NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Mereka adalah pengawal elit Grup Lentera yang menyamar.

"Target mengirim sinyal bahaya dari bangunan gudang belakang," ucap salah satu pengawal melihat jam tangannya.

Mereka berdua melompati tembok sekolah setinggi dua meter itu dengan sangat mudah.

Tidak butuh waktu sampai satu menit bagi mereka untuk berlari menyeberangi lapangan rumput menuju gudang.

Sesampainya di depan gudang, mereka melihat pintu kayu itu digembok dari luar.

"Nona Lula! Anda di dalam?!" teriak pengawal itu sambil menggedor pintu.

"Iya Paman, Lula di sini lagi duduk di atas kasur biru," sahut suara jernih Lula dari dalam dengan sangat tenang.

Kedua pengawal itu bernafas sangat lega mendengar suara anak majikan mereka dalam keadaan baik.

Tanpa membuang waktu mencari kunci, salah satu pengawal mundur selangkah lalu menendang gembok besi itu.

Brak.

Gembok dan engsel pintu hancur seketika akibat tendangan kuat ala militer tersebut.

Pintu gudang terbuka lebar membiarkan cahaya matahari siang masuk menyinari ruangan yang berdebu itu.

Lula berdiri dan berjalan keluar sambil menepuk-nepuk debu di roknya.

"Paman pengawal datangnya cepat sekali, seperti pahlawan super di TV," puji Lula dengan senyum lebar.

Kedua pria kekar itu langsung berlutut dan memeriksa seluruh tubuh Lula.

"Nona tidak terluka? Ada yang sakit atau digigit serangga?" panik mereka.

Lula menggelengkan kepalanya santai.

"Tidak ada Paman, di dalam cuma bau debu saja bikin Lula mau bersin," jawab Lula sambil menggosok hidungnya.

Di saat yang bersamaan, Bu Risa dan kepala sekolah berlari menghampiri mereka dengan wajah pucat.

Mereka sangat kaget melihat dua orang pria kekar asing mendobrak pintu gudang sekolah.

"Astaga! Bapak berdua siapa? Dan Lula, kenapa kamu ada di dalam gudang?!" teriak Bu Risa panik.

Salah satu pengawal berdiri dan menatap Bu Risa dengan tajam.

"Kami pengawal keluarga Ayodhya, Nona Lula baru saja dikunci dari luar oleh seseorang," jelas pengawal itu dingin.

Wajah kepala sekolah langsung berubah putih seperti kertas mendengar nama Ayodhya disebut.

"Dikunci? Siapa yang berani melakukan hal senakal itu pada Lula?" tanya Bu Risa bingung dan marah.

Lula menunjuk ke arah lapangan bermain tempat Clara sedang asyik bermain perosotan.

"Clara yang kunci Bu Guru, dia bilang Lula dihukum di tempat gelap sampai pulang sekolah," lapor Lula jujur.

Mendengar nama Clara, Bu Risa memijat kepalanya karena merasa masalah ini sangat pelik.

Ini adalah konflik antara putri pejabat daerah melawan putri konglomerat raksasa.

"Panggil anak bernama Clara itu dan orang tuanya ke ruang kepala sekolah sekarang juga," perintah pengawal itu tegas.

Setengah jam kemudian, suasana di ruang kepala sekolah sangat tegang.

Baharudin, ayah Clara yang berpakaian dinas pejabat, duduk dengan wajah angkuh dan kaki menyilang.

Clara duduk di pangkuannya sambil pura-pura menangis.

Bu Risa dan kepala sekolah duduk di seberang mereka dengan keringat dingin.

"Anak saya ini perempuan baik-baik, mana mungkin dia mengunci temannya di gudang," bela Baharudin arogan.

"Pasti anak pungut ini yang sengaja masuk sendiri lalu mencari kambing hitam," tuduh Baharudin sambil menunjuk Lula.

Lula sedang duduk tenang memakan permen loli di kursi sudut ditemani oleh dua pengawal kekar di belakangnya.

"Bapak jangan sembarangan menuduh Nona kami," geram salah satu pengawal tidak terima.

Baharudin mendecih sinis.

"Kalian cuma pengawal, panggil bos kalian si Baskoro itu ke sini kalau berani."

"Dia pikir karena dia orang kaya dia bisa seenaknya menuduh anak pejabat?" ancam Baharudin sombong.

Brak.

Pintu ruang kepala sekolah ditendang hingga terbuka lebar membentur dinding dengan suara memekakkan telinga.

Adrian berjalan masuk dengan aura yang luar biasa gelap dan mematikan.

Di belakangnya, ada Dewa yang memakai seragam SMP berantakan dengan tatapan mata seperti iblis yang siap membunuh.

Mereka berdua baru saja tiba dari kantor dan sekolah setelah mendengar laporan dari pengawal.

"Kak Adrian! Kak Dewa!" seru Lula senang melihat kedatangan kakak-kakaknya.

Adrian berjalan menghampiri Lula dan mengusap kepalanya untuk memastikan adiknya aman.

Setelah itu, Adrian berbalik dan menatap Baharudin dengan pandangan yang membuat darah pejabat itu berdesir ketakutan.

"Kau bilang ingin bertemu dengan keluarga Ayodhya?" sapa Adrian dengan suara yang sangat pelan namun menusuk tulang.

Baharudin mencoba mempertahankan wajah angkuhnya meski kakinya mulai gemetar melihat kedatangan dua pemuda itu.

"Y-ya, beritahu ayahmu untuk mendidik anak angkatnya ini dengan benar agar tidak memfitnah anakku!" gertak Baharudin.

Dewa melangkah maju dan langsung menendang meja kaca di depan Baharudin hingga retak.

Prang.

Clara menjerit ketakutan dan menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya.

"Jaga mulut kotormu babi tua," desis Dewa dengan rahang mengeras marah.

"Putrimu yang kurang ajar ini sudah berani mengunci adikku di ruangan berdebu, kalian harus membayar mahal untuk itu."

Kepala sekolah mencoba menengahi karena takut terjadi kekerasan fisik di ruangannya.

"T-Tuan Adrian, Nak Dewa, mari kita selesaikan secara kekeluargaan," bujuk kepala sekolah gemetar.

Adrian mengangkat sebelah tangannya menyuruh kepala sekolah diam.

Adrian merogoh ponselnya dan memutar sebuah rekaman video yang dikirim oleh pengawalnya.

Itu adalah rekaman CCTV dari sudut bangunan sekolah yang memperlihatkan dengan sangat jelas detik-detik Clara menutup dan menggembok pintu gudang.

Wajah Clara bahkan terlihat tertawa licik ke arah kamera saat mengunci gembok tersebut.

Baharudin langsung menelan ludah dengan susah payah melihat bukti kuat yang tidak bisa dibantah itu.

"Itu... itu pasti anakku cuma bercanda," elak Baharudin dengan keringat mengucur deras.

Adrian tersenyum sangat sinis dan mematikan ponselnya.

"Bercanda yang sangat berbahaya Baharudin, tapi jangan khawatir, aku juga punya candaan yang bagus untukmu."

Adrian melemparkan sebuah amplop cokelat tebal tepat ke wajah pejabat korup itu.

Baharudin terkejut dan isi amplop itu berserakan ke lantai.

Mata Baharudin hampir melompat keluar dari tempatnya saat melihat isi kertas-kertas tersebut.

Itu adalah salinan bukti transfer uang perasan, foto pertemuan rahasianya, dan dokumen korupsi proyek tata kota.

"A-apa ini? Dari mana kau dapatkan dokumen negara ini?!" teriak Baharudin panik luar biasa.

Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik dengan nada mengancam.

"Bukti aslinya sudah kuserahkan ke komisi pemberantasan korupsi satu jam yang lalu."

"Mungkin lima menit lagi, polisi akan datang menjemputmu di sekolah ini untuk memakaikan gelang besi di tanganmu."

Baharudin kehilangan seluruh tenaganya dan merosot dari kursinya.

Wajahnya berubah seputih mayat menyadari karir, harta, dan hidupnya telah hancur sepenuhnya hari ini.

Clara menangis keras melihat ayahnya tiba-tiba terduduk lemas di lantai.

"Papa kenapa? Ayo hukum anak pungut itu Pa!" rengek Clara tidak paham situasi.

Dewa menatap anak perempuan manja itu dengan pandangan jijik.

"Ayahmu sebentar lagi akan tidur di penjara bocah, dan itu semua karena kau berani mengusik Lula Ayodhya," ucap Dewa kejam.

Suara sirene polisi terdengar meraung-raung dari arah luar gerbang sekolah.

Beberapa petugas kepolisian dan penyidik masuk ke dalam sekolah untuk menangkap Baharudin.

Adrian tidak mempedulikan pejabat korup yang sedang diborgol dan diseret keluar itu.

Pria jangkung itu berbalik dan langsung menggendong Lula ke dalam pelukannya.

"Kita pulang sekarang, Kakak sudah memesan es krim ukuran besar untukmu di rumah," bujuk Adrian lembut, mengubah suaranya 180 derajat dari sebelumnya.

Lula bersorak gembira sambil memeluk leher Adrian.

"Hore! Es krim stroberi lagi!" sorak Lula melupakan kejadian di gudang.

Dewa berjalan di sebelah mereka mengawal adiknya keluar dari sekolah yang sedang kacau balau itu.

Bagi siapapun yang berani menabur angin dengan keluarga Ayodhya, mereka harus siap menuai badai kehancuran tanpa ampun.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!