NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan yang Merobek Hati

Pagi itu dimulai seperti biasa, dengan suara Aisyah yang cerewet meminta susu dan aroma nasi goreng dari dapur. Namun, keheningan yang tidak wajar dari kamar Nenek Surti membuat Ratna gelisah. Biasanya, pada jam ini, Nenek sudah duduk di teras sambil membaca koran atau menyiram tanaman.

Ratna mengetuk pintu kamar Nenek. "Ma? Sudah bangun?"

Tidak ada jawaban. Ratna membuka pintu perlahan dan menemukan Nenek Surti terbaring di lantai kamar mandi, tubuhnya setengah sadar, mulutnya miring ke satu sisi, dan tangan kirinya tidak bisa digerakkan.

"MA!" teriak Ratna, suaranya memecah ketenangan pagi. Ia segera berjongkok di samping ibunya, menahan tubuh renta itu agar tidak terbentur lantai keramik. "Budi! Budi, cepat! Mama jatuh!"

Budi berlari dari kamar, wajahnya langsung pucat saat melihat kondisi Nenek. Tanpa membuang waktu, ia menggendong Nenek Surti ke mobil dan melaju kencang menuju Rumah Sakit Umum Daerah. Lily yang baru bangun ikut serta dengan wajah panik, memeluk Aisyah yang menangis karena terkejut oleh keributan.

Di ruang IGD, dokter memeriksa Nenek dengan cepat. Diagnosisnya menghantam keluarga itu seperti palu godam: stroke iskemik. Pembuluh darah di otak Nenek tersumbat, dan ia membutuhkan perawatan intensif serta rehabilitasi jangka panjang.

"Dokter, berapa estimasi biaya perawatannya?" tanya Budi dengan suara bergetar setelah Nenek dipindahkan ke ruang rawat inap.

Dokter menatapnya dengan tatapan simpatik. "Untuk perawatan awal di ICU, obat-obatan, dan CT scan, kira-kira lima belas sampai dua puluh juta rupiah. Belum termasuk rehabilitasi fisioterapi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Totalnya bisa mencapai lima puluh juta atau lebih."

Lima puluh juta. Angka itu bergema di kepala Ratna seperti lonceng kematian. Ia menatap Budi, dan dalam tatapan suaminya, ia melihat kepanikan yang sama.

Malam itu, setelah Lily dan Aisyah tertidur, Ratna dan Budi duduk di meja dapur yang kosong. Di hadapan mereka, buku tabungan terbuka, memperlihatkan angka yang menyedihkan. Tabungan yang dulu cukup banyak kini menipis drastis—tersisa hanya sekitar delapan juta rupiah, hasil dari penjualan kue dan gaji Budi di toko kelontong yang pas-pasan.

"Delapan juta, Bud," bisik Ratna, suaranya kosong. "Itu nggak cukup bahkan untuk biaya ICU minggu pertama."

Budi mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku bisa pinjam ke bank. Atau jual motor. Tapi itu cuma nambal sementara. Rehabilitasi Mama butuh waktu lama, dan kita masih harus bayar SPP Lily, beli susu Aisyah, dan mulai nabung buat kuliah Lily tahun depan."

Ratna menunduk, tangannya meremas ujung dasternya. Pikirannya berputar liar, mencari jalan keluar yang seolah tertutup dari segala arah. Ia tidak bisa meminjam uang ke saudara karena mereka sendiri hidup pas-pasan. Menjual rumah Nenek bukan opsi karena itu satu-satunya tempat tinggal mereka.

"Ada satu jalan," ucap Ratna tiba-tiba, suaranya pelan namun tegas.

Budi menoleh, matanya bertanya.

"Aku bisa kerja ke luar negeri lagi," kata Ratna, menatap lurus ke mata suaminya.

Hening. Kata-kata itu menggantung di udara seperti bom yang siap meledak. Wajah Budi berubah dari lelah menjadi syok, lalu menjadi marah.

"Apa?!" seru Budi, suaranya naik. "Kamu gila, Rat? Kamu baru pulang dua tahun lalu! Kamu tahu betapa beratnya di sana! Majikan yang kejam, kamar tanpa jendela, kerja dari subuh sampai tengah malam. Aku nggak akan biarin kamu kembali ke neraka itu!"

"Lalu apa pilihan kita, Bud?!" balas Ratna, air matanya mulai mengalir. "Mama sekarat di rumah sakit! Lily butuh biaya kuliah! Aisyah butuh susu dan popok! Delapan juta itu nggak cukup buat apa-apa! Kalau aku nggak pergi, Mama bisa meninggal karena kita nggak mampu bayar perawatannya!"

Budi membanting telapak tangannya ke meja. "Aku akan cari kerja tambahan! Aku bisa jaga toko malam hari, atau jadi kuli bangunan di akhir pekan. Kita cari jalan lain, Rat. Apa pun kecuali itu!"

"Dan itu cukup untuk menutup lima puluh juta?" tanya Ratna lirih. "Bud, tolong realistis. Gaji kamu di toko kelontong itu tiga juta sebulan. Bahkan kalau kamu kerja dua puluh empat jam sehari, butuh lebih dari setahun untuk kumpul uang segitu. Sementara Mama butuh perawatan sekarang. Lily butuh biaya kuliah tahun depan."

Budi terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu Ratna benar secara logika, namun hatinya menolak keras. Ia tidak ingin kehilangan istrinya lagi untuk tempat yang pernah menyiksanya.

"Aku nggak bisa kehilangan kamu lagi, Rat," bisik Budi, suaranya pecah. "Dua tahun kamu di sana, aku hampir gila karena rindu dan khawatir. Kalau kamu pergi lagi... bagaimana dengan Aisyah? Dia masih tiga tahun. Dia butuh ibunya."

"Aku tahu," jawab Ratna, air matanya mengalir deras. "Aku tahu, Bud. Setiap hari di sana, aku akan menangis karena rindu Aisyah. Rindu Lily. Rindu kamu. Tapi kalau aku nggak pergi, aku akan kehilangan Mama selamanya. Dan aku nggak bisa hidup dengan penyesalan itu."

Pintu dapur terbuka pelan. Lily berdiri di sana, matanya merah dan bengkak. Ia telah mendengar seluruh percakapan itu.

"Ma..." panggil Lily, suaranya bergetar. "Jangan pergi. Tolong, Ma. Aku nggak mau Mama pergi lagi. Aku masih ingat gimana Mama pulang dulu—kurus, item, tangannya luka-luka. Aku nggak mau lihat Mama kayak gitu lagi."

Ratna berdiri dan memeluk Lily erat-erat. "Sayang, Mama juga nggak mau pergi. Tapi Nenek sakit parah. Kalau Mama nggak cari uang, Nenek bisa..." Ratna tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Aku bisa nggak kuliah," kata Lily tiba-tiba, suaranya tegas meski air matanya masih mengalir. "Aku bisa kerja setelah SMA. Jadi kasir, jadi pelayan, apa saja. Uang kuliahku bisa dipake buat biaya Nenek. Jangan pergi, Ma. Aku baru aja dapat Mama yang utuh. Aku nggak mau kehilangan itu lagi."

Ratna memegang wajah Lily, menatap mata putrinya lekat-lekat. "Lily, dengarkan Mama. Kamu harus kuliah. Itu bukan negosiasi. Mama sudah berkorban sekali untuk pendidikanmu, dan Mama akan berkorban lagi. Bukan karena Mama ingin pergi, tapi karena Mama ingin kamu punya masa depan yang lebih baik dari Mama."

"Tapi Ma—"

"Tidak ada tapi," potong Ratna lembut namun tegas. "Mama sudah memutuskan. Mama akan hubungi agen besok pagi. Kontraknya dua tahun, sama seperti dulu. Kali ini, Mama lebih kuat. Mama lebih siap. Dan kali ini, Mama punya alasan yang lebih besar untuk bertahan: kalian bertiga."

Budi yang sejak tadi diam, akhirnya bangkit dari kursinya. Ia mendekati Ratna dan Lily, lalu memeluk mereka berdua. Tubuhnya gemetar, menahan tangis yang selama ini ia tahan.

"Kalau ini memang keputusanmu, Rat... aku nggak akan menghalangi," bisik Budi di telinga Ratna. "Tapi aku janji, aku akan jaga Lily dan Aisyah sebaik-baiknya. Aku akan kunjungi Mama di rumah sakit setiap hari. Dan aku akan menulis surat untukmu setiap minggu, supaya kamu tahu kami baik-baik saja."

Ratna menangis di pelukan suaminya, tangisnya pecah dan tak tertahan. "Terima kasih, Bud. Maafkan aku. Maafkan aku harus meninggalkan kalian lagi."

"Jangan minta maaf," kata Budi. "Kamu bukan meninggalkan kami. Kamu menyelamatkan kami. Itu perbedaan yang sangat besar."

Lily memeluk ibunya dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung Ratna. "Aku benci situasi ini, Ma. Tapi aku bangga sama Mama. Mama wanita paling kuat yang aku kenal."

Di kamar sebelah, Aisyah terbangun dan menangis memanggil ibunya. Ratna segera melepaskan pelukan dan berlari ke kamar putrinya. Ia mengangkat Aisyah ke pelukannya, menciumi wajah mungil itu berulang-ulang, menghirup aroma bayi yang ia tahu akan ia rindukan setiap detik selama dua tahun ke depan.

"Mama di sini, Sayang. Mama di sini," bisik Ratna, air matanya menetes ke pipi halus Aisyah. "Mama akan pergi sebentar, tapi Mama janji akan pulang. Mama janji."

Malam itu, tidak ada yang tidur nyenyak di rumah kecil itu. Ratna berbaring di samping Budi, matanya menatap langit-langit dalam kegelapan. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, siap melompat ke dalam kegelapan yang familiar. Namun kali ini, ia tidak melompat karena terpaksa oleh kemiskinan semata. Ia melompat karena cinta. Cinta pada ibunya yang sekarat, pada putrinya yang butuh masa depan, dan pada keluarganya yang ia perjuangkan dengan setiap tetes darah dan air matanya.

Di luar, angin malam berhembus pelan, seolah berbisik: *Kuatlah, Ratna. Ini bukan akhir. Ini hanyalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.* Dan Ratna, dengan hati yang hancur namun tekad yang baja, memejamkan matanya dan membiarkan air mata mengalir sebagai doa terakhir sebelum fajar keputusan menyingsing.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!