"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pandangan Zeyad masih terpaku pada sudut belokan lorong tempat Naya baru saja melangkah pergi. Bayangan helai pashmina yang berkibar pelan tertimpa angin sore itu seolah meninggalkan jejak ketenangan tersendiri di matanya. Ada dorongan halus di dalam dada yang membuatnya enggan buru-buru beranjak dari tempatnya berdiri.
Bagi Zeyad, kehadiran Naya di kampus ini bak embun pagi di tengah gersangnya tatanan bisnis yang rutin ia jalani. Wanita itu tidak memancarkan kesan ingin menonjolkan diri, tetapi kapasitas berpikir dan keteguhan sikapnya begitu nyata, memikat secara elegan tanpa perlu bersuara nyaring.
Getaran samar di dalam saku celananya memecah lamunan tersebut.
Zeyad merogoh ponselnya. Begitu nama yang tertera di layar menyala, garis-garis halus di sekitar matanya melunak. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya sewaktu tombol hijau ia geser ke kanan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," sapa Zeyad hangat sebelum suara di seberang sempat mengulang panggilan. "Alhamdulillah, kabar baik, Gus. Bagaimana jenengan di sana?"
Suara dari seberang sambungan mengalun rendah, terkesan agak serak dan menyimpan kelelahan yang terselubung. "Alhamdulillah, sehat, Mir. Cuma agak sedikit luang saja sore ini, jadi menyempatkan menghubungi."
"Tumben sekali telepon," seloroh Zeyad seraya memutar tubuh dan berjalan pelan menuju deretan kursi kayu di bawah naungan pohon kanopi taman. Langkahnya santai, menikmati riak angin sore Dubai. "Masih di pesantren kan? Atau sedang ada agenda di luar kota?"
"Masih di ndalem," sahut pria itu pelan. Ada jeda sejenak, suara hela napas panjang terdengar samar memecah kesenyapan antarkota. "Kamu sendiri posisi masih di Dubai, Mir?"
"Masih. Kapan lagi mau main ke sini?" Zeyad tertawa renyah, suaranya terdengar renyah dan bersahabat. "Luangkan waktu sepekan atau dua pekan. Nanti aku yang atur seluruh penginapan dan agenda jalannya. Lagipula... dengar-dengar kemarin kamu sudah menikah, ya? Maaf sekali waktu itu jadwal pembukaan cabang galeri wewangian di Jeddah berbenturan keras, jadi tidak sempat terbang ke Jawa."
Keheningan mendadak menggantung di seberang telepon. Jeda itu terlalu lama untuk sekadar jawaban atas pertanyaan ringan.
"Kami sudah berpisah, Mir," ucap suara di seberang sana, sangat pelan namun berbobot begitu berat.
Zeyad menghentikan langkahnya tepat di dekat bangku taman. Alisnya bertaut. "Berpisah? Maksudmu..."
"Iya. Kami sudah tidak bersama lagi." Tawa hambar yang getir terdengar dari saluran telepon. "Aku... membuat kebodohan yang sangat fatal. Aku menyakiti hatinya sampai dia tidak mau lagi melihat wajahku."
Raut wajah Zeyad berubah serius. Rasa terkejut jelas terpancar dari tatapan matanya, meski ia tetap menjaga nada bicaranya agar tidak mengintimidasi sahabat lamanya itu.
"Gus... bagaimana bisa? Kamu baru setahun menikah, kan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku terjebak dalam persepsiku sendiri," pria di seberang bercerita dengan nada suara yang bergetar menahan luapan rasa bersalah. "Aku mengira apa yang kukerjakan adalah bentuk kebaikan, sebuah pertolongan... tapi nyatanya itu hanya bentuk kesombongan dan ego diri."
Belum sempat Zeyad merespons kalimat tersebut, samar-samar di balik sambungan telepon terdengar derit pintu dibuka. Suara ketukan pelan menyusul, diselingi bisikan wanita yang terdengar lembut namun sarat akan nada memohon dari latar belakang tempat pria itu berada.
"Gus... dimohon makan malamnya sudah disiapkan oleh Umi di bawah..."
Suara itu sangat tipis, tetapi cukup jelas untuk ditangkap oleh indra pendengaran Zeyad yang tajam.
Zeyad memiringkan ponselnya sedikit, mengernyit. "Suara siapa itu, Gus? Katanya kamu sudah berpisah?"
Di seberang sana, pria itu terdengar menghela napas yang jauh lebih berat dari sebelumnya, disertai benturan halus seperti dahi yang ditumpukan ke permukaan meja.
"Itulah letak kebodohanku, Mir..." sahutnya lirih, suaranya nyaris menyerupai bisikan tercekik. "Aku... aku melakukan kesalahan paling besar dalam hidupku. Aku menolong seorang perempuan dengan cara menikahi siri dirinya secara diam-diam, tanpa memikirkan perasaan istri sahku. Dan begitu istriku mengetahui semuanya... dia tidak menangis histeris. Dia hanya menatapku dengan dingin, membawa bukti-bukti itu ke hadapan orang tuaku, lalu menuntut cerai."
Zeyad tertegun di tempatnya berdiri. Senyum ramah yang tadinya menghiasi wajah tampannya kini benar-benar sirna, berganti raut ketidakpercayaan yang pekat. Sebagai pria yang dibesarkan dengan menjunjung tinggi prinsip menghargai wanita, perbuatan sahabatnya itu terasa begitu menghentakkan dada.
"Kamu... melakukan hal sejauh itu?" tanya Zeyad, suaranya menurun satu oktaf, menjadi sangat dalam dan tegap.
"Aku sangat menyesal, Mir. Sungguh," pengakuan itu meluncur runtuh tanpa sisa kebanggaan. "Begitu dia mengemas barang-barangnya dan melangkah keluar dari ndalem, rumah ini mendadak berubah jadi neraka buatku. Aku baru sadar... wanita yang kukira penurut dan tak banyak menuntut itu adalah satu-satunya alasan kenapa hidupku terasa tenang. Sekarang dia sudah pergi jauh, memutus seluruh akses dariku. Kesalahanku terlalu fatal, dan aku tahu... beribu kata maaf pun tidak akan pernah cukup untuk memulihkan lukanya."
Zeyad menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan keterkejutan di kepalanya. Bagaimanapun, pria di seberang sana adalah temannya. Namun, rasa keadilan di dalam dirinya tak bisa membenarkan tindakan tersebut.
"Gus," panggil Zeyad dengan nada tenang, manusiawi, namun tetap berjarak secara prinsip. "Perempuan yang terluka di titik paling dalam atas pengkhianatan tidak akan bisa disembuhkan dengan desakan maaf yang bertubi-tubi. Jika dia memilih pergi, itu artinya dia sedang menyelamatkan sisa harga dirinya yang tersisa."
"Lalu aku harus bagaimana, Mir? Dada rasanya sesak tiap kali melihat kamar kami yang kosong..."
"Beri dia ruang dan waktu," sahut Zeyad bijak. "Jangan paksa hadirmu kalau itu cuma menambah lukanya. Biarkan dia menata hatinya kembali sampai suasana benar-benar membaik. Jika suatu hari nanti takdir masih memberi jalan untuk bertemu, mintalah maaf tanpa menuntut dia untuk kembali padamu. Itu bentuk penghormatan paling minim yang bisa kamu berikan saat ini."
Senyap kembali melingkupi sambungan seluler itu selama beberapa detik.
"Terima kasih masukannya, Emir," tutur pria itu akhirnya, suaranya terdengar pasrah dan layu. "Nanti... kalau ada waktu luang dan takdir mengizinkan, aku ingin berkunjung ke Dubai. Aku butuh ketenangan di luar kompleks ini."
"Pintu rumahku selalu terbuka kalau kamu datang dengan niat menenangkan diri," balas Zeyad santun. "Kapan pun kamu siap."
"Terima kasih, Mir. Assalamu’alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
Panggilan terputus. Layar ponsel Zeyad meredup, menyisakan bayangan wajahnya sendiri di permukaan kaca yang gelap. Ia merenungkan perbincangan tadi sejenak. Ada rasa iba sekaligus penyesalan atas jalan hidup yang dipilih sahabatnya, namun ia sadar betul bahwa setiap keputusan dewasa selalu berbanding lurus dengan konsekuensi yang harus ditanggung.
Zeyad memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja. Ia berbalik melangkah menuju pelataran parkir area VIP kampus, di mana sedan hitam miliknya sudah terparkir rapi.
***
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai