Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama yang Kembali
Tiga bulan setelah kejadian Laras pergi dan kembali, kehidupan Wira dan keluarganya perlahan membaik. Mereka menjalani konseling pernikahan secara rutin, belajar berkomunikasi dengan lebih baik, dan berusaha membangun kembali kepercayaan yang sempat retak.
Rizky kembali ke rutinitasnya di Jakarta. Ia senang mendengar kabar baik dari sahabatnya itu. Setiap minggu, mereka tetap berkomunikasi lewat telepon atau video call, berbagi cerita tentang anak-anak, pekerjaan, dan kehidupan.
Kirana kini sudah 7 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan periang. Setiap akhir pekan, Rizky selalu menjemputnya dan menghabiskan waktu bersama ke taman bermain, ke museum, atau sekadar menonton film di apartemen.
Sasha dan Doni juga baik-baik saja. Mereka bahkan baru saja mengumumkan bahwa Sasha hamil anak kedua. Rizky ikut bahagia mendengar kabar itu. Sungguh, ia sudah ikhlas dan hanya ingin mantan istrinya itu bahagia.
Namun, ketenangan tak pernah abadi.
---
Suatu malam, saat Rizky bersiap tidur, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal dari Balikpapan. Ia mengangkatnya dengan rasa penasaran.
"Halo?"
"Halo... Rizky?"
Suara itu. Suara yang tak pernah bisa ia lupakan. Ima.
Rizky terkejut. "Ima? kamu kenapa? Kok nelpon jam segini?"
Suara Ima di ujung sana terdengar bergetar, seperti menahan tangis. "Rizky... Ima... Ima butuh bantuan."
Rizky langsung duduk tegak. "Ada apa? Kamu kenapa?"
"Ima... Ima kecelakaan. Di rumah sakit. Ima... nggak tahu harus ngomong ke siapa." Ima terisak. "Ima nggak punya siapa-siapa lagi, Rizky."
Rizky merasakan dadanya sesak. "Kamu di rumah sakit mana? Aku ke sana sekarang."
"Ima di Balikpapan. Rumah sakit umum. Tapi kamu nggak usah—"
"Aku akan ke sana. Besok pagi. Kamu tunggu."
Telepon terputus. Rizky terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ima. Perempuan yang pernah sangat ia cintai, yang pernah menjadi sumber dosa terbesarnya, kini dalam kesulitan dan memanggil namanya.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka aplikasi pemesanan tiket. Pesawat pertama ke Balikpapan besok pagi.
---
Keesokan harinya, Rizky tiba di Bandara Balikpapan siang hari. Ia langsung menuju rumah sakit umum. Di ruang perawatan, ia menemukan Ima terbaring di ranjang dengan perban di kepala dan lengan.
Ima terlihat pucat, kurus, lebih tua dari yang Rizky ingat. Tapi matanya masih sama sendu dan penuh arti.
"Rizky..." bisik Ima begitu melihatnya.
Rizky mendekat, duduk di kursi samping ranjang. "Ima, kamu kenapa? Kok bisa kecelakaan?"
Ima menghela napas. "Ima ditabrak motor minggu lalu. Lagi nyebrang di depan pesantren. Supirnya kabur. Ima koma dua hari."
"Ya Allah, Ima." Rizky meraih tangannya. "Kenapa nggak kabarin dari dulu?"
"Maaf. Ima nggak mau ganggu. Tapi kemarin... Ima nggak kuat sendiri." Ima menangis. "Ima nggak punya siapa-siapa, Rizky. Orang tua udah meninggal. Saudara jauh nggak peduli. Ima cuma punya pesantren, dan itu pun sekarang terbengkalai."
Rizky menggenggam tangannya erat. "kamu punya aku, Ima. Meskipun kita udah punya jalan masing-masing, kamu tetap bagian dari hidup aku."
Ima tersenyum tipis. "Makasih, Rizky."
---
Dua minggu Rizky di Balikpapan. Ia mengurus Ima, membayar biaya rumah sakit, dan memastikan Ima mendapatkan perawatan terbaik. Ia juga menghubungi Wira, memberi tahu situasi Ima.
Wira datang ke rumah sakit dengan Laras. Mereka membawa Rakha. Ima menangis melihat anaknya.
"Rakha..." bisik Ima, meraih tangan anak itu.
Rakha yang sudah berusia 8 tahun tampak canggung, tapi tetap mendekat. "Ibu... sembuh ya."
Ima menangis tersedu. Wira dan Laras saling berpandangan. Laras mengangguk, memberi isyarat pada Wira untuk mendekat.
"Ma," kata Wira pelan. "Kami akan bantu. Apa pun yang Ibu butuh."
Ima terharu. "Makasih, Wira. Makasih, Laras. Maaf udah nyusahin."
---
Saat Ima mulai pulih, Rizky harus kembali ke Jakarta. Pekerjaannya tak bisa ditinggalkan lebih lama. Sebelum pergi, ia duduk di samping Ima.
"Ima, aku harus balik. Tapi aku udah ngomong sama Wira, dia akan jagain kamu. Kalau ada apa-apa, kabarin aku."
Ima mengangguk. "Makasih, Rizky. Makasih buat semuanya."
Rizky berdiri, ragu sejenak. Lalu ia berkata, "Ima, aku mau jujur."
Ima menatapnya.
"Aku masih peduli sama kamu. Bukan sebagai cinta, tapi sebagai... teman. Masa lalu kita biarlah jadi masa lalu. Tapi aku nggak akan tinggalin kamu."
Ima tersenyum, air matanya jatuh. "Itu lebih dari cukup, Rizky."
---
Kembali ke Jakarta, Rizky merasa ada yang berubah dalam dirinya. Merawat Ima, melihatnya lemah dan tak berdaya, membangkitkan sesuatu yang lama terkubur—bukan cinta, tapi rasa tanggung jawab. Ima pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia tak bisa membiarkan Ima sendirian.
Namun, di sisi lain, ada Sasha dan Kirana. Ada kehidupan baru yang telah ia bangun dengan susah payah. Ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama.
Malam itu, Rizky menelepon Sasha. Ia perlu bicara.
"Sha, aku mau cerita sesuatu."
"Cerita aja." Sasha mendengarkan dengan sabar saat Rizky menceritakan tentang Ima.
Setelah Rizky selesai, Sasha diam cukup lama. Lalu ia berkata, "Rizky, aku tahu kamu masih peduli sama Ima. Dan itu nggak salah. Tapi tolong ingat, kamu udah punya batasan. Jangan sampai kamu terperosok lagi."
"Aku tahu, Sha. Aku janji nggak akan."
"Aku percaya sama kamu. Tapi jaga hati kamu baik-baik."
---
Dua bulan kemudian, Ima pulang ke pesantrennya. Kondisinya sudah jauh lebih baik, meskip masih harus menjalani terapi untuk pemulihan total. Rizky sesekali mengirim pesan, menanyakan kabar. Ima selalu membalas dengan sopan, tanpa ada rayuan atau nostalgia.
Suatu hari, Rizky menerima pesan dari Ima yang mengagetkannya.
"Rizky, Ima mau kasih tahu. Ima akan menikah."
Rizky membaca pesan itu berulang kali. Perasaannya campur aduk—kaget, tapi juga lega.
"Serius? Dengan siapa?" balasnya.
"Namanya Ustadz Rahmat. Beliau pembina pesantren tetangga. Single parents, anak dua. Kita sama-sama ingin membangun rumah tangga yang sakinah."
Rizky tersenyum. Ima akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini ia cari.
"Selamat, Ima. aku ikut bahagia."
"Makasih, Rizky. kamu juga, cari pendamping. Jangan sendiri terus."
"Nanti lah. Aku masih nikmatin sendiri."
Mereka bertukar pesan hangat, tanpa getar, tanpa rasa bersalah. Hanya dua insan yang pernah melewati masa lalu, dan kini sama-sama melangkah maju.
---
Pernikahan Ima digelar sederhana di pesantren. Rizky tak bisa hadir karena urusan pekerjaan, tapi ia mengirimkan hadiah dan ucapan selamat. Wira dan Laras datang mewakili.
Dari foto-foto yang dikirim Wira, Rizky melihat Ima tersenyum bahagia di samping suaminya. Sederhana, tenang, penuh berkah.
Rizky memandangi foto itu lama. Lalu ia tersenyum.
"Selamat, Ima. Kamu pantas bahagia."
---
Malam itu, di apartemennya, Rizky duduk di balkon. Pikirannya melayang pada perjalanan panjang yang ia lalui—Ima, Sasha, Wira, semua orang yang pernah hadir dan pergi dalam hidupnya.
Ponselnya berdering. Video call dari Kirana.
"Papa! Aku mau tidur. Bacain dongeng!"
Rizky tersenyum. "Mau dongeng apa?"
"Yang tentang putri dan pangeran!"
"Siap. Papa bacain."
Ia membuka buku dongeng digital, mulai bercerita. Kirana mendengarkan dengan mata berbinar.
Di tengah cerita, Kirana bertanya, "Papa, kenapa Papa nggak punya pacar?"
Rizky terkejut. "Eh? Kok nanya gitu?"
"Teman-teman di sekolah bilang, Papa harus punya pacar biar nggak kesepian."
Rizky tertawa. "Papa nggak kesepian, Sayang. Papa punya kamu."
"Aku kan cuma anak. Beda."
Rizky tersenyum. Suatu hari nanti, mungkin ia akan membuka hati lagi. Tapi untuk sekarang, ia cukup bahagia dengan apa yang ia miliki.
"Nanti lah, Sayang. Kalau waktunya tiba, Papa pasti akan cari. Tapi sekarang, Papa mau fokus sama kamu dulu."
Kirana tersenyum. "Oke, Papa. Aku sayang Papa."
"Papa juga sayang kamu, Nak."
Kirana tertidur. Rizky mematikan video call. Ia memandangi langit malam Jakarta.
Hidup terus berjalan. Dan ia siap menjalaninya.
---