Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 31
Takdir manusia memang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Begitu juga dengan takdir kematian yang diterima oleh Naina. Gadis itu meninggal karena penyakit yang dideritanya sebelum sempat menikah dengan lelaki pujaannya.
Meski semua yang menimpa Naina adalah suratan takdir, tetapi Ellena sangat merasa tidak enak hati dan merasa bersalah. Dia sudah merebut Marco dari wanita itu, padahal Marco dan Naina sudah hampir menikah. Ellena seolah sedang menari bahagia di atas luka yang dibawa mati oleh Naina.
“Apa Naina di langit sana sedang menatap kita dengan amarah?” tanya Ellena sembari menatap sungai Thames yang tenang.
Marco sedikit mengendurkan pelukannya pada tubuh sang istri. Dia lalu memperhatikan kegelisahan yang saat ini sedang dirasakan oleh Ellena.
“Kenapa dia harus marah sama kita? Kematiannya bukan salah kita, El. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Tuhan sudah mengatur semuanya dan mungkin memang jodoh aku itu kamu,” timpal Marco. Laki-laki itu lalu menarik tubuh Ellena kembali dalam pelukannya.
“Kak Marco, apa kamu menyesal menikah denganku?” Ellena masih belum lega dan tetap merasa bersalah karena telah merebut Marco dari tunangannya. Dia mulai menyesali perbuatannya yang sengaja menjebak Marco demi membatalkan pernikahan laki-laki itu dengan Naina yang kini telah tiada.
Pertanyaan itu membuat Marco tersenyum tipis dan memeluk tubuh Ellena semakin erat. “Jujur, sebenarnya aku pernah bermimpi punya istri secantik kamu. Tapi, aku sadar kalau tugas aku hanya menjaga kamu bukan mengkhayalkan kamu. Jadi, sejak itu aku mengubur dalam-dalam khayalanku itu. Apalagi, Ibu sama Ayah selalu bilang kalau aku harus menikah dengan Naina.”
Ellena masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulut suaminya itu. Jika yang dikatakan Marco itu adalah kebenaran, berarti selama ini dia tidak cinta sendirian, karena sebenarnya Marco juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Kak Marco serius?” tanya Ellena yang kini sorot matanya dipenuhi binar bahagia. Apalagi saat Marco mengangguk dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Hati wanita itu semakin berbunga-bunga seakan telah terbang hingga ke angkasa.
“Kalau cinta dari dulu, kenapa kamu marah waktu tahu aku bohongin kamu soal ... keperawanan?” tanya Ellena yang sebenarnya tidak mau mengungkit kesalahan terbesarnya itu lagi.
“Karena aku kecewa sudah kamu bohongi. Tadinya, aku masih menyesuaikan diri dengan pernikahan kita. Aku masih merasa ini hanyalah mimpi. Tetapi, saat kamu bohongi aku. Aku kecewa, aku marah kenapa sampai kamu berbohong demi bisa menikah denganku. Kenapa nggak jujur dari awal saja,” jawab Marco.
“Ellena, dibohongi oleh orang yang kita sayang itu rasanya menyakitkan, makanya aku nggak mau kejadian ini terulang lagi. Aku mau mulai semuanya dari awal, dan kita saling jujur apa pun yang terjadi.”
Tampaknya, Marco benar-benar ingin memulai kehidupan yang rumah tangga baru dengan Ellena. Dia berharap, semoga setelah ini mereka bisa hidup bahagia dengan anak-anak mereka yang lucu, tentunya setelah Ellena menyelesaikan kuliahnya.
*
*
*
Ellena dan Marco sudah dua hari menghabiskan waktu berduaan di London. Keduanya akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah karena ibu Marco terus menanyakan kapan mereka akan datang berkunjung.
Sampai akhirnya, Tuan Aland yang menyambut kedatangan putri dan menantunya di bandara, langsung mengajak pasangan suami istri itu untuk bertemu dengan orang tua Marco. Ya, Marco dan Ellena sama sekali tidak diberi waktu untuk beristirahat.
“Pa, kita mau ke mana?” tanya Ellena saat menyadari bahwa sopir mereka tidak mengemudikan mobil ke arah rumahnya atau pun kontrakan Marco.
Marco menggenggam tangan Ellena supaya wanita itu tidak lagi merasa cemas. Dia sudah diberitahu oleh Tuan Aland sebelumnya, sehingga Marco tahu mereka akan ke mana.
“Sudah, kamu diam dan percaya saja sama papa,” jawab Tuan Aland dengan santai.
Ellena melirik suaminya yang terlihat santai seolah sudah tahu tujuan mereka. “Kita mau ke mana sih, Kak?”
Bukannya langsung menjawab, Marco malah memeluk Ellena dan membiarkan wanita itu bersandar di bahunya. “Udah, kamu tidur aja. Nanti kalau udah sampai aku bangunin!” kata Marco sembari mengusap lengan sang istri.
Ellena pun tak protes lagi. Dia memejamkan mata dan mempercayakan semuanya pada dua lelaki yang sangat disayangnya.
Usai menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, rombongan Tuan Aland sampai juga di tujuan. Marco mulai membangunkan sang istri setelah mobil mereka berhenti.
Ternyata, Ellena tidak begitu susah dibangunkan. Wanita itu segera membuka mata setelah mendengar instruksi sang suami untuk segera bangun.
Begitu matanya terbuka, Ellena menangkap sosok yang tidak asing di depan pintu rumah yang sepertinya pernah dia datangi. “Kak Marco, ini kan rumah kamu!”
***
Sory slow update, lagi banyak kerjaan.. Maaf banget ya gaess 🙏🙏
sana sama Otor aja... pasti mau dia...