Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama tidak cinta : 03
‘Bukan cuma kamu saja yang mungkin tidak bisa memberikan cinta, akupun sama,’ batinnya berbisik, lalu Saniya memandangi bagaimana interaksi kedua orang tuanya bersama ayah dan ibunya Yarash.
“Asal mas Yarash Wilman bisa berpura-pura menerimaku di depan anak-anak, dan kita dapat bekerja sama demi mewujudkan gambaran keluarga harmonis, yang mungkin menjadi salah satu alasan penting pertimbangan kamu menerima perjodohan ini, saya bersedia Mas nikahi,” ungkap Saniya, tutur katanya tak menunjukkan emosi apapun.
Yaras terdiam, duduknya menyamping berhadapan dengan Saniya, tetapi tatapan mata memandangi air terjatuh dari ketinggian tembok disulap menyerupai tebing air terjun.
“Tebakanmu benar. Saya sedang mengusahakan memberi keluarga utuh di hunian yang ditinggali dua anak haus kasih Ibu. Terlebih Ardan, dia mulai kritis membandingkan kehidupannya dengan karakter kartun sering ditontonnya.”
“Ardan, sepertinya dia tipikal anak yang suka menjadikan satu kata beranak pinak sampai banyak,” canda Saniya. Enggan bertanya lebih jauh tentang peran ibu kandung kedua anaknya Yarash.
“Saya akui iya. Nanti kamu pasti sering pusing dibuatnya. Jika jawaban tidak memuaskan rasa ingin tahunya, bersiaplah diteror sampai rasanya mau menyerah,” suara Yarash berubah ramah dengan sorot mata menghangat.
‘Dia sosok Ayah yang baik, mengenal baik kepribadian buah hatinya.’ Saniya melirik pria masih melihat kolam ikan koi.
“Kalau boleh tau, berapa umur kamu, Mas?” Kembali Saniya memalingkan muka, memperhatikan sang ibu merangkul lengan Fauzia.
Tidak ada perubahan pada raut wajah berhidung mancung, seolah tangki cintanya sudah dipenuhi keluarga Hadi. Saniya sangat pintar menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati.
“Jalan 35 tahun,” jawaban pria tersebut langsung membuat sang wanita menatapnya.
Saniya tidak sadar memandang sedikit lama pada wajah beralis tebal, rahang dihiasi bulu-bulu halus sepertinya belum sempat dicukur, bola mata dalam dinaungi bulu mata pendek, dan hidung dengan tulang lurus tinggi, ketika tatapan hendak turun ke bibir, cepat-cepat dia menoleh ke depan.
‘Masih sangat muda, terus umur berapa dia menikah?’ batinnya bertanya, tetapi mulut enggan menyuarakan.
Sesudahnya mereka kembali diam, tak pula saling memandang.
“Sebaiknya kita kembali bergabung dengan para orang tua,” ucap Yarash memecah kebisuan.
“Ya.” Saniya menekan sandaran kursi besi sebagai penopang tubuhnya hendak berdiri. Dia tidak bertanya tentang kelanjutan perjodohan ini, terpenting sudah mengatakan secara gamblang perihal batasan serta keinginan.
Dalam diam sang pria memperhatikan bagaimana wanita baru saja ditemui, dikenalnya terlihat sangat mandiri. ‘Dia bukan tipikal seseorang yang suka menonjolkan kekurangan demi menarik simpati.’
Yarash berjalan dibelakang wanita yang tingginya hanya sepundaknya saja. Lagi-lagi batinnya terkagum-kagum menyaksikan bagaimana Saniya pintar membawa diri.
‘Keluarganya sangat harmonis. Kedua orang tuanya juga menyayangi dia. Pantas saja dirinya memiliki kepercayaan diri patut diacungi jempol, sebab tangki cintanya dipenuhi, tak kekurangan kasih sayang,’ sambil menyaksikan interaksi seorang ibu merangkul pundak kedua putrinya, Yarash pun menyimpulkan dalam hati.
“Lantas, bagaimana dengan amanah mending Opa, Yarash? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya serius papa Darius.
Yarash yang duduk di sofa tunggal, melirik ke wanita menunggu jawabannya dengan gestur tubuh formal. “Saya menerimanya.”
Mama Fitria gantian mengajukan pertanyaan ke calon menantunya. “Kalau Saniya, setuju tidak?”
Ia melembutkan pancaran matanya, menatap sopan, lalu berkata dengan intonasi terjaga. “Tergantung Om dan Tante, bisa tidak menerima kekurangan saya ini.”
Tangan kiri Saniya mendorong kaki palsu kanan, tubuhnya sedikit membungkuk. Ujung gaun ditarik sampai batas lutut.
“Saya hanya memiliki satu kaki, tetapi bukan berarti tak bisa beraktivitas normal meski tidak secepat orang pada umumnya. Jika Om dan Tante dapat menerima satu kekurangan dibalik banyak kelebihan, saya bersedia menikah dengan mas Yarash Wilman.”
Mama Fitria menoleh ke suaminya yang kebetulan menatapnya. Mereka sama-sama memandangi kaki memakai stocking warna kulit, lalu tatapan mata naik sampai pada wajah tersenyum ramah.
“Kami bisa menerimanya,” jawab mantap pria memakai kemeja batik motif garis geometris.
Mama Fitria mengangguk yakin, setuju dengan keputusan suaminya.
“Terima kasih.” Saniya menurunkan lagi dressnya, lalu menarik kaki kanan agar merapat ke sebelahnya.
“Kamu ingin pesta pernikahan seperti apa, Saniya?” untuk pertama kalinya Yarash memanggil nama sang calon istri.
“Cukup akad dihadiri saksi, wali nikah, petugas kua, dan pak penghulu,” tuturnya pelan.
Jawaban spontanitas tersebut mengejutkan Yarash dan kedua orangtuanya.
“Saniya yakin, Nak? Ini pernikahan pertamamu. Jangan sungkan-sungkan jika menginginkan pesta seperti dalam angan,” mama Fitria menawarkan, memberikan wewenang teruntuk calon menantunya.
“Saya tetap menginginkan pernikahan sederhana. Yang terpenting sah dihadapan Tuhan, serta diakui negara,” pendiriannya tak goyah, tidak pula tergiur oleh tawaran boleh memilih sesuka hati.
Di sebelahnya, tepat pada bagian tengah sofa, terlihat raut puas pada wajah mama Amira.
Fauzia Serla pun demikian, menyambut senang pilihan bodoh sang kakak. ‘Baguslah kamu tau diri, Mbak.’
“Berapa mahar yang kamu inginkan?” Yarash menghormati, dan pada akhirnya setuju dengan keputusan Saniya.
“Sebaik-baiknya mahar yang tidak memberatkan mas Yarash, namun tidak pula merendahkan saya,” jawabannya sekali lagi menggetarkan rasa kagum calon keluarga barunya.
Papa Gustav ikut bersuara setelah lama terdiam, dia ingin protes karena putrinya terlihat sangat pasrah, namun sepasang mata menatap tajam dari sang istri mengurungkan niatnya.
“Kami selaku orang tuanya Saniya, memasrahkan pilihan kepadanya, karena yang nantinya menjalani biduk rumah tangga adalah dia,” hatinya menolak kalimat baru saja terlontar.
Keputusan pun sudah diambil. Tanggal pernikahan ditentukan seberapa cepat pengurusan berkas kedua calon pengantin.
Kemudian para tamu dipersilahkan ke ruang makan, menyantap makan malam bersama keluarga Hadi.
Selama makan malam, Saniya lebih banyak diam. Dia bersuara apabila ditanya, selebihnya menjadi pendengar.
Setelah makan malam, lalu dilanjutkan dengan bercengkrama sebentar, tepat pukul sembilan malam, keluarga Wilman pamit pulang dengan diantar keluarga Hadi sampai teras.
Begitu mobil Alphard hitam keluar dari hunian berhalaman tidak cukup luas, suasana hangat pun ikut pergi, tergantikan kesunyian yang sudah menemani hidup Saniya sedari umurnya 8 tahun.
“Saniya gapapa, Pa.” Dia tepuk sebentar lengan ayahnya yang merangkul pundak.
Mama Amira merangkul pinggang putri bungsunya, mereka berjalan di depan.
“Aku ke kamar dulu ya, Pa? Sudah ngantuk,” dustanya. Memilih menghindar daripada merusak suasana hati ibunya yang pada malam ini sangat ceria.
Gustav Hadi menatap nanar punggung Saniya yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
“Maafkan Papa sering membuatmu kecewa, Saniya,” ia bergumam seraya menyeka sudut mata berair.
Mulai malam ini, Saniya mencicil mengemas barang pribadinya ke dalam koper.
***
Enam hari telah berlalu, sampai dimana waktu detik-detik ijab kabul akan dilangsungkan pada ruang santai hunian keluarga Hadi.
Sang pengantin wanita duduk tenang di sebelah calon imamnya. Tak tampak gestur gugup, pelupuk mata berair.
Tangan kanan dijabat pak penghulu diayunkan, dalam satu tarikan napas, Yarash Wilman berhasil melantangkan kabul.
“Sah!”
“Sah!”
“Sah!”
Momen sakral itu direkam, lalu videonya dikirim ke nomor pria yang sedang berada di negeri seberang.
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...