Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setuju
"Apa mataku tidak salah lihat?" gumam pria terlihat shock.
Segera dirinya merogoh saku, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Hallo Pak" sapa suara pria dewasa.
"Apa foto yang dirimu kirim ini betulan? Siapa yang memberikannya?" tanya pria tampan, berwibawa dengan pembawaan dingin ini.
"Betul Pak. Seorang perempuan muda memberitahukan jika yang di foto ini adalah kakak nya. Dia membutuhkan biaya untuk pengobatan anaknya yang sakit keras." balas Prakoso.
Lama Syakir terdiam, tatapan rumit melihat foto Norma. Wajah yang dulunya cerah, ceria, yang terawat. Kini tampak kusam dan tidak ada binar bahagia di mata indah itu.
"Jika memang wanita yang di foto ini mengabari mu langsung terima, layani dia dengan baik. Berikan surat kontrak." Syakir mengambil keputusan langsung.
"Ha?! Betulan pak? Bukannya bapak inginnya gadis pera....."
"Jalankan tugas mu dengan baik!"
Tuuuuut
Prakoso melongo, heran karena bosnya langsung setuju, berbeda dengan syarat yang di ajukannya.
.
*****
.
Norma, Pak Long Hamdan dan Mak long Halimah tiba di rumah sakit kabupaten saat memasuki waktu ashar. Suami istri itu tidak langsung menjenguk Nuri, mereka memutuskan untuk shalat ashar terlebih dahulu. Setelahnya baru gantian dengan Norma, karena Ibu dari anak satu ini sudah rindu sekaligus khawatir dengan keadaan sang putri. Sebelum itu, Norma menuju kantin untuk membeli makanan untuk makan malam mereka bertiga dan Ibu mertuanya, Mariah.
Setelah membayar makanan yang di beli, Norma bergegas menuju ruang ICU yang berada di lantai tiga.
Klik
Pintu ruang ICU di buka dari luar. Norma masuk perlahan.
"Bukan main betul dirimu ini ya Nor! Kenapa perginya lama sekali? Dirimu pikir aku ini pengasuh anak mu?" Mariah geram karena arisannya dengan ibu-ibu gang batal.
"Maaf buk, tadi saya pulang ke kampung halaman memberi kabar pada Pak Long dan Mak Long" jawab Norma pelan.
"Apa?! Pantas saja bukan main lama. Untuk apa juga diri kesana?!" Mariah beranjak dari sofa.
"Assalamualaikum" Pak Long dan Mak Long masuk.
"Wa'alaikum salam" balas Norma, sedangkan Mariah cuek saja, hanya melirik sejenak.
"Tadi pihak administrasi mencarimu. Memintamu untuk membayar tagihan terkait kamar inap dan tindakan operasi. Ibuk pergi dulu. Jangan lupa makan" Mariah melembutkan suaranya, menyebutnya dengan 'Ibuk'. Mariah menuju pintu keluar. Lalu berbalik sejenak.
"Ingat Nor, jangan lama-lama berfikir. Nuri harus segera di ambil tindakan" lanjutnya lagi, lalu meninggalkan ruangan ICU.
Lidah Norma kaku, memikirkan dari mana dirinya akan mendapat uang sebanyak itu. Iya berjalan pelan mendekati ranjang pasien milik Nuri. Memandangi wajah putrinya yang terpejam layaknya sedang terlelap dengan wajah pucatnya.
"Apa aku harus menerima tawaran Ibu?" batinnya.
Pak Long mendekati keponakannya yang terlihat tertekan ini.
"Nak, maafkan Pak Long, karena tidak bisa membantu mu. Tapi Nak, rumah beserta kebun di kampung adalah peninggalan orang tua mu. Kau bisa menjual atau menggadaikannya untuk...."
"Tidak Pak Long. Apa pun alasannya Nor tak akan menggadaikan warisan apa lagi menjualnya. Nor sudah janji pada Ayah dan Mak." balasnya.
Selain itu Norma juga tidak ingin Pak Long nantinya tidak punya tempat berteduh dan penghasilan juga tentunya akan terhenti jika kebun ikut terjual.
Sementara kebun sawit yang lumayan luas itu sudah di gadaikan untuk membiayai pengobatan Almarhumah ibunya kala itu. Meski begitu, kebun itu masih bisa di ambil hasilnya dan bagi dua. Namun Norma tidak pernah mengambil sepeserpun pembagian hasil kebun sawit tersebut, karena menurutnya jika itu bukan lagi hak nya.
Norma beserta Hamdan dan istrinya keluar dari ruangan ICU. Tidak baik juga berbicara di ruangan intensif, karena bisa kena teguran dari petugas.
"Lantas bagaimana dirimu bisa mendapatkan uang untuk pengobatan Nuri nak?" Mak long Halimah juga ikut bicara.
Norma mengusap kasar wajahnya, menghela nafas sejenak lalu menghembus perlahan.
"Pak Long dan Mak Long tidak usah khawatir. Nanti Nor akan cuba cari pinjaman pada mantan bos di konveksi" Norma tak ingin keduanya khawatir dan merasa bersalah karena tidak bisa membantu.
"Mak Long do'akan semoga pinjamannya di setujui, Nuri pun bisa segera di tangani" ucap tulus Halimah.
"Mak Long, Pak Long, Nor keluar sebentar. Tolong jaga Nuri ya..." Norma beranjak, mengambil tas kecilnya.
"Pergilah, kami berdua akan menjaga Nuri. Hati-hati di jalan" pesan Pak Long.
Norma mengangguk, lalu berjalan menuju lorong meninggalkan area ruangan bangsal ICU.
"Apa Norma selalu mendapat perlakuan buruk dari keluarga suaminya ya bang? Di lihat dari cara Mertuanya bicara begitu kasar. Norma juga kelihatannya takut begitu" ucap Halimah tidak enak hati.
Sedari tadi ingin bertanya pada keponakannya, tapi waktunya tidak tepat. Tapi rasa penasaran terus bergelayut di benaknya.
"Abang pun tidak tahu, kita juga tidak bisa sembarang menebak, takut jatuhnya fitnah" balas Hamdan tidak ingin asal menuduh, meski dalam hati khawatir juga.
"Syamsul juga tidak ada kelihatan batang hidungnya." ucapnya lagi.
"Nanti kita tanyakan pada Norma jika dirinya sudah kembali" Hamdan beranjak.
"Abang keluar sebentar" Halimah mengangguk.
Halimah hanya bisa menghela nafas berat. Berharap tebakannya salah.
.
******
.
Norma tiba di parkiran sebuah rumah produksi yang mengolah durian, yang membuat aneka olahan makanan berbahan tambahan durian.
Tampak beberapa pekerja berlalu lalang. Truk L300 mengangkut durian dari arah jalan belakang rumah produksi.
Norma berjalan menuju bangunan yang lumayan besar ini, bertepatan dengan Prakoso yang keluar dari rumah produksi ini.
"Anda?..."
"Saya Norma Lestari Pak. Bolehkah saya bertemu dengan pemilik rumah produksi ini?" tanya Norma gugup.
"Maaf Buk. Tuan Syakir sedang keluar kabupaten. Tapi, jika kedatang anda untuk membahas sesuatu hal penting, saya yang akan mewakilkan Tuan Syakir" ujar tegas Prakoso.
Norma mengangguk setuju.
Disini lah keduanya. Diruang kerja asistennya Syakir, Prakoso.
Norma telah membaca syarat yang telah di revisi Prakoso. Tidak ada syarat yang berat, hanya saja bagi Norma ini tetap masalah yang akan berdampak buruk baginya. Bagaimana mungkin seorang istri malah menggadaikan rahimnya untuk menampung benih pria lain?
Tapi Norma tidak punya pilihan. Mendapatkan uang segitu banyaknya tidak bisa di dapatkan dalam waktu singkat. Satu hal yang harus Norma persiapkan, yakni penjelasan pada Syamsul, saat pria itu nanti kembali.
"Bagaimana Buk Norma... Apa anda setuju?" Prakoso memecah keheningan.
"Tapi Pak, saya memiliki anak berkebutuhan khusus yang harus saya rawat. Saya tidak bisa meninggalkan putri saya" lirih Norma.
"Soal itu anda tidak perlu khawatir Buk Norma. Anda akan tetap bersamanya, kami juga sudah menyiapkan pengasuh. Setelah anak anda keluar dari rumah sakit, kalian akan menempati hunian yang telah disiapkan tuan Syakir." jelas Prakoso panjang lebar.
"Tapi Pak, kenapa harus pindah?" Norma tak menyangka mereka harus pindah juga.
"Jika Pak Syakir sudah kembali anda bisa tanyakan langsung pada beliau" Pria ini menyodorkan pulpen.
Dengan tangan gemetar Norma mengambil, lalu membubuhi tanda tangan di kertas tersebut.
.
"Sekali ku dapat, dirimu tak akan ku lepas lagi ayi. Selamanya dirimu akan jadi kepunyaan ku!"
.
Like dan komentarnya guys🙏🙏🙏🙏