Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lima tahun yang lalu...
Angin sore bertiup begitu kencang saat seorang pria sedang berdiri di pinggir tebing sambil menatap matahari yang hampir terbenam.
Wajahnya basah oleh air mata. Hari ini, dia tak menemukan alasan untuk hidup lagi setelah sang Ibu yang dirawat di rumah sakit jiwa dinyatakan meninggal karena melompat dari gedung dua hari lalu.
"Apa rasanya terjatuh dari ketinggian? Apakah bebas seolah melayang?"
Noah Elian Alexander tertawa sumbang. Sepasang kakinya yang panjang maju sedikit demi sedikit.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kerikil jatuh ke bawah saat tak sengaja terkena ujung sepatu pantofelnya yang berdebu. Jas hitam yang dia kenakan saat memakamkan sang Ibu tadi pagi masih terlihat begitu rapi.
Ya, dia masih sangat tampan.
Penampilan yang benar-benar sempurna untuk menyusul sang Ibu, bukan?
"Mom, aku akan menyusul."
Mata Noah terpejam rapat. Kakinya melangkah lagi. Dia menahan napas. Bersiap merasakan sensasi terbang yang mungkin dirasakan sang Ibu sebelum meninggal.
"JANGAN!!"
Seseorang tiba-tiba menariknya. Begitu Noah membuka mata, yang dia lihat adalah sosok seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading dengan tatapan yang penuh rasa khawatir.
Sejenak, Noah terpana. Tatapan seperti itu, tak pernah dia temukan pada orang terdekatnya sekalipun.
"Tuan, apa kau sudah gila?"
Perempuan itu mulai mengomel saat berhasil membawa Noah menjauh dari tepi tebing.
Wajahnya terlihat sembap. Dia menangis.
"Kenapa mau bunuh diri, hah? Apa masalahmu seberat itu sampai-sampai harus mengambil keputusan seperti ini?"
"Jangan ikut campur!" tegas Noah.
"Aku akan ikut campur," timpal perempuan itu. "Selama kau ingin bunuh diri di sini, aku akan ikut campur."
"Cih! Merepotkan."
Noah mengeluarkan dompetnya. Uang tunai, kartu ATM, kartu kredit, semua dia berikan kepada wanita itu.
"Ambil semuanya dan jangan campuri urusanku!" kata Noah.
"Kau pikir, semua ini berharga, hah?"
Noah memutar bola matanya malas. "Lalu, kamu mau apa?"
"Aku ingin kau ikut denganku. Kita turun bersama."
"Aku ingin di sini."
Noah tetap pada pendiriannya. Dia melangkah kembali menuju ke tepi tebing. Tapi, dengan cepat wanita itu kembali menarik tangannya, mencegahnya.
"Aishh!! Lepaskan!" kata Noah dengan kesal. Dia berusaha menarik lengannya namun pegangan perempuan itu terlalu kuat.
"Tidak akan," geleng wanita itu. "Di sini tempat peristirahatan terakhir nenekku. Tidak akan aku biarkan ada arwah penasaran yang mencemarinya."
"Lepas, tidak?" Noah menggeram kesal.
"Tidak."
Arghhh!!!
Noah berteriak kesal. Wanita ini benar-benar merepotkan.
"Kau seharusnya bersama suami mu sekarang. kenapa malah ada tempat sepi seperti ini?"
"Aku batal menikah. Calon suamiku direbut Kakak kandungku. Dia bahkan sudah hamil."
Wanita itu masih memeluk lengan Noah erat. Dia tak membiarkan Noah berpindah walau hanya selangkah.
"Hidupmu menyedihkan juga," timpal Noah.
"Memang menyedihkan. Tapi, aku tidak pernah berniat untuk mengakhirinya. Kata Nenek, langit tak selamanya mendung. Begitu pula dengan hidup. Hidup tak selamanya selalu menyedihkan. Jadi, aku harus tetap hidup sampai seseorang yang membawa pelangi untukku akhirnya tiba."
"Cih! Kamu mau saja dibohongi dengan dongeng seperti itu."
"Itu bukan dongeng. Jika Nenek yang bilang, maka semuanya pasti benar."
"Dimana nenekmu? Aku ingin bicara dengannya. Dia sudah meracuni otak cucunya dengan hal-hal yang tidak realistis."
"Dia di sana."
Wanita itu menunjuk ke arah pusara yang terletak kurang lebih 20 meter dari tempat Noah berdiri.
Lelaki itu pun mematung. Dia meneguk ludahnya dengan kasar.
"Nenek sudah meninggal saat aku berusia 12 tahun," lanjut wanita itu. Dia perlahan melepaskan tangan Noah saat merasa jika lelaki itu mulai tenang.
"Lalu... Kau hidup dengan siapa?"
"Orangtua kandung ku. Sayangnya, mereka tidak pernah menyayangiku. Mereka hanya menyayangi kakakku."
Noah menatap wanita itu dengan lekat. Kekhawatiran di matanya benar-benar nyata.
"Tolong jangan bunuh diri! Aku mohon!" Wanita itu menyatukan telapak tangannya.
"Aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi, seseorang pasti akan sangat hancur jika tahu kamu menempuh jalan seperti ini."
Deg.
Noah tiba-tiba ingat dengan Kakeknya. Pria tua itu juga sangat menyayanginya. Dia satu-satunya orang didalam keluarga Ayahnya, yang benar-benar tulus kepadanya.
"Aku mohon. Hargai hidupmu. Dunia ini sangat luas. Masih banyak hal indah yang harus kamu lihat."
Noah mengerjap sesaat. Kata-kata itu mirip dengan kata-kata sang Ibu di masa lampau.
"Noah, kamu harus keliling dunia! Kamu harus melihat betapa banyaknya keindahan yang ada di dunia ini."
"Ayo, pulang!"
Wanita itu menggenggam telapak tangan Noah. Menuntunnya turun ke bawah tanpa sedikit pun niat untuk mau melepaskan.
Saat sampai di bawah, barulah pegangan tangan wanita itu terlepas. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan mereka.
"Tuan Noah!"
Seorang pria turun dari mobil. Dia membawa sebuah mantel hitam dan langsung memakaikannya kepada Noah.
"Jemputanmu sudah datang. Sekarang, aku pamit dulu. Ingat, jangan lakukan hal bodoh seperti tadi lagi."
"Kamu tinggal dimana?" tanya Noah.
"Di sana," tunjuk wanita itu pada rumah tua yang terletak tepat disamping jalan setapak menaiki bukit.
Tatapan Noah masih terkunci pada sosok wanita bergaun pengantin itu. Dia pun tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia menemukan alasan untuk bahagia setelah beberapa tahun hidup dalam keterpurukan.
******
"Marco, cari tahu tentang wanita tadi," titah Noah saat dalam perjalanan pulang kembali ke kota.
Disampingnya, Marco yang sedang mengemudi tampak tersenyum kecil.
"Kau tertarik dengan wanita itu?"
"Menurutmu?"
Dan, Marco seketika tertawa lebar.
"Apa Tuan Muda kita akhirnya mulai jatuh cinta, hah?"
"Belum," jawab Noah.
"Lalu, untuk apa kau ingin menemukannya?"
"Mencari tahu."
Ya, Noah memang hanya ingin mencari tahu.
Tentang alasan kenapa wajah wanita itu terus terbayang dibenaknya.
Tentang alasan kenapa hatinya selalu memaksa dia untuk kembali ke bukit itu meski sudah lima tahun berlalu.
******
Sore hari, Seraphina kembali ke kota. Ditangannya sudah ada surat perjanjian cerai yang ia minta untuk dibuat oleh sang pengacara.
Isinya sederhana. Seraphina hanya meminta harta gono-gini dibagi secara merata.
Tidak ada tuntutan lain lagi.
Sayangnya, ada yang keberatan dengan isi surat itu. Kalani.
"Tidak. Aku tidak setuju. Kamu seharusnya keluar tanpa membawa apapun, Sera. Ingat, kerjaan kamu hanya berleha-leha di rumah selama ini. Yang kerja keras banting tulang itu cuma Kaivan. Kamu tidak berhak meminta apapun. Bukankah, selama ini Kaivan sudah cukup memberimu makan?"
"Dia memang sudah cukup memberiku makan. Tapi, makan saja tidak cukup, Kak Lani. Aku juga sudah mengurusnya dengan sangat baik selama lima tahun ini. Aku memasak untuknya, mencuci dan menyetrika bajunya, membersihkan rumahnya, bahkan merawat dia saat dia sakit. Aku juga yang mengatur seluruh uangnya sehingga seluruh kebutuhannya jadi terpenuhi. Wajar, jika aku meminta upah lebih atas kerja keras ku, kan? Dan, untuk semua pekerjaan melelahkan itu, upahnya tentu saja lebih dari sekadar makan."
Kaivan duduk menegang di kursinya. Hatinya terasa tak nyaman saat Seraphina mengatakan hal tersebut.
"Kamu tidak tahu malu, Seraphina! Padahal, kamu sudah mendapatkan lima ratus juta dari Ayah. Kenapa masih berniat untuk memeras Kaivan, hah?"
Kalani kalap. Dia tak terima Seraphina mendapatkan banyak keuntungan dari perceraian ini.
"Uang yang kudapatkan dari Ayah anggap saja sebagai bentuk suap agar aku mau menuruti permintaan gila kalian. Sementara, harta yang ku tuntut dari Kaivan memang murni adalah hakku. Kakak..."
Seraphina melipat kedua tangannya didepan dada. Dia tersenyum sinis. Tatapannya tajam menyerupai elang.
"... kamu boleh mengambil Kaivan dariku. Tapi, tidak dengan hakku selama menjadi istrinya Kaivan."
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭