H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Udara malam di gang sempit kawasan pinggiran kota terasa begitu pekat dan pengap. Bau comberan yang bercampur dengan asap pembakaran sampah melayang di udara, menciptakan suasana yang jauh berbeda dari perumahan elite tempat Reno biasa menghabiskan malam-malamnya dulu.
Reno berjalan gontai menyusuri jalanan paving block yang tidak rata. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Jari-jarinya yang gemetar membuka daftar kontak, lalu menekan satu nama yang sempat ia abaikan: Papa.
Harapan palsu masih bersemayam di dadanya. Di tengah keputusasaan hidup di petak kontrakan sempit ukuran 6x3 meter bersama istri dan mertuanya, Reno berharap sang ayah melunak setelah melihat betapa menderitanya ia sekarang. Mungkin, pikirnya, sang papa akan iba dan menarik kembali kata-kata pengusiran di basement rumah sakit tadi siang.
Reno mendekatkan layar ponsel ke telinganya.
Tut... tut... tut...
Sambungan berdering beberapa kali dengan nada tunggu yang panjang. Detik-detik itu terasa sangat menyiksa bagi Reno yang berdiri di bawah tiang listrik yang berdengung.
Tiba-tiba, sambungan terangkat. Suara berat dan dingin dari ujung sana langsung menyapa tanpa basa-basi.
"Halo. Siapa ini?" tanya Papa Reno datar, suaranya terdengar begitu berwibawa namun menyimpan ketegasan mutlak.
Reno menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Pa... ini Reno..." cicitnya, berusaha melembutkan suaranya agar terdengar memelas.
Di ujung sambungan sana, helaan napas berat terdengar jelas. Suasana mendadak hening sejenak sebelum sang ayah kembali bersuara dengan nada yang menyayat hati.
"Kamu masih punya keberanian menelepon saya setelah apa yang terjadi hari ini, Reno?" sergah Papa Reno tajam. "Mau minta uang? Atau mau merengek minta tolong karena sekarang kamu sudah sadar hidupmu hancur?"
Reno meremas ponselnya kuat-kuat, matanya memanas menahan rasa frustrasi yang membuncah. "Pa... bukan begitu... Reno cuma... Reno capek, Pa. Hidup Reno sekarang berantakan banget. Rumah yang disiapkan Mahika ternyata sudah dijual, sekarang Reno terpaksa tinggal di kontrakan kecil bareng Gisel dan orang tuanya. Pekerjaan hilang, fasilitas dicabut... Tolong Reno, Pa. Bantu Reno sekali ini saja..."
Alih-alih mendapatkan simpati atau uluran tangan, tawa dingin yang sinis justru terdengar dari ujung telepon.
"Hahaha... rasakan itu," tukas Papa Reno tanpa ampun. "Kamu sendiri yang mencari jalan kehancuran itu, Reno. Kamu kira hidup di luar sana tanpa keluarga dan fasilitas itu mudah? Kamu sok hebat memilih jalan itu demi perempuan selingkuhanmu."
Papa Reno terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang penuh penyesalan dan kejengkelan yang teramat sangat.
"Asal kamu tahu, Reno... semenjak siang tadi, kepala saya pusing memikirkan kebodohan anak kandung saya sendiri. Kamu tahu apa yang paling membuat saya dan mamamu murka? Bukan cuma karena kamu mempermalukan nama keluarga kita di hadapan publik... tapi karena kamu bersikap bodoh menjadi seorang laki-laki mokondo."
Skakmat! Kata-kata itu meluncur begitu telak, menghantam harga diri Reno yang memang sudah hancur lebur.
"Pa... kok Papa ngomong begitu ke anak sendiri..." protes Reno dengan suara parau.
"Memang itu kenyataannya!" bentak Papa Reno di ujung telepon, suaranya meninggi penuh emosi. "Kamu itu sebenarnya katarak atau bagaimana, hah?! Mata dan otakmu ditaruh di mana sampai tidak bisa membedakan mana mutiara dan mana batu kali?."
Reno terperanjat, napasnya memburu. "Mutiara... maksud Papa Mahika?"
"Tentu saja Mahika, bodoh!" seru sang papa geram. "Mahika itu perempuan cerdas, mandiri, setia, punya karier cemerlang, dan mendanai segala kebutuhanmu tanpa banyak menuntut! Kalau saja kamu dulu bersyukur dan tetap menjaga hubungan baik dengannya, hidupmu sekarang sudah mapan, duduk tenang di kursi direksi perusahaan saya dan menjadi menantu kesayangan yang dihormati banyak orang."
Papa Reno mendengus keras, napasnya terdengar memburu di balik gagang telepon. "Kamu tidak perlu repot-repot membanting tulang bekerja di Aura Fashion atau hidup melarat di petak kontrakan kumuh kalau kamu tidak menyia-nyiakan Mahika! Perusahaan saya yang jauh lebih besar di Jakarta sudah menanti untuk kamu warisi! Tapi apa daya, kamu lebih memilih perempuan murahan yang tidak punya apa-apa selain perut buncit hasil perselingkuhan kalian."
Mendengar sang ayah terus-menerus menghina istrinya, ego picik Reno mendadak tersulut. Ia merasa harus membela martabat kecil yang tersisa pada keluarganya sekarang.
"Tapi Gisel tidak seburuk itu, Pa!" sanggah Reno dengan nada tinggi, melupakan posisinya yang sedang meminta pertolongan. "Gisel istri sah Reno sekarang! Dia sedang mengandung anak Reno! Kenapa Papa dan Mama terus-terusan menyudutkan kami?! Bukankah seorang Ayah harusnya menolong anaknya yang sedang kesulitan?."
Di ujung sana, sambungan mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada lagi suara makian atau bentakan. Yang terdengar hanya helaan napas panjang yang sarat akan kekecewaan mutlak.
Beberapa detik kemudian, suara Papa Reno kembali terdengar—suara itu begitu tenang, dingin, namun mengandung ketetapan hati yang tidak bisa diganggu gugat lagi oleh apa pun di dunia ini.
"Reno..." panggil sang papa dengan nada datar. "Ingat tidak apa yang saya katakan di basement rumah sakit tadi siang saat kamu memilih untuk tetap bersama perempuan itu?"
Jantung Reno mendadak berdegup kencang. Firasat buruk langsung mencengkeram dadanya.
"Saat kamu menolak meninggalkan Mahika dan memilih jalan hidupmu sendiri di hadapan saya... detik itu juga, saya sudah mencoret nama kamu dari daftar keluarga besar kita," ucap Papa Reno tanpa keraguan sedikit pun. "Kamu bukan lagi anak saya. Kamu adalah orang asing yang tidak punya hubungan darah apa pun dengan keluarga kami."
"Pa... tunggu, Pa! Jangan putuskan hubungan kita begitu..." teriak Reno panik, keringat dinginnya bercucuran semakin deras.
"Dan kebetulan sekali..." potong Papa Reno santai namun mematikan. "Malam ini, saya sedang duduk di ruang kerja rumah bersama tim pengacara keluarga. Kami sedang merampungkan seluruh berkas legalitas pencabutan hak waris, penghapusan nama kamu dari Kartu Keluarga dan pembuatan akta putus hubungan hukum secara permanen."
Deg!
Dunia di sekeliling Reno seolah runtuh seketika. Telepon di tangannya terasa bagaikan besi panas yang membakar telapak tangannya.
"Malam ini juga, seluruh dokumen resmi itu akan disahkan di hadapan notaris," lanjut Papa Reno dingin. "Jadi, jangan pernah lagi menelepon nomor ini, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah keluarga kita, dan jangan pernah berharap sepeser pun bantuan dari saya. Nikmati hidup pilihanmu sendiri sampai kamu puas."
Klik.
Sambungan telepon diputus secara sepihak dari ujung sana.
Tut... tut... tut...
Suara nada sibuk berdering nyaring di telinga Reno, memantul di dinding-dinding gang sempit yang gelap.
Reno berdiri membatu di bawah tiang listrik. Ponsel di tangannya perlahan melorot jatuh ke tanah paving block yang keras, layar kacanya retak seketika akibat benturan.
Ia menatap kosong ke kegelapan malam di hadapannya. Tidak ada lagi jalan pulang. Tidak ada lagi harta warisan. Tidak ada lagi perlindungan keluarga. Reno benar-benar telah menanam angin badai, dan kini ia harus memanen seluruh kehancuran itu sendirian di atas tanah pengasingannya yang sempit dan pengap.
ap g cafek km berdarama🤣🤣
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂