Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 salah paham yang mereda
Pintu kamar itu berderit pelan saat Revan melangkah keluar,
Di ruang tengah, suasana rumah panggung yang hangat menyambutnya. Aroma gulai ikan patin khas buatan ibunya merebak, mengundang selera dan membawa nostalgia tersendiri bagi Revan yang bertahun-tahun merindukan rumah.
"Masya Allah anak lajang Ibu...!" Bu Sumi menyambut Revan dengan senyum terkembang lebar. Beliau merengkuh lengan berotot putranya, bermanja-manja menyandarkan kepala di bahu Revan.
Revan memeluk balik ibunya dengan penuh kasih sayang. "Ibu ...Revan rindu sama ibu..."
"kamu ini Uda cocok punya anak dua van, ......," balas Bu Sumi penuh haru, mengelus pipi Revan yang sedikit kasar.
"Bang Revan, Uda gede masih manja sama ibu " celetuk Nisa sambil menata piring di meja makan kayu. Ia lalu mengedipkan mata pada Revan.
"Tapi hebat ya Abang... pintar cari calon. Cantik banget Kak Nara itu, loh! Lembut, anggun, pas banget mendampingi Abang."
Revan tersenyum kikuk, meremas tengkuknya yang tak gatal.
"Nisa... udah....siapin terus piringnya."
"Ayuk kita makan bareng-bareng duku. Panggil Nara dulu, Van" suruh Bu Sumi lembut.
"Iya, Bu. Revan panggil dulu," jawab Revan mengangguk.
Revan kembali ke kamar dan mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban, hanya terdengar gemericik air dari kamar mandi. Nara rupanya belum selesai bersih bersih dari lelahnya perjalanan.
Saat Revan hendak berbalik, bunyi getar berkali-kali dari ponsel Nara yang sedang diisi daya di atas meja sudut menyita perhatiannya. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan nama pemanggil: Pak Kades.
Revan ragu sejenak. Namun, mengingat percakapan Nara tadi dan situasi Pak Kades yang pasti sedang kebingungan di Balai Desa, Revan memberanikan diri menggeser ikon hijau.
"Halo, Assalamu'alaikum... Bidan Nara? Posisi di mana sekarang, Nak?
Ini Pak Kades. Panggilan Bapak tidak diangkat-angkat dari tadi, Ujang juga belum ada kabar..." suara Pak Kades di seberang telepon terdengar panik dan terengah-engah.
"Wa'alaikumussalam. Maaf, Pak Kades... Ini saya, Revan. Anak Bu Sumi," potong Revan dengan nada sesopan mungkin.
Di seberang sana, Pak Kades hening sejenak, kaget.
"Lho? Revan? Revan anaknya Bu Sumi yang tentara itu? Kok... kok ponsel Bu Bidan ada di kamu, Van? Mana Bu Bidan Nara-nya?"
Revan menarik napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang terasa kaku, berusaha menata kalimat agar tidak menimbulkan salah paham baru.
"Begini, Pak Kades... Revan mau minta tolong yang sangat besar sama Bapak," ujar Revan pelan, suaranya sarat akan rasa bersalah dan kerendahan hati.
"Minta tolong apa, Van? Jangan bikin pusing Bapak, sore-sore begini Bidan desa belum sampai balai..."
"Bidan Nara sudah sampai di rumah Revan, Pak," aku Revan pasrah.
"Tapi... ada kesalahpahaman besar. Tadi pagi adik saya salah sangka waktu lihat foto saya sama Mbak Nara di stasiun. Keluarga di rumah mengira Mbak Nara ini... pacar yang saya bawa pulang dari kota."
"Apa?!" suara Pak Kades meninggi, campur aduk antara kaget dan ingin tertawa.
"Gusti Allah, Revan! Kok bisa begitu?!"
"Panjang ceritanya, Pak," bisik Revan, lirih dan penuh permohonan.
"Ibu saya punya penyakit jantung kronis, Pak Kades. Waktu nyambut Mbak Nara tadi, Ibu seneng banget sampai menangis. Revan... Revan nggak tega dan takut sekali kalau langsung terus terang sekarang, jantung Ibu nggak kuat nahan syoknya. Mbak Nara tadi sudah setuju untuk bantu Revan menenangkan situasi dulu."
Di ujung telepon, terdengar hembusan napas berat dari Pak Kades. Kepanikan sang kepala desa perlahan luluh menjadi rasa iba mendengarkan kepasrahan seorang anak yang hanya ingin melindungi ibunya.
"Aduh, ada-ada saja kamu ini, Van... Tentara kok jalannya berliku begini,"
kekeh Pak Kades pelan, mengikis ketegangan.
"Ya sudah, kalau begitu. Kamu tenang saja. Biar nanti Pak Kades yang cari waktu dan cara paling lembut buat jelaskan perlahan ke Bu Sumi sama Pak RT. Lagipula Bu Sumi itu orangnya baik, pasti bisa mengerti kalau dijelaskan pelan-pelan."
Rasa lega yang teramat sangat membuncah di dada Revan.
"Terima kasih banyak, Pak Kades. Revan sungguh berutang besar sama Bapak."
"Iya, sama-sama. Bapak titip Bidan Nara dulu di rumahmu ya, Van. Jaga dia baik-baik, jangan bikin dia kapok bertugas di desa kita. Bapak mau ngabarin si Ujang dulu nih, kasihan pasti pening dia putar-putar stasiun cari Bu Bidan."
"Siap, Pak Kades. Matur nuhun,"
jawab Revan sebelum mengakhiri panggilan.
Begitu panggilan terputus, pintu kamar mandi terbuka.
Nara keluar dengan wajah yang segar, butiran air masih menetes manis di sekitar garis wajahnya. Rambutnya terbalut handuk, dan ia sudah berganti pakaian santai yang sopan. Langkahnya terhenti saat melihat Revan berdiri di dekat meja mengecas ponselnya.
Nara menatap Revan curiga. "Pak Revan? Ponsel saya...?"
Revan berbalik perlahan, memegang ponsel Nara dengan kedua tangannya lalu menyerahkannya penuh rasa hormat. Pandangan mata Revan malam ini sama sekali tak lagi mencerminkan sosok komandan yang tegas, melainkan seorang pria yang dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam.
"Tadi... Pak Kades menelepon,"
kata Revan lembut, suaranya agak serak.
"Saya sudah jelaskan semuanya ke beliau. Dan Pak Kades berjanji akan membantu meluruskan masalah ini ke Ibu saya nanti, dengan cara yang paling halus."
Nara menerima ponselnya, menatap Revan lurus. Ada keheningan sejenak di antara mereka—keheningan yang tidak lagi dipenuhi ketegangan, melainkan pemahaman tipis yang mulai terbangun.
"Baguslah kalau begitu," ujar Nara pelan, memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan rasa canggung.
Nara berjalan mendekati meja, hendak menaruh ponselnya. Namun, karena kurang memperhatikan langkah di lantai kayu jati , ujung kakinya tersandung kaki meja.
"Eh!"
Nara hilang keseimbangan dan tubuhnya limbung ke belakang.
Dengan refleks kilat khas seorang prajurit elit, Revan langsung merengkuh pinggang Nara. Tangan kokohnya menahan tubuh Nara agar tidak jatuh , Jarak di antara mereka mendadak terkikis habis.
Nara menahan napas, kedua tangannya refleks bertengger di dada bidang Revan.
Tatapan mata mereka bertemu , rasa terkejut, serta getaran asing yang mendadak menyeruak tebal di udara kamar tersebut. Napas hangat Revan berembus lembut menerpa kening Nara yang masih basah oleh sisa air.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar.
"Ekhem! Bang Revan... Kak Nara...?"
Suara dehaman pelan dari pintu kamar yang sedikit terbuka membuyarkan segalanya.
Nisa berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar goda, menutup mulutnya seraya berusaha menahan tawa.
"Aduh... maaf, Nisa ganggu momen !, Kata Ibu makanannya sudah nungguin di meja, tapi kalau masih betah berdua di kamar juga nggak apa-apa kok..."
Nara dengan cepat menegakkan tubuhnya,
buru-buru merapikan pakaian dengan wajah yang seketika merona merah padam sampai ke telinga.
Sementara Revan salah tingkah, berdeham keras sambil pura-pura merapikan kerah bajunya yang sama sekali tidak kusut.
"Nisa... ," tegur Revan dengan nada berusaha tegas, meski pipinya tak bisa berbohong.
"Ayo, Mbak Nara, kita... kita keluar."
Nara hanya mengangguk kaku, tak berani menatap mata Revan maupun Nisa.
( akankah cerita mereka berlajut atau hanya sebatas dermaga sementara)