NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Mistis Gadungan vs Dukun Asli

​Suasana kamar belakang Mamat seketika berubah dari penuh gairah menjadi kepanikan tingkat tinggi. Mbak Wiwin menjerit melengking sambil buru-buru menyambar selendang dan kantong plastiknya, lalu bersembunyi di sudut ruangan dengan wajah pucat bagai mayat. Senter LED merah yang menggelinding di lantai masih memancarkan pendaran cahaya aneh, menerangi wajah Mbah Jambrong yang garang dan berkumis tebal.

​Mamat berdiri kaku di atas tikar pandan. Jantungnya serasa merosot sampai ke jempol kaki. Di depannya, Mbah Jambrong berdiri membusungkan dada, dikawal Jumadi dan Pak RT Sugino yang tampak bingung bercampur ragu.

​"M-Mbah Jambrong?" bisik Pak RT Sugino ragu-ragu sambil melirik Mamat lalu beralih ke Mbah Jambrong. "Pikiran sampeyan ndak salah toh, Mbah? Ki Mamat ini sudah terbukti sakti mengembalikan Si Jalak..."

​"Sakti gundulmu melendung!" bentak Mbah Jambrong dengan suara garau melengking, memotong ucapan Pak RT. Tangannya yang dipenuhi cincin batu akik besar menunjuk hidung Mamat yang juling. "Warga Kalisari ini sudah ditipu mentah-mentah sama si Mamat! Dia ini bukan paranomral, bukan wali ghaib! Dia cuma pengangguran kecanduan pinjol yang pakai trik sulap pasar kaget!"

​Warga yang mulai berkerumun di lorong luar rumah kasak-kusuk histeris. Bu Tejo dan Pak Sastro yang ikut menyusul menepuk dada mereka kaget.

​Mamat menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Keadaannya sangat terdesak. Jika ia mengaku atau terlihat ciut di hadapan Mbah Jambrong, uang tujuh ratus ribu rupiah di sakunya bakal melayang, dan ia akan dipukuli warga satu kampung sampai babak belur. Satu-satunya jalan keluar adalah menyerang balik dengan kepalsuan yang lebih dramatis!

​Mamat menarik napas panjang, menepuk dadanya kencang-kencang, lalu tertawa melengking buatan.

​"HAHAHAHAHA! Mbah Jambrong... Mbah Jambrong..." Mamat mengarahkan pandangan julingnya tepat ke mata Mbah Jambrong dengan raut muka angkuh luar biasa. "Datang-datang mendobrak pintu ritual orang, membawa aura dengki dan iri hati! Apakah ilmumu sudah tumpul sampai tidak bisa membedakan aura Keris Bengkok Brajamukti dengan trik sulap?!"

​Mbah Jambrong menyeringai dingin, mengangkat keris berluk tujuh miliknya yang diolesi minyak jafaron kental. Bau wangi menyengat dari keris Mbah Jambrong langsung bertarung dengan uap racun kamfer milik Mamat.

​"Jangan banyak bacot, Mat!" tantang Mbah Jambrong nyaring. "Kalau kamu memang paranormal sakti penganut ilmu sejati, buktikan di depan Pak RT dan warga malam ini juga! Kita adu tuah pusaka! Keris luk tujuhku Kyai Blegedaba melawan keris bengkok karatanmu itu! Siapa yang pusakanya kalah, dia harus merangkak keliling kampung sambil ngaku penipu!"

​Warga di luar bersorak panik bercampur penasaran. Pak RT Sugino makin tegang. "Aduh... piye iki? Duel antar dukun?!"

​Mamat meringis dalam hati. Jancuk! Keris bengkokku kan cuma besi tua pencabut tanaman dari sungai! Mana ada tuahnya! maki Mamat histeris. Namun, matanya tak sengaja melirik ke arah wadah kuningan tempat pembakaran sajen di dekat kakinya. Di dalam wadah itu, masih tersisa tumpukan bubuk mesiu dari tiga bungkus petasan banting, bercampur serbuk kapur barus dan bubuk magnesium tua.

​Otak kepepet Mamat langsung menyusun skenario gila. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati.

​"Boleh!" seru Mamat gagah, melangkah satu jengkal ke depan hingga berdiri berhadapan langsung dengan Mbah Jambrong. "Tapi ingat, Mbah Jambrong! Aura Brajamukti milik saya tidak sudi bertarung dengan adu fisik biasa. Kita adu 'Pembuktian Kebal Api Ghaib'! Siapa yang bisa memegang bara api penyucian tanpa terbakar, dialah penunggul sejati Kampung Kalisari!"

​Mbah Jambrong tersentak sedikit. Ia tidak menyangka Mamat berani menantangnya tes kebal api. Namun, sebagai dukun tua yang pernah belajar trik menahan panas pakai minyak kelapa tua, Mbah Jambrong tidak mau jatuh wibawa di depan calon pasiennya.

​"Sapa takut! Maju kamu!" tantang Mbah Jambrong garang.

​Mamat berjalan mendekati wadah kuningan sajen. Tanpa terlihat oleh Mbah Jambrong, Mamat menggunakan kaki kirinya untuk menggeser sedikit posisi wadah kuningan agar berada tepat di bawah aliran angin dari jendela yang terbuka. Tangan kanan Mamat meraih botol minyak kayu putih murni di dekatnya, lalu dengan sengaja menumpahkannya secara diam-diam ke dalam wadah kuningan yang sudah dipenuhi mesiu petasan banting.

​Mamat mengacungkan Keris Bengkok Brajamukti ke udara dengan gaya sangat meyakinkan.

​"Wahai Sang Hyang Brajamukti! Tunjukkan auramu!" teriak Mamat histeris sambil menyulut korek api kayu dan melemparnya tepat ke dalam wadah kuningan!

​Czzzz...

​BRAAAAKKKKK! BLAAASSTTTTT!

​Bukan sekadar semburan api biasa! Campuran bubuk mesiu petasan banting, magnesium, dan minyak kayu putih murni itu meledak dahsyat bagai kembang api malam tahun baru! Semburan api berwarna hijau-kebiruan bercampur lidah api merah meloncat tinggi hingga menyenggol atap seng kamar belakang!

​Suara ledakan DUARRR! bergema kencang di dalam ruangan sempit tiga kali tiga meter itu!

​Kepulan asap abu-abu tebal berkadar racun tinggi dari mesiu dan kapur barus meledak keluar, menyambar wajah Mbah Jambrong dan Jumadi yang berdiri paling depan!

​"ASTAGA GUSTI ALLAH! KEBAKARAN!" jerit Pak RT Sugino sambil melompat mundur dan jatuh terlentang menimpa Bu Tejo.

​Mbah Jambrong yang sama sekali tidak siap menghadapi ledakan mesiu petasan langsung terkena semburan asap panas dan bubuk kapur barus tepat di matanya!

​"ADUHHH! MATAKU! MATAKU PERIH! PANASSSS!" jerit Mbah Jambrong histeris. Dukun tua yang tadinya garang itu mendadak melompat-lompat seperti cacing kepanasan sambil mengucek matanya yang perih luar biasa kena jelaga mesiu dan uap kapur barus!

​Jumadi yang ikut kena jelaga hitam di wajahnya panik setengah mati melihat gurunya menjerit-jerit. "Mbah! Mbah Jambrong! Kenal ajian apa itu, Mbah?!"

​Mamat yang rambutnya sendiri agak gosong sedikit di ujungnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia menyambar Keris Bengkok-nya, berdiri membusungkan dada di tengah kepulan asap hitam pekat, lalu menunjuk Mbah Jambrong dengan tatapan juling paling menyeramkan.

​"Itu baru secuil dari energi Tepukan Api Brajamukti!" teriak Mamat dengan suara dibuat menggelegar. "Mbah Jambrong telah dihantam balasan aura pusaka saya karena berniat buruk di kamar ritual ini!"

​Mbah Jambrong yang matanya tidak bisa dibuka sama sekali karena perih bercucuran air mata dan mukanya penuh jelaga hitam mesiu, menangis meraung-raung. "Aduh! Ampun, Ki! Ampun! Mataku buta kena aura pusakanya! Jumadi, bopong aku balik! Kaburrr!"

​Tanpa pikir panjang lagi, Mbah Jambrong yang legendaris itu lari terbirit-birit keluar dari rumah Mamat sambil dibopong oleh Jumadi. Dukun tua itu menabrak pintu kayu dan pagar bambu pekarangan dalam kegelapan malam, menjerit-jerit kesakitan minta air bersih.

​Warga Kalisari yang menyaksikan kejadian dahsyat itu—ledakan api ajaib, kepulan asap hitam, dan kaburnya Mbah Jambrong sambil menangis—terpaku dalam hening selama lima detik.

​Lalu, Pak RT Sugino bangkit berdiri dengan tangan gemetar, menatap Mamat yang berdiri gagah berselimutkan asap hitam di tengah kamar.

​"LUAR BIASA! KI MAMAT SASTROGATI BENERAN SAKTI MANDRAGUNA!" jerit Pak RT Sugino penuh rasa takjub yang tak terbendung. "Mbah Jambrong dukun paling ditakuti saja sampai buta sementara kena aura keris bengkoknya!"

​"Ki Mamat! Ki Mamat Pelindung Kalisari!" sorak Bu Tejo dan emak-emak lain di luar pekarangan.

​Mbak Wiwin yang mengintip dari sudut kamar menatap Mamat dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman dan rasa aman yang begitu dalam. Bagi Mbak Wiwin, Mamat telah resmi menjadi pahlawan tempat ia menggantungkan keselamatan jiwanya.

​Mamat menghembuskan napas panjang, mengusap ujung rambutnya yang sedikit bau gosong, lalu menyunggingkan senyum angkuh di hadapan warga.

​"Sudah saya katakan..." kata Mamat tenang, merapikan sarung hitamnya. "Jangan main-main dengan tuah Keris Bengkok Brajamukti. Sekarang, bubarlah warga sekalian. Nyai Wiwin masih harus melanjutkan ritual penyucian jiwanya."

​"Siap, Ki Sastrogati! Kami pamit! Maafkan kami yang sempat ragu!" Pak RT dan warga membungkuk hormat berkali-kali sebelum akhirnya memburu keluar rumah untuk menyebarkan berita kemenangan Mamat atas Mbah Jambrong ke seluruh penjuru desa.

​Ketika pintu rumah kembali sepi dan hanya menyisakan Mamat serta Mbak Wiwin di dalam kamar yang berbau mesiu dan kapur barus, Mamat berbalik menatap Mbak Wiwin.

​Mbak Wiwin berjalan mendekati Mamat dengan langkah perlahan, matanya berbinar-binar basah. "Ki Mamat... sampeyan beneran hebat banget. Saya makin yakin cuma Ki Mamat yang bisa melindungi saya..."

​Mamat menelan ludahnya, merasakan sisa ketegangan dan kemenangan yang menyatu jadi satu. Ia meraih kembali kantong berisi kain hijau muda milik Mbak Wiwin, lalu tersenyum licik.

​"Nah, Nyai Wiwin... gangguan Mbah Jambrong sudah sirna," kata Mamat selembut mungkin. "Sekarang, mari kita lanjutkan Ritual Tepuk Punggung Penyucian Jiwa yang sempat tertunda..."

​Di tengah malam Selasa Kliwon yang riuh oleh gosip kemenangan barunya, Mamat sang dukun gadungan tidak hanya berhasil menyelamatkan kedoknya dari kehancuran, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai penguasa ghaib nomor satu di Kampung Kalisari—sebuah kejayaan konyol yang dibangun di atas tumpukan mesiu, kapur barus, dan keberuntungan yang tiada habisnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!