NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

.

​Mori merasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup di dalam lubang terdalam yang ada di SMA Cakrawala 5. Di dalam bus sekolah yang membawa mereka pulang, Mori hanya bisa menyandarkan dahinya ke kaca jendela yang dingin, merutuki kebodohannya yang terjadi beberapa menit lalu.

​Kenapa gue peluk dia?! Kenapa refleks gue malah ke Lian, bukan ke Kak Vano?! teriak batin Mori frustrasi.

​Di barisan kursi belakangnya, Agnes, Nadya, dan Alissa tidak berhenti saling berbisik dan cekikikan. Suara tawa mereka yang tertahan terdengar seperti simfoni yang mengejek Mori.

​"Aduh, tadi ada yang dapet piala, bonusnya dapet pelukan hangat ya," goda Nadya sambil menyenggol pundak Alissa.

​"Iya, mana pelukannya erat banget lagi. Kayaknya ada yang udah nggak butuh status 'nggak ada hubungan apa-apa' nih," timpal Alissa yang disambut tawa kecil Agnes yang polos.

​Mori menoleh ke belakang dengan wajah merah padam. "Bisa diem nggak? Itu... itu cuma karena gue terlalu seneng! Gue nggak sadar siapa yang gue peluk!"

​"Masa sih? Kok tepat sasaran banget ke dadanya Lian?" Jessica yang baru bergabung ikut menimpali.

​Sementara itu, Lian yang duduk tepat di seberang kursi Mori hanya bersandar santai. Cowok itu tidak bicara sepatah kata pun, tapi matanya tidak lepas dari Mori. Setiap kali Mori meliriknya dengan kesal, Lian justru mengedipkan sebelah matanya—sebuah kedipan maut yang membuat jantung Mori makin tidak karuan.

​Kabar tentang "Pelukan Kemenangan" itu menyebar lebih cepat daripada berita juara debat itu sendiri. Foto dan video singkat saat Mori menerjang ke pelukan Lian sudah tersebar di grup-grup angkatan.

​Di sudut lain sekolah, Alina menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membanting ponselnya ke atas meja kantin sampai layarnya retak.

​"Mori... lo bener-bener cari mati," desis Alina. Ia tidak menyangka Mori akan seberani itu melakukan aksi romantis di depan publik. Kemarahannya kini sudah berada di titik puncak, dan ia mulai merencanakan sesuatu yang lebih dari sekadar labrakan.

​Sesampainya di SMA Garuda, para peserta debat disambut dengan meriah. Mori segera turun dari bus, ingin cepat-cepat pergi ke kelas untuk mengambil tasnya dan pulang. Ia merasa tidak nyaman duduk terlalu lama, ada perasaan aneh yang mulai ia rasakan di perut bagian bawahnya sejak di perjalanan tadi.

​Saat Mori baru berdiri dan hendak melangkah menjauh dari kerumunan, tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkeram lengannya.

​"Mau kemana buru-buru?" tanya Lian.

​"Lepasin, Lian! Gue mau pulang!" Mori mencoba melepaskan tangannya, tapi Lian justru menariknya mendekat.

​Tiba-tiba, tanpa persetujuan, Lian melepas jaket hitamnya. Sebelum Mori sempat protes, Lian berlutut satu kaki di depan Mori, lalu melingkarkan jaket hitamnya yang lebar ke pinggang Mori. Ia mengikat lengan jaket itu dengan kuat di depan perut Mori.

​"Lian! Apa-apaan sih?! Lo mau pamer lagi?!" Mori merasa dipermalukan di depan teman-temannya yang masih berkumpul di parkiran.

​Lian berdiri, mensejajarkan wajahnya dengan Mori. Ia tidak memberikan senyum miringnya yang biasa. Wajahnya terlihat sangat serius, bahkan ada sedikit kekhawatiran di matanya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mori, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh aliran darah Mori seolah berhenti.

​"Ada darah, Baby Girl. Lo tembus," bisik Lian sangat pelan, hanya untuk telinga Mori.

​Mori membeku. Matanya membulat sempurna. Ia baru teringat kalau jadwal bulanannya memang jatuh di sekitar hari ini, tapi karena terlalu stres memikirkan lomba debat, ia benar-benar melupakannya. Rasa dingin menjalar di punggungnya saat ia menyadari bahwa rok sekolahnya yang berwarna cerah pasti sudah ternoda.

​"Lo-lo serius?" tanya Mori gagap, suaranya nyaris hilang.

​"Jaket gue hitam, cukup buat nutupin semuanya sampe ke belakang. Sekarang jalan pelan-pelan ke toilet, jangan lari," instruksi Lian dengan nada yang sangat protektif.

​Tanpa menunggu komando kedua, Mori langsung berbalik dan lari sekencang mungkin menuju toilet gedung utama, mengabaikan teriakan teman-temannya yang bingung melihat jaket Lian melilit di pinggangnya.

​Di dalam toilet, Mori menangis karena malu sekaligus haru. Ia melihat noda merah yang cukup jelas di bagian belakang roknya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika Lian tidak menyadarinya lebih dulu. Mungkin ia akan menjadi bahan tertawaan seantero sekolah saat turun dari bus tadi.

​Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu utama toilet wanita yang sudah sepi karena jam pulang.

​"Mor? Lo di dalem?" Itu suara Lian.

​"Lian! Ngapain lo di depan toilet cewek?! Pergi!" seru Mori dari dalam bilik.

​"Diem dulu. Nih," Lian menyodorkan sebuah kantong kresek hitam melalui celah bawah pintu utama toilet. "Gue tadi lari ke koperasi. Ada pembalut sama rok cadangan yang gue pinjem dari ruang UKS. Gue bilang buat temen gue yang kecelakaan kecil."

​Mori tertegun. Ia mengambil kantong itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya benar-benar ada perlengkapan yang ia butuhkan.

​"Lian..." panggil Mori pelan.

​"Gue tunggu di depan gerbang. Jangan lama-lama, atau gue masuk ke dalem buat jemput lo," ancam Lian, meski suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

​Mori duduk di dalam bilik toilet, memeluk kantong kresek itu. Kebenciannya pada Lian yang selama ini ia agung-agungkan, kini mulai terkikis habis. Di balik sifat red flag-nya yang posesif dan menyebalkan, Lian adalah orang yang menyelamatkan harga dirinya dua kali dalam satu hari.

​Ia sadar, pelukan di SMA Cakrawala tadi mungkin memang sebuah "refleks", tapi refleks itu muncul karena jauh di dalam lubuk hatinya, Mori sudah mulai merasa bahwa tempat paling aman di dunia ini adalah di samping cowok yang paling ia benci tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!