“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Sore itu, Alexander dan istrinya, Malika, tengah duduk bersantai di teras belakang yang menghadap ke taman mawar, menikmati kedamaian sambil menyesap secangkir teh hangat.
Sialnya, ketenangan itu mendadak pecah oleh suara isak tangis yang sengaja dilebih-lebihkan dari arah ruang tamu.
“Paman... Bibi... Hiks..."
Isabella melangkah dengan tertatih memasuki ruangan. Gaun mahalnya tampak sedikit berantakan. Sengaja ia buat sedemikian rupa sebelum turun dari mobilnya.
Sementara wajah cantiknya dibanjiri air mata. Isabella menjatuhkan dirinya berlutut di samping Malika.
“Isabella? Ya ampun, Nak! Ada apa? Kenapa kau menangis tersedu-sedu seperti ini?” tanya Malika terkejut.
Insting keibuannya refleks membuat wanita anggun itu menaruh cangkirnya dan mengusap bahu Isabella yang bergetar.
Isabella mendongak, menatap Malika dengan sepasang mata kemerahan yang memancarkan penderitaan palsu.
“Bibi... putramu, dia... dia mengkhianati ku, Bi. Hatiku hancur,” isak Isabella dengan suara serak yang terdengar begitu memilukan.
Kening Malika berkerut dalam. “Putraku? Maksudmu Alessandro? Apa yang sudah dia lakukan padamu?”
Isabella mengangguk lemah, perlahan menyeka sudut matanya dengan saputangan sutra.
“Dia punya gadis idaman lain, Bibi. Alessandro menyembunyikan seorang gadis desa rendahan di mansion-nya. Padahal selama ini aku adalah calon istrinya. Bagaimana bisa dia mempermalukan ku dan keluargaku seperti ini?”
Ruangan itu seketika hening. Bunyi dentingan porselen terdengar tajam saat Alexander meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan.
Pria paruh baya yang masih terlihat sangat bugar dan berwibawa itu menatap Isabella dengan pandangan sedingin es.
“Sejak kapan Alessandro mengklaim kau sebagai calon istrinya?” sahut Alexander dengan nada datar, menusuk tepat ke ulu hati.
Isabella tersentak. Ia menoleh menatap pria penguasa keluarga Frederick itu, mencoba mencari celah empati, namun yang ia temukan hanyalah dinding baja yang tak tertembus.
Sepengetahuan Alexander, putra sulungnya yang keras kepala itu belum pernah sekalipun membawa wanita spesial ke rumah, apalagi sampai menyatakan memiliki calon istri dan berencana untuk menikah.
“Paman... apa maksud Paman?” Isabella mengatur napasnya, memutar otak dengan licik. Ia kembali memasang wajah teraniaya, menggenggam tangan Malika erat-erat.
“Selama bertahun-tahun aku selalu ada untuknya. Publik tahu kedekatan kami. Keluarga kita sudah lama menjadi rekan bisnis yang saling mendukung. Aku memberikan seluruh masa mudaku untuk menunggunya, Paman. Bukankah wajar jika aku dan semua orang menganggap kami akan berakhir di altar? Lalu tiba-tiba, dia memungut gadis antah-berantah yang tak jelas asal-usulnya, merusak nama baiknya sendiri demi gadis gampangan itu!”
Alexander menatap lekat-lekat wajah wanita di depannya. Sebagai mantan pemimpin mafia yang telah memakan asam garam dunia bawah dan politik, Alexander bukanlah ayah bodoh yang mudah tertipu oleh sandiwara murahan.
Ia bisa melihat kilat kelicikan dan ambisi di balik air mata buaya Isabella.
Pria itu memilih bersandar dengan tenang di kursinya, melipat kaki, dan mengikuti drama ini.
“Begitukah?” Alexander tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. “Jika Alessandro memang menjanjikan pernikahan padamu, dia pasti sudah memberitahuku. Putraku bukan pengecut yang menyembunyikan wanita yang ia cintai.”
Isabella menggigit bibir bawahnya, merasa terpojok oleh kecerdasan Alexander. Ia segera beralih pada senjata terakhirnya, manipulasi emosi wanita.
“Bibi...” Isabella beralih menatap Malika dengan tatapan memelas yang putus asa.
“Bibi juga memiliki seorang anak perempuan, kan? Bibi pasti mengerti bagaimana hancurnya perasaanku. Bagaimana jika putri Bibi yang diperlakukan seperti barang usang yang dibuang begitu saja setelah dimanfaatkan bertahun-tahun? Aku hanya butuh keadilan. Tolong tegur Alessandro. Gadis desa itu pasti sudah memakai guna-guna atau merayunya dengan cara yang kotor,” lanjut Isabella.
Mendengar nama putrinya disebut, raut wajah Malika sedikit berubah. Sebagai sesama wanita, Malika tentu memiliki rasa kasihan melihat seorang gadis menangis meratapi nasibnya seperti ini.
Tangan Malika mengelus rambut Isabella dengan lembut, mencoba menenangkan. Namun, Malika adalah istri dari seorang Alexander. Ia memiliki logika yang sama tajamnya.
“Isabella, Sayang. Bibi mengerti rasa sakit dan kekecewaan mu. Bibi sangat menghargai keluargamu dan Bibi turut prihatin jika kau merasa disakiti. Tapi, menuduh seseorang tanpa bukti adalah hal yang salah,” ucap Malika.
Isabella mendongak, matanya sedikit melebar. “Bibi tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu,” sela Malika, menarik tangannya perlahan dari genggaman Isabella. “Hanya saja, Alessandro adalah darah dagingku. Sebelum Bibi menghakiminya atau mengusir gadis yang kau sebutkan itu, Bibi harus mendengar penjelasan langsung dari mulut putra Bibi sendiri. Keadilan harus berlaku untuk kedua belah pihak, bukan?”
Alexander terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Isabella berdiri.
Pria itu bangkit dari kursinya dan merapikan setelan kemejanya.
“Sandiwara yang cukup bagus untuk menemaniku minum teh sore ini, Isabella,” ucap Alexander sinis, menatap wanita itu dari atas ke bawah.
“Akan ku panggil Alessandro kemari besok malam. Kita lihat, apakah air matamu ini akan bertahan saat putraku menceritakan versi kebenarannya.”
Isabella menelan ludah dengan susah payah.
“Sialan! Ternyata paman Alex tidak bisa aku pengaruhi!” geram Isabella dalam hati.
agar disini dia melihat jika sang istrinya sangat mirip dgn lucia
dari awal pertemuan
Marco dan Lucia memang ada yg aneh
marco seolah ingin melindungi adiknya
dan itu akan terbukti
jika benar Lucia adalah adik kandungnya
dgn tes DNA
TPI gimana caranya yaa
sebab sang ibueninggal setelah melahirkan lucia