Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL15. Sama Kerasnya
Begitu tiba di apartemen, Qiera langsung memintanya duduk di sofa. Ia meletakkan tas berisi obat-obatan di meja, menyiapkan air minum, kemudian mengambil bantal tambahan untuk menopang posisi duduk Ravi. Setelah memastikan semuanya cukup nyaman, ia berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang.
“Mulai sekarang, Mas tidak boleh bekerja dulu.”
Ravi menatapnya. “Saya cuma perlu memeriksa beberapa dokumen.”
“Tidak boleh.”
“Email dari kampus juga harus saya balas.”
“Tidak boleh.”
“Lily, saya masih bisa berpikir.”
“Bagus. Berarti Mas bisa berpikir tentang cara beristirahat.”
Ravi mengembuskan napas, kemudian mencoba mengulurkan tangan ke arah tas kerjanya yang diletakkan di dekat sofa. Namun, Qiera bergerak lebih cepat. Ia mengambil tas itu, mengeluarkan laptop Ravi, lalu berjalan menjauh sebelum pria itu sempat mencegahnya.
“Syaqiera.”
“Ya, Mas?”
“Kembalikan laptop saya.”
“Tidak mau.”
Ravi menatapnya seolah tidak yakin baru saja mendengar jawaban itu. “Kamu menyita laptop saya?”
“Iya. Untuk sementara. Sampai mas benar-benar sembuh.”
“Lily, saya punya pekerjaan.”
“Dan Mas punya luka di punggung.”
“Yang terluka punggung saya, bukan tangan dan kaki.”
Qiera berhenti di tempat. Ia menoleh perlahan, menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ravi masih terlihat tenang, bahkan sempat mengangkat alis seolah kalimatnya barusan merupakan argumen paling masuk akal di dunia.
Sayangnya, ia lupa bahwa istrinya adalah mahasiswi hukum yang tidak akan menyerah hanya karena lawan debatnya seorang dosen.
“Mas memang sengaja membuatku kesal, ya?”
“Saya hanya menyampaikan fakta.”
“Fakta juga bisa menunggu sampai Mas sembuh!”
Ravi mengulurkan tangannya. “Laptopnya, Lily.”
Qiera malah memeluk laptop itu di depan dada. “Tidak akan kukembalikan sebelum Mas janji tidak bekerja.”
“Kalau saya tidak janji?”
“Berarti laptopnya akan aku sembunyikan.”
“Di mana?”
“Rahasia.”
“Syaqiera.”
“Mas Ravi.”
Mereka saling menatap selama beberapa detik. Ravi akhirnya menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa, lalu menggeleng sambil tertawa kecil. “Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana kamu bisa begitu galak kepada orang yang sedang terluka.”
“Karena orang yang sedang terluka itu tidak mau menurut!”
“Saya bisa merawat diri sendiri.”
“Kalau bisa, kemarin Mas tidak akan membuatku hampir pingsan melihat darah di kemeja Mas!”
Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum Qiera sempat menahannya. Senyumnya menghilang, begitu pula nada kesalnya. Ia menunduk, jemarinya perlahan mengencang pada sisi laptop.
Bayangan di depan gedung fakultas kembali muncul di kepalanya, lengkap dengan kemeja putih yang berubah merah dan wajah Ravi yang memucat ketika berusaha memastikan dirinya selamat.
Ravi pun tidak lagi tersenyum. Ia memahami bahwa di balik semua omelan itu, Qiera masih menyimpan ketakutan yang belum selesai. Ia mengulurkan tangan, lalu berhenti sejenak agar Qiera bisa mendekat tanpa perlu membungkuk terlalu jauh.
“Lily,” panggilnya lembut. “Saya baik-baik saja sekarang.”
Qiera mengangkat wajah. “Mas tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang yang...” Ia terdiam, kebingungan mencari kata yang tepat. “Pokoknya, jangan lakukan itu lagi.”
Ravi menatapnya beberapa saat. “Kalau situasinya terulang dan kamu berada dalam bahaya, saya tidak bisa berjanji akan diam saja.”
“Mas!”
“Saya akan berusaha lebih berhati-hati. Itu yang bisa saya janjikan.”
Qiera ingin membantah, tetapi akhirnya hanya mengembuskan napas panjang. Ia meletakkan laptop di meja yang jauh dari jangkauan Ravi, lalu duduk di sampingnya dengan hati-hati.
Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara. Ravi membiarkan keheningan itu menemani mereka, sampai Qiera kembali menatapnya dengan wajah serius.
“Pokoknya, selama Mas belum sembuh, aku yang mengurus semuanya. Mas tinggal duduk, makan, minum obat, dan istirahat.”
“Kalau saya ingin ambil air minum?”
“Panggil aku.”
“Kalau ingin ambil buku?”
“Panggil aku.”
“Kalau ingin ambil ponsel?”
“Panggil aku.”
Ravi mengangguk pelan, lalu bertanya dengan wajah polos, “Kalau saya ingin ke kamar mandi?”
"Panggil a-" Qiera terdiam. Sejenak ia harus mencerna pertanyaan itu, seolah pertanyaan tersebut datang dari dosen, bukan suaminya.
Ravi menunggu dengan sabar, sementara sudut bibirnya mulai terangkat. “Saya harus memanggil kamu juga?”
“Mas Ravi!”
Tawa Ravi pecah, membuat Qiera semakin kesal. Ia memukul pelan bantal sofa di sampingnya, lalu berdiri sambil menggerutu bahwa suaminya benar-benar tidak tahu cara bersikap sebagai pasien yang baik. Namun, baru dua langkah ia berjalan, suara Ravi kembali terdengar.
“Lily, saya hanya bercanda. Jangan marah.”
“Aku tidak marah!”
“Baik. Berarti kamu tidak keberatan duduk di sini menemani saya.”
Qiera berbalik. “Aku memang akan duduk di sini!”
“Bagus.”
“Dan aku juga akan memastikan Mas tidak menyentuh laptop itu!”
“Baik, Bu Dokter.”
Qiera membuka mulut untuk membalas, tetapi kata-katanya justru tersangkut ketika Ravi tersenyum kepadanya. Senyum yang tidak mengejek, tidak menyebalkan, hanya hangat dan penuh rasa terima kasih.
Seketika, semua kalimat protes yang sudah disiapkannya menghilang entah ke mana. Ia kembali duduk di samping Ravi, kali ini lebih dekat. Tangannya meraih tangan pria itu dan menggenggamnya pelan.
“Mas harus cepat sembuh,” bisiknya. “Aku nggak mau lihat Mas terluka lagi.”
Ravi membalas genggamannya dengan lembut. “Saya akan berusaha.”
Qiera menunduk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Satu lagi. Mas nggak boleh membuatku khawatir seperti ini lagi. Kalau Mas tetap ngeyel dan tidak mau istirahat, aku bisa benar-benar stres!”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Entahlah!” Qiera mengangkat wajah, kesal karena Ravi masih sempat bertanya dengan nada santai. “Memangnya Mas tega melihat aku jadi janda perawan!”
Hening.
Qiera membeku begitu menyadari kalimat apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Matanya membesar, sementara wajahnya perlahan memerah sampai ke telinga. Ia segera melepaskan tangan Ravi dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
BODOHNYA QIE!
“ENGGAK! Aku ngga bermaksud— Mas, lupakan! Anggap saja aku nggak bilang apa-apa!”
Namun, Ravi sudah terlanjur tertawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa lepas yang membuat bahunya bergerak sedikit sebelum ia buru-buru menahan diri karena nyeri lukanya. Ia bahkan harus menarik napas beberapa kali untuk meredakan tawanya.
“Lily,” katanya di sela tawa, “saya baru tahu kamu sudah memikirkan sejauh itu.”
“Mas! Jangan dibahas!”
“Jadi, kamu khawatir saya tidak sembuh dan kamu akan menjadi janda perawan?”
“AKU BILANG JANGAN DIBAHAS!!”
Ravi kembali tertawa, tetapi kali ini ia segera menutup mulut ketika Qiera menatapnya tajam. Perempuan itu masih menutupi sebagian wajahnya, terlalu malu untuk menatap suaminya sendiri. Beberapa detik kemudian, Ravi mengulurkan tangan dan menyentuh pelan jemarinya.
“Maaf, Lily. Saya akan berhenti tertawa.”
Qiera mengintip dari sela jarinya. “Janji?”
“Janji.”
“Dan Mas akan istirahat?”
Ravi mengangguk. “Saya akan istirahat.”
“Tidak menyentuh laptop?”
“Tidak menyentuh laptop.”
Qiera menurunkan tangannya perlahan, lalu menatap Ravi dengan curiga. “Mas serius?”
“Sangat serius.”
Ia baru saja hendak tersenyum lega ketika Ravi menambahkan dengan wajah tenang, “Tapi kalau kamu tidak segera masak makan malam dan saya tidak bisa minum obat, mungkin kamu benar-benar bisa jadi janda perawan.”
Qiera ternganga.
Lagi, Ravi masih meledeknya.
"MAS RAVI!"
Ravi tersenyum kecil, lalu tertawa lagi ketika perempuan itu buru-buru berdiri sambil mengomel meskipun langkahnya tetap menuju dapur.
Kali ini, Qiera tidak benar-benar kesal. Ia berjalan menuju dapur dengan pipi yang masih merah, sementara Ravi memperhatikannya dari sofa. Di balik semua candaan dan perdebatan kecil mereka, ada sesuatu yang terasa berbeda di antara keduanya.
Qiera tidak lagi sekadar menjalankan kewajiban sebagai istri karena pernikahan yang datang terlalu cepat. Ia memilih untuk tetap tinggal, merawat Ravi, dan memastikan pria itu tidak menghadapi masa pemulihan sendirian.
Sementara itu, Ravi menyadari bahwa rumah yang biasanya terasa tenang kini dipenuhi suara omelan, langkah kaki, dan ancaman penyitaan laptop yang entah sampai kapan akan berlaku. Aneh sekali, tetapi ia tidak keberatan dengan semua itu.
Ketika Qiera kembali membawa semangkuk sup hangat, Ravi menerimanya dengan senyum lembut. Perempuan itu duduk di sampingnya, mengingatkan agar ia makan perlahan, lalu membenarkan bantal di belakang punggungnya.
“Kalau sakit, bilang, ya, Mas,” ucapnya.
Ravi menatap wajah Qiera yang masih menyimpan sisa kecemasan. “Iya, Lily.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di kampus, Qiera merasa napasnya sedikit lebih lega. Ravi ada di sampingnya, masih bisa tersenyum, masih bisa menggodanya, dan masih bisa membuatnya kesal dengan cara yang sama seperti biasanya.
...🌃🌃...
Malam itu, laptop Ravi tetap disita, pekerjaan kampus terpaksa menunggu, dan Qiera bersikeras bahwa suaminya tidak boleh melakukan apa pun selain beristirahat.
Ravi mungkin tidak sepenuhnya setuju, tetapi ketika Qiera menyandarkan kepala sebentar di bahunya, berhati-hati agar tidak menyentuh bagian yang terluka, ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya membiarkan tangan mereka tetap saling menggenggam.
Untuk saat ini, Ravi tidak membutuhkan laptop, tumpukan dokumen, ataupun kesibukan kampus. Ia hanya ingin menikmati kehangatan sederhana itu, sementara Qiera perlahan belajar bahwa merawat seseorang bukan berarti ia harus menyembunyikan rasa takutnya.
Dan di antara omelan yang belum selesai serta senyum yang tak lagi berusaha disembunyikan, tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka terasa sedikit lebih dekat daripada kemarin.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊