Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Dua Orang yang Saling Mencari
Setelah berjam-jam, kekacauan di perusahaan akhirnya berhasil diselesaikan.
Arvid bersandar di kursinya, mengembuskan napas panjang. Ruangan yang sejak tadi dipenuhi suara perdebatan akhirnya kembali tenang.
Ia menunduk, lalu tanpa sengaja pandangannya jatuh pada tangan kanannya.
Jari tengahnya kosong. Arvid terdiam. Cincin itu adalah hasil desainnya sendiri yang selama bertahun-tahun tak pernah lepas dari jarinya. Namun sekarang cincin itu tidak ada.
Seketika potongan-potongan ingatan yang sempat kabur kembali menyeruak.
Perjamuan di resort pinggir pantai. Segelas minuman yang ia teguk tanpa curiga. Setelah itu, kepalanya terasa berat. Tubuhnya mendadak panas. Napasnya memburu dan pikirannya mulai sulit dikendalikan. Ia ingat dirinya bangkit dan berpamitan.
Sekretarisnya sempat mengejar. “Tuan Arvid, tunggu!”
Namun saat perempuan itu berusaha menyentuh lengannya, Arvid justru mendorongnya menjauh.
"Jangan sentuh aku."
Ia bahkan tidak yakin apakah kalimat itu sempat keluar dari mulutnya. Yang ia ingat berikutnya hanyalah dirinya mengendarai mobil menuju pantai.
Ia turun dan berjalan ke laut. Tubuhnya terasa semakin panas. Ia hanya ingin merendam diri di air laut, berharap rasa terbakar yang menjalar di tubuhnya bisa sedikit mereda.
Namun seseorang datang. Seorang perempuan. Perempuan yang justru berusaha menariknya keluar dari air karena mengira dirinya hendak melakukan sesuatu yang buruk.
Setelah itu...
Arvid menutup mata. Rahangnya mengeras. Ingatan berikutnya membuat dadanya terasa sesak. Perempuan itu tidak melakukan apa-apa. Dia hanya berusaha menolong. Dan dirinya...
Arvid mengusap wajahnya kasar. “Bodoh.”
Ia menatap kembali jari tengahnya yang kosong. Kemudian teringat perempuan itu. Wajahnya tak terlihat jelas. Tetapi tubuhnya gemetar, tatapannya kosong.
Dan dirinya yang hanya sempat mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab sebelum pergi karena telepon darurat dari perusahaan. Arvid berdiri dari kursinya.
“Aku bahkan gak tau namanya.” Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. “Gimana dia bisa nyari aku kalo cuma ngandelin nama dan cincin itu?”
Arvid berhenti. Tatapannya kembali jatuh pada tangannya. Kini ia baru sadar, betapa kecil kemungkinan perempuan tersebut bisa menemukannya.
Ia bahkan tidak tahu apakah perempuan itu akan percaya bahwa dirinya benar-benar berniat bertanggung jawab.
Arvid menekan tombol interkom. “Ke ruanganku sekarang.”
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Juki masuk sambil membawa tablet di tangannya. “Ada apa, Bos?”
“Cari tau siapa perempuan yang berada di pantai resort malam itu.”
Juki langsung membuka catatan. “Namanya siapa, Bos?”
Arvid terdiam. “Aku gak tau.”
Juki menghentikan gerakan jarinya. “Ciri-ciri wajahnya?”
“Aku gak ingat," jawab Arvid.
Juki mengangkat kepala. “Setidaknya warna rambut?”
“Gak tau.”
“Usianya?”
Arvid menggeleng.
Juki menatap atasannya beberapa detik. “Bos, gimana saya mau nyari perempuan tanpa nama, tanpa ciri-ciri wajah, bahkan tanpa perkiraan usia?”
Arvid menatapnya datar. “Juki.”
“Iya, Bos.”
“Cari.”
Juki menghela napas panjang. “Perempuan di resort itu banyak, Bos. Bahkan kalo dibanding jumlah kaum Adam, saya yakin bakal lebih cepet nemuin laki-lakinya.”
“Juki.”
“Iya, Bos. Saya tau.”
Juki kembali menatap tabletnya. “Oke. Saya mulai dari daftar tamu resort. Setelah itu saya cek CCTV di area pantai. Siapa tau malam itu ada rekaman perempuan yang keluar ke pantai.”
Arvid mengangguk.
Juki baru hendak berbalik ketika sebuah pikiran muncul. “Oh, satu lagi, Bos.”
“Apa?”
“Paling gak, kira-kira tinggi badannya berapa?”
Arvid diam beberapa saat. “Aku gak tau.”
Juki memejamkan mata. “Bos...”
“Apa lagi?”
“Ini bukan nyari jarum di tumpukan jerami.”
Arvid mengangkat alis.
Juki menunjuk ke arah jendela. “Ini nyari jarum di pasir. Pantai, Bos. Pasirnya satu resort.”
“Juki.”
“Iya, Bos. Saya otw.”
Juki buru-buru berbalik sebelum atasannya sempat mengatakan apa pun lagi. Begitu keluar dari ruangan, ia menggerutu pelan.
“Nama gak tau. Wajah gak ingat. Umur gak tau. Tinggi badan gak tau. Tapi suruh nyari. Emangnya aku bisa nyari orang lewat baskom yang dikasih kembang tujuh rupa apa.”
Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan menuju ruangannya. “Moga aja CCTV masih bisa nyelametin karierku.”
Namun meski mulutnya terus menggerutu, langkah Juki justru semakin cepat. Ia tahu atasannya serius.
Dan kalau Arvid sudah meminta sesuatu, Juki akan memastikan tugas itu selesai.
***
Keesokan harinya, Zinnia duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan.
Cincin yang diberikan laki-laki itu terletak di atas telapak tangannya. Sejak semalam, benda itu tidak pernah jauh darinya.
Zinnia membuka kamera, lalu memotret cincin tersebut dari beberapa sisi. Ia memilih satu foto yang paling jelas. Setelah itu, jarinya berhenti di kolom keterangan. Beberapa kalimat sempat diketik.
Saya mencari pemilik cincin ini.
Dihapus.
Ada yang tahu siapa pemilik cincin ini?
Dihapus lagi.
Terlalu banyak informasi. Zinnia akhirnya hanya mengetik:
Ada yang mengenali cincin ini?
Ia menatap kalimat itu cukup lama. Kemudian menekan tombol unggah.
Selesai.
Zinnia meletakkan ponsel di sampingnya, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum mengambilnya lagi.
Belum ada apa-apa. Ia menunggu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Satu jam.
Sesekali layar ponselnya menyala karena notifikasi. Jantungnya selalu berdegup sedikit lebih cepat setiap kali melihatnya.
Namun, tidak ada yang memberikan jawaban yang dia cari.
Ada beberapa komentar.
Cincinnya bagus.
Kayaknya pernah lihat model begini.
Beli di mana?
Salah satunya membuat Zinnia membuka profil orang yang berkomentar. Tidak ada petunjuk apa pun. Ia kembali ke unggahannya. Lalu menunggu lagi.
Hari pertama berlalu tanpa hasil.
Malamnya, Zinnia masih membuka unggahan itu sebelum tidur. Jumlah orang yang melihatnya bertambah. Komentarnya juga bertambah. Tetapi tidak satu pun mengenali pemiliknya.
Hari kedua tidak jauh berbeda.
Zinnia bahkan mulai mencari sendiri. Ia mengetik nama Arvid di kolom pencarian media sosial. Ada banyak akun dengan nama yang sama.
Ia membuka satu per satu. Bukan. Bukan. Bukan. Tidak ada satu pun yang membuatnya yakin.
Jari Zinnia berhenti di layar. Ia menatap foto cincin yang masih terpampang di akunnya.
Dua hari. Tidak ada jawaban. Tidak ada orang yang datang mengakuinya. Tidak ada pesan yang memberinya petunjuk tentang laki-laki yang memberikannya cincin itu.
Zinnia mematikan layar ponselnya. Namun beberapa detik kemudian, ia menyalakannya lagi. Tetap tidak ada. Ia mengembuskan napas pelan.
Kalau Arvid memang berniat bertanggung jawab, bagaimana dia bisa menemukannya kalau Zinnia sendiri tidak tahu harus mencari ke mana?
Tatapannya kembali jatuh pada cincin di meja. Kali ini, Zinnia mengambil keputusan.
Dia akan pergi mencarinya sendiri.
...🔸🔸🔸...
...“Satu kesalahan mungkin terjadi dalam hitungan detik, tetapi keberanian untuk bertanggung jawab bisa membutuhkan perjalanan yang jauh lebih panjang.”...
...“Menunggu jawaban bukan berarti menyerah. Ada saatnya seseorang harus berhenti menunggu dan berani mencari jawabannya sendiri.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar