"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Labirin Kebohongan
Dunia di sekitar Tian seolah runtuh dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ia berdiri mematung di atas tubuh Paman Hasan yang masih mengejang akibat aliran listrik pendek, namun matanya terpaku pada layar raksasa yang menampilkan Mega. Di layar itu, Mega tampak hancur, rambutnya berantakan, dan sebuah pistol menempel di pelipisnya sendiri.
"Mega... apa yang kau lakukan di sana?" suara Tian terdengar seperti bisikan hantu.
"Mas, jangan dengarkan Aristha! Arka tidak pernah di Jakarta!" Mega berteriak, air matanya jatuh membasahi moncong senjata. "Mereka menculikku dan Arka sesaat setelah kau pergi. Kita semua ada di kompleks yang sama, hanya di level yang berbeda! Jika kau mematikan sistem Paman Hasan, itu akan memicu penghancuran otomatis di ruanganku!"
Tian merasakan mual yang hebat. Aristha telah menciptakan sebuah teka-teki setan. Di bawah kakinya, Paman Hasan sang guru menjadi kunci fisik. Di depannya, layar menunjukkan Mega sang istri menjadi kunci nyawa. Dan di suatu tempat yang tak terlihat, Arka sang putra menjadi taruhan terakhir.
Aristha tertawa terbahak-bahak melalui pengeras suara, suara tawanya memantul di dinding laboratorium dingin Zurich ini. "Selamat datang di permainan catur yang sesungguhnya, Tian. Kau adalah bidak yang terlalu kuat, jadi aku harus membuatmu memakan perwiramu sendiri. Pilih sekarang: Matikan 'Cyber-Hasan' dan kau akan melihat istrimu hancur, atau biarkan Hasan membunuhmu dan aku akan membiarkan anak dan istrimu hidup sebagai subjek penelitianku selamanya."
"Kau bukan manusia, Aristha. Kau adalah iblis," desis Tian.
Tian menatap Paman Hasan. Mata merah neon pamannya kembali menyala terang, lebih ganas dari sebelumnya. Hasan bangkit dengan suara mesin yang menderu, tangan logamnya mencekik leher Tian dan mengangkatnya ke udara. Tian tidak melawan. Ia menatap mata merah itu, mencari sisa-sisa jiwa pria yang dulu mengajarinya bahwa seorang suami harus menjadi pelindung, bukan penghancur.
"Paman... jika kau masih di sana... maafkan aku," bisik Tian saat oksigen mulai hilang dari paru-parunya.
Namun, di tengah cekikan itu, Tian menyadari sesuatu. Di pergelangan tangan logam Hasan, ada sebuah kode biner yang terus berkedip sebuah sinyal SOS yang hanya diketahui oleh mereka berdua sejak pelatihan di dermaga dulu. Paman Hasan tidak sepenuhnya kehilangan kendali; ia sedang menggunakan sistem Aristha untuk mengirimkan pesan rahasia.
Kode itu berarti: "Hancurkan lantai."
Tian menyadari bahwa seluruh laboratorium ini adalah satu sirkuit terintegrasi. Jika ia bisa memutus aliran listrik utama di bawah lantai ini, seluruh protokol penguncian Aristha termasuk bom di ruangan Mega akan mengalami reboot selama 30 detik. Waktu yang sangat sempit, namun cukup untuk sebuah mukjizat.
Dengan satu gerakan nekat, Tian menarik granat elektromagnetik terakhir dari sabuknya. Ia tidak melemparkannya ke arah Hasan atau Aristha, melainkan menghantamkannya ke lantai kaca di bawah kakinya.
BOOOM!
Lantai kaca itu hancur. Tian dan Hasan jatuh terperosok ke lantai bawah, ke dalam pusat jaringan kabel utama yang dialiri ribuan voltase. Di saat yang sama, layar yang menampilkan Mega menjadi statis.
"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Aristha yang mulai panik karena kehilangan kendali visual.
Tian mendarat di atas tumpukan kabel dengan tubuh yang hangus tersengat listrik. Di sampingnya, Paman Hasan terkapar. Cahaya merah di mata Hasan padam sepenuhnya, digantikan oleh mata cokelat yang sayu dan penuh kesadaran untuk terakhir kalinya.
"Tian... lari... ke Level 4... Arka ada... di sana..." bisik Hasan dengan sisa tenaganya. Tangan logamnya mulai mengeluarkan asap hitam. "Paman bangga... padamu..."
Tian merangkak, air mata darah mengalir di wajahnya. Ia harus meninggalkan pamannya yang sedang sekarat di tengah sirkuit yang mulai terbakar. Ia berlari menembus lorong-lorong bawah tanah yang mulai gelap karena reboot sistem. Setiap detik terasa seperti satu tahun.
Ia sampai di sebuah pintu baja berat bertuliskan "LEVEL 4 - NURSERY". Tanpa alat peretas, ia menggunakan bahunya yang sudah cedera untuk menghantam pintu itu berkali-kali sampai sendinya bergeser.
Pintu itu terbuka. Ruangan di dalamnya putih bersih, sangat kontras dengan neraka yang baru saja dilewati Tian. Di tengah ruangan, di dalam sebuah inkubator kaca, Arka sedang menangis kencang. Warna birunya telah hilang, namun sebuah jam digital di atas inkubator menunjukkan angka 00:10 dan terus menghitung mundur. Bukan bom, melainkan sebuah jarum suntik otomatis yang berisi cairan hitam pekat siap menyuntikkan racun ke jantung Arka. Tian menerjang, namun sebuah suara tembakan terdengar dari belakangnya. Peluru itu mengenai kaki Tian, membuatnya jatuh tersungkur tepat satu meter sebelum mencapai Arka. Aristha berdiri di ambang pintu dengan pistol di tangan. "Permainan selesai, Macan. Katakan selamat tinggal pada warisanmu."
Tian merasakan dunianya miring. Timah panas yang bersarang di betisnya menciptakan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke tulang, memaksa sarafnya untuk menyerah pada gravitasi. Ia jatuh tersungkur, dagunya menghantam lantai porselen yang dingin, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari jarum suntik yang mulai bergerak turun di dalam inkubator Arka.
00:08... 00:07...
"Kau sudah merusak segalanya, Tian. Kau menghancurkan investasi miliaran dolar, kau melumpuhkan aset terbaikku, dan kau membuatku menjadi tikus yang bersembunyi," suara Aristha bergetar karena kebencian yang murni. Ia melangkah mendekat, moncong pistolnya masih berasap, membidik tepat ke arah belakang kepala Tian. "Tapi setidaknya, aku akan menikmati momen saat kau melihat garis keturunanmu terputus di depan matamu sendiri."
Tian tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, namun otaknya bekerja dalam frekuensi yang melampaui batas manusia. Di bawah perutnya, ia merasakan dinginnya belati hitam pemberian Paman Hasan yang masih terselip. Ia tahu, jika ia berbalik untuk menyerang Aristha, ia akan kehilangan waktu untuk menyelamatkan Arka. Jika ia merangkak ke arah Arka, Aristha akan menembaknya lagi.
00:05... 00:04...
Dalam satu gerakan yang tidak masuk akal, Tian tidak merangkak maju. Ia justru memutar tubuhnya sambil meluncurkan belati hitam itu ke arah pipa gas pemadam api di langit-langit ruangan, bukan ke arah Aristha.
Cring!
Belati itu memotong katup gas bertekanan tinggi. Seketika, gas nitrogen dingin menyembur keluar dengan suara mendesis yang memekakkan telinga, menciptakan kabut putih instan yang menyelimuti seluruh ruangan.
"Sialan!" umpat Aristha. Ia melepaskan tembakan membabi buta ke arah kabut, namun Tian sudah bergerak menggunakan insting 'Macan'-nya.
Tian menyeret kakinya yang lumpuh, bergerak di bawah bayangan kabut. Tangannya yang gemetar menggapai tepi inkubator tepat saat jarum itu nyaris menyentuh kulit dada Arka yang halus.
00:02... 00:01...
Tian memasukkan telapak tangannya ke jalur jarum tersebut.
Jlep!
Jarum suntik otomatis itu menghujam punggung tangan Tian, menyuntikkan racun hitam pekat itu langsung ke dalam aliran darahnya, bukan ke jantung anaknya. Tian mengerang tertahan, rasa sakitnya seperti cairan api yang mengalir menuju jantungnya. Namun, ia tidak melepaskan inkubator itu. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menghantam penutup kaca hingga hancur dan mendekap Arka ke dalam pelukannya.
"Mas sudah di sini, Nak... Mas di sini..." bisiknya dengan suara yang mulai melemah.
Di saat yang sama, kabut mulai menipis. Aristha berdiri terpaku, melihat Tian yang bersimpuh sambil memeluk Arka, dengan racun yang kini mulai membobol sistem pertahanan tubuh sang Macan. Aristha mengarahkan pistolnya kembali, wajahnya memerah karena murka. "Kalau begitu, matilah bersama-sama!"
Namun, sebelum Aristha sempat menarik pelatuk, dinding di belakangnya meledak. Jenderal Yudha yang ternyata memalsukan kematiannya dengan bantuan Paman Hasan menerjang masuk bersama pasukan elit internasional.
"Angkat tangan, Aristha! Dunia sudah selesai denganmu!" raung Yudha.
Aristha jatuh berlutut, tersungkur oleh tembakan peringatan yang mengenai bahunya. Sementara itu, Tian mulai kehilangan kesadaran. Ia merasakan jantungnya berdenyut tak beraturan, racun itu mulai bekerja. Ia menatap Arka yang kini tenang dalam dekapannya, lalu menatap Yudha.
"Jenderal... selamatkan... mereka..." bisik Tian sebelum matanya perlahan menutup.
Yudha berlari ke arah Tian, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah monitor kecil di pergelangan tangan Aristha yang masih aktif. Sebuah pesan masuk: "Protokol Bidadari Kedua Aktif: Pemindahan Kesadaran Mega dimulai." Yudha menoleh ke arah ruang laboratorium sebelah dan melihat tubuh Mega mulai kejang hebat di dalam tabung, sementara data otaknya sedang ditarik paksa menuju server pusat The Circle di lokasi yang tidak diketahui. Tian sedang sekarat karena racun, Arka selamat namun terancam, dan kini jiwa Mega sedang dicuri secara digital. Perang tahun 2026 ini ternyata baru saja memasuki babak yang paling mengerikan: perang tanpa raga.