Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Terlalu PD
Syahzan membeku.
Ia tidak menyangka pria yang berdiri di hadapannya adalah Tuan Arven Zarrettiz, sang tuan tanah yang lahannya disewa oleh perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan, sebagian pembayaran sewa tanah tersebut dihitung berdasarkan persentase penghasilan bulanan perusahaan.
Selama ini Syahzan hanya mengenal Arven dari urusan pekerjaan. Namun, siapa sangka pria itu kini berdiri tepat di hadapannya.
“Tuan Arven? Anda berada di sini?”
Arven tidak menjawab. Tatapan dinginnya hanya tertuju kepada Syahzan.
Syahzan kemudian melirik Mireya.
Matanya kembali pada perempuan itu. “Suami?”
Ia menggeleng. “Tak mungkin Mireya bisa menikah lagi, Tuan. Dia ini mantan istri saya. Kami baru saja bercerai.”
Arven akhirnya bersuara. “Memangnya siapa yang melarangnya menikah lagi?”
Syahzan terdiam. Mireya pun menoleh kepada Arven. Pria itu tetap memasang wajah datar.
Syahzan kembali menatap Mireya. “Saya adalah pria satu-satunya yang menerima seluruh keadaannya.”
Mireya mendengus. “Menerimaku?”
“Bahkan ketika berat badanmu bertambah, aku tetap menerimamu," tambah Syahzan.
Mireya hampir tertawa. “Menerima segala keadaanku?”
Tatapannya berubah dingin. “Apa kau lupa apa yang kau lakukan padaku?”
Syahzan terdiam.
“Kau bahkan menceraikanku sejak Sonia masuk ke dalam hidupmu.”
Wajah Syahzan sedikit berubah.
“Kau malah bermain di belakangku. Kau menghina tubuhku. Kau mengatakan aku sudah tidak menarik lagi.”
Mireya menarik napas.
“Dan yang paling menyakitkan, kau menceraikanku begitu saja tanpa memberikan apa pun.”
Tangannya menggenggam tangan Elden.
“Aku hampir menjadi gelandangan karena ulahmu dan keluargamu.”
Syahzan menundukkan kepala sesaat. “Saat itu…”
Ia kembali menatap Mireya. “Aku hanya khilaf, Mireya.”
“Khilaf?”
Mireya tersenyum getir. “Menjalin hubungan dengan wanita lain berkali-kali ketika masih menjadi suamiku kau sebut khilaf?”
Syahzan tidak langsung menjawab. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bersuara.
“Hubungan kami sudah berakhir.” Lalu, ia tersenyum.
“Sekarang aku sudah sendirian.” Syahzan buru-buru menjelaskan.
“Aku dan Sonia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.”
Mireya hanya menatapnya.
Syahzan kemudian melangkah sedikit lebih dekat. “Mumpung perceraian kita masih sangat baru…”
Ia menarik napas. “Bagaimana kalau kita rujuk saja?”
Mireya membeku sesaat.
Syahzan salah mengartikan diamnya. Ia mengira Mireya terkejut karena terlalu bahagia.
“Aku tidak keberatan menerimamu kembali sebagai istriku.” Tangan Syahzan bahkan terulur ke arahnya.
Ia benar-benar berpikir Mireya masih mengharapkannya.
Namun, semua ucapan itu justru membuat Mireya hampir tertawa.
'Menerimaku kembali?'
Seolah-olah Mireya-lah yang selama ini memohon untuk kembali kepadanya.
Mireya menatap mantan suaminya tanpa sedikit pun kehangatan. “Bang…”
Syahzan langsung menatapnya.
Mireya berhenti sejenak. “Hmm… maksudku, Saudara Syahzan.”
Alis Syahzan terangkat. “Hm?” Bahkan, panggilannya pun sengaja ia ubah.
“Kenapa kau terlalu percaya diri?” Mireya tersenyum tipis.
“Aku tidak pernah mengharapkan kau menerimaku kembali.”
Ia menggeleng.
“Jangankan berharap. Mengingatmu saja aku sudah tidak sudi.”
Senyum Syahzan perlahan menghilang.
Mireya menggenggam tangan Elden lebih erat. “Aku sudah tidak membutuhkanmu.”
“Kau tidak perlu berbohong.” Syahzan tertawa kecil, seolah masih tidak percaya.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku.”
Mireya mengerutkan kening.
“Kau hanya mencintaiku. Hanya aku satu-satunya pria yang ada di hatimu.”
Syahzan menatapnya penuh keyakinan.
“Karena itu, aku tidak keberatan membawamu kembali.”
Ia bahkan tersenyum.
“Mari kita mulai kembali pernikahan kita yang sempat terputus. Tidak ada salahnya kita menjalani hidup dalam rumah tangga yang sama.”
Jari Arven perlahan mengepal. 'Ini orang ....'
*bersambung*
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹