Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 13
HARAPAN KECIL
Pria itu melepaskan pinggangnya perlahan, jari-jarinya sengaja menyinggung kulitnya lebih lama dari perlu. Tidak ada penonton selain mereka berdua dan para musisi yang hanya fokus ke alat musik serta musik yang mereka mainkan.
“Kau belajar cepat,” gumam Luis.
Elizabeth tidak menjawab. Ia hanya menunduk sebentar, mengatur napasnya, lalu kembali duduk ketika Luis lebih dulu melangkah ke meja.
Makan malam diselesaikan dalam sunyi.
Tidak ada lagi percakapan yang berarti. Hanya denting sendok, gesekan kristal, dan tatapan Luis yang sesekali seperti pisau di tengkuknya.
Ketika mereka berdiri untuk pergi, Luis berbisik di telinganya, cukup pelan agar tak didengar siapa pun. “Jangan kira sikap manisku bisa menebus rasa ingin tahumu.”
Elizabeth menegang. “Aku tidak mencari masalah,” jawabnya lirih.
Luis tersenyum tipis. “Masalah selalu menemukanmu, istriku.”
Tentu, Elizabeth berpikir hal yang sama, karena masalahnya ada di sampingnya saat ini. Yang berstatus sebagai suaminya.
Mobil melaju membelah malam. Lampu kota memantul di kaca jendela, seperti garis-garis cahaya yang terpotong nasib. Elizabeth menatap keluar, jemarinya saling mencengkeram di pangkuan. Sedangkan Luis memperhatikannya dari pantulan kaca.
“Kau menyesal menikah denganku?” tanyanya tiba-tiba.
Elizabeth menoleh ragu. Kejujuran di rumah Holloway adalah mata uang paling berbahaya.
“Aku… belum tahu bagaimana caranya tidak menyesal,” jawabnya akhirnya.
Luis terkekeh pelan. “Itu jawaban yang cerdas.”
“Kenapa?” Eliza menoleh.
“Karena wanita bodoh akan berkata tidak menyesal. Wanita jujur akan menangis. Tapi kau memilih bertahan.”
Ia mendekat sedikit.
“Aku menyukai wanita yang bertahan.”
Elizabeth memalingkan wajah saat Luis mencium pipinya lembut penuh senyuman devil.
“Aku tidak ingin disukai dengan cara seperti itu.”
Luis terdiam sejenak. Lalu, suaranya turun, dingin. “Sayangnya, kau tidak menikah dengan pria yang memberi pilihan.”
Mansion Holloway berdiri seperti bayangan raksasa saat mereka tiba. Pintu-pintu terbuka. Para pelayan menunduk serempak.
Elizabeth merasakan kembali udara dingin itu— udara rumah yang tidak pernah benar-benar memberinya oksigen.
Melihat putranya kembali, Esperance tersenyum lebar menyambutnya dengan kedua tangan terbuka tanpa melihat keberadaannya saat ini di sana.
Terlihat juga, Cili yang selalu berdiri di belakang para majikan nya yang selalu berbincang-bincang.
“Di mana Soraya?” tanya Luis kepada ibunya yang mulai menghela nafas panjang.
“Kau tahu sendiri apa kesibukannya akhir-akhir ini.” Ujar Esperance sedikit memberikan Luis kode agar Eliza tak begitu mengetahuinya.
Luis berkerut alis dan melonggarkan dasinya saat jasnya sudah berada di tangan Cili.
“Ibu rasa... Dia membutuhkan bantuan mu sayang. Pria bernama Carlitos itu keras kepala.
Tak ucapan dari Luis selain tatapan tajam dan wajah datar. Pria itu melangkah melewati ibunya. “Aku akan mencoba mengurusnya. Dan katakan kepada paman Rodrigo, aku ingin bertemu dengannya 5 menit lagi di ruangan ku.”.
Esperance hanya menatapnya saja dan mengangguk faham. Sampai—
“Luis!”
Suara lembut dan pelan bak menjaga selalu kata sopan, anggun serta adab. Tentu saja Esperance langsung merubah mimik wajahnya, Luis menghentikan langkahnya dan berbalik setengah badan menatap istrinya.
Pelayan bernama Cili yang masih ada di sana juga cukup mendelik mendengar Elizabeth sangat berani. “Astaga...” Gumamnya pelayan tadi.
“Aku ingin menelepon keluargaku. Dan... Jika tidak, besok aku akan ke mansion Taylor untuk mengambil ponselku yang tertinggal dan bertemu keluargaku.” Jelas Elizabeth yang membuat keheningan mulai tercengkam di sana.
Esperance menahan ketidaksukaannya saat Elizabeth dengan berani mengatakannya secara langsung ke putranya. Sementara reaksi Luis— pria itu diam cukup lama dan terus memandang istirnya.
Luis tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Elizabeth perlahan, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan istrinya.
Pelayan-pelayan menunduk lebih dalam.
Cili menahan napas. Esperance menyipitkan mata, senyum ramahnya membeku setengah jadi.
“Kau ingin menelepon keluargamu?” ulang Luis pelan. Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Elizabeth mengangguk kecil. Punggungnya tegak, meski jari-jarinya saling mencengkeram di balik kain gaun saat pria itu berjalan mendekat ke arahnya secara bertahap.
“Ya. Ibuku pasti cemas. Aku pergi terlalu mendadak. Aku... Merindukan mereka.”
Luis melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sepatu kulitnya berhenti tepat di depan Elizabeth. “Kau tidak kekurangan apa pun di sini,” katanya tenang.
“Aku tidak meminta harta, Luis.”
“Hm.” Luis memiringkan kepala. “Kau meminta kebebasan.”
Elizabeth menatapnya lurus. “Aku hanya meminta suara ibuku dan saudari-saudariku.”
“Elizabeth! Kita sudah— ”
“Pergilah, aku sedang berbicara dengan istriku dan aku tidak ingin seseorang ikut campur termasuk kau, Ibu.” kata Luis begitu dingin sehingga Esperance cukup terkejut namun dia tak bisa melawannya. “Go. (Pergilah).”
Cukup tenang dan singkat, namun menyakitkan bagi seorang ibu.
“Aku mengerti.” Balas Esperance dengan kepala tegak lurus sedikit mendongak. Ia seketika melangkah pergi saat sekilas memberikan tatapan sinis ke Elizabeth yang seolah tak peduli.
Usai kepergian Esperance, Luis tak perlu menatap ke Cili, karena wanita itu seketika faham. “Maafkan aku, Tuan!” katanya, lalu bergegas pergi mengikuti Esperance.
Kini hanya ada Luis dan Eliza di lorong rumah. “Izinkan aku menelepon ibuku, aku tidak akan memberitahu apapun, aku berjanji.”
Luis terkekeh kecil seraya menunduk, lalu kembali menatap istrinya. “Apa kau tidak nyaman di sini? Kenapa kau tidak bisa tenang di sini, sayang? Mereka berpikir kau tidak suka tempat ini. Apa kau tidak suka?”
Eliza terdiam menatap balik mata coklat suaminya yang kini juga menatap nya. Penuh amarah dan emosi saat Luis mengatakan itu, namun ucapan Cili kembali mengiang di kepalanya. (“Tuan Luis sakit mental, itu yang aku dengar.”) ucapan itu membuat Eliza mengamati raut wajah Luis.
Hingga akhirnya Eliza membuka suara. “Bagaimana menurutmu, Luis?” tanya nya lembut.
Pria itu tersenyum miring. “Everything! (semuanya)!”
Jawaban itu sudah cukup untuk Eliza. Ia terdiam beberapa saat, hingga Luis mengikis jarak antara mereka berdua.
“Feracus akan menemanimu, telfon mereka dan kita lihat, apa keluarga tercintamu itu membalasnya. Atau... Mengabaikan nya?” ucap Luis dengan tenang karena dia tahu, Eliza tidak akan lagi bertemu keluarganya yang sudah tewas dan hilang menjadi abu.
Ucapan itu membuat Eliza sedikit berkernyit.
Hingga saat itu juga Luis memanggil kepala pelayan mansion Holloway, Feracrus untuk segera mengantar Eliza ke suatu tempat, dimana telepon seluler disembunyikan.
“Saya mengerti Tuan. Mari Nyonya, saya akan mengantar Anda!” kata Feracrus yang berjalan lebih dulu sehingga Eliza mengikutinya meski hatinya sedikit ragu dan gelisah secara tiba-tiba.
Sementara Luis hanya menatap tenang ke arah punggung istrinya yang semakin menjauh dan perlahan menghilang.
“Dasar konyol!” ucapnya pelan dan berjalan pergi menuju ruang pribadinya.
Tidak ada rasa takut, Luis tak peduli sama sekali akan reaksi istrinya bila tahu keluarganya sudah dia bunuh sejak pertama kali wanita itu keluar dari rumah Taylor.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl