NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESONANSI DARI MASA LALU

Sepuluh tahun setelah insiden di puncak Gunung Salak dan kehancuran Quantum Shadow, dunia tampaknya telah melupakan nama Phoenix. Sejarah telah merangkumnya dalam bab gelap korporasi global yang berhasil ditumpas oleh keberanian segelintir orang. Namun, bagi Maximilian Alfarezel, kedamaian bukanlah garis finish yang statis; ia adalah sebuah taman yang harus disiangi setiap hari agar gulma masa lalu tidak tumbuh kembali. Keheningan di kediamannya yang rindang di pinggiran Jakarta sering kali terasa terlalu sempurna, sebuah harmoni yang dibangun di atas fondasi yang pernah bersimbah darah.

Pagi itu, Maximilian berdiri di ruang kerjanya yang dikelilingi oleh rak-rak buku fisik. Ia lebih menyukai bau kertas tua daripada pendar cahaya layar digital yang baginya selalu membawa memori tentang pertempuran data yang melelahkan. Namun, sebuah getaran di laci mejanya membuyarkan lamunannya. Getaran itu bukan berasal dari ponsel pintarnya, melainkan dari sebuah perangkat komunikasi satelit model lama yang seharusnya sudah mati dan terkubur sejak satu dekade lalu.

Ponsel itu hanya memiliki satu fungsi spesifik: menerima sinyal dari sensor-sensor tersembunyi yang tertanam di dinding bunker Alpen—tempat di mana ayahnya, Arthur Alfarezel, menghembuskan napas terakhir. Layar monokrom ponsel itu berkedip perlahan, menampilkan satu baris pesan terenkripsi yang menggunakan kode sandi pribadi Arthur yang sangat kuno.

"Cermin yang retak tidak pernah benar-benar hancur. Ia hanya memantulkan banyak kebenaran."

Maximilian merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Kalimat itu adalah frasa pengaman yang hanya diketahui oleh tiga orang di dunia ini: Arthur sendiri, Maximilian, dan seorang pria yang selama ini dianggap telah tewas dalam pembersihan besar-besaran di Zurich dua puluh tahun silam, Silas Thorne. Silas adalah arsitek keamanan pertama Alfarezel Group, orang yang membangun benteng digital Phoenix sebelum akhirnya ia dinyatakan hilang dalam ledakan yang menghancurkan markas operasional lama.

Maximilian tahu ia tidak bisa melibatkan Vivien atau Leo dalam hal ini. Vivien baru saja merayakan kesuksesan yayasannya yang berhasil membangun seratus sekolah di pelosok nusantara, dan Leo sedang dalam masa riset krusial di universitas mengenai etika kecerdasan buatan. Ia tidak ingin menyeret mereka kembali ke dalam kegelapan yang telah mereka tinggalkan dengan susah payah. Namun, ia tidak bisa menghadapi hantu masa lalu ini sendirian.

Ia memanggil Bara.

Bara, yang kini lebih sering mengenakan kemeja flanel sederhana daripada rompi antipeluru, datang ke kediaman Maximilian dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Ia melihat ponsel satelit itu dan menghela napas panjang, sebuah reaksi dari seorang prajurit tua yang tahu bahwa masa pensiunnya baru saja diganggu oleh alarm perang.

"Aku pikir kita sudah selesai dengan semua sandi ini, Max," ucap Bara sambil memeriksa koordinat yang terlampir di balik pesan tersebut. "Koordinat ini mengarah ke Italia. Sebuah biara tua di pinggiran Lucca. Tempat yang sangat jauh dari radar siapa pun."

"Kita belum selesai, Bara. Jika Silas Thorne benar-benar masih hidup, dia memegang kunci terakhir tentang apa yang sebenarnya diinginkan ayahku sebelum dia meninggal. Ada sesuatu yang Arthur sembunyikan bahkan dari Phoenix sendiri. Katakan pada Vivien aku ada urusan konsultasi mendadak di Eropa terkait restrukturisasi bank lama. Jangan biarkan dia curiga."

Perjalanan menuju Lucca membawa Maximilian kembali ke atmosfer Eropa yang melankolis. Kota tua dengan dinding-dinding batu raksasanya seolah menyimpan ribuan rahasia yang sengaja dikubur agar tidak mengganggu tatanan dunia baru. Mereka tiba di Biara San Pellegrino saat kabut musim gugur mulai menyelimuti perbukitan Tuscany, memberikan kesan mistis sekaligus mengancam.

Di dalam kapel yang remang-remang, seorang pria tua dengan jubah cokelat kasar sedang berlutut di depan altar. Rambutnya putih bersih, dan tangannya yang memegang tasbih tampak penuh dengan bekas luka bakar yang sudah lama sembuh. Begitu Maximilian melangkah masuk, suara pria itu memecah kesunyian tanpa ia perlu menoleh.

"Kau datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, Maximilian. Kau memiliki mata ayahmu, tapi kau memiliki langkah kaki yang jauh lebih berat karena beban dosa yang kau pikul sendiri."

Silas Thorne berdiri perlahan. Matanya yang sebelah kiri buta, tertutup lapisan keruh akibat luka lama, namun mata kanannya masih setajam elang. Ia membawa Maximilian dan Bara ke sebuah ruang bawah tanah yang dipenuhi dengan peti-peti kayu berisi arsip fisik—bukan data digital, melainkan dokumen kertas asli dari dekade 1970-an hingga 1990-an.

"Phoenix yang kau hancurkan, Maximilian, hanyalah Phoenix 'Generasi Kedua'. Phoenix yang dikelola oleh ego Elena dan keserakahan Julian. Tapi mereka bukan penciptanya. Mereka hanyalah administrator yang rakus," Silas membuka sebuah map kulit yang sudah sangat usang. "Pencipta aslinya adalah sebuah konsorsium yang disebut The Obsidian Circle. Dan mereka tidak tertarik pada uang atau kontrol digital sederhana. Mereka tertarik pada sesuatu yang jauh lebih fundamental: Rekayasa Sejarah."

Maximilian mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu dengan rekayasa sejarah?"

"Mereka percaya bahwa siapa pun yang mengendalikan narasi masa lalu akan mengendalikan masa depan sepenuhnya. Selama ini, kau pikir perjuanganmu adalah melawan korporasi. Namun, Arthur menemukan bahwa Alfarezel Group sebenarnya dibangun untuk mendanai penghapusan jejak-jejak peradaban atau peristiwa tertentu agar dunia tetap berada dalam siklus ketergantungan pada sistem yang mereka buat. Silas mengeluarkan sebuah foto hitam putih yang menunjukkan Arthur muda berdiri di samping seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta merah. Pria di sebelah ayahmu ini adalah Viktor Volkov. Dia adalah arsitek utama Obsidian Circle. Dan dia adalah orang yang memberikan kontrak pertama kepada ayahmu. Kabar buruknya, Maximilian... Viktor Volkov tidak pernah benar-benar menua. Dia adalah gagasan yang hidup dalam wadah yang selalu diperbarui."

Saat Silas sedang menjelaskan, tiba-tiba sebuah sensor di pintu masuk ruang bawah tanah bergetar pelan. Getaran frekuensi tinggi yang membuat telinga berdenging.

"Mereka di sini," bisik Silas dengan wajah pucat. "Mereka melacak sinyal ponsel satelit itu begitu kau mengaktifkannya di sini. Aku seharusnya tahu mereka tidak akan membiarkan arsip ini tetap utuh."

"Siapa mereka?" tanya Maximilian sambil mencabut senjatanya dengan refleks yang masih sangat tajam.

"Unit Sentinels. Mereka bukan lagi manusia dengan emosi. Mereka adalah hasil dari rekayasa bioteknologi yang dibiayai oleh sisa-sisa dana Obsidian yang tidak sempat kau sentuh di Swiss. Mereka bergerak tanpa suara dan tanpa ampun."

Tiba-tiba, atap ruang bawah tanah itu meledak. Bukan oleh dinamit konvensional, melainkan oleh tekanan udara yang sangat tinggi yang menghancurkan struktur beton di atas mereka. Tiga sosok berpakaian hitam metalik turun dengan gerakan yang terlalu presisi untuk ukuran manusia biasa. Mereka tidak membawa senapan serbu, melainkan perangkat pemancar gelombang yang bisa menghancurkan organ dalam manusia hanya dengan frekuensi suara yang tepat.

Maximilian tidak menunggu musuh mengambil inisiatif. Ia meluncur ke balik meja kayu jati yang berat, menggunakan beban sejarah di ruangan itu sebagai perisai fisik sementara suara berdenging dari senjata gelombang musuh mulai meretakkan botol-botol anggur tua di rak-rak biara. Silas Thorne mencoba merangkak ke arah sebuah brankas besi di dinding belakang, sementara Bara bergerak dengan kegesitan yang menantang usia, melepaskan tembakan pengalih ke arah sensor optik di helm para Sentinel.

"Max! Peluru biasa hampir tidak berpengaruh pada zirah mereka!" teriak Bara di tengah gemuruh suara retakan batu. "Zirah itu berbahan cair-kinetik, ia mengeras saat terkena benturan cepat!"

Maximilian melihat sebuah lampu gantung besi tua yang tergantung goyah di langit-langit akibat ledakan tadi. Tanpa ragu, ia menembak rantai penahannya. Rantai itu putus, dan besi seberat dua ratus kilogram jatuh menghantam salah satu Sentinel, menjepitnya ke lantai batu. Namun, makhluk itu tidak mengerang; ia hanya mencoba mendorong beban tersebut dengan kekuatan motorik yang tidak masuk akal. Di saat itulah Maximilian menyadari bahwa Silas benar—ini adalah tentang teknologi yang telah melampaui batas kemanusiaan.

Silas berhasil membuka brankas rahasianya dan mengeluarkan sebuah tabung logam kecil yang memancarkan pendar biru pucat. "Maximilian! Bawa ini! Ini adalah Core Ledger yang asli! Ini berisi daftar anggota Obsidian Circle yang sebenarnya, bukan hanya pion-pion mereka di pemerintahan! Jika kau bisa membawa ini ke Leo, dia mungkin bisa menemukan cara untuk memutus frekuensi kendali mereka!"

Sentinel kedua mengarahkan pemancar gelombangnya ke arah Silas. Maximilian melompat, menerjang pria tua itu hingga mereka berdua terguling ke lantai saat gelombang udara panas menghantam dinding di belakang mereka, mengubah batu solid menjadi bubuk dalam sekejap. Maximilian merasakan panas yang luar biasa menyambar punggungnya, namun ia mengabaikannya. Ia merebut tabung logam itu dari tangan Silas dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

"Kita harus keluar dari sini, sekarang!" perintah Maximilian kepada Bara.

"Bagaimana dengan Silas?" tanya Bara sambil melemparkan granat asap untuk mengaburkan pandangan termal musuh yang mulai mendekat.

"Aku sudah terlalu lama hidup dalam persembunyian, Maximilian," ucap Silas dengan senyum pahit, darah mengalir dari telinganya akibat tekanan suara yang dahsyat. "Pergilah. Aku akan memicu sistem pembersihan biara ini. Tidak boleh ada satu pun dokumen asli yang jatuh ke tangan mereka. Arthur menungguku untuk melaporkan bahwa kau telah tumbuh menjadi pria yang lebih baik darinya. Sampaikan maafku pada Vivien, ayahnya adalah orang baik yang terjebak dalam jaring laba-laba yang terlalu besar."

Maximilian menatap mata Silas sejenak—sebuah perpisahan tanpa kata-kata yang penuh dengan beban sejarah. Ia menarik Bara dan mereka berlari menuju lorong rahasia yang mengarah ke hutan di belakang biara. Saat mereka mencapai jarak seratus meter di dalam hutan, sebuah ledakan bawah tanah yang teredam mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Seluruh struktur biara San Pellegrino amblas ke dalam bumi, menelan Silas Thorne, dokumen-dokumen kuno, dan unit-unit Sentinel yang tersisa dalam satu lubang raksasa.

Keheningan kembali menyelimuti hutan Lucca, namun Maximilian tahu bahwa perang yang baru saja dimulai ini jauh lebih berbahaya daripada pertempuran di Alpen atau Gunung Salak. Mereka kini berhadapan dengan entitas yang tidak memiliki wajah, tidak memiliki emosi, dan tampaknya telah merencanakan setiap langkah mereka selama beberapa dekade ke depan.

"Kita harus segera kembali ke Jakarta," ucap Maximilian sambil mengatur napasnya. "Dan kali ini, kita tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Vivien dan Leo. Obsidian Circle bukan musuh yang bisa kita lawan dengan cara lama. Mereka menyerang dari masa lalu untuk mencuri masa depan kita. Jika mereka bisa menciptakan Sentinel, mereka bisa melakukan apa saja."

Dalam perjalanan menuju bandara di Florence, Maximilian terus menatap tabung logam di tangannya. Di dalamnya terdapat rahasia tentang siapa Viktor Volkov dan bagaimana pria itu bisa tetap relevan selama setengah abad. Sepanjang penerbangan kembali ke tanah air, Maximilian tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah ayahnya di bunker, seolah-olah Arthur mencoba memperingatkannya bahwa Phoenix hanyalah kulit luar dari seekor ular yang jauh lebih besar dan lebih tua.

Sesampainya di Jakarta, suasana sudah sangat tegang. Gideon sudah menanti di pangkalan udara pribadi dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.

"Max, sesuatu yang aneh terjadi. Leo... dia menghilang dari laboratorium universitas dua jam yang lalu. Dan seluruh sistem keamanan yayasan Vivien baru saja mengalami blackout total tanpa ada jejak peretasan dari luar. Seolah-olah sistem itu memutuskan untuk mati sendiri."

Jantung Maximilian berdegup kencang. "Obsidian bergerak lebih cepat dari perkiraan kita. Mereka tidak ingin arsip itu sampai ke tangan Leo. Di mana Vivien?"

"Dia aman untuk saat ini, dia berada di ruang bawah tanah rumah Sentul bersama Alaric, tapi mereka terjebak. Sistem penguncian otomatis kita telah diretas oleh pihak luar yang menggunakan protokol enkripsi tingkat militer. Aku tidak bisa membuka pintunya dari jarak jauh."

Maximilian segera memerintahkan Bara untuk mengumpulkan sisa tim inti yang masih bisa dipercaya. Mereka melaju menuju Sentul dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil, Maximilian mencoba menghubungi Leo berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Ia menyadari bahwa penculikan Leo bukan sekadar untuk sandera, melainkan karena Leo adalah satu-satunya orang yang memiliki kapasitas otak untuk menerjemahkan data dari Core Ledger tersebut.

Begitu sampai di kediaman Sentul, Maximilian melihat beberapa jejak kaki yang tidak biasa di halaman rumahnya. Jejak itu berat, seolah ditinggalkan oleh sesuatu yang beratnya melampaui berat manusia biasa. Sentinel sudah ada di sini.

"Bara, amankan perimeter. Gideon, coba gunakan akses manual untuk membuka bunker!" perintah Maximilian.

Maximilian berlari menuju pintu masuk rahasia di bawah gazebo belakang rumah. Ia memasukkan kunci fisik yang selalu ia bawa di lehernya. Saat pintu terbuka, ia menemukan Vivien sedang berdiri memegang pistol dengan tangan gemetar, sementara Alaric bersembunyi di belakangnya.

"Max! Apa yang terjadi?" Vivien berlari memeluk suaminya. "Leo... dia menelponku tadi, suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang. Dia bilang dia harus pergi menemui 'pencipta' asli. Lalu semua lampu mati."

Maximilian melepaskan jaketnya dan memperlihatkan luka bakar di punggungnya. Vivien terpekik kecil. "Silas Thorne masih hidup, Viv. Dan dia baru saja mati untuk menyelamatkan data ini. Obsidian Circle mengejar kita. Mereka membawa Leo ke suatu tempat yang mereka sebut sebagai 'The Archive'."

"The Archive?" Vivien mengernyitkan dahi. "Ayahku pernah menyebutkan nama itu dalam catatan rahasianya yang tidak pernah kupahami. Dia bilang itu adalah tempat di mana sejarah 'ditulis ulang'."

Maximilian meletakkan tabung logam biru itu di atas meja kerja. "Leo adalah kuncinya. Obsidian membutuhkan kecerdasan Leo untuk mengintegrasikan data lama ini ke dalam infrastruktur digital dunia yang baru. Mereka ingin mengubah kenyataan melalui manipulasi data massal. Jika mereka berhasil, orang-orang tidak akan tahu mana yang nyata dan mana yang rekayasa. Mereka bisa menghapus sejarah kejahatan mereka seolah-olah itu tidak pernah terjadi."

Bara masuk ke dalam ruangan dengan wajah muram. "Max, aku menemukan sebuah pelacak di laboratorium Leo yang sempat tertinggal. Sinyalnya mengarah ke sebuah pulau pribadi di lepas pantai Kepulauan Seribu. Pulau itu secara resmi terdaftar sebagai milik sebuah yayasan konservasi laut, tapi pelacak itu menunjukkan aktivitas energi yang sangat tinggi di bawah tanah pulau tersebut."

"Obsidian memiliki fasilitas di sana," ucap Maximilian. "Kita tidak bisa menunggu bantuan otoritas resmi. Mereka kemungkinan besar sudah disusupi oleh orang-orang Volkov. Kita harus bergerak malam ini juga."

"Aku ikut," tegas Vivien. "Ini melibatkan adikku dan masa depan anakku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri lagi ke medan perang ini, Maximilian."

Maximilian menatap istrinya, lalu menatap Alaric yang sedang ditenangkan oleh Gideon. Ia tahu bahwa lingkaran setan ini tidak akan pernah berhenti kecuali ia memotong kepalanya secara langsung.

"Baiklah. Tapi kita butuh rencana yang lebih cerdas. Kita tidak bisa menyerang Sentinels dengan peluru. Kita butuh sesuatu yang bisa mengacaukan frekuensi mereka."

Gideon mengangkat kepalanya. "Tabung logam itu... Silas bilang ia memancarkan pendar biru. Itu adalah isotop stabil yang digunakan sebagai basis energi mereka. Jika kita bisa membalikkan polaritas energi dari tabung ini, kita bisa menciptakan gelombang EMP (Electromagnetic Pulse) lokal yang akan melumpuhkan semua unit Sentinel dalam radius lima puluh meter."

"Tapi itu akan menghancurkan data di dalamnya juga," sahut Leo. "Eh, maksudku data itu akan hilang selamanya."

"Data itu tidak sepenting nyawa Leo," jawab Maximilian. "Bara, siapkan kapal cepat. Vivien, bawa peralatan peretasanmu yang paling canggih. Malam ini, kita akan mendatangi 'The Archive' dan memastikan bahwa sejarah tidak akan pernah ditulis oleh tangan-tangan monster seperti Volkov."

Perjalanan melintasi laut di bawah kegelapan malam terasa sangat mencekam. Ombak yang menghantam lambung kapal seolah menjadi detak jantung perjuangan mereka. Maximilian berdiri di haluan, menatap pulau yang tampak sepi namun memancarkan aura kematian. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa ini akan menjadi babak terakhir dari perselisihan panjang antara keluarganya dan kekuatan yang bersembunyi di balik bayang-bayang.

Sesampainya di pantai pulau tersebut, mereka tidak disambut oleh tembakan, melainkan oleh keheningan yang menyesakkan. Pintu masuk menuju fasilitas bawah tanah terbuka lebar, seolah-olah mereka memang sedang ditunggu.

"Ini jebakan," bisik Bara.

"Aku tahu," jawab Maximilian. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Leo ada di dalam sana."

Mereka melangkah masuk ke dalam terowongan yang diterangi oleh lampu neon putih yang dingin. Di ujung terowongan, mereka sampai di sebuah ruangan raksasa yang menyerupai perpustakaan digital masa depan. Jutaan layar kecil menampilkan peristiwa sejarah dunia yang sedang mengalami distorsi—beberapa wajah pahlawan dihapus, beberapa peristiwa perang diubah narasinya.

Di tengah ruangan, Leo duduk di sebuah kursi dengan berbagai kabel terhubung ke pelipisnya. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Pria itu tampak berusia empat puluh tahunan, namun ada sesuatu yang sangat purba dan menakutkan dari sorot matanya.

"Selamat datang, Maximilian Alfarezel," ucap pria itu dengan suara yang sangat halus namun berwibawa. "Aku Viktor Volkov. Dan aku telah menunggu momen ini selama lima puluh tahun. Kau membawa bagian terakhir dari teka-teki ini: Core Ledger."

Maximilian mengangkat tabung logam biru itu. "Lepaskan Leo, Volkov. Kau sudah memiliki segalanya, jangan hancurkan anak ini."

Volkov tersenyum tipis. "Aku tidak menghancurkannya. Aku sedang memberikannya tujuan yang lebih mulia. Leo sedang membantu kami merajut kembali dunia yang terkoyak oleh kebohongan demokrasi dan kebebasan palsu. Dengan bantuannya, dunia akan memiliki satu versi kebenaran yang tidak akan pernah dipertanyakan lagi."

"Kebenaranmu adalah perbudakan pikiran!" teriak Vivien, tangannya sudah siap di atas pemicu perangkat pengacau sinyal.

"Kebenaran adalah apa pun yang disepakati oleh mayoritas, Nyonya Alfarezel. Dan mayoritas akan percaya pada apa yang kami tampilkan di layar mereka," sahut Volkov dingin. "Sekarang, berikan tabung itu padaku, atau aku akan memerintahkan sistem ini untuk mengunduh seluruh memori Leo dan menghapusnya secara permanen."

Maximilian menatap Leo yang tampak berada dalam kondisi trance. Ia tahu ia hanya memiliki satu kesempatan. Ia memberi kode rahasia kepada Bara melalui gerakan jari.

"Kau ingin tabung ini?" Maximilian melangkah maju. "Ambilah."

Maximilian melemparkan tabung itu ke udara ke arah Volkov. Saat Volkov mengulurkan tangan untuk menangkapnya, Vivien menekan tombol pemicu polaritas.

BZZZZTTT!

Ledakan cahaya biru yang menyilaukan memenuhi ruangan. Gelombang EMP yang dahsyat memancar dari tabung logam tersebut, menghantam seluruh perangkat elektronik di ruangan itu. Layar-layar besar meledak, kabel-kabel yang terhubung ke Leo terbakar, dan yang paling penting, dua unit Sentinel yang berjaga di bayang-bayang tiba-tiba kaku dan ambruk ke lantai seperti rongsokan besi.

Volkov terlempar ke belakang oleh kekuatan ledakan itu. Wajahnya yang sempurna mulai retak, memperlihatkan lapisan sintetik di bawah kulitnya. Ia ternyata bukanlah manusia seutuhnya, melainkan sebuah mahakarya bioteknologi yang menyimpan kesadaran asli Volkov.

"Sekarang!" teriak Maximilian.

Bara menerjang maju, menembakkan amunisi khusus yang mengandung cairan korosif ke arah zirah Sentinel yang sudah lumpuh untuk memastikan mereka tidak bangkit lagi. Maximilian berlari ke arah Leo, mencabut kabel-kabel di kepalanya dengan hati-hati.

"Leo! Bangun, Leo!"

Leo tersentak, napasnya memburu. Matanya kembali fokus. "Max? Vivien? Apa yang terjadi? Aku... aku melihat semuanya. Aku melihat bagaimana mereka memanipulasi kita semua selama ini."

Vivien segera membantu Leo berdiri. Sementara itu, Volkov mulai bangkit dari lantai. Separuh wajahnya kini tampak seperti robot perunggu yang kuno. Suaranya berubah menjadi parau dan mekanis.

"Kalian pikir... satu gelombang EMP bisa menghentikan Obsidian? Kami ada di setiap server, di setiap satelit, di setiap ingatan yang tersimpan secara digital! Kalian hanya menghancurkan satu terminal!"

"Mungkin," jawab Maximilian sambil menatap Volkov dengan tatapan muak. "Tapi tanpa tabung logam itu, kau tidak bisa melakukan sinkronisasi global. Kau hanya akan menjadi virus yang terisolasi di dalam sistem ini."

Maximilian mengambil sebuah granat termit dari sabuk Bara. "Dan sistem ini akan segera hilang dari muka bumi."

"Ayo pergi!" perintah Maximilian.

Mereka berlari keluar saat Maximilian melemparkan granat termit ke arah tumpukan server pusat fasilitas tersebut. Api biru yang sangat panas mulai melahap segalanya. Mereka berhasil mencapai pantai dan melompat ke kapal cepat tepat saat ledakan dahsyat mengguncang pulau tersebut. Sebuah kolom api membubung tinggi ke langit malam, menandakan berakhirnya 'The Archive'.

Di atas kapal, di tengah laut yang tenang, Leo tertunduk lesu. "Data itu... aku sempat membacanya sedikit sebelum sistemnya hancur. Volkov benar, Max. Mereka sudah sangat dalam menyusup ke kehidupan kita. Tapi ada satu hal yang mereka lupa."

"Apa itu?" tanya Vivien sambil memeluk adiknya.

"Mereka lupa bahwa ingatan manusia tidak bisa dienkripsi. Selama kita masih menceritakan kebenaran satu sama lain, mereka tidak akan pernah menang sepenuhnya."

Maximilian menatap cakrawala Jakarta yang mulai tampak di kejauhan. Ia tahu bahwa Obsidian Circle masih ada di luar sana dalam bentuk yang lain. Namun malam ini, ia telah memenangkan pertempuran yang paling mustahil. Ia telah menyelamatkan adiknya, keluarganya, dan mungkin, sedikit bagian dari sejarah manusia yang asli.

"Perang ini belum berakhir, kan, Max?" tanya Bara sambil memeriksa senjatanya.

"Belum, Bara," jawab Maximilian sambil merangkul Vivien. "Tapi untuk malam ini, kita pulang. Kita memiliki banyak cerita untuk diceritakan kepada Alaric. Cerita tentang keberanian, tentang pengorbanan, dan tentang fakta bahwa masa depan tidak ditulis di layar komputer, melainkan di dalam hati setiap orang yang berani melawan."

Kapal itu membelah ombak, membawa para pejuang yang kelelahan kembali ke kota yang mereka cintai. Di balik awan, bulan purnama bersinar terang, seolah memberikan restu pada fajar yang akan segera tiba. Sebuah fajar di mana manusia masih memiliki hak untuk menentukan apa yang nyata dan apa yang fana.

CATATAN AKHIR: RESONANSI OBSIDIAN

Meskipun 'The Archive' hancur, tabung logam Core Ledger yang diledakkan Maximilian sebenarnya sempat mengirimkan satu paket data terenkripsi terakhir ke sebuah lokasi yang tidak diketahui di Siberia sebelum ia hancur sepenuhnya. Di sebuah bunker es yang dalam, sebuah layar tua menyala. Sebuah wajah digital baru muncul, lebih muda, lebih tajam, dan siap untuk memulai kembali permainan.

Cermin memang sudah retak, namun potongan-potongannya masih sangat tajam. Dan Maximilian Alfarezel tahu, ia harus selalu siap untuk memegang pedang kebenaran, kapan pun bayangan masa lalu mencoba untuk bangkit kembali.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!