NovelToon NovelToon
Istri Yang Berhenti Mencinta

Istri Yang Berhenti Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.

Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.

Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja 7

Suara derap langkah kaki Senja bergema terburu-buru di sepanjang koridor lantai atas. Jarum jam tangan menunjukkan pukul 08.03 WIB. Tiga menit terlewat dari jadwal rapat akbar, dan napas Senja sudah tersengal-sengal di depan pintu kaca boardroom yang tertutup rapat.

Senja mendorong pintu kayu berukir itu seminimal mungkin, berusaha melangkah masuk tanpa menimbulkan suara. Namun, gesekan kecil pada engsel pintu langsung memutus pemaparan di depan layar.

"Tiga menit."

Suara bariton yang dingin dan tajam itu memotong keheningan ruangan. Angkasa, sang CEO berdiri tegak di ujung meja jati, menatap Senja dengan pasang mata yang menusuk bagai sembilu. Di sekeliling meja panjang, belasan manajer divisi dan petinggi perusahaan menoleh serentak, menciptakan tatapan menghakimi yang menghimpit dada Senja.

"Maaf, Pak Angkasa... jalanan macet dan..."

"Saya tidak butuh alasan soal kemacetan Jakarta, Bu Senja," potong Angkasa cepat, suaranya tenang namun sarat akan intimidasi yang mencekam.

"Di perusahaan ini, tiga menit adalah bentuk rasa tidak menghargai waktu orang lain. Apalagi dalam rapat krusial yang membahas efisiensi anggaran kuartal depan."

Senja mematung di dekat pintu, mencengkeram tali tasnya rapat-rapat. Wajahnya memanas, dibakar rasa malu di hadapan seluruh rekan kerja dan atasannya. Anggi yang duduk di sudut ruangan hanya bisa menunduk pasrah, tak berani memasang kontak mata.

"Apakah status Anda sebagai staf senior di divisi keuangan memberi Anda keistimewaan untuk mengabaikan kedisiplinan?" cecar Angkasa lagi. Tangannya terlipat di dada, menatap Senja tajam.

"Jika hal mendasar seperti ketepatan waktu saja gagal Anda penuhi, bagaimana saya bisa mempercayakan integritas audit laporan keuangan perusahaan pada Anda?"

Keheningan di ruang rapat terasa makin berat dan membakar. Kata-kata Angkasa menghantam harga diri Senja yang sebenarnya sudah lebam sejak semalam akibat kiriman foto-foto kejam dari Arum.

"Maafkan saya, Pak. Hal ini tidak akan terulang lagi," bisik Senja pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menjaga profesionalitasnya.

"Duduk," perintah Angkasa dingin tanpa senyuman sedikit pun.

"Buka laptop Anda dan pastikan data penyesuaian anggaran divisi Anda sudah siap saat giliran Anda maju."

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Senja seraya melangkah cepat menuju kursi kosong di samping Anggi.

Saat Senja menghempaskan tubuhnya di kursi, Anggi menyenggol lengannya pelan dan berbisik sangat halus,

"Kamu nggak apa-apa, Senja? Pak Angkasa lagi killer banget hari ini. Sepertinya dia sedang marahan sama calon istrinya makanya malah di bawa ke dalam meeting ini. Apes banget nasib kita sebagai bawahan kan?"

"Aku nggak apa-apa, Ngi. Fokus rapat dulu," bisik Senja menenangkan, meski tangannya masih sedikit bergetar saat membuka lipatan laptopnya.

Selama dua jam berikutnya, rapat berlangsung sangat tegang. Angkasa menguliti setiap detail angka dan proyeksi anggaran dari tiap divisi tanpa ampun. Senja berusaha keras menekan seluruh amarah, kekecewaan, dan rasa lelah yang menumpuk di dadanya demi menyampaikan presentasi keuangannya dengan sempurna. Ternyata benar, pagi ini sepertinya mood Angkasa sedang tidak baik-baik saja. Karena hampir semua divisi kena omelan, sehingga membuat suasana di dalam sana benar-benar tegang.

Begitu presentasinya selesai tanpa cela, Angkasa hanya mengangguk singkat. "Cukup jelas. Rapat hari ini selesai, kembali ke divisi masing-masing."

Para peserta rapat mulai berdiri dan merapikan berkas dan pergi dengan perasaan yang sangat lega. Senja menarik napas lega, menutup laptopnya dan bersiap keluar ruangan. Namun suara Angkasa kembali terdengar dari ujung meja.

"Bu Senja, tetap di tempat. Ada hal terkait berkas audit yang harus kita bahas berdua."

Anggi melirik Senja dengan tatapan khawatir sebelum mengemas barang-barangnya.

"Aku tunggu di meja kamu ya, Senja," bisiknya pelan.

Senja hanya mengangguk tipis, berusaha mengulas senyum menenangkan. Satu per satu peserta rapat melangkah keluar hingga pintu kayu tebal itu tertutup rapat. Keheningan seketika menyergap boardroom yang luas itu. Senja berdiri kaku di tempatnya, menatap Angkasa yang sedang membolak-balik lembaran dokumen audit di ujung meja.

"Pak Angkasa," panggil Senja memecah keheningan. Suaranya diusahakan setenang mungkin.

"Ada bagian dari berkas audit divisi saya yang perlu direvisi?"

Angkasa tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, merapikan letak jam tangannya, lalu menatap Senja dengan sorot mata yang tajam dan tak tertebak.

"Laporan alokasi dana operasional untuk proyek kuartal ketiga," kata Angkasa dingin. tangannya mengetuk pelan dokumen di atas meja.

"Ada selisih margin sebesar dua persen pada proyeksi pengeluaran tak terduga. Kamu menyadarinya?"

Senja tersentak pelan. Dengan sigap, ia membuka kembali laptopnya dan memeriksa lembar kerja digitalnya.

"Maaf, Pak," sahut Senja seraya menatap layar.

"Selisih dua persen itu sudah disesuaikan dengan eskalasi harga bahan baku vendor utama untuk tiga bulan ke depan. Saya sudah menyertakan lampiran surat kesepakatan harga dari pihak vendor di halaman terakhir."

Angkasa mengamati Senja yang menjawab dengan tangkas tanpa ada keraguan sedikit pun. Pria itu mengambil lembar lampiran yang dimaksud, membacanya sejenak, lalu meletakkannya kembali.

"Rincianmu cukup tepat, Bu Senja. Secara teknis, tidak ada yang salah dengan perhitungan ini," ujar Angkasa, suaranya kini sedikit melunak namun tetap berwibawa.

"Tapi metodemu terlalu konservatif. Kita sedang mengejar efisiensi maksimal untuk ekspansi cabang baru bulan depan."

Senja menarik napas lega dalam hati. Setidaknya kesalahan bukan terletak pada ketelitian datanya.

"Saya memilih pendekatan konservatif untuk meminimalisasi risiko pembengkakan anggaran di tengah jalan, Pak," jelas Senja profesional.

"Namun jika Bapak menginginkan skenario yang lebih agresif, saya bisa menyusun ulang proyeksi penghematan tersebut sore ini."

Angkasa menatap Senja lurus-lurus, mengamati profesionalisme stafnya yang tetap terjaga rapat meski baru saja ditegur di depan banyak orang.

"Bagus. Saya minta revisi skenario efisiensi itu ada di meja saya sebelum jam lima sore," tegas Angkasa. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya.

"Dan satu hal lagi, Bu Senja."

Senja mendongak. "Iya, Pak?"

"Kedisiplinan jam kerja adalah cerminan profesionalisme," ucap Angkasa datar seraya meraih dokumennya.

"Jangan biarkan keterlambatan tiga menit seperti tadi pagi merusak reputasi kerja kerasmu di kantor ini."

Senja mengangguk mantap, merasa dihargai secara profesional.

"Baik, Pak Angkasa. Terima kasih atas arahannya. Saya pastikan revisinya selesai tepat waktu."

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣 dikira Angkasa tidak tahu ,jika kamu toilet umum.Kok percaya dirimu tinggi.Terus tinggikan kesombongan dan merasa kemenangan kamu, saatnya jatuh langsung remek,Lyra.
ryuka
bagus senja 👍👍👍👍👍👍
nely_48
maksa n harus ya angkasa, no debat
sunaryati jarum
Yoi pacaran Setelah sah sangat bagus, tidak takut berbuat zina karena sudah sah
Ilfa Yarni
betul itu pak angkasa pacaran halal setelah menikah itu asyik tau
YuWie
agak2 dejavu dg kata2 adam dan senja ya..lagian adam sdh diusir2..ngapain masih di apart arum. Gak mampu sewa rmh
YuWie
tetap saja arum merasa menang walo sesaat..tak suka.
YuWie
garcwp aen.. si arum niatnya pamer dan manas2i..ehhh malah jadi senjatamu ya sen
YuWie
wow..wow..garcep ya sensen
YuWie
mpussss pak adam
YuWie
nahh begitu tho sensen
YuWie
Luar biasa
YuWie
baikmen kamu sensen..sdh dijadikan ban cadangan aja..masih mau menyelesaikan dg baik2
YuWie
apakah angkasa jg bkdoh spt senja..atau hy sedang ber drama
YuWie
katanya gak mau nodoh, kenapa masih nunggu mas adam
YuWie
dibodohi kau senja2
YuWie
kok kamu mau jadi ban serep ja senja.. padahal ya kamu gak ada hubungan dg adam dan arum
Cicih Sophiana
Senja traumo dgn pernikan nya dgn Adam... jd pak bos hqrus sabar menghadapi wanita yg pernah di sakiti suami nya
Cicih Sophiana
sekarang kamu sdh tdk punya apa apa lagi Adam... jelas aja si pe rek udah gak mau lagi sama kamu...
nely_48
jgn sampe senja d tolak mentah² oleh calon mertua nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!