NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diusir

"Pergi sekarang atau saya panggil polisi untuk menyeret kalian, atas tuduhan percobaan pembunuhan yang buktinya sudah ada di tangan Devan. Pilih mana? Tidur di hotel atau tidur di penjara?" ancam Brahma, final.

Tamara menangis meraung-raung di lantai, memeluk kaki papanya. "Papa jangan usir aku, aku nggak bisa hidup miskin, Pa. Aku nggak punya uang, aku janji bakal berubah," rengek Tamara mencoba mengubah keputusan papanya.

Brahma menendang kaki Tamara pelan untuk melepaskan pelukannya. "Belajarlah jadi manusia dulu, baru kembali ke sini. Selama kamu masih jadi monster, kamu bukan siapa-siapa saya."

Brahma memanggil satpam rumahnya.

"Pak Ujang! Seret mereka keluar. Kunci gerbang! Jangan biarkan mereka masuk lagi."

Malam itu, diiringi teriakan histeris dan tangisan penyesalan yang terlambat, Tamara dan Anggun diusir dari istana kemewahan mereka.

Mereka pergi hanya dengan membawa baju yang melekat di badan dan mobil Tamara yang bensinnya tinggal setengah.

Di lantai atas, dari balik jendela kamarnya, Rian menatap kepergian mama dan kakaknya dengan air mata berlinang. Ia sedih, tapi ia tahu ini harus terjadi.

Brahma masuk ke kamar Rian, lalu memeluk anak bungsunya itu erat-erat. Tubuh tua itu terguncang hebat dalam tangis.

"Maafin papa, Rian. Maafin papa yang gagal jaga keluarga ini," isak Brahma.

Rumah besar itu kini sepi, harta berlimpah itu kini terasa hampa. Namun setidaknya, racun yang selama ini menggerogoti keluarga itu telah dibuang, menyisakan harapan untuk memperbaiki apa yang tersisa.

Di kamar tidur Rian yang redup, Brahma mendekap tubuh kecil anak bungsunya yang masih terguncang. Aroma minyak telon dan kepolosan Rian membuat hati Brahma semakin perih.

"Mungkin ini yang terbaik, Nak. Papa juga salah," bisik Brahma, suaranya berat menahan sesak. "Papa yang salah karena telah membiarkan kekejaman dan kebencian itu merasuki hati mereka, hingga akhirnya mereka jadi seperti monster. Papa terlalu sibuk mencari uang, sampai lupa mendidik hati mereka."

Rian mendongak, matanya basah dan bengkak. "Mama sama kak Tamara bakal tidur di mana, Pa? Mereka nggak bawa uang..."

Tidak ada jawaban, hanya helaan napas berat yang terdengar.

"Mama tidak akan kenapa-kenapa di luar sana kan, Pa?" tanya Rian lagi dengan nada cemas yang menyayat hati.

Pak Brahma menatap anaknya dengan sedih, lalu menggeleng pelan. Ia tidak ingin memberi harapan palsu, namun ia juga tahu watak istrinya.

"Mama kamu wanita yang tangguh, Rian. Dia punya banyak teman, dia punya koneksi. Dia akan bertahan hidup, walau mungkin tidak semewah di sini," jawab Brahma mencoba menenangkan, meski dalam hati ia tahu, dunia di luar sana akan sangat kejam bagi orang yang sudah terbiasa hidup di istana seperti istrinya itu. "Sekarang, kamu tidur ya. Besok kak Devan dan kak Putri akan jemput kamu. Kamu akan lebih bahagia di sana."

***

Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan kota yang biasanya padat kini lengang, hanya diterangi lampu jalan berwarna orange yang suram.

Arga melonggarkan dasinya, memijat lehernya yang kaku. Lembur hari ini benar-benar menguras tenaga. Ia baru saja menyelesaikan audit laporan keuangan klien yang berantakan, dan sekarang yang ia inginkan hanyalah kasur empuk di apartemennya.

Mobilnya melaju menaiki jembatan layang yang sepi, angin malam berhembus kencang.

Namun, saat mobilnya mencapai titik tertinggi jembatan, mata Arga menangkap sesuatu yang membuatnya menginjak rem mendadak.

Arga melihat seorang perempuan berdiri di sana.

Wanita itu berdiri di pinggir jembatan, tangannya mencengkeram besi pembatas jembatan erat-erat.

Tubuhnya condong ke depan, menatap ke bawah, ke arah jalan tol di bawahnya yang gelap. Rambut panjangnya berkibar berantakan diterpa angin.

"Sial!" umpat Arga, "jangan bilang dia mau..."

Tanpa pikir panjang, Arga menepikan mobilnya sembarangan, menyalakan lampu hazard, dan melompat keluar.

"MBAK, JANGAN!"

Arga berlari sekuat tenaga. Dalam benaknya, perempuan itu akan melompat sedetik lagi.

Saat jarak mereka tinggal semeter, perempuan itu melepaskan satu tangannya dari pagar dan berteriak kencang ke arah langit.

AAAAAARGGGHHHH!!!"

Arga yang panik langsung menyambar pinggang perempuan itu dari belakang, menariknya kuat-kuat hingga mereka berdua jatuh terguling ke aspal trotoar jembatan.

"Lepasin! Apa-apaan sih?!"perempuan itu memberontak, memukul lengan Arga dengan tas tangannya.

"Lo yang apa-apaan!" bentak Arga, napasnya memburu karena kaget. Ia masih memegangi lengan perempuan itu, takut dia lari ke pinggir lagi. "Lo gila ya?! Masalah hidup itu bisa diselesain, bukan loncat dari jembatan! Pikirin keluarga lo!"

Perempuan itu terdiam, menatap Arga dengan mata sembab yang bengkak dan mascara luntur. Napasnya tersengal.

"Loncat?" ulang perempuan itu, ia tertawa sumbang, terdengar frustrasi. "Siapa yang mau loncat, Mas? Gue cuma mau teriak! Gue lagi pusing!"

Arga melepaskan cengkeramannya, lalu duduk bersila di aspal, menatap perempuan itu tak percaya. "Teriak? Di pinggir jembatan jam dua pagi? Lo bikin orang jantungan tau nggak!"

Perempuan itu, Nindi. Ia mengusap wajahnya yang kacau. Ia menarik lututnya, memeluknya erat. "Maaf. Gue kira nggak ada orang lewat. Gue cuma... dada gue sesak banget. Gue butuh teriak biar nggak gila."

Arga menghela napas panjang, emosinya mereda digantikan rasa iba. Ia melihat kerapuhan yang nyata di wajah gadis asing itu.

"Kenapa?" tanya Arga pelan, nadanya melembut. "Cowok?"

Nindi menoleh, tersenyum miris. "Kelihatan banget ya?"

Nindi menatap langit kelam di atas mereka. "Bodoh banget kan? Gue cinta sama sahabat gue sendiri dari jaman kuliah. Gue yang nemenin dia pas dia rapuh, gue yang minjemin bahu pas dia ditinggal tunangan sama pacarnya. Gue pikir... gue pikir kalau gue tulus, dia bakal nengok ke gue." Nindi mengusap air matanya yang menetes lagi.

"Tapi ternyata gue salah," lanjutnya dengan suara parau. "Mantan pacarnya yang jahat itu, yang ninggalin dia pas lagi sayang-sayangnya, sekarang muncul lagi. Dan lo tau dia ngapain? Dia lari ngejar cewek itu lagi, dia lupa sama gue yang selalu ada buat dia."

Arga tertegun, cerita itu terdengar familiar. Pola mencintai orang yang buta hati, itu mengingatkannya pada perjuangan Putri dulu. Bedanya, Putri akhirnya dilihat oleh Devan. Tapi gadis ini? Sepertinya nasibnya kurang beruntung.

"Cowok itu buta," komentar Arga datar, "atau mungkin dia bodoh."

"Emang bodoh," isak Nindi, "namanya Reno. Dia cowok paling bodoh yang pernah gue kenal."

Mendengar nama 'Reno', Arga sedikit mengernyit. Nama pasaran. Ia punya teman SMA bernama Reno, dan musuh bebuyutannya, yang mantan Tamara juga bernama Reno. Tapi Arga tidak mau berburuk sangka, mungkin Reno yang dimaksud gadis itu adalah Reno yang lain.

Arga masih diam dengan tenang, mendengar lebih lanjut cerita Nindi.

"Dan cewek yang dia kejar." Nindi tertawa getir. "Cewek itu baru aja diusir keluarganya karena jahat. Tapi Reno malah mau jadi pahlawan buat dia, gue nggak ngerti jalan pikirannya."

Arga mengangguk-angguk, tidak menyadari bahwa mereka sedang membicarakan lingkaran setan yang sama.

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan bersih yang selalu ia bawa, lalu menyodorkannya pada Nindi.

"Nih! Hapus ingus lo. Cantik-cantik kok belepotan," ucap Arga.

Nindi menerima sapu tangan itu. "Makasih. Lo... orang asing yang aneh, tiba-tiba nyeret gue."

"Gue Arga." Arga mengulurkan tangan.

"Nindi," jawab gadis itu menjabat tangan Arga.

"Denger ya, Nin." Arga menatap mata Nindi serius. "Gue punya sahabat cewek, nasibnya mirip lo dulu. Diabaikan dan nggak dianggap, tapi dia berhenti ngemis cinta, dia fokus nyembuhin dirinya sendiri, dan akhirnya dia dapet kebahagiaan yang layak. Lo jangan buang air mata lo buat cowok yang masih ngejar masa lalu. Cowok kayak gitu nggak pantes diperjuangin."

Nindi terdiam. Kata-kata Arga terasa menyejukkan di tengah badai hatinya.

"Pulang sana. Angin malem nggak bagus buat orang patah hati. Nanti masuk angin, si Reno itu juga nggak bakal ngerokin lo, kan?" canda Arga garing.

Nindi tertawa kecil, tawa pertamanya malam itu. "Iya, bawel." Nindi bangkit berdiri, membersihkan celananya. "Makasih ya, Ga. Udah nyelamatin gue... walaupun gue nggak beneran mau loncat, tapi makasih udah dengerin."

"Hati-hati di jalan," pesan Arga.

Nindi berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh, Arga memperhatikannya sampai mobil gadis itu melaju pergi.

Arga menggelengkan kepala, masuk kembali ke mobilnya.

"Dunia emang penuh orang-orang yang salah mencintai," gumam Arga sambil menyalakan mesin, tidak tahu bahwa takdir sedang mempermainkan mereka.

Arga tidak tahu, bahwa Nindi yang baru saja ia selamatkan adalah sahabat dekat Reno, yang tak lain adalah mantan Tamara.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!