NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Desa Kerdil

Kreeeeakk—DUARR!

​Hantaman keras pada badan lift membuat Auristela terlempar ke depan, nyaris menghantam tumpukan baut berkarat jika ia tidak segera menahan diri dengan satu tangan. Verdy sudah seperti orang kesurupan, menghantam tuas kendali dengan palu godamnya berkali-kali sementara uap panas menyembur dari sela-sela mesin.

​"S!al! S!al! S!al! Kalau kabel ini putus, kita tidak akan sampai ke bawah hidup-hidup! kita akan jadi perkedel begitu sampai ke dasar lembah!" jerit Verdy di tengah kebisingan logam yang beradu.

​Aruna tidak sempat menjawab Verdy. Dia sibuk menstabilkan posisi Asher yang berada di pangkuannya. Napas Asher terdengar sesak dan berat, seperti ada cairan yang menyumbat tenggorokannya. Urat hitam di leher Asher sudah merambat hingga ke belakang telinga, menandakan racun Laba-laba metalik mulai membekukan aliran d4rah dan mana di tubuhnya.

​'Sistem! Aku tahu kau sedang error, tapi visualisasikan memoriku dengan benar! Berikan aku sesuatu untuk mencairkan racun ini! Cepat sebelum jantungnya berhenti!' teriak Aruna dalam batinnya.

​Ding!

​[M-me-m-mp-prosesss p-p-permintaan h-host...

M-me-mengaktifkan sk-sk-skill u-utama m-memori M-materialization...

M-me-memanggil i-item...]

​Syuuut!

​Bungkusan merah mencolok bertuliskan "Koyo Cabe Sakti" dan kotak plastik berisi "Es Batu Rasa Jahe" jatuh telak di atas perut Asher.

​Aruna terpaku. Matanya melotot menatap dua benda yang baru saja muncul itu. 'Koyo cabe?! Dan es batu jahe?! Sistem rongsokan!! Kau pikir Asher itu cuma lagi masuk angin?! Aku minta penawar racun, bukan barang-barang random begini! Kau berniat menolong orang atau malah menyiksanya?!'

​Melihat Asher yang mulai kejang kecil, ia tidak punya pilihan. 'Menurut pengetahuan dari Verdy racun metalik bersifat dingin dan statis. Mungkin "kejutan" panas dan pedas ini bisa memaksa d4rah Asher mengalir lagi.' Dengan gerakan cepat, ia menyobek kain kasa yang membalut Asher hingga memperlihatkan dadanya yang bidang. Plak! Koyo itu ia tempelkan tepat di tengah dada Asher.

​Satu detik... dua detik...

​"UAAAGHHH!"

​Asher langsung tersentak bangun hingga kepalanya membentur langit-langit lift. DANG! Suara benturan itu sangat keras, tapi rasa sakit di kepalanya kalah jauh dengan rasa panas yang membakar di dadanya. "Put-Putri Auristela?! Apa yang kamu lakukan?! Dadaku... kenapa begitu pa..."

Aruna tidak segan segan, begitu Asher membuka mulut, ia langsung memasukkan dua bongkah besar es batu jahe sekaligus ke dalamnya. "KUNYAH! Jangan d!muntahkan kalau kau masih ingin napas!"

​Asher nyaris tersedak. Matanya melotot ke arah Aruna, wajahnya merah padam antara kepedasan jahe dan panas menyengat dari koyo. Perpaduan dari dua suhu itu menciptakan guncangan hebat pada aliran mana di tubuhnya. Hingga uap hitam pekat mulai menguap keluar dari pori-pori kulit Asher, dan rona merah mulai kembali ke wajahnya.

​BRAAAKK!

​Lift itu menghantam dasar lembah dengan guncangan terakhir yang membuat pintu besinya terlempar terbuka. Di depan mereka, pemandangan Nebula Grotto terhampar—ratusan rumah batu bundar dengan pipa-pipa kristal yang berpendar indah di tengah kabut abadi.

​'Jadi ini dasar lembahnya? Semuanya terlihat sangat kecil dan padat... benar-benar desa para kerdil yang luar biasa,' batin Aruna kagum sejenak.

​"Kita sampai! Cepat bawa dia keluar sebelum lift ini meledak!" seru Verdy sambil memapah Asher.

​Asher mencoba berdiri dengan sisa tenaganya, ia menatap Aruna dengan tatapan linglung. "Putri Auristela... Tadi itu... kamu benar-benar hampir membunuhku..."

​"Humph! Tapi kamu hidup, kan?" balas Auristela, meski hatinya lega luar biasa.

​Tepat saat itu, sebuah monitor uap di dekat gerbang masuk berderit nyaring. Wajah Luna muncul, rambutnya tampak berantakan dan latar belakang langit di atasnya mulai berwarna kuning pucat yang aneh.

​"Auristela! Verdy! Syukurlah kalian selamat!" teriak Luna panik melalui layar. "Tapi jangan masuk ke pemukiman! Para Ksatria Suci di atas sana... mereka membawa puluhan barel 'Holy Rain' dan baru saja menuangkannya ke sungai hulu!"

​"Apa?! Mereka gila!" Verdy berteriak ke arah monitor. "Air itu akan bereaksi dengan kristal Nebula! Gasnya akan melenyapkan mana semua makhluk hidup di sini!"

​"Kalian harus lari ke kanal pembuangan utara!" Luna mendesak. "Aku akan mencoba menahan aliran airnya dengan sihir, tapi itu tidak akan lama. Lari, sekarang!"

​Asher yang masih lemas dengan koyo cabe yang masih menempel di dadanya, langsung menarik pedang Solis-Aeterna. Ia menatap Aruna, menyadari betapa gadis ini mempertaruhkan segalanya untuknya di dalam lift tadi.

​Ding!

​[T-terde-teksii k-kede-katan d-dengan Asher de Volland : 87%. (Catatan: Asher merasa c-cara pengo-batan dari ho-st sangat t-traumatis, namun ia me-nyadari bahwa nyawanya kini milik h-host. Ia b-bersumpah akan m-melindunginya sampai titik d4rah terakhir).]

​"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung pajangan!" bentak Verdy pada Asher yang masih memegangi dadanya. "Gas itu tidak akan bertanya siapa namamu sebelum melenyapkan manamu!"

​Asher menarik napas panjang, mencoba menahan rasa terbakar yang masih berdenyut. Pandangannya beralih pada Aruna. Ada kilatan rasa bersalah sekaligus rasa syukur yang dalam di matanya. "Putri... maafkan aku. Seharusnya aku yang melindungimu, bukan malah membuatmu menggunakan cara... untuk menyelamatkanku."

​Aruna hanya mendengus, mencoba menyembunyikan tangannya yang sebenarnya masih sedikit gemetar karena panik tadi. "Simpan permintaan maafmu. Kalau kau ingin menebusnya, pastikan kakimu tidak goyah saat kita berlari nanti. Aku tidak ingin menyeret tubuhmu sepanjang kanal pembuangan."

​Sementara itu, kabut kuning pucat mulai turun dari langit-langit gua Nebula Grotto, merayap turun seperti hantu yang kelaparan. Di kejauhan, penduduk desa mulai terlihat panik. Suara lonceng peringatan berdentang memecah kesunyian lembah, bersahutan dengan bunyi uap yang dilepaskan dari pipa-pipa kristal untuk mencoba menetralkan gas.

​"Luna! Kau dengar aku?!" teriak Aruna ke arah monitor uap yang mulai berkedip-kedip.

​"S-sinyalnya... terganggu... gas itu... mengacaukan transmisi uap!" Suara Luna terdengar putus-putus, wajahnya di layar tertutup oleh distorsi putih. "Cepat... utara... jangan lewat... Brrrzzzt!"

​Layar itu mendadak mati, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum suara ledakan kecil terdengar dari hulu sungai. Bum! Air terjun yang tadinya jernih kini berubah menjadi keruh.

​"Ayo lari!" Verdy menarik lengan Aruna. "Kanal utara ada di balik bukit kristal itu! Kalau kita terlambat, kita tidak akan pernah bisa menggunakan sihir lagi seumur hidup!"

​Asher menggenggam erat pedang Solis-Aeterna. Meski tubuhnya masih terasa seperti d!panggang api dari dalam, kekuatannya mulai bangkit kembali, meluap membentuk perlindungan instan bagi gadis di sampingnya. Ia tidak akan membiarkan kabut kuning itu menyentuh Aruna.

​"Ikuti aku, Putri. Tetaplah berada di sampingku," ucap Asher dengan nada rendah namun penuh penekanan.

​Aruna menatap punggung tegap Asher. 'Dasar es batu keras kepala. Padahal dia yang paling menderita tadi,' Dia tetap melangkah cepat mengikuti mereka menembus labirin rumah batu yang mulai diselimuti maut.

​"Verdy! Berapa jauh lagi?!" seru Aruna sambil menutupi hidungnya.

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!