Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dia mengenakan gaun selutut berwarna peach pastel yang sangat elegan dan pas di tubuhnya.
Rambutnya disanggul modern menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya dengan manis.
Sebuah kalung berlian kecil hadiah tambahan dari Raka melingkar manis di lehernya.
"Wah, Mama cantik sekali seperti putri raja!" puji Elvan sambil melompat-lompat kecil.
Dewi tersenyum malu dan mencium pipi gembil anak asuhnya itu.
"Terima kasih pangeran kecil. Ayo kita masuk dan menangkan lomba melukis hari ini!" ajak Dewi penuh semangat.
Begitu mereka berdua memasuki aula sekolah, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka.
Tepatnya, mata para ibu-ibu sosialita yang sedang berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil.
"Eh, lihat itu, bukankah itu anak Raka Mahardika si CEO Grup Lentera?" bisik seorang wanita berambut ikal dengan tas Hermes di lengannya.
"Iya benar. Tapi siapa wanita di sebelahnya itu? Raka kan duda sejak istrinya kabur ke luar negeri," timpal temannya yang memakai kacamata hitam di dalam ruangan.
Dewi pura-pura tidak mendengar bisikan itu dan terus berjalan menuju meja pendaftaran.
Aroma persaingan dan pamer kekayaan sangat kental tercium di aula yang megah ini.
Setiap ibu-ibu di sana berlomba-lomba memamerkan tas terbaru, perhiasan berlian, dan gaya rambut mahal mereka.
"Elvano Mahardika, ini nomor mejanya ya sayang," ucap guru penjaga meja pendaftaran dengan ramah.
Guru itu lalu menatap Dewi dengan senyum sedikit ragu.
"Maaf Nyonya, apakah Anda pengasuh baru Elvan? Biasanya asisten pribadi Tuan Raka yang datang mewakili."
Sebelum Dewi sempat menjawab, Elvan sudah menyahut lebih dulu dengan suara lantang yang menggemaskan.
"Bukan! Ini Mama Dewi! Mamanya Elvan!" teriak anak itu bangga.
Guru itu sedikit terkejut, namun segera mengangguk maklum dan tersenyum lebih lebar.
"Oh, maafkan ketidaktahuan saya Nyonya Mahardika. Silakan menuju meja nomor tujuh di sebelah sana," ucap guru itu sopan.
Dewi tersenyum puas mendengar panggilan Nyonya Mahardika, rasanya sangat berkelas.
Mereka berdua berjalan menuju meja nomor tujuh yang sudah disiapkan alat lukis lengkap.
Namun baru saja Dewi mendudukkan dirinya di kursi kecil, seorang wanita bertubuh tinggi menghampiri mejanya.
Wanita itu mengenakan gaun merah menyala yang terlalu berlebihan untuk ukuran acara sekolah pagi hari.
"Halo. Kau pasti istri baru Raka Mahardika ya?" sapa wanita berbaju merah itu dengan senyum palsu.
Dewi mendongak dan menatap wanita itu dengan tenang.
"Benar. Ada yang bisa saya bantu Tante Baju Merah?" balas Dewi dengan nada santai namun menusuk.
Wanita itu sedikit tersentak mendengar panggilan Tante Baju Merah.
"Namaku Cindy, suamiku adalah salah satu donatur utama di sekolah ini," ucap Cindy dengan dagu terangkat sombong.
"Aku hanya penasaran, karena kudengar dari temanku Vanya, Raka memungut seorang wanita jalanan untuk dijadikan pengasuh."
"Tidak kusangka dia benar-benar menikahimu. Seleranya benar-benar sudah merosot jauh sejak ditinggal Marissa," sindir Cindy dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Beberapa ibu-ibu di meja sebelah mulai menahan tawa mendengar sindiran pedas itu.
Elvan yang sedang memegang kuas cat air menatap Cindy dengan marah.
"Tante jelek! Jangan nakal sama Mama Elvan!" bentak anak berumur tiga tahun itu membela ibunya.
Cindy tertawa meremehkan melihat kemarahan balita itu.
"Aduh lucunya. Ibumu yang asli sebentar lagi pulang loh sayang, kau pasti akan membuang pengasuh ini nanti," ucap Cindy kejam.
Kesabaran Dewi yang tadinya setipis tisu kini benar-benar sudah habis robek.
Dewi meletakkan kuasnya pelan-pelan dan berdiri berhadapan langsung dengan Cindy.
Berkat sepatu hak tingginya, Dewi kini berdiri sejajar dengan wajah sombong wanita itu.
"Dengar ya Nyonya Cindy yang terhormat," bisik Dewi dengan aura mengancam yang dia pelajari dari Raka.
"Suamimu mungkin donatur utama di sini. Tapi suamiku bisa membeli seluruh tanah sekolah ini dan menggusurnya menjadi tempat parkir besok pagi."
Wajah Cindy seketika memucat mendengar ancaman luar biasa arogan itu.
"Jadi, lebih baik kau tutup mulutmu yang bau terasi itu sebelum aku melaporkan tingkahmu pada Raka Mahardika."
"Aku yakin suamimu akan langsung bangkrut jika Grup Lentera mencabut semua kerja samanya," ancam Dewi telak.
Cindy menelan ludah dengan susah payah.
Dia tahu persis betapa kejamnya Raka Mahardika dalam dunia bisnis, pria itu bisa menghancurkan perusahaan kecil suaminya dalam sekejap mata.
"K-kau... jangan sombong! Kita lihat saja nanti kalau istri aslinya sudah datang!" gagap Cindy sambil melangkah mundur ketakutan.
Cindy berbalik dengan cepat dan berjalan kembali ke mejanya dengan langkah terburu-buru menahan malu.
Ding!
[Misi Harian Selesai Lebih Cepat!]
[Tuan Putri berhasil meratakan mental donatur sombong hanya dengan gertakan verbal!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +30 dan Skill Aura Keibuan Elegan kini aktif permanen!]
Dewi kembali duduk di kursinya dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.
"Ayo sayang, kita lanjut melukis gambar dinosaurusnya," ajak Dewi pada Elvan seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Elvan mengangguk riang dan mulai mencoret-coret kertas putih di depannya dengan cat hijau.
Baru lima menit mereka tenang melukis, tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah pintu masuk aula.
Banyak ibu-ibu sosialita yang berdiri dari kursi mereka dan berkerumun mendekati pintu masuk.
"Ya ampun, itu benar-benar dia!" pekik salah seorang ibu-ibu dengan heboh.
"Cantik sekali aslinya, pantas saja dia jadi supermodel internasional!" timpal yang lainnya.
Dewi mengerutkan keningnya penasaran, siapa artis yang datang sampai membuat heboh sekolah anak-anak ini.
Dari celah kerumunan itu, melangkahlah seorang wanita dengan postur tubuh semampai bak gitar spanyol.
Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar bermerek Dior, dibalut mantel krem tipis yang terlihat sangat berkelas.
Rambut cokelat bergelombangnya dibiarkan tergerai indah, bergoyang seirama dengan langkah kakinya yang sangat percaya diri.
"Selamat pagi semuanya. Maaf saya sedikit terlambat datang," sapa wanita itu dengan suara merdu yang sangat dibuat-buat.
Kepala Sekolah langsung berlari menyambut wanita itu dengan senyum yang sangat lebar.
"Selamat datang Nyonya Marissa. Suatu kehormatan bagi sekolah kami dikunjungi oleh alumni orang tua murid seperti Anda."
Deg!
Jantung Dewi seakan ditimpa batu seberat satu ton saat mendengar nama itu disebutkan.
Marissa.
Mantan istri Raka.
Ibu kandung dari Elvan yang sedang duduk di sampingnya saat ini.
Wanita beracun dari masa lalu itu benar-benar sudah kembali dan dia datang langsung ke sarang anak kandungnya.
Marissa melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan mata cokelat tajam yang sangat memikat.
Tatapan wanita itu menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat di meja nomor tujuh.
Mata Marissa dan Dewi saling berserobok dari kejauhan.
Sebuah senyum miring yang penuh dengan kelicikan dan permusuhan terukir perlahan di bibir merah Marissa.
"Halo, jagoan kecil Mama. Mama pulang sayang," ucap Marissa dengan suara lantang yang sengaja ditujukan ke arah meja Elvan.
Seluruh ruangan mendadak hening.
Badai kelas lima yang sebenarnya telah mendarat tepat di hadapan Dewi Anjani hari ini juga.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭