Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen yang pas
"Mas, pulang kerja nanti aku tidak langsung ke rumah. Aku mau ke tempat saudara, ada acara keluarga dan kebetulan Bapak sama Ibu juga ada di sana. Kamu mau ikut?" Laras bertanya sembari merapikan penampilannya. Ia mencoba berbasa-basi, meski hatinya kerap bertanya-tanya tentang jarak yang kian lebar di antara mereka.
Arga yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya mendadak terhenti. Ia menoleh, menatap Laras dengan binar mata yang sulit diartikan seperti orang yang baru saja memenangkan lotre namun berusaha tetap tenang.
"Kamu saja yang pergi, aku di rumah saja." jawab Arga cepat. "Lagian ada Ibu di sini, nggak enak kalau rumah ditinggal kosong. Kamu... rencana menginap?"
Laras memulas bedak tipis ke wajahnya, gerakannya tenang. "Mungkin dua malam, Mas. Acaranya besok dan kebetulan tanggal merah. Tapi kalau kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan menginap."
Dua malam tanpa Laras? Ini benar-benar keberuntungan. Arga bersorak dalam hati. Otaknya langsung menyusun rencana liar, membawa Angel ke rumah ini. Menghabiskan waktu berdua tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
Mana mungkin Arga menolak? Ini adalah peluang emas yang ia nantikan selama empat tahun pernikahan mereka.
"Tentu saja aku izinkan." ujar Arga dengan senyum yang dipaksakan terlihat tulus. "Masa mau silaturahmi ke saudara dilarang? Apalagi ada Bapak dan Ibu di sana. Titip salam ya buat Bapak dan Ibu. Kalau acaranya sudah selesai, ajak mereka mampir ke sini."
Laras menghentikan gerakannya, melirik suaminya dengan tatapan sarkas. "Kalau Bapak dan Ibu kuajak ke sini, mereka mau tidur di mana, Mas? Kamar sudah penuh semua. Kecuali kalau Tiara mau mengalah dan tidur di kamar Ibu dulu."
Arga tertegun, lalu tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lupa bahwa rumah ini yang selalu ia akui di depan keluarganya sebagai hasil keringatnya sendiri sebenarnya adalah rumah milik Laras, kado ulang tahun dari Pak Harun. Namun, karena rasa percaya diri Arga yang terlalu tinggi, keluarganya yakin Laras hanyalah "penumpang" di rumah mewah ini. Laras sendiri memilih diam, malas berdebat soal gengsi suaminya yang setinggi langit.
"Ya sudah, yuk sarapan. Sudah siang, nih. Koper kamu perlu kubawakan ke mobil sekarang?" Arga menawarkan diri, mencoba menutupi rasa malunya.
"Iya.Tolong ya, Mas."
Laras berjalan di belakang suaminya dengan tatapan datar. Empat tahun menikah, ia mulai mencium bau busuk perselingkuhan Arga. Namun, Laras bukan wanita gegabah. Ia butuh bukti yang tak terbantahkan sebelum menjatuhkan vonis.
Di meja makan, Bu Ajeng sudah menunggu dengan wajah masam. Begitu melihat koper di tangan Arga, alisnya bertaut. "Mau ke mana kamu, Arga? Kok bawa koper segala?"
"Ini punya Laras, Bu. Dia mau menginap di rumah saudaranya. Bapak dan Ibunya juga ada di sana." Arga menjawab sembari memberikan kedipan rahasia kepada ibunya.
Bu Ajeng, yang sudah hafal tabiat anaknya, langsung paham. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, ada hal lain yang lebih penting bagi wanita itu. Uang.
"Laras, mana uang yang Ibu minta kemarin? Kamu tidak lupa, kan?" tanya Bu Ajeng tanpa basa-basi di sela suapan sarapannya.
Laras menyesap tehnya perlahan. "Bukannya acara liburan Ibu dan teman-teman arisan ditunda minggu depan? Semalam aku tidak sengaja dengar Ibu teleponan."
Bu Ajeng mendengus. "Memang ditunda, tapi Ibu mau pegang uangnya sekarang."
Arga yang mulai khawatir suasana akan berubah tegang dan merusak rencananya, segera menengahi. "Bu, ikuti saja kata Laras. Kan perginya masih minggu depan. Nanti kalau Laras sudah pulang dari rumah saudaranya, baru ditransfer." Arga kembali mengedipkan matanya, memberi kode agar ibunya bersabar demi "pesta" mereka nanti malam.
Akhirnya Bu Ajeng bungkam, meski hatinya penasaran dengan rencana besar apa yang sedang disiapkan putranya.
Begitu Laras berpamitan dan deru mobilnya menjauh, suasana di meja makan langsung berubah cair.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Ar?" tanya Bu Ajeng sambil melirik Tiara yang sedari tadi asyik dengan ponselnya.
"Laras akan pergi dua malam, Bu. Aku mau mengajak Angel menginap di sini. Dia sudah lama ingin melihat rumah ini." jawab Arga bangga.
"Oh, bagus itu. Suruh dia datang untuk makan malam nanti. Ibu tidak keberatan kalau dia mau menginap." dukung Bu Ajeng terang-terangan.
Setelah Arga berangkat kerja, Bu Ajeng beralih pada putri bungsunya. "Tiara, kamu kenapa diam saja dari tadi? Muka ditekuk begitu."
"Aku lagi kesal, Bu." Tiara menghentakkan ponselnya ke meja. "Cowok yang aku incar di kampus malah dekat sama cewek lain. Padahal cewek itu penampilannya biasa banget, nggak pernah dandan, miskin lagi. Nyebelin."
"Ya kamu labrak saja." sahut Bu Ajeng menghasut. "Masa anak Ibu yang cantik begini kalah sama cewek kampungan? Tapi, cowok itu kaya tidak?"
"Kaya banget, Bu. Ayahnya dosen, ibunya dokter bedah. Dia ke kampus saja bawa mobil mewah." keluh Tiara.
Bu Ajeng mengangguk puas. Sejak dulu, ia memang mendidik anak-anaknya untuk hanya mengejar pasangan yang mapan. Ia tidak tahu saja bahwa Laras, menantu yang sering ia remehkan sebenarnya adalah anak pemilik perkebunan cengkeh dan kakao yang luasnya berhektar-hektar.
**
Di tempat lain, Angel menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Sebuah pesan dari Arga baru saja masuk.
Arga : Sayang, istriku pergi dua malam. Kamu mau makan malam dan menginap di rumahku nanti malam? Aku kangen banget.
Angel tersenyum penuh kemenangan. " Malam ini aku akan tidur di kamar Arga. Kamar yang selama ini ditempati Laras. Cepat atau lambat, rumah mewah ini akan menjadi milikku sepenuhnya." batin Angel ambisius.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk kasar.
"Angel. Ada kabar bagus. " teriak Ibunya, Bu Sitti, dari balik pintu.
"Apa sih, Bu? Berisik." sahut Angel ketus.
"Bos Ibu sama istrinya sore ini mau pergi ke kota sebelah selama dua malam. Jadi, kamu bisa ajak Arga dan keluarganya makan malam di sini besok. Biar Bapak dan Ibu bisa pura-pura jadi pemilik rumah ini untuk meyakinkan mereka."
Angel membelalak. "Wah, momennya pas sekali, Bu. Tapi malam ini aku sudah janji ke rumah Mas Arga. Jadi, kita undang mereka besok malam saja ya?"
"Boleh. Ibu juga harus bantu-bantu bereskan barang Pak Harun dulu sebelum mereka berangkat." ujar Bu Sitti yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah orang tua Laras itu.
Tak lama, terdengar suara Bu Sulis memanggil dari ruang tengah. "Bi Sitti. Tolong bantu saya siapkan oleh-oleh di mobil."
Bu Sitti segera berlari dengan wajah patuh yang dibuat-buat. Di sana, Bu Sulis menatapnya ramah. "Oh iya Bi, mana Angel? Sudah seminggu saya di sini tapi jarang lihat dia."
"Ada di kamar, Bu. Sedang saya suruh menyetrika pakaian. " bohong Bu Sitti. Ia menutupi kenyataan bahwa anaknya hanya bermalas-malasan sambil mengejar suami orang, sementara ia sendiri bekerja di rumah orang tua dari wanita yang suaminya sedang dikencani anaknya. Sebuah ironi yang belum disadari oleh siapa pun.