengabur, wajah Alex dan Alexandria terbayang begitu jelas.
"Alex, Alexandria, Mama minta maaf. Maafkan Mama tidak bisa pulang pagi ini," batinnya meratap pilu seiring dengan air mata yang mengalir deras di sudut matanya.
Karena Swari terus mencoba melawan, Dimas yang gelap mata menghantamkan kepalan tangannya ke arah leher samping Swari dengan keras.
BUGH!
Tubuh Swari seketika terkulai lemas. Kesadarannya putus.
Dimas menatap tubuh tak berdaya itu dengan napas memburu.
Ia kemudian memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk membawa sebuah peti kayu yang sudah disiapkan di sudut gudang.
"Masukkan dia ke dalam sini! Kita bawa dia lewat jalur laut agar tidak terlacak oleh radar Baskara," perintah Dimas dingin.
Mereka mengangkat tubuh Swari yang ringkih dan memasukkannya ke dalam peti yang sempit dan pengap itu. Namun, tekanan saat tubuhnya diangkat secara kasar dan posisi dadanya yang terhimpit di dalam peti yang sempit menjadi pemicu bencana medis yang fatal.
Abses di dada kiri Swari yang sudah meradang hebat akhirnya tidak mampu menahan tekanan lagi.
Tepat saat tutup peti dipaku dengan keras, infeksi tumor Swari pecah di dalam.
Cairan infeksi dan darah mulai merembes, membasahi baju rumah sakit yang ia kenakan.
Racun dari infeksi itu (sepsis) mulai menyebar dengan cepat ke seluruh aliran darahnya.
Di dalam kegelapan peti itu, napas Swari menjadi sangat dangkal, detak jantungnya melemah, dan suhu tubuhnya melonjak drastis.
Ia sedang berada di ambang maut, sendirian di dalam kotak kayu.
Sementara itu di tempat lain Baskara menatap layar monitor besar yang menunjukkan titik-titik koordinat kendaraan yang keluar dari area pelabuhan tikus. Tiba-tiba, ia merasakan dadanya sesak luar biasa, seolah-olah jantungnya baru saja diremas oleh tangan tak kasat mata.
"Gandi! Ada apa dengan titik GPS-nya?!" teriak Baskara kalap.
"Tuan, sinyalnya menghilang di sekitar area gudang logistik pelabuhan! Sepertinya mereka mematikan semua perangkat elektronik!"
Baskara menyambar senjata dari meja. Matanya memerah, memancarkan aura kegelapan yang siap menghancurkan siapa saja.
"Siapkan helikopter. Jika aku sampai kehilangan dia, aku akan meratakan pelabuhan itu dengan tanah!"
Hujan deras mengguyur Pelabuhan Sunda Kelapa, menyamarkan suara ombak dan deru mesin kapal.
Baskara tiba seperti malaikat pencabut nyawa, menerjang barikade anak buah Dimas dengan kemarahan yang tak terbendung.
Di bawah lampu dermaga yang berkedip-kedip, ia melihat Dimas sedang mengawasi beberapa orang yang hendak menaikkan sebuah peti kayu ke atas kapal motor.
"DIMAS!!!" raungan Baskara menggelegar, lebih keras dari guntur.
Dimas berbalik, menyeringai gila. Ia mencabut pisau lipat dari sakunya.
"Datang juga sang pahlawan. Tapi kau terlambat, Baskara. Swari sudah menjadi milikku selamanya!"
Tanpa banyak bicara, Baskara menerjang. Pukulan mentah mendarat telak di wajah Dimas, disusul tendangan yang membuat pria licik itu tersungkur ke aspal basah.
Duel terjadi dengan brutal di tengah hujan. Baskara tidak peduli lagi dengan teknik; ia hanya ingin menghancurkan pria yang telah menyentuh miliknya.
Dimas mencoba menusuk perut Baskara, namun Baskara menangkap tangan Dimas, memelintirnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan, dan melemparkannya ke tumpukan kontainer.
Sambil napasnya tersengal, Baskara mengabaikan Dimas yang mengerang kesakitan.
Fokusnya hanya satu yaitu peti kayu itu.
Dengan tangan gemetar dan penuh luka, Baskara menyambar linggis yang tergeletak di dekat sana.
Ia mencongkel tutup peti itu dengan tenaga membabi buta.
Begitu paku terakhir terlepas, tutup peti terlempar jatuh.
Baskara membeku. Dunia di sekitarnya seolah mendadak sunyi.
Di dalam peti yang sempit itu, Swari terkulai. Wajahnya sepucat kertas, bibirnya membiru, dan bajunya yang semula putih bersih kini bersimbah cairan merah kecokelatan yang berbau anyir menyengat.
Infeksinya telah pecah, merembes keluar dari balik dadanya, menandakan kondisi sepsis yang sangat mematikan.
Swari tidak bergerak, napasnya hampir tidak terlihat, hanya menyisakan kerongkongan yang bergerak halus mencoba mencari oksigen.
"TIDAK!!!!!"
Teriakan Baskara memecah kesunyian pelabuhan, penuh dengan kepedihan yang menyayat hati.
Ia segera mengangkat tubuh Swari yang terasa sangat panas—suhu tubuhnya melonjak karena infeksi yang sudah masuk ke darah.
"Swa... Swari! Bangun, Sayang! Jangan tinggalkan aku sekarang!"
Baskara mendekap tubuh ringkih itu di tengah hujan, air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah Swari.
"Tuhan, jangan ambil dia! Ambil nyawaku saja, tapi jangan dia!"
Gandi dan tim medis BSG yang baru sampai langsung berlari mendekat.
"CEPAT! SIAPKAN HELIKOPTER! DIA SEKARAT!" teriak Baskara kalap sambil menggendong Swari menuju ambulans udara yang sudah mendarat darurat di area terbuka pelabuhan.
Sementara itu, Dimas yang mencoba merangkak kabur langsung diringkus oleh kepolisian yang baru tiba atas perintah Nyonya Widya. Namun Baskara tidak menoleh sedikit pun.
Matanya hanya tertuju pada wajah Swari yang kini tampak sangat damai dalam kondisi kritisnya.
Helikopter itu berguncang hebat di tengah badai, namun kekacauan di dalamnya jauh lebih mengerikan.
Monitor medis yang terpasang pada tubuh Swari tiba-tiba mengeluarkan bunyi nada tunggal yang panjang dan melengking.
PIIIIIIIIIIIIIIIIIIII...
Garis di layar itu menjadi datar.
"Henti jantung! Tuan, nadinya hilang!" teriak paramedis yang mencoba menstabilkan kondisi Swari.
Wajah Baskara seketika pucat pasi. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini mencengkeram dadanya hingga sesak.
Tanpa menunggu aba-aba, Baskara mendorong paramedis itu ke samping.
Ia berlutut di lantai helikopter yang sempit, meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Swari yang kini bersimbah darah dan cairan infeksi.
"Tidak... tidak sekarang, Swari!" raung Baskara.
Ia mulai melakukan penekanan jantung (CPR) dengan ritme yang kuat dan penuh keputusasaan. Satu, dua, tiga...
"Bangun, Swari Aruna! Kamu masih punya hutang satu miliar! Kamu belum menghukumku dengan pernikahan kita!"
Baskara menekan dada Swari sekuat tenaga, mengabaikan luka di tangannya sendiri yang kembali terbuka.
Setiap kali ia menekan, ia merasa seolah sedang mencoba memompa nyawanya sendiri ke dalam tubuh wanita itu.
"Aku bersumpah, Swa! Aku akan menyusulmu jika kamu pergi sekarang! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di sana! Aku akan meninggalkan segalanya dan menyusulmu!" teriak Baskara, air matanya jatuh membasahi wajah Swari yang dingin dan tak merespons.
"Bangun, Sayang. Alex dan Alexandria menunggumu. Jangan buat mereka menjadi yatim piatu lagi karena kesalahanku!"
Satu, dua, tiga...
Baskara terus memompa. Keringat dan air mata bercampur di wajahnya.
Paramedis di sampingnya menatap dengan nanar, mereka tahu peluang Swari sangat kecil mengingat infeksi yang sudah menyebar, namun Baskara tidak berhenti.
"BANGUN SWARI ARUNA!! AKU MEMERINTAHKANMU UNTUK HIDUP!!"
Baskara mendekatkan wajahnya, memberikan napas buatan, mencoba meniupkan sisa hidupnya ke dalam paru-paru Swari.
Ia mencengkeram bahu Swari, mengguncangnya dengan kasar namun penuh cinta.
Tiba-tiba, setelah menit-menit yang terasa seperti keabadian, tubuh Swari tersentak kecil di bawah tangan Baskara.
Tit... tit... tit...
Monitor itu kembali mengeluarkan bunyi detak jantung yang sangat lemah dan tidak teratur.
"Nadinya kembali! Ada denyut, Tuan!" teriak paramedis itu dengan nada tidak percaya.
Baskara luruh di samping tubuh Swari. Tubuhnya gemetar hebat, ia menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan Swari yang kini terasa sedikit lebih hangat.
Ia menciumi jemari itu dengan penuh syukur.
"Terima kasih... Terima kasih, Tuhan..." bisik Baskara parau di tengah deru mesin helikopter yang kian mendekati atap rumah sakit.
"Bertahanlah sedikit lagi, Swa. Kita sudah sampai."
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor