NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:54.2k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Kenyataan

Dingin malam semakin mencekam. Wanita Sepuh itu, membawa Anisa duduk. Perlahan Suara Mbok Yem, terdengar lirih.

“Ibu Sarah… tidak bisa punya anak.”

Dunia seperti berhenti, berputar. Anisa mendongak menatap Mbok Yem.

“Rahimnya diangkat… karena kanker rahim. Waktu itu masih awal pernikahan dengan Bapak. Sementara bapak sangat ingin keturunan. Terutama anak laki-laki… yang bisa meneruskan bisnis keluarga.”

Anisa menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.

“Tapi Ibu Sarah tidak mengizinkan Bapak menikah lagi. Beliau takut kehilangan. Takut tersaingi.”

Mbok Yem mengusap wajahnya yang basah.

“Jadi… tanpa sepengetahuan Ibu Sarah… Bapak menikah lagi. Diam-diam, di Jogja.”

“Dengan…?” suara Anisa hampir tak terdengar.

“Dengan Ibunya Mbak Nisa.”

Jantung Anisa seperti dihantam.

“Namanya Tantri,” lanjut Mbok Nah. “Perempuan sederhana. Bukan orang kaya. Bukan dari keluarga terpandang, ibu Mbak Nisa orang baik.”

Anisa memejamkan mata.

Air mata Anisa jatuh satu per satu.

“Rahasia itu tidak bertahan lama,” suara Mbok Yem semakin pelan. “Ibu Sarah akhirnya tahu kalau Bapak menikah lagi di Jogja. Ibu Sarah murka sekali...”

Tangan Anisa gemetar.

“Ibu Sarah mendatangi Ibu Tantri. Memaki… mempermalukan… bahkan memaksa…”

Mbok Nah terdiam sesaat, seperti sulit mengucapkan bagian berikutnya.

“Memaksa Ibu Tantri menggugurkan kandungannya.”

Napas Anisa tercekat.

“Tapi Ibu Mbak menolak. Beliau tidak mau mengaborsi. Katanya… itu darah dagingnya. Apa pun risikonya, ia akan mempertahankan.”

Air mata kini mengalir deras di pipi Anisa.

“Bapak waktu itu terjepit. Di satu sisi beliau ingin anak. Di sisi lain rumah tangganya terancam hancur.”

“Lalu?” suara Anisa bergetar hebat.

“Ibu Tantri tetap melahirkan. Mbak lahir dengan selamat. Waktu itu simbok yang ngurus ibu Tantri, tapi tekanan, stres, dan sakit yang dideritanya membuat kondisinya memburuk.”

Anisa memegangi dadanya.

“Beliau meninggal tidak lama setelah Mbak lahir.”

Sunyi.

Hanya suara napas Anisa yang terisak.

“Bapak membawa Mbak pulang. Ibu Sarah… akhirnya menerima Mbak. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa…?” bisik Anisa.

“Tidak boleh ada yang tahu bahwa Mbak bukan anak kandungnya. Semua harus percaya Mbak adalah anaknya. Termasuk Mbak sendiri.”

Anisa tertawa lirih. Tawa yang patah.

“Jadi selama ini… aku hidup di atas kebohongan.”

“Bukan kebohongan, Mbak…” Mbok Nah meraih tangannya. “Itu cara mereka melindungi Mbak.”

“Melindungi?” suara Anisa meninggi. “Ibuku dipaksa aborsi. Dinikahi diam-diam. Disembunyikan. Dan dihakimi, apa itu disebut perlindungan?”

Mbok Nah menangis.

“Mbak… Bapak tetap menyayangi Mbak. Alhamdulillah Allah memberi beliau anak secantik dan sebaik, Mbak Nisa. Dan sejak Mbak lahir… beliau tidak pernah membedakan.”

Kalimat itu justru semakin membuat dada Anisa sesak. Ia bukan anak yang direncanakan dengan bangga.

Ia lahir dari pernikahan rahasia. Dari perempuan yang dianggap aib.

Anisa berdiri perlahan.

“Jadi benar… ibuku seorang LC di tempat hiburan malam.”

Mbok Nah mengangguk pelan.

“Tapi beliau bukan perempuan yang seperti orang pikiran, Mbak. Keadaannya yang memaksa.”

Air mata Anisa tak berhenti.

Di kepalanya terngiang lagi suara Gus Hafiz.

Mas ingin istri yang jelas keluarganya menjaga kehormatan…

Langkah Anisa terasa goyah.

Rahasia itu kini utuh di tangannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa patah.

Anisa masih terisak. Bahunya naik turun, napasnya tersendat.

“Jadi… itu alasannya Mbok, Mama bersikap dingin sama Nisa...?”

Mbok Yem menunduk pelan. Mengelus bahu Anisa.

“Ibu Sarah… masih tidak bisa menerima pengkhianatan Bapak, tiap kali lihat Mbak Nisa Ibu terus teringat penghianatan Bapa. Sampai sekarang pun mungkin belum bisa berbagai pada rasa kecewanya.”

Anisa tersenyum tipis. Senyum yang pahit.

“Jadi, karena rasa bersalah, Papa ke Mama Sarah, Papa jadi selalu menuruti apa yang Mama mau… begitu kan, Mbok?”

“Iya, Mbak.” Suara Mbok Yem lirih. “Bapak merasa bersalah. Jadi apa pun yang Ibu Sarah minta, beliau turuti.”

Anisa tertawa kecil, tapi tidak ada bahagia di sana.

“Termasuk kepergian Papa ke Paris? dan termasuk menjauhi Nisa, Mok...”

Mbok Yem terdiam.

“Mama yang minta Papa menetap lama di sana, kan?”

Sunyi.

“Dan Mama yang bersikeras memondokkan aku sejak kecil. Bukan karena pendidikan. Tapi karena… Mama tidak mau ada aku di rumah ini.”

Air mata Anisa jatuh lagi, tapi kali ini ia tidak menyekanya.

Mbok Yem menatapnya penuh iba. Diamnya adalah jawaban.

Semua yang Anisa katakan… benar.

Sarah yang ingin menjauhkan Anisa dari Pak Fadillah. Ia tak sudi cinta suaminya dibagi dengan anak selingkuhannya.

Ia tidak ingin suaminya terlalu menyayangi Anisa. Tidak ingin perhatian Pak Fadillah lebih banyak tertuju pada Anisa daripada pada dirinya.

Cemburu.

Bukan pada perempuan lain.

Tapi pada seorang anak. Dan itu cara paling kejam Sarah membalas dendam.

“Jadi…” suara Anisa melemah. “Semua ini karena keegoisan Mama Sarah.”

Ia menunduk. Dadanya terasa seperti diremas.

“Pantas saja Allah ambil nikmatnya sebagai seorang wanita…” lirihnya getir. “Rahimnya diangkat… ternyata hatinya lebih busuk dari bangkai…”

“Mbakk!” Mbok Yem langsung memegang tangan Anisa. “Jangan berkata begitu. Dosa, Mbak.”

Anisa terdiam. Air matanya mengalir tanpa suara.

Pedih.

Ternyata selama ini ia bukan anak yang kurang beruntung.

Ia hanya anak yang tidak diinginkan oleh satu hati yang tak pernah benar-benar menerimanya.

Semua jarak.

Semua sikap dingin.

Semua tatapan berbeda.

Kini masuk akal.

“Berarti… Mama tidak pernah benar-benar menganggap aku anaknya.”

Mbok Yem menggeleng pelan.

“Ibu Sarah menerima Mbak… tapi tidak pernah selesai dengan lukanya sendiri. Itu yang membuat beliau keras.”

Anisa menghapus air matanya dengan kasar.

“Dan aku jadi tumbal dari luka itu.”

Hening.

Di lantai atas, suaminya tidur tenang. Tidak tahu bahwa dunia istrinya baru saja berubah bentuk.

Anisa menarik napas panjang.

“Papa tahu Mama bersikap seperti itu padaku kan Mbok?”

Mbok Yem mengangguk.

“Bapak tahu… tapi beliau memilih diam. Demi menjaga rumah tangga.”

Anisa tersenyum pahit lagi.

“Rumah tangga yang dijaga… dengan mengorbankan anaknya sendiri.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Malam terasa semakin berat.

Anisa berdiri perlahan. Wajahnya basah, tapi sorot matanya kini berbeda, bukan hanya luka, tapi juga kesadaran yang menyakitkan.

“Terima kasih, Mbok.”

“Mbak…”

Anisa berbalik.

“Sekarang Nisa tahu kenapa Mama selalu terlihat seperti melihat aib setiap memandangku.”

"Mbak... Nisa... maafkan simbok..."

Sisa menggeleng. "Ini bukan salah Mbok, Yem."

Langkahnya terasa berat menuju tangga.

Setiap anak tangga seperti menekan satu kenyataan baru dalam dadanya,

Di depan pintu kamar, ia berhenti.

Gus Hafiz tidur dengan wajah tenang.

Anisa menatapnya lama.

“Kalau kamu tahu semuanya… apa kamu masih akan memelukku seperti tadi, Gus...?” bisiknya dalam hati.

Ia masuk pelan, berbaring tanpa menyentuh suaminya. Ia merasa bukan hanya jauh dari ibunya.

Tapi juga takut… akan kehilangan satu-satunya pelukan yang membuatnya merasa berharga.

1
Hagia Sophia
biarkan nisa pergi Thor, biarkan dia sukses Thor, biarkan smw org tau cerita yg sebenarnya tentang ibunya, agar mereka merasakan penyesalan yg teramat besar.. tiap baca bab nisa Q selalu nangis, sakittt bgttt😭😭😭😭
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….air mataku terlanjur jatuh ini….😭😭😭
Marini Suhendar
Sakit jd Nisa..d abaikan keluarga tambah lagi dr ibu mertua..lbh baik pergi aj nisa
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karya nya bagus
Yang terakhir Terakhir
karna ibu itu istimewa makanya mama Sarah iri dan cemburu hati Krn dia TDK bsa sprti ibu mu
Isa Istikomah
lanjut kak
Marini Suhendar
karena ibu mu sangat berperilaku istimewa yg tdk d miliki mma sarah miliki
Eem Suhaemi
karena Nisa mirip banget ibunya bkn...??
Sartini 02
lanjut kak 🤭😄😍
Sartini 02
lanjut kak jangan bikin penasaran 🤭🙏
tri ayu
lama2 jengkel sama nyai laila
Elen Gunarti
keburu tuir Bru bisa bersatu😄😄
Marini Suhendar
Bukan Mau Melawan Seorang Ibu .Tp Itu Kewajiban dan Tanggung jwab Seorang Suami kpd Istrinya
Fitra Sari
lanjut lagi kk
Elen Gunarti
prok2
🤍 rishayu 🤍
Lanjut thor….💪🏻💪🏻
Dewi saroh Qurotuaini
umi lalila itu terlalu egois , aw aja bacanya sampai gregetan , padahal nisa itu dah baik nurut pintar juga , ayo kakk lanjut ceritanya bagus sekali , semangatttt
Lilis Yuanita
umimu itu crewet gus🤣🤣
Marini Suhendar
Umi..Nisa G minta D lahirkan Oleh Seorang LC tapi Itu Kehendak Allah..Klo Nisa G Baik kelakuannya baru Umi Tolak..Toh Nisa Anak Baik..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!