Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Naren Mirip Kamu
Lima tahun telah berlalu sejak perceraian itu.
Lima tahun sejak Cynara meninggalkan rumah keluarga Pratama hanya dengan sebuah koper dan hati yang penuh luka.
Kini, hidupnya telah berubah.
Di sebuah restoran yang cukup ramai di salah satu pusat perbelanjaan, Cynara duduk bersama dua orang rekan bisnisnya. Beberapa dokumen terbuka di atas meja.
“Kalau kerja sama ini berjalan sesuai rencana, pengiriman pertama bisa dilakukan bulan depan,” ujar salah satu rekannya.
Cynara mengangguk. “Pastikan kualitasnya tetap sama. Aku tidak ingin pertumbuhan bisnis membuat kita mengabaikan kepercayaan pelanggan.”
Ia kini jauh lebih tegas dan lebih tenang.
Tidak ada lagi perempuan yang hanya menangis ketika dihina keluarga mertuanya. Namun, di tengah pembicaraan itu, terdengar suara kecil.
“Mamah.”
Cynara menoleh. Seorang anak laki-laki telah berdiri di sampingnya.
“Nalen mau main cebental.”
Cynara melihat ke arah area bermain anak-anak yang masih berada dalam area restoran.
“Boleh. Tapi jangan jauh-jauh ya.”
Naren mengangguk. “Baik, Mah.”
“Kalau sudah selesai, kembali ke sini.”
“Iyah.” Naren berlari kecil menuju area permainan.
Cynara kembali kepada pembicaraan bisnisnya.
Tanpa disadarinya, anak laki-laki itu justru menjadi perhatian seseorang di restoran. Seorang perempuan yang baru saja selesai makan langsung berdiri dan beranjak dari kursinya.
Matanya tertuju pada Naren. Bocah itu sedang bermain dengan balok susun. Entah mengapa, perempuan itu merasa ada sesuatu yang familiar.
Ia menoleh kepada pria yang duduk di meja mereka.
“Mas.”
Pria itu masih sibuk menikmati makanannya. “Hm?”
Perempuan tersebut kembali menatap Naren. Kemudian mendekati anak itu.
“Nak…”
Naren menoleh.
Perempuan itu tersenyum. “Mas, lihat deh.”
Ia menoleh kepada suaminya. “Kok bocah ini mirip sekali dengan kamu, Mas?”
Pria itu akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya jatuh kepada Naren. Untuk beberapa detik, tangannya berhenti bergerak.
Bocah itu memang memiliki kemiripan yang terasa aneh. Bentuk mata. Hidung. Bahkan garis wajahnya. Namun, pria itu segera mengalihkan pandangan.
“Kamu mungkin terlalu banyak pikiran.”
Dia kembali melanjutkan makan. Perempuan di hadapannya tersenyum hambar. Matanya berkaca-kaca. Lima tahun... Lima tahun sudah pernikahan mereka. Namun, sampai hari ini mereka belum dikaruniai seorang anak pun.
Perempuan itu adalah Gadiza Mahendra. Dan pria yang duduk di hadapannya adalah Anugrah Pratama. Mantan suami Cynara.
Gadiza kembali menatap Naren. Bocah itu justru tersenyum kepadanya. Kemudian melambaikan tangan kecilnya.
“Nama Anye ciapah?”
Gadiza terkekeh. “Namaku Gadiza.”
Naren memiringkan kepala. “Ante Kadijah?”
Kali ini, Gadiza tak bisa menahan tawanya. Namanya jadi sangat berbeda. “Iya, Sayang.”
Naren mengangguk serius menunjuk dirinya sendiri. “Nalen.”
Gadiza menahan gemas. “Nalen?”
“Iyah.”
Naren mengangkat empat jarinya. “Umulku empat taun.”
Gadiza tertawa kecil. “Empat tahun?”
“Iyah.”
“Wah, Naren sudah besar. Naren seusia dengan keponakan Tante, namanya Keanu," ucapnya.
Naren mengangguk tetapi wajahnya tampak melongo. “Ponakan itu apa, Ante.”
Gadiza terdiam. Kemudian tertawa kecil karena anak sekecil ini memang belum paham silsilah keluarga.
“Keponakan itu apa ya? Anak dari Kakak, Tante. Kira-kira begitu.”
Naren mengangguk cepat. “Oo begicu ... Jadi anak tataknya Ante.” Lalu bibirnya membulat.
Gadiza semakin gemas. “Iya, Sayang ..” Ia kembali mencoel pipi Naren.
Naren mengangguk. “Iyah.”
Gadiza tanpa sadar mengusap rambutnya. “Panggil saja Tante Gadiza.”
“Ante Kadija.”
“Iya.”
Naren tersenyum. Namun, di meja belakang mereka, Anugrah kembali melirik.
Kali ini lebih lama. Tatapannya tertuju pada Naren. Entah mengapa dadanya terasa aneh.
Bukan hanya karena kemiripan bocah itu dengannya. Ada sesuatu dalam sorot mata anak itu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Empat tahun. Usia Naren empat tahun. Anugrah tiba-tiba terdiam. Jari-jarinya mencengkeram sendok.
Empat tahun?
Sementara di sisi lain restoran, Cynara akhirnya menyelesaikan pembicaraan bisnis. Ia menutup map.
“Baik, kita lanjutkan pembahasannya besok.”
Setelah rekan bisnisnya pergi, Cynara baru menyadari bahwa Naren belum kembali.
“Naren?”
Ia menoleh ke area permainan. Matanya langsung mencari putranya. Dan pada saat yang sama...
Naren berlari kembali. “Mamah..!”
Cynara tersenyum. “Ayo, sini.”
Naren langsung memeluk pinggangnya. Namun, ketika Cynara mengangkat wajah, pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang sangat dikenalnya.
Di sisi seberang, Anugrah berdiri, memperhatikannya dalam tanya.
Setelah lima tahun tanpa bertemu.
Dan sekarang, pria yang dahulu membiarkannya pergi, kini kembali menatap dirinya. Kemudian pandangan Anugrah turun kepada anak kecil di samping Cynara.
Naren.
Raut wajah Anugrah perlahan berubah.
*bersambung*