NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 (KASUS 1) PELACAKAN ALIRAN DANA REKENING

Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai gulung di lantai dua gedung Satuan Reserse Kriminal Polres.

Suasana di ruang kerja Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) sudah tampak begitu sibuk sejak pukul 7 pagi.

Derik mesin cetak, deru kipas angin gantung, serta lalu lalang anggota polisi yang membawa map-map berkas menambah riuhnya atmosfer di markas kepolisian tersebut.

Di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan lembaran berkas, Ipda Harumi duduk tegap dengan balutan seragam dinas cokelat tua yang sangat rapi. Lencana penyidik di dada kirinya memantulkan pendaran cahaya pagi yang bersih.

Wajah cantiknya tampak sangat segar, memancarkan fokus dan ketegasan yang tak tergoyahkan. Kehangatan gulai ayam kampung buatan Nisa dan kebersamaan keluarga di rumah semalam telah mengisi ulang seluruh stamina dan ketenangan batin sang polwan.

Ctik... Ctik... Ctik... Ctik...

Jemari lincah Harumi menari di atas papan ketik komputer, membedah salinan dokumen digital laporan audit internal PT. Cipta Buana Investco yang baru saja berhasil disita oleh tim siber kepolisian.

"Bu Kanit!" panggil sebuah suara dari arah koridor.

Aipda Rudi melangkah masuk dengan napas sedikit memburu. Penyidik senior berbadan tegap itu membawa satu map plastik tebal berwarna biru penuh berisi salinan cetakan rekening koran resmi dari bank sentral dan print-out riwayat percakapan email pribadi milik Almarhum Jonathan Nasution.

"Bagaimana, Rudi? Data perbankannya sudah lengkap?" tanya Harumi langsung tanpa membuang waktu, menatap anak buahnya itu.

"Lengkap sekali, Bu Kanit!" sahut Rudi seraya meletakkan map tebal itu di atas meja Harumi. "Tim intelijen keuangan baru saja mengirimkan cetakan transaksi 5 rekening pribadi milik Pak Jonathan, dan dua rekening operasional PT. Cipta Buana Investco selama 3 bulan terakhir."

Harumi segera menarik lembaran-lembaran kertas rekening koran tersebut.

Matanya yang tajam dan terlatih mulai menyisir barisan angka nominal transaksi satu per satu dengan ketelitian tinggi.

"Coba tunjukkan pada saya transaksi yang mencurigakan sebelum hari kematiannya," instruksi Harumi profesional.

Rudi merapat ke samping meja, jarinya menunjuk ke baris transaksi bertanggal dua hari sebelum kejadian—tepatnya hari Selasa sore.

"Ini dia, Bu," terang Rudi dengan intonasi serius. "Pada hari Selasa jam 3 sore, ada perintah pemindahbukuan dana sebesar 50 miliar rupiah dari rekening giro operasional PT. Cipta Buana Investco. Dana itu hendak ditransfer ke sebuah rekening penampung atas nama perusahaan cangkang, PT. Samudra Nusantara Kirana."

Harumi memicingkan matanya menatap nama perusahaan cangkang tersebut. "PT. Samudra Nusantara Kirana? Siapa pemilik saham utamanya?"

"Hasil lacak tim kita menunjukkan perusahaan cangkang itu cuma perusahaan fiktif tanpa kantor fisik, Bu," jawab Rudi geleng-geleng kepala. "Alamat kantornya terdaftar di sebuah ruko kosong di daerah pelabuhan. Dan yang lebih gila lagi, 50 miliar itu keterangannya ditulis resmi di sistem sebagai 'Dana Sumbangan Khusus Pengembangan Proyek Jawa'. Padahal tidak ada izin kementerian atau proyek fisik riil dari dana sebesar itu."

Harumi menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, mengusap dagunya perlahan.

"50 miliar rupiah..." gumam Harumi. "Angka yang sama persis dengan rintihan sukma Jonathan yang didengar Kak Haruma di ruang otopsi semalam. Sukma Jonathan bilang, dia menolak menandatangani pengalihan dana 50 miliar untuk 'pajak darah' proyek."

Rudi mengerutkan keningnya, dia agak bingung dengan istilah "sukma" yang disebutkan atasannya, namun ia memilih fokus pada fakta dokumen hukum di tangannya.

"Dan ini bukti paling kuatnya, Bu Kanit!" seru Rudi penuh semangat seraya menyodorkan selembar kertas hasil cetakan draf email rahasia yang ditemukan di folder tertutup laptop kerja Jonathan. "Ini draf email yang diketik oleh Pak Jonathan pada Selasa malam jam 8, tepat beberapa jam setelah perintah transfer itu muncul!"

Harumi menerima kertas cetakan email tersebut dan membacanya dengan cermat.

Draf email itu ditujukan langsung kepada jajaran Direksi PT. Cipta Buana Investco dan ditembuskan kepada pengacara Budiarto.

Isi draf email tersebut sebagai berikut:

...........

...........

..."Dengan ini saya menyatakan MENOLAK keras untuk menandatangani dan memverifikasi lembar persetujuan transfer dana sebesar Rp50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah) ke rekening PT. Samudra Nusantara Kirana. Transaksi ini tidak memiliki landasan audit akuntansi yang sah, berpotensi melanggar hukum tindak pidana pencucian uang, dan dialokasikan untuk kegiatan non-operasional yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan secara profesional."...

...........

...........

Harumi menahan napasnya sejenak. "Jonathan menolak secara tertulis..."

"Betul, Bu!" timpal Rudi cepat. "Dan coba Ibu lihat lembaran balasan pesan terenkripsi di bawahnya. Ini balasan dari nomor pribadi yang diduga milik Budiarto atau salah satu direksi malam itu juga."

Harumi menggeser pandangannya ke paragraf bawah.

Sebuah pesan singkat namun sarat akan ancaman mematikan terukir di sana:

...........

...........

..."Jonathan, jangan sok suci! Dana ini wajib keluar minggu ini untuk mengamankan konsesi proyek di Jawa. Kalau kamu tidak menandatanganinya sampai Rabu sore, posisi dan keselamatanmu yang akan jadi taruhannya."...

...........

...........

Brak!

Harumi menepuk mejanya pelan, matanya berkilat-kilat memancarkan kemenangan analisis kriminal.

"Luar biasa, Rudi! Kita sudah mengunci motif utamanya!" tegas Harumi dengan suara berbobot. "Jonathan tewas bukan karena serangan jantung alami atau kelelahan kerja. Dia dibunuh secara terencana karena keberaniannya menolak menandatangani aliran dana gelap 50 miliar rupiah ini!"

"Betul sekali, Bu Kanit!" puji Rudi mengangguk mantap. "Dengan draf penolakan ini dan pesan ancaman Budiarto, kita punya landasan hukum yang sangat kuat buat menyeret mereka ke ruang interogasi!"

Di tengah keseriusan itu, tiba-tiba...

"Permisi... Ipda Harumi ada di dalam?"

Sebuah suara lembut yang sangat dikenal memecah konsentrasi di ruang Jatanras.

Harumi dan Rudi menoleh bersamaan ke arah pintu masuk.

Di sana, sudah berdiri dr. Haruma dengan anggunnya.

Dokter forensik itu mengenakan kemeja putih bersih dipadu jas laboratorium Dokpol Bhayangkara yang kaku dan rapi. Di tangan kanannya, Haruma membawa sebuah amplop cokelat tebal berstempel basah dinas kepolisian.

Wajah Harumi seketika berubah cerah. "Kak Haruma!"

Haruma melangkah mendekati meja adiknya, menyapa Aipda Rudi dengan anggukan sopan. "Selamat pagi, Aipda Rudi."

"Selamat pagi, Dokter Haruma," balas Rudi penuh hormat.

Haruma meletakkan amplop cokelat tebal itu tepat di atas tumpukan berkas transaksi keuangan Jonathan.

"Rumi... ini dokumen resmi yang kamu tunggu-tunggu," ujar Haruma dengan suara tenang dan profesional. "Laporan Otopsi Visum et Repertum Nomor 104 beserta seluruh lampiran dokumentasi foto makro dari pembedahan jaringan tengkuk Jonathan Nasution kemarin. Sudah ditandatangani dan diberi stempel basah laboratorium."

Harumi menerima amplop tebal itu dengan mata berbinar. Ia memutarkan duduknya menghadap kakaknya.

"Asyik! Makasih banyak ya, Kak Haruma!" ucap Harumi gembira. "Kakak datangnya pas banget! Rumi sama Rudi baru aja berhasil ngebongkar draf email penolakan transaksi 50 miliar milik Jonathan!"

Haruma menaikkan alisnya, tertarik. "Serius, Dek? Draf email penolakannya ketemu?"

"Ketemu banget, Kak!" jawab Harumi penuh semangat seraya menunjukkan kertas cetakan email tadi. "Jonathan nolak tanda tangan karena tahu itu uang haram buat proyek fiktif. Bahkan ada pesan ancaman dari pihak Budiarto yang bilang keselamatan Jonathan bakal terancam kalau nggak nanda tangani sampai hari Rabu!"

Haruma menggelengkan kepalanya prihatin, menatap kertas email itu. "Kasihan sekali Jonathan... Dia berusaha mempertahankan kejujurannya di tengah lingkaran orang-orang jahat. Dan saat dia bertahan menolak pada Rabu sore... jam 3 dini hari tadi iblis sihir itu dikirimkan untuk mencabut usianya."

"Tepat sekali, Kak!" timpal Harumi mantap. "Masa waktu penolakan Jonathan jam 3 sore Rabu, dan waktu kematian di jam tangan mekaniknya terhenti di jam 3 lewat 15 menit dini hari! Semuanya klop seratus persen!"

Haruma memegang amplop cokelatnya, lalu membukanya di depan Harumi dan Aipda Rudi. Ia mengeluarkan selembar kertas foto glos tebal berukuran besar yang memperlihatkan cetakan kamera makro dari cap luka bakar geometris di atas tulang tengkorak belakang Jonathan.

...........



...........

Aipda Rudi yang berdiri di samping meja seketika membelalakkan matanya melihat foto medis tersebut.

"Ya Allah... Dok Haruma! Ini... ini luka apa di tengkuk korban?!" seru Rudi terperanjat luar biasa. "Bentuknya simetris banget kayak ukiran stempel besi?!"

Haruma menoleh menatap Rudi, memberikan penjelasan medis yang jernih.

"Ini adalah temuan trauma termal khusus pada lapisan fasia subkutan di atas tulang tengkorak belakang korban, Aipda Rudi. Luka bakar berkapasitas panas tinggi yang merusak jaringan dalam tanpa melukai lapisan kulit luar. Dan kerusakan organ dalam jantung serta paru-paru korban mengalami pengkerutan masif yang setara dengan proses penuaan selular lansia usia di atas delapan puluh tahun." jelas Haruma sangat profesional.

Rudi menelan ludah dengan susah payah, bulu kuduknya berdiri. "Artinya... korban diserang pakai energi yang bikin organ dalamnya mendadak menua dan mengkerut?!"

"Secara ilmu patologi forensik, tidak ada satu pun jenis penyakit jantung alami di dunia ini yang bisa membuat organ tubuh pemuda berusia 32 tahun berubah menjadi organ lansia dalam waktu satu malam," ucap Harumi menepuk foto tersebut. "Ini bukti medis material paling otentik yang gak akan bisa dibantah oleh siapa pun!"

Harumi menarik napas dalam-dalam, berdiri dari kursi kerjanya dengan kebanggaan dan ketegaran yang terpancar kuat dari seragam cokelatnya. Tangannya merapikan lembaran berkas draf email penolakan 50 miliar, bukti transaksi bank, dan foto otopsi makro dari Kakaknya, lalu menyatukannya ke dalam satu stop map merah berlabel BUKTI UTAMA KASUS JONATHAN NASUTION.

"Jam berapa sekarang, Rudi?" tanya Harumi tegas.

Rudi melirik jam dinding ruang Jatanras. "Jam 9 tepat, Bu Kanit."

Harumi tersenyum dingin—sebuah senyuman penuh kemenangan dari seorang perwira penyidik yang telah mengunci pergerakan mangsanya.

"Batas waktu 24 jam yang diberikan Kombes Polda masih tersisa banyak," ujar Harumi dengan nada suara berbobot dan penuh wibawa. "Rudi! Segera layangkan surat panggilan darurat kepada pengacara Budiarto dan seluruh jajaran Direksi PT. Cipta Buana Investco! Perintahkan mereka hadir di ruang rapat utama Polres dalam waktu 1 jam dari sekarang!"

"Siap, Bu Kanit! Laksanakan!" jawab Rudi penuh semangat seraya memberi hormat tegap dan segera berlari keluar ruangan untuk memproses panggilan resmi.

Di ruang kerja yang kini menyisakan Haruma dan Harumi, dua bidadari penegak keadilan itu saling berpandangan.

Haruma memegang bahu adik bungsunya dengan rasa kasih sayang dan kebanggaan yang tak terbatas. "Tunjukkan pada mereka ketegasan hukum yang sebenarnya, Rumi. Kakak akan mendampingimu di meja rapat nanti sebagai saksi ahli forensik."

Harumi menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling mantap, menggenggam erat jemari kakaknya.

"Pasti, Kak Haruma! Hari ini, di depan bukti transaksi 50 miliar dan foto otopsi dari Kakak... kita bakal runtuhkan kebohongan para taipan itu sampai tak bersisa!"

Dua bukti puncak—motif kejahatan finansial dan bukti medis pembunuhan sihir—telah menyatu sempurna di dalam genggaman Ipda Harumi.

Dan dalam waktu 1 jam ke depan, panggung pertarungan hukum terbesar di markas kepolisian siap untuk meletus hebat.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!