NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pelukan Kerinduan

Sebulan berlalu.

Ramadan datang membawa kesibukan yang lebih padat dari biasanya. Jadwal ceramah Gus Hafiz hampir penuh setiap malam. Tapi di sela-sela itu, ada satu hal yang membuat langkahnya terasa ringan

Libur menjelang Idulfitri.

Artinya ia bisa menjemput Anisa.

Sejak beberapa hari sebelumnya, hatinya sudah berbunga. Ia bahkan memilih sendiri oleh-oleh kecil untuk dibawa ke Kudus. Kurma terbaik. Gamis keluaran terbaru, berbahan lembut yang ia rasa cocok untuk Anisa.

Pagi itu ia bersiap berangkat dengan wajah lebih cerah dari biasanya.

Namun sebelum keluar ndalem, seorang santri menghampiri.

“Gus, Umi dawuh supaya sowan dulu.”

Langkahnya terhenti.

“Inggih.”

Ia berbelok menuju ruang ndalem.

Umi Laila sudah duduk rapi. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya serius.

“Mau berangkat sekarang?” tanya beliau.

“Inggih, Mi. InsyaAllah sebelum magrib sudah sampai Kudus.”

Umi Laila mengangguk pelan.

“Hafiz… ada yang perlu Umi sampaikan. Sebentar.”

Nada itu membuat dada Gus Hafiz mengencang. Ia merasa ada sesuatu.

“Nggih, Mi.”

“Nanti setelah kamu jemput Anisa, langsung antarkan dia ke Jakarta. Biar lebaran dengan keluarganya du Jakarta.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Seolah sederhana.Tapi cukup membuat senyum di wajah Gus Hafiz perlahan memudar.

“Ke Jakarta, Mi?” tanyanya hati-hati.

“Inggih.”

“Kenapa ndak ke Ponorogo saja?” Suaranya tetap terjaga, namun ada getar tipis yang tak bisa ia sembunyikan. “Hafiz ini kan suaminya, Mi.”

Umi Laila menatapnya dalam.

“Eling, Fiz.”

Satu kata itu cukup membuatnya menunduk sedikit.

“Kamu memang suaminya,” lanjut Umi Laila tegas. “Tapi jangan lupa, tidak ada yang tahu kalau kamu itu suaminya. Kecuali keluarga ndalem dan dua orang saksi.”

Sunyi.

“Apa kamu siap keluarga besar seorang kiai mendapat omongan miring dari luar?”

Kalimat itu menusuk tepat di titik yang paling ia pahami.

Nama.

Martabat.

Kehormatan keluarga.

Ia adalah putra kiai. Setiap langkahnya bukan lagi miliknya sendiri.

Gus Hafiz terdiam.

Ia ingin berkata, biarlah orang berkata apa.

Ia ingin berkata, bukankah ini halal?

Ia ingin berkata, ia rindu ingin lebaran bersama istrinya, karena ini lebaran pertama mereka.

Tapi semua itu hanya berputar di kepala.

Tak ada yang benar-benar keluar.

“Umi tidak mau tahu tugasmu sebagai suami seperti apa,” lanjut Umi Laila, suaranya tetap terkendali. “Cukup antarkan Anisa ke Jakarta. Setelah itu kamu kembali ke Ponorogo.”

Tak ada ruang untuk tawar-menawar.

Tak ada celah untuk perdebatan.

Gus Hafiz menelan ludahnya kasar.

“Inggih, Mi.”

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Gus Hafiz lantas, keluar dari ndalem, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Mobil sudah siap.

Tas sudah tersusun.

Namun hatinya…

berantakan seketika.

Ia duduk di balik kemudi tanpa langsung menyalakan mesin.

Tangannya mencengkeram setir lebih lama. Di satu sisi, ia seorang anak kiai. Taat pada orang tua adalah harga mati. Di sisi lain, ia seorang suami.

Dan untuk pertama kalinya, dua peran itu saling bertabrakan di dadanya.

Ia membayangkan wajah Anisa ketika tahu nanti hanya akan diantar ke Jakarta.

Lebaran. Hari kemenangan. Hari yang seharusnya diisi kebersamaan. Tapi ia justru harus melepaskannya lagi.

“Ya Allah…” gumamnya pelan.

Kenapa halal tapi terasa seperti harus bersembunyi?

Kenapa sah tapi tak boleh diumumkan?

Kenapa ia harus memilih antara bakti pada ibu… dan keinginan sederhana sebagai suami?

Mesin akhirnya menyala. Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman ndalem.

Di balik wajah tenangnya sebagai seorang Gus, ada galau yang nyaris tak tertahankan.

Rindu yang belum terobati.

Dan kini…

Lebaran pun harus ia jalani dengan menahan separuh hatinya sendiri.

***

Langit Kudus mulai berubah jingga ketika mobil Gus Hafiz memasuki halaman ndalem pesantren.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul lima sore. Belum benar-benar magrib, tapi udara sudah terasa lembap oleh aroma tanah dan angin senja.

Kedatangannya disambut hangat.

Ibu Nyai Fatimah keluar lebih dulu, senyumnya mengembang. Pak Kiai menyusul di belakang dengan langkah tenang dan sorot mata penuh wibawa.

“Alhamdulillah, rawuh, Gus,” sambut beliau.

“Inggih, Yai.” Gus Hafiz menunduk takzim, mencium tangan keduanya.

Tak ada kecanggungan. Tak ada jarak. Hubungan dua keluarga kiai itu terasa akrab dan saling menghormati.

Beberapa menit kemudian, Anisa keluar dari ndalem, dengan tas kecil di tangannya.

Wajahnya teduh. Sederhana. Tapi cukup membuat napas Gus Hafiz terasa sedikit tertahan.

Ibu Nyai Fatimah bahkan ikut mengantar sampai ke depan halaman pondok.

“Dijaga baik-baik, Nduk suamumu,” pesannya lembut pada Anisa.

“Inggih, Bu Nyai.”

Pak Kiai memandang Gus Hafiz lebih dalam.

“Hafiz,” suaranya berat namun hangat, “rumah tangga itu bukan hanya soal cinta. Tapi juga soal sabar dan menjaga.”

“Inggih, Yai. Mohon doa.”

“Sing rukun. Sing eling. Sing tanggung jawab.”

Pesan itu jelas. Tegas. Sarat makna.

Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil. Pelan-pelan kendaraan itu meninggalkan halaman pondok.

Beberapa detik pertama hanya diisi keheningan. Hingga akhirnya, Gus Hafiz tak lagi mampu menahan diri.

Tangannya bergerak perlahan, meraih tangan Anisa yang sejak tadi bertaut rapi di atas pangkuannya.

Hangat, Nyata, bukan mimpi. Ia tak sekadar menggenggam. Tangan kirinya menyelinap ke sela-sela jemari Anisa. Mengunci sempurna.

Anisa terkejut. Ia langsung menoleh.

“Gus… lihat jalan”

Ia bisa merasakan tangan lelaki itu dingin seperti es. Bukan karena cuaca.Tapi karena gugup.

Gus Hafiz tersenyum tipis.

“Mas kangen.”

Tiga kata sederhana.Tapi cukup membuat dada Anisa serasa berhenti berdetak. Pipinya memanas. Jantungnya tak karuan.

“Gus… belum buka,” bisiknya pelan, mengingatkan dengan malu-malu. Takut kebablasan.

“Tahu…” jawabnya singkat.

Namun alih-alih melepaskan, ia justru menarik tangan Anisa lebih dekat. Ia kecup lembut punggung tangan itu.

Lama.

“Kamu nyiksa Mas selama sebulan.”

Keluhan itu lirih. Tapi terasa paling jujur. Anisa menahan senyum.

Wajah Gus Hafiz yang biasanya begitu berwibawa di mimbar, kini terlihat seperti lelaki biasa yang merajuk pada istrinya.

“Kalau nggak begini,” goda Anisa pelan, “aku nggak bisa lihat seorang Gus kangen istri.”

Gus Hafiz langsung menoleh.

Tanpa aba-aba, ia mencubit hidung mancung Anisa.

“Nakal.”

Tawanya renyah. Lepas. Jarang terdengar sehangat itu.

Untuk beberapa menit, dunia terasa hanya milik mereka berdua.

Hingga suara...

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Adzan magrib berkumandang.

Gus Hafiz segera menghela napas, menegakkan posisi duduknya.

Mobil dibelokkan ke halaman sebuah masjid di pinggir jalan.

“Buka dulu. Habis itu shalat,” ujarnya lebih tenang. Namun sebelum turun, ia kembali melirik Anisa.

Tatapannya lembut. Rindu itu belum lunas.

Dan malam masih panjang. Di antara status yang harus dirahasiakan, di antara jarak yang terus memisahkan, setidaknya senja itu memberi mereka sedikit ruang, untuk menjadi suami istri, tanpa beban dunia luar.

Usai salat magrib, perjalanan kembali dilanjutkan.

Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Mobil melaju membelah jalur pantura yang ramai namun terasa sunyi bagi dua hati yang sedang menikmati kebersamaan.

Beberapa jam kemudian, ketika papan penunjuk jalan bertuliskan Brebes, Gus Hafiz memperlambat laju mobil.

“Kita istirahat di sini dulu,” ujarnya pelan.

Anisa yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh.

“Gus… kita kok ke arah Jakarta? Kok ndak ke Ponorogo?”

Nada suaranya polos. Tidak menuduh. Hanya bingung. Gus Hafiz tersenyum kecil.

“Iya, kita pulang ke Jakarta. Sekalian Mas sowan sama Bapak, Ibu.”

Kalimat itu tidak sepenuhnya bohong.

Hanya… tidak seluruhnya jujur.

Anisa mengangguk pelan. Tak ada kecurigaan di wajahnya. Ia hanya berpikir mungkin memang itu rencana terbaik.

Mobil berhenti di depan sebuah penginapan yang bersih dan cukup tenang.

“Ayo turun. Kita istirahat di sini dulu. Ba’da Subuh kita lanjut perjalanan.”

“Inggih.”

Anisa selalu manut. Dan justru itu yang sering membuat dada Gus Hafiz terasa hangat.

Di meja resepsionis, petugas perempuan muda menatap mereka dengan senyum profesional.

“Boleh KTP dan surat nikahnya, Pak?”

Gus Hafiz mengangguk tenang. Ia mengeluarkan KTP dan selembar kertas bukti pernikahan mereka secara agama.

Petugas itu sempat menatap kertas tersebut lebih lama. Ada sedikit keraguan di matanya.

“Kenapa, Mbak?” tanya Gus Hafiz lembut namun tegas. “Bisa pakai surat keterangan nikah ini, kan?”

“Oh… bisa, Pak,” jawab resepsionis itu cepat, sedikit gugup. “Maaf, hanya memastikan saja.”

Tak lama, mereka diantar menuju kamar. Langkah kaki mereka terdengar pelan di lorong yang sepi.

Anisa masih terlihat biasa saja. Mungkin lelah. Mungkin tak menyangka apa pun.

Begitu pintu kamar tertutup,

klik.

Sunyi.

Baru saja Anisa hendak meletakkan tasnya, tiba-tiba lengannya ditarik pelan. Dan dalam satu gerakan cepat namun lembut Anisa sudah berada dalam pelukan Gus Hafiz.

Erat.

Hangat.

Tak ada basa-basi.

Tak ada kata pembuka.

Hanya pelukan yang dalam penuh cinta.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!