Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Mau jadi pacar saya ?
Bab 4
Asoka menghela nafasnya. Lumayan effort untuk mengkondisikan kamar yang ditempati. Memasang sprei baru meski sprei yang sudah terpasang sebenarnya terlihat rapi dan bersih. Membuka koper, menggantungkan jas dokter dan mengeluarkan sebagian isi koper dia pindah ke lemari yang tersedia.
Di rumah itu, ada tiga kamar. Lisa dan Yuli sudah pasti satu kamar. Beni, Sapri dan Rama berebut ke dalam kamar lainnya, padahal dia sudah menawarkan agar salah satu sekamar dengannya. Nyatanya sampai sekarang tidak ada satupun yang menyusul. Terserah saja, toh lebih nyaman. Entah apa jadinya kalau Rama satu kamar dengannya atau Beni.
Udara di tempat ini begitu dingin, dia sudah menggunakan celana training dan kaos lengan panjang. Di Jakarta butuh AC untuk mendinginkan ruangan, di sini tidak perlu. Bahkan dengan pintu dan jendela yang rapat saja masih terasa begitu dingin.
Brak
Terdengar pekikan pelan. Ia menggeleng, pasti ulah Yuli. Sejak memasuki rumah ini, sepertinya belum lelah untuk mengeluh dan mengomentari apapun. Tidak ada shower apalagi air hangat di toilet, sempat berteriak karena melihat kecoa di dapur dan udara yang dingin.
“Rama.”
“Apa sih Juleeee. Harusnya lo panggil Sapri bukan gue.”
Terdengar perdebatan lagi lalu ketukan pintu.
“Dok, makan malam sudah datang.”
Suara itu, suara Lisa. Ia tersenyum lalu beranjak dari ranjang.
“Iya, sebentar.” Memakai sandal jepit menuju pintu, punggung Lisa terlihat menuju area dalam menuju meja makan.
“Yul, bisa nggak mulut kau itu mingkem barang sejam. Penging telingaku dengar kau teriak mulu,” cetus Beni.
“Udah ah, udah malam. Ini kampung orang dan rumah baru. Jangan gaduh.” Lisa menengahi. Semua sudah kebagian nasi goreng dalam styrofoam. Lisa menyerahkan milik Asoka. “Makan dulu dok, ini piringnya kalau mau dipindahkan.
“iya, makasih.”
Beni sudah duduk bersama Rama juga Yuli, mau tidak mau Lisa duduk di samping Asoka. Sapri tidak usah ditanya, sudah keluar dan menikmati makan malam di beranda. Katanya berasa makan di puncak, adem.
“Kalian yakin mau sekamar bertiga?” tanya Oka.
“Nggak yakin dok. Paling nanti Sapri kita tarik ke dapur kalau udah nyenyak.”
“Ngaco kamu Ram, mending kamu tidur di depan tuh sana.”
“Cie Jule, belain Sapri terus,” ejek Rama lagi.
“Nggak usah nggak enakan, saya nggak masalah kita berbagi kamar.”
“Saya aja deh yang pindah ke kamar Dokter.” Yuli bicara lalu cengengesan. Mendengar itu Lisa sampai tersedak.
“Centil, Sapri mau dikemanain.”
Alih-alih merespon Rama dan Yuli, Asoka malah menatap Lisa yang menepuk dad4 setelah meneguk air.
“Pelan-pelan aja,” ujar Oka dan dijawab dengan anggukan oleh Lisa. “Beres makan kita ngobrol dulu. Bagi tugas membersihkan rumah ini,” seru Asoka dan semua setuju. Hanya difasilitasi tempat tinggal, sedangkan untuk kebersihan, makan dan kebutuhan lain selama tinggal di sana tidak dicover siapapun apalagi BPJS.
***
Lisa mendessah pelan lalu beranjak duduk. Tidak bisa memejamkan mata padahal waktu sudah hampir tengah malam. Bukan karena berada di tempat baru saja yang membuat matanya sulit terpejam, bukan juga ocehan Lisa sebelum tidur. Chat yang dikirim Inka adik sambungnya.
Inka Penjaga Neraka
Cih, kabur. Baguslah, biar nggak ada yang ngerecokin gue. Paling pas pulang Ayah udah nggak ngenalin lo.
Andaipun di screenshoot lalu kirim ke ayahnya, tidak akan dipercaya. Inka dan Ibunya memang ratu drama, manis di depan dan busuk di belakang. Paling parah saat insiden Inka terpeleset di tangga. Memang ia sempat berdebat dengan Inka dan dilerai oleh Ibunya tepat saat ayahnya tiba.
Rupanya sudah disetting oleh dua perempuan iblis itu, Inka terjatuh sampai berguling dan si4lnya setelah beradu bahu dengan Lisa. Ayah marah dan menghardik Lisa, Inka melarang ayah dan mengatakan ini semua salahnya seharusnya dia tidak memancing kemarahan Lisa.
“Ayah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi kasar begini, seperti bukan anak ayah.”
Kalimat itu terus mengganggu. Bahkan penjelasannya pun tidak digubris, ditambah drama ibu dan anak menghentikan perdebatan bersikap seolah mereka mau mengalah agar tidak ada keributan. Tentu saja hanya untuk mendapatkan perhatian Ayah.
“Hah, dingin.” Lisa mengeratkan cardigannya. Sepertinya besok akan membeli jaket online dan dikirim ke sini, juga bed cover. Turun dari ranjang setelah mengantongi ponsel dan sempat menoleh karena Yuli mengigau meneriakan nama Rama.
“Baek-baek kalian berjodoh.”
Ia membuka pintu kamar dengan pelan agar deritnya tidak mengganggu ketenangan tidur yang lain. Tujuannya ke toilet karena panggilan alam, menatap dua pintu kamar di hadapannya yang tertutup rapat. Dengkuran terdengar bersahutan, sepertinya dari kamar trio semprul.
Mungkin minum air jahe atau bandrek bisa menghangatkan, besok ia akan beli untuk persediaan. Bukan kamar tujuannya, melainkan ruang depan di mana ada sofa tamu. Duduk sambil memainkan ponselnya. Selain pesan dari Inka, ayah juga sempat mengirim pesan lagi. Menanyakan lokasinya berada juga keadaan di sini.
“Setahun ini Ayah akan lebih tenang karena aku si pengacau tidak ada di rumah,” gumamnya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa. Dua hari yang lalu ia kembali bertengkar dengan Ayah, lagi-lagi karena Inka. Wanita itu merengek ingin melanjutkan pendidikan, tidak tanggung-tanggung mintanya di luar negri. Dari mana ayahnya punya modal sebanyak itu, usahanya beberapa pintu kontrakan juga rumah kost dan sederet ruko sepertinya tidak bisa memenuhi keinginan Inka.
Lisa geram. Dia saja hanya kuliah di Jakarta dan sebagian biaya pendidikannya karena beasiswa. Lo jangan kuliah, jadi baby sugar aja, ejeknya. Inka menangis sudah pasti pura-pura, dan ibunya meminta cerai dari ayah. Ia pun bersorak agar ayah memenuhi permintaan itu dan ayah memberikan hadiah tamparan.
Mengingat lagi masalah itu, membuat Lisa geram. Tangannya mencengkram ponsel dengan rahang mengeras.
“Lisa. Belum tidur?”
Posisi duduk Lisa menyerong miring memunggungi arah dalam rumah, ia pun menoleh.
“Eh, belum dok,” sahutnya lalu merubah duduk menatap Oka yang mengambil tepat di kursi tunggal. Asoka dengan setelan training dan kaos lengan panjang membawa ponsel dan tablet di tangannya.
“Nggak bisa tidur?”
Lisa mengangguk lalu menunduk.
“Nggak betah atau menyesal datang kemari.”
“Hm, nggak juga sih.”
“Oh iya, kamu sekalian cari jodoh di sini ya,” sahut Oka lalu tersenyum.
“Siapa tahu dok. Sambil menyelam eh malah tenggelam.”
Oka tersenyum. “Saya juga ngarep gitu deh. Mana tahu lepas dari sini nggak jomblo lagi.”
“Dokter Oka jomblo? Masa sih? Nggak percaya saya.” Lisa menatap lawan bicaranya dengan dahi agak mengernyit tidak percaya dengan yang disampaikan pria itu.
“Kenapa, mau jadi pacar saya?”
“Eh.”
\=\=\=\=\=\=\=
Sampai bab ini belum ada hubungan para tokoh dengan tokoh di novel sebelumnya ya dan sepertinya tidak ada.
Rama : Jangan lupa jejak biar gue tahu kalau pembaca itu ada
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭