Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.Sangkar emas
Pagi itu, langit Jakarta dibalut awan kelabu yang menggantung rendah. Tidak ada pesta meriah dengan ribuan karangan bunga, tidak ada riuh tepuk tangan tamu undangan, dan tidak ada gaun pengantin mewah berhias ribuan kristal yang membalut tubuh Aruna.
Pernikahan itu berlangsung di ruang tengah kediaman pribadi Kaivan Adikara—sebuah rumah megah berarsitektur modern minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca tebal. Suasananya begitu sunyi, dingin, dan kaku.
Hanya ada seorang penghulu dari KUA setempat, dua orang saksi dari pihak Kaivan, serta Rendra dan Rosmala yang duduk di sudut ruangan dengan wajah berusaha memasang senyum terbaik mereka—meski tatapan mata mereka lebih sering tertuju pada interior rumah megah itu ketimbang pada putri mereka sendiri.
Karin bahkan tidak sudi hadir. Katanya, ia ada sesi pemotretan penting dengan majalah mode ternama yang tak bisa ditunda. Bagi Karin dan kedua orang tuanya, Aruna telah menuntaskan tugasnya: tiga puluh miliar rupiah sudah mengalir mulus ke rekening Rasyara Group, menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan.
Aruna duduk di samping Kaivan di hadapan meja akad yang dilapisi kain putih. Ia mengenakan kebaya putih sederhana—kebaya sewaan yang ia pilih sendiri tanpa bantuan siapa pun. Di sampingnya, Kaivan tampak gagah dan sempurna dalam balutan jas hitam buatan penjahit ternama Italia.
Wajah pria itu sangat tampan, rahangnya tegas dan tajam, namun ekspresinya sedingin es yang membeku di kutub. Tidak ada seberkas pun rona bahagia atau kehangatan di matanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Rasyara binti Rendra Rasyara dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Suara Kaivan menggelegar tenang, mantap, tanpa sedikit pun keraguan. Dalam satu tarikan napas, takdir Aruna telah terkunci rapat.
Ketika diminta menyalami tangan suaminya, Aruna mengulurkan jemarinya yang dingin dan bergetar halus. Saat jemarinya menyentuh telapak tangan Kaivan yang hangat dan kokoh, ada sengatan asing yang membuat dada Aruna berdesir pilu.
Ia meraih tangan itu dan menyentuhkan punggung tangan Kaivan ke dahinya. Kaivan tidak membalas genggaman itu. Begitu Aruna menegakkan kepala, pria itu menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat—seolah-olah kulit Aruna baru saja menularkan kuman yang menjijikkan.
Tak ada ciuman kening. Tak ada tatapan penuh cinta. Yang ada hanyalah tatapan datar Kaivan yang seolah menegaskan garis batas di antara mereka.
Setelah prosesi ijab kabul dan penandatanganan berkas resmi selesai, Rendra dan Rosmala terburu-buru berpamitan. Mereka mengucapkan selamat yang terasa sangat hampa sebelum bergegas pergi, seolah-olah takut Kaivan akan mengubah pikirannya dan meminta uang tiga puluh miliar itu kembali.
"Pak Rendra, Nyonya Rosmala, terima kasih," ujar Kaivan singkat tanpa mengantar mereka sampai pintu depan.
Begitu orang tuanya pergi dan penghulu menyalami mereka untuk pamit, ruang tengah yang luas itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.
Kaivan melonggarkan dasi hitamnya dengan gerakan kasar. Ia membalikkan badan, menatap Aruna dari atas ke bawah dengan pandangan yang sarat akan rasa curiga dan prasangka buruk.
"Perjanjian pranikah sudah kamu tanda tangani," kata Kaivan, suaranya berat dan mengintimidasi.
"Kamu punya kamar sendiri di lantai dua, sebelah barat. Jangan pernah masuk ke area kerja saya atau kamar pribadi saya di sebelah timur tanpa izin."
Aruna berdiri mematung dengan gaun kebaya putihnya. Ia menundukkan kepala seraya meremas kain kebayanya sendiri.
"Baik... Mas Kaivan."
"Jangan panggil saya 'Mas'," potong Kaivan cepat dan tajam. Alisnya bertaut penuh ketidaksukaan.
"Panggilan itu terlalu akrab untuk hubungan yang dibeli dengan uang. Panggil saya Pak Kaivan, atau tidak usah memanggil sama sekali jika tidak ada hal yang sangat penting."
Kata-kata itu menghantam dada Aruna seperti pukulan telak. Rasa perih merambat pelan ke ulu hatinya, namun Aruna memaksakan dirinya untuk mengangguk pelan.
"Baik, Pak Kaivan."
"Satu hal lagi," lanjut Kaivan sembari merapikan lengan kemejanya. "Saya tidak akan memberikan kamu kartu kredit, uang saku bulanan, atau fasilitas mewah apa pun. Keluarga kamu sudah menerima tiga puluh miliar sebagai bayaran atas pernikahan ini. Jadi, jangan pernah berharap kamu bisa meminta uang sepeser pun dari saya untuk kepentingan pribadimu."
Kaivan sengaja mengatakan itu untuk menguji reaksi Aruna. Dalam pikirannya, wanita mana pun yang masuk ke dalam kehidupannya lewat skenario penjebakan utang seperti ini pasti akan menunjukkan raut kecewa atau protes karena tidak mendapatkan akses ke kekayaan keluarga Adikara.
Namun, reaksi Aruna justru di luar dugaan Kaivan.
Aruna mendongak pelan. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kaivan. Tidak ada amarah, tidak ada kekecewaan, dan tidak ada tuntutan di sana. Yang ada hanyalah raut kepasrahan yang teramat tenang.
"Saya tidak pernah meminta uang itu, Pak Kaivan," bisik Aruna dengan suara yang sangat lembut namun tegas.
"Saya juga tidak pernah berniat meminta uang sepeser pun dari Anda. Saya menikah karena... saya tidak punya pilihan untuk menolak orang tua saya."
Kaivan tertawa sinis—sebuah tawa kecil tanpa humor yang terdengar begitu merendahkan.
"Akting yang bagus. Tapi maaf, saya tidak mudah tersentuh oleh wajah polosmu itu. Sekarang bereskan barang-barangmu dan masuk ke kamar."
Tanpa menunggu balasan Aruna, Kaivan membalikkan badan dan melangkah lebar menuju ruang kerjanya, meninggalkan Aruna sendirian di tengah ruangan megah yang terasa asing dan dingin itu.
Keesokan harinya, kehidupan baru Aruna dimulai.
Meski kini ia berstatus sebagai istri dari seorang pengusaha kaya raya dan tinggal di dalam rumah megah bak istana, kehidupan Aruna tidak berubah sedikit pun.
Kaivan tidak memberinya uang saku, tidak memberinya fasiltas kendaraan, dan Aruna sendiri memang tidak pernah berniat untuk mengemis atau meminta uang kepada pria yang membencinya itu.
Aruna tetaplah Aruna. Untuk bertahan hidup, membayar kontrakan lamanya yang masih menyisa masa sewa, serta membeli kebutuhan pribadinya seperti sabun dan pembalut, Aruna harus tetap bekerja keras.
Pukul enam pagi, Aruna sudah rapi mengenakan kemeja sederhana dan rok kain hitamnya. Ia keluar dari kamarnya yang berada di lantai dua sebelah barat. Rumah megah itu sangat sepi. Kaivan sepertinya belum bangun atau mungkin sudah berada di ruang kerjanya. Aruna berjalan berjingkat menuju pintu keluar, tidak berani menyentuh dapur mewah rumah itu untuk sekadar membuat teh.
Ia berjalan kaki sejauh satu kilometer keluar dari kompleks perumahan elite tempat Kaivan tinggal, lalu menyambung perjalanan menggunakan angkutan umum menuju daerah Jakarta Selatan tempat kafe Cahaya Kopi berada.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Aruna sudah mendorong pintu kaca kafe. Aroma biji kopi panggang yang khas dan desis mesin espresso langsung menyambut indra penciumannya, membawa rasa hangat yang seketika meluruhkan ketegangan di dadanya.
"Pagi, Aruna!" seru Rian yang sedang menyapu lantai dengan celemek yang seperti biasa dipasang miring.
"Tumben datang jam segini? Kamu nggak terlambat kan?"
"Pagi, Rian," Aruna tersenyum manis—sebuah senyuman tulus yang sama sekali tidak pernah bisa ia tunjukkan saat berada di rumah Kaivan.
"Nggak kok, sengaja datang agak pagi biar bisa bantu lap meja dulu."
"Duh, rajin banget sih sahabatku ini!" Rian tertawa lebar.
Dari arah dapur, Bagas keluar seraya membawa wadah stanles berisi potongan buah segar untuk bahan campuran minuman dingin. Bagas mengenakan kaos hitam polos bertuliskan logo kafe dan celemek kain tebal. Pandangan matanya langsung tertuju pada Aruna begitu gadis itu melangkah masuk ke area belakang bar.
Langkah Bagas terhenti sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari Aruna pagi ini. Wajah gadis itu tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, dan lingkaran hitam tipis terukir di bawah matanya.
"Pagi, Na," sapa Bagas dengan suaranya yang berat dan tenang.
"Pagi, Mas Bagas," balas Aruna ramah sembari menggantungkan tas kainnya di loker karyawan dan mengambil celemek bersihnya.
Bagas memerhatikan gerakan Aruna yang sedang mengikat tali celemek di belakang pinggangnya. Jemari Bagas yang memegang wadah buah mengepal tipis. Sejak dua tahun bekerja bersama di kafe ini,
Bagas selalu menyimpan perasaan halus terhadap Aruna. Ia mengagumi betapa gigihnya gadis ini, betapa lembut tuturnya meski hidup kerap memperlakukannya secara tidak adil, dan betapa cantiknya senyuman Aruna saat gadis itu benar-benar merasa bahagia.
Bagas tahu Aruna selalu memikul beban berat terkait keluarganya, meski Aruna jarang menceritakannya secara detail. Perhatian-perhatian kecil selalu Bagas berikan—mulai dari menyisihkan porsi makan siang yang lebih banyak untuk Aruna, membuatkan teh chamomile hangat setiap kali Aruna kelihatan lelah, hingga sengaja bertahan di kafe sampai malam hanya untuk memastikan Aruna pulang dengan aman.
Namun, Bagas menahan perasaan itu rapat-rapat di dalam dadanya. Ia sadar diri. Ia hanyalah seorang koki kafe biasa tanpa latar belakang mewah, sementara Aruna berhak mendapatkan pria yang bisa membahagiakannya tanpa membebaninya.
Bagas takut jika ia menyatakan perasaannya terlalu cepat, hal itu justru akan merusak kenyamanan Aruna dan membuat jarak di antara mereka.
"Na," panggil Bagas pelan saat Aruna sedang berdiri di dekat mesin espresso.
Aruna menoleh. "Iya, Mas Bagas?"
Bagas berjalan mendekat. Dari dalam saku celemeknya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi susu kurma hangat yang ia buat sendiri di rumah tadi subuh. Tanpa banyak bicara, Bagas meletakkannya di samping tangan Aruna.
"Minum ini dulu sebelum mulai shift," ujar Bagas datar, mencoba menyembunyikan perhatian ekstra dalam suaranya di balik nada ketus khasnya.
"Kemarin muka kamu pucat banget. Jangan sampai pingsan pas lagi bawa nampan isi kopi panas. Nanti saya yang repot bikin ulang kafenya."
Aruna menatap botol susu hangat itu, lalu beralih menatap Bagas. Rasa haru yang membuncah perlahan menyelimuti hatinya. Di saat suaminya sendiri—pria yang baru kemarin mengikat janji suci dengannya—memandangnya dengan prasangka jijik dan menolak memberinya uang sepeser pun, seorang koki kafe seperti Bagas justru selalu memikirkan kesehatan dan asupan makanannya.
"Terima kasih banyak ya, Mas Bagas..." bisik Aruna tulus. Tangannya menggenggam botol hangat itu.
"Mas Bagas selalu baik banget sama Aruna."
Bagas mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan mata Aruna yang terlalu jernih dan polos. Ada sedikit rona hangat yang merambat di belakang telinga pria berbadan tegap itu.
"Biasa aja. Itu cuma sisa bahan dari rumah daripada dibuang," alibi Bagas cepat sembari membalikkan badan menuju dapur.
"Cepat diminum, lima belas menit lagi pintu depan dibuka."
Dari arah meja bar, Rian yang melihat kejadian itu langsung bersiul goda dengan nada jahil.
"Ekhem! Ekhem! Ada yang bau-bau perhatian khusus nih! Kok aku nggak pernah dibikinin susu kurma hangat sih, Mas Bagas?!"
"Kamu mau saya siram air kaldu panas, Rian?!" teriak Bagas dari dalam dapur, memicu tawa renyah dari Aruna dan Rian.
Mbak Maya yang baru saja datang dari pintu belakang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya. Ia menghampiri Aruna dan menepuk bahunya lembut.
"Na, nanti kalau pelanggan rombongan jam makan siang datang, kamu pegang meja empat sampai delapan ya. Biar Rian yang pegang area depan."
"Siap, Mbak Maya," jawab Aruna mantap.
Di balik senyumannya dan kehangatan yang melingkupinya di kafe ini, Aruna memegang erat botol susu kurma pemberian Bagas. Ia meminumnya perlahan, membiarkan cairan manis dan hangat itu mengalir membasahi kerongkongannya.
Aruna tahu, di rumah megah milik Kaivan Adikara, ia tidak lebih dari sekadar barang jaminan utang yang tak diinginkan. Ia menyembunyikan pernikahan dingin itu rapat-rapat dari Bagas, Mbak Maya, dan Rian. Ia tidak ingin dunia kafenya yang penuh tawa dan kasih sayang ini terkontaminasi oleh gelapnya kehidupan pernikahan yang terpaksa ia jalani.
Hari itu, Aruna bekerja dengan giat seperti biasanya. Membawa nampan, mengelap meja, menyapa pelanggan dengan senyuman hangat, dan menerima uang tips beberapa puluh ribu rupiah yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam dompet kainnya.
Uang tips dan gaji pelayan kafenya inilah yang menjadi satu-satunya sumber penghidupannya sekarang—sumber rezeki halal yang membuatnya tetap berdiri tegar di atas kakinya sendiri tanpa perlu meminta iba dari Kaivan.
_Bersambung