Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 4 - Nafas Dunia Lain
Bab 4: Nafas Dunia Lain
Lembah hijau itu perlunya tertinggal di belakang, digantikan oleh hutan purba yang pepohonannya menjulang hingga menembus awan. Batang-batang raksasa berkilauan dengan lapisan kristal tipis, dan di antara dedaunan yang tak pernah layu, melayang cahaya-cahaya kecil seperti bintang yang turun ke bumi. Udara di sini terasa berbeda — setiap tarikan napas membawa energi yang meresap ke dalam kulit, menyejukkan, menguatkan, seakan seluruh dunia ini bernapas bersama mereka.
Kai berjalan di barisan depan, Aurelia masih di pelukannya, namun gadis kecil itu kini jarang meminta diturunkan bukan karena sakit — melainkan karena tak ingin melewatkan apa pun. Matanya tak lepas dari setiap cahaya yang melintas, setiap bunyi yang terdengar, dan sesekali ia menunjuk ke arah burung berwarna permata yang terbang di antara dahan, berbisik kagum tanpa suara.
"Energinya… jauh lebih padat dibandingkan dunia kita," ucap Ren sambil mengusap permukaan pohon yang berkilau. "Di sini, siapa pun yang berlatih bisa berkembang sepuluh kali lebih cepat. Inilah tempat para petapa kuno bermimpi untuk menjangkaunya."
Elara berjalan di sisi kanan, pedangnya masih terhunus sedikit, matanya tak henti memindai kegelapan di balik pepohonan. "Tapi jangan tertipu keindahannya. Dunia ini punya aturan sendiri. Siapa yang tak mampu menyerap energi ini akan terperangkap kelelahan, sementara yang terlalu rakus bisa terbakar dari dalam."
Ia menoleh ke arah Kai. "Kau merasakannya, bukan? Energi di sini langsung menuju ke dalam darahmu."
Kai mengangguk. "Seperti ada sungai yang menyambut sungai lain. Ia tak menolak, justru menarik masuk, membaur."
"Itulah darah nagamu," ucap Dagan pelan, langkah kakinya yang berat terdengar mantap di tanah berlumut. "Di dunia ini, keturunan naga dihormati sekaligus ditakuti. Banyak yang ingin memilikinya, banyak pula yang ingin memusnahkannya."
Matahari perlahan merosot ke arah barat, mengubah cahaya keemasan menjadi semarak ungu dan jingga yang melukis langit tak seperti di dunia asal mereka. Mereka berhenti di tepi sungai yang airnya jernih seperti kaca, membiarkan cahayanya yang berdenyut tenang menenangkan kelelahan tubuh.
Saat duduk beristirahat, Kai meletakkan Aurelia di atas hamparan rumput yang lembut. Ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdebar — pipi putrinya kini terlihat lebih segar, matanya lebih berbinar, dan saat gadis itu berdiri sendiri tanpa bersandar, kakinya tak lagi gemetar seperti dulu.
"Aurelia," panggilnya pelan. "Kau merasa bagaimana?"
Gadis kecil itu melangkah satu langkah, lalu dua, tersenyum lebar. "Tidak sakit lagi, Ayah! Badan terasa ringan, seperti bisa melompat tinggi sekali!"
Kai menunduk, menahan perasaan yang mengganjal di tenggorokan. Ia merasakannya — energi dunia ini bukan sekadar menahan penyakit putrinya, melainkan menyembuhkannya perlahan, melawan sesuatu yang sejak lahir menggerogoti kekuatan hidupnya. Namun di balik kebahagiaan itu muncul kegelisahan: mengapa darah naganya sendiri justru menolak menyatu dengan tubuh putrinya di dunia asal mereka? Mengapa di sini baru mulai terlihat hasilnya?
Pertanyaan itu terjawab tak lama kemudian, saat Elara duduk di sampingnya, suaranya rendah dan serius.
"Aku tahu kau bertanya-tanya," ucapnya, menatap permukaan sungai yang berkilauan. "Penyakit Aurelia… sebenarnya bukan penyakit biasa."
Kai menegang. "Lalu apa?"
"Di dunia asal kita, energi langit dan bumi sudah menipis sejak berabad-abad lalu. Darah keturunan naga membutuhkan lingkungan yang kaya akan murni energi untuk tumbuh — bukan sekadar bertahan, tapi berkembang. Di tempat kita dulu, tubuh Aurelia berjuang sendirian, tak mendapat dukungan dari alam di sekelilingnya. Itulah sebabnya ia terlihat sakit." Elara menoleh padanya, tatapannya lembut namun tegas. "Di sini, tubuhnya akhirnya bisa bernapas. Penyembuhan yang kau cari ada di tempat-tempat seperti ini — di setiap dunia yang kita lintasi."
Jantung Kai berdebar kencang. "Jadi… perjalanan ini memang satu-satunya cara menyelamatkannya?"
"Ya. Dan sekaligus menyempurnakan kekuatanmu sendiri," jawab Ren yang ikut duduk mendekat. "Kekuatan naga tidak akan pernah utuh jika hanya diam di satu tempat. Ia diciptakan untuk bergerak, menembus batas, menjelajah dunia. Setiap gerbang yang kau lewati akan membuka bagian baru dari dirimu yang belum pernah kau ketahui."
Dagan meletakkan palu besarnya di samping, menatap Kai dengan tatapan yang sungguh-sungguh. "Tapi ada harga yang harus dibayar. Semakin kuat kekuatanmu, semakin banyak mata yang tertuju padamu. Musuhmu tidak hanya ada di dunia asal. Mereka sudah menjangkau tempat-tempat ini sejak lama."
Kai terdiam, menatap Aurelia yang kini tertawa kecil sambil mengejar cahaya melayang di tepi sungai. Ia bersumpah akan melindunginya, namun kini ia menyadari — ia tak bisa melindunginya sepenuhnya tanpa menguasai kekuatan ini dengan sungguh-sungguh. Ia harus tumbuh lebih cepat, lebih kuat, sebelum bahaya itu tiba lebih dulu.
"Ajari aku," ucapnya tiba-tiba, menatap ketiga orang itu bergantian. "Ajari cara mengendalikan kekuatan ini, cara melatihnya, cara memastikan aku tidak akan menjadi ancaman bagi orang yang kusayang."
Elara tersenyum tipis, seakan telah menantikan kalimat itu. "Baik. Mulai dari malam ini."
Malam turun menyelimuti hutan purba, namun tak menjadi gelap. Pohon-pohon memancarkan cahaya kebiruan yang lembut, menerangi ruang di antara mereka. Kai duduk bersila di tepi sungai, Aurelia tertidur pulas di dekatnya, terbungkus jubah hangat yang dipinjamkan Elara.
"Pertama," ucap Elara berdiri di hadapannya, suaranya tenang namun memerintah. "Jangan paksa kekuatan itu keluar. Darah naga bukan api yang harus kau bakar — melainkan sungai yang harus kau arahkan. Ia tahu ke mana harus pergi, kau hanya perlu membuka jalan."
Kai memejamkan mata. Ia mencoba merasakannya — kehangatan yang berdenyut di dadanya, aliran halus yang mengalir di sepanjang lengan, tarikan lembut yang memanggil dari jauh. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi dunia ini masuk, menyatu, mengalir bersama kekuatan yang sudah ada di dalam dirinya.
Tiba-tiba rasa sakit menusuk dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi punggungnya. Energi asing itu bertabrakan dengan kekuatan naganya, saling mendorong, saling menolak.
"Jangan lawan!" suara Elara terdengar tegas di telinganya. "Biarkan ia melewati! Lepaskan kendali!"
Kai menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menjalar ke setiap urat. Ia berusaha melepaskan cengkeraman batinnya, membiarkan kedua kekuatan itu bertemu, berputar, perlahan menyatu menjadi satu aliran yang lebih besar, lebih hangat, lebih kuat. Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya, menerangi seluruh tepian sungai, membuat pepohonan di sekitar mereka ikut bersinar terang.
Saat ia membuka mata, napasnya terengah-engah namun terasa luar biasa — jernih, tenang, seakan beban berat yang tak disadari telah diangkat dari pundaknya.
"Itu baru permulaan," ucap Ren pelan, matanya memantulkan cahaya yang masih menyelimuti tubuh Kai. "Kau baru saja membuka pintu pertama."
Namun ketenangan itu terpecahkan seketika. Liontin di dadanya tiba-tiba membakar panas, begitu menyengat hingga Kai tersentak berdiri. Dari kegelapan hutan di seberang sungai, muncul bayangan-bayangan — bukan makhluk lembah yang kemarin, melainkan sosok-sosok yang mengenakan jubah hitam berkerudung, wajah mereka tertutup, hanya menyisakan mata yang menyala merah padam.
"Penusuk Bayangan," desis Elara, menarik pedangnya dengan cepat. "Mereka mengejar kita lebih cepat dari yang kuduga."
Salah satu sosok melangkah maju, suaranya berdengung seperti ribuan serangga berbisik serentak.
"Keturunan Naga… akhirnya tertangkap."
Kai melangkah ke depan, menempatkan dirinya di antara musuh dan Aurelia yang masih tertidur. Tangannya memancarkan cahaya keemasan yang tak lagi gemetar.
"Siapa kalian?" tanyanya, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang tak perlu diucapkan lebih lanjut.
"Kami hanyalah alat," jawab sosok itu dingin. "Seperti istrimu dulu. Dan seperti dirimu yang akan menjadi — jika kau menyerahkan kekuatanmu dengan sukarela."
Kai mengepalkan tangannya erat-erat. Amarah yang ia tahan sejak dikhianati kembali membakar, namun kali ini tak lagi buta. Ia paham sekarang — di balik semua yang terjadi, ada kekuatan yang menarik benang dari jauh, memanfaatkan siapa pun demi tujuannya.
"Aku tidak menyerahkan apa pun pada orang yang menyembunyikan wajahnya," jawab Kai tegas.
Sosok itu tertawa — suara kering, menyakitkan didengar. "Kalau begitu, ambil paksa."
Empat sosok melompat serentak melintasi sungai, bergerak begitu cepat hingga bayangan mereka menyatu menjadi garis hitam. Elara menyambutnya dengan kilatan pedang yang membelah udara, Ren melemparkan pusaran angin yang menahan mereka sesaat, sementara Dagan mengayunkan palu menciptakan gelombang getaran yang mengguncang tanah di sekitar mereka.
Namun musuh itu terlalu kuat. Salah satu dari mereka menembus pertahanan, meluncur cepat ke arah tempat Aurelia tidur.
Kai melompat, tak berpikir, hanya bertindak. Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya, membentuk sayap samar yang mendorongnya melesat ke depan. Ia menangkap pergelangan tangan musuh itu sebelum cakarnya menyentuh gadis kecilnya. Dengan satu sentakan, kekuatan murni mengalir keluar, mendorong sosok itu mundur hingga terpental ke tepian sungai, tubuhnya terbakar cahaya emas sebelum bangkit kembali, kini tampak terluka dan terkejut.
Sosok pemimpin itu menatap Kai dengan pandangan yang tak lagi meremehkan. "Kau belum sepenuhnya menguasai kekuatan ini… tapi sudah cukup berbahaya. Kita akan kembali."
Dengan isyarat tangan, ia menarik pasukannya mundur, menghilang ke dalam kegelapan hutan secepat mereka muncul.
Kai terengah-engah, berlutut di samping Aurelia yang terbangun karena keributan, menatapnya dengan mata lebar namun tak takut.
"Ayah… tadi bercahaya indah sekali," katanya pelan, meraih tangan ayahnya yang masih bergetar. "Tapi mereka jahat, ya?"
Kai mengangguk, memeluk putrinya erat-erat. "Ya. Tapi Ayah tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Tak akan pernah."
Ia menatap ke arah kegelapan tempat musuh menghilang. Ancaman itu nyata, dan ia tahu mereka tak akan berhenti. Namun kini ia punya sesuatu yang lebih kuat dari sekadar amarah — tujuan yang jelas, teman yang berdiri di sampingnya, dan kekuatan yang perlahan tumbuh di bawah kendalinya.
Elara mendekat, menyeka darah dari luka di lengannya. "Mereka akan melaporkan keberadaanmu. Sekarang seluruh jaringan mereka tahu kita ada di sini."
"Biarkan," jawab Kai tenang, menatap ke arah cakrawala tempat fajar akan segera menyingsing. "Semakin cepat mereka datang, semakin cepat aku bisa mencari tahu siapa yang benar-benar mengatur semua ini."
Ia bangkit, mengangkat Aurelia kembali ke pelukannya.
"Besok kita melanjutkan perjalanan. Semakin dalam kita masuk, semakin kuat kekuatanku — dan semakin dekat dengan jawaban yang kucari."
Di kejauhan, di atas bukit yang bercahaya, sosok berkerudung berdiri diam, memperhatikan mereka pergi. Di tangannya selembar kertas hitam terbakar perlahan, mengirim pesan ke tempat yang jauh lebih gelap.
Naga telah bangkit. Ia bergerak.