Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Monica
"Sayang."
Monica begitu antusias melihat Dirga ada di depan kontrakannya. Tanpa malu, ia langsung memeluknya.
"Aku pikir kamu cuma bercanda."
Dirga membalas pelukan itu. "Kapan aku bercanda, Sayang?"
Monica melonggarkan pelukannya, tetapi kedua tangannya masih berada di lengan Dirga. Wajahnya terlihat begitu senang.
"Aku benar-benar nggak nyangka kamu berani datang malam ini."
"Kan aku sudah bilang akan datang."
"Iya, tapi aku kira kamu bakal berubah pikiran."
Monica mengerucutkan bibirnya. "Aku sampai menunggu dari tadi."
Dirga tersenyum kecil. "Maaf bikin kamu menunggu."
"Yang penting sekarang kamu sudah di sini." Monica kembali tersenyum manja. "Aku kangen banget sama kamu."
Dirga mengusap lembut kepala Monica.
"Kita kan baru ketemu tadi?"
"Memangnya nggak boleh kangen?"
"Tentu boleh, Sayang."
Monica kemudian menarik tangan Dirga.
"Ayo, masuk dulu. Masa kita berdiri di depan terus."
Baru saja Dirga hendak melangkah mengikuti Monica, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari salah satu kontrakan di sebelah.
"Tolong! Tolong!"
Suara itu membuat Monica dan Dirga langsung menoleh.
Beberapa detik kemudian, seorang pria keluar dari kontrakannya dengan wajah pucat dan berlari ke arah jalan.
"Ada apa?" tanya salah satu tetangga yang ikut keluar.
"Aku lihat... Aku lihat hantu!" jawab pria itu dengan napas tersengal.
Seketika beberapa penghuni kontrakan lain keluar dan berkumpul di depan rumah masing-masing. Dirga dan Monica pun ikut mendekat karena penasaran.
"Hantu?" Monica mengernyitkan kening.
"Iya! Tadi aku lihat bayangan berdiri di belakang pintu!"
"Ah, kamu jangan menakut-nakuti orang malam-malam begini," sahut seorang tetangga.
"Aku serius! Wajahnya pucat, rambutnya panjang!"
Tetangga yang lain malah terkekeh.
"Makanya, jangan nonton film hantu kalau nggak berani."
"Aku nggak nonton film hantu!"
Pria itu masih terlihat ketakutan.
"Aku benar-benar lihat!"
Kerumunan semakin ramai. Hampir semua perhatian tertuju pada pria tersebut dan cerita tentang hantu yang dilihatnya.
Tanpa ada yang menyadari, seseorang berjalan mendekati kontrakan Monica. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya, orang itu masuk ke dalam kontrakan yang pintunya masih belum tertutup rapat.
Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dan segera menjauh dari tempat tersebut. Tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya.
Setelah keadaan mulai tenang, para tetangga kembali ke kontrakan masing-masing.
Monica menghela napas sambil menggelengkan kepala.
"Ada-ada saja tetanggaku."
Dirga terkekeh.
"Bisa-bisanya sampai heboh begitu."
"Sudah, masuk saja. Aku malas ikut-ikutan."
Dirga menurut dan mengikuti Monica masuk ke dalam kontrakan.
Monica menutup pintu setelah mereka masuk.
Di dalam kontrakan, Monica langsung duduk di sofa sambil menarik tangan Dirga agar duduk di sampingnya.
"Aku masih nggak percaya kamu benar-benar datang," katanya manja.
Dirga terkekeh pelan. "Kenapa kamu nggak percaya?"
"Ya... biasanya kamu cuma bilang kangen, tapi belum tentu datang." Monica menyandarkan kepalanya di bahu Dirga. "Kali ini kamu benar-benar datang."
"Kamu senang?"
"Senang banget!" Monica tersenyum puas. "Jangan cepat pulang, ya."
Dirga mengusap rambutnya. "Iya. Aku akan nginap disini."
Monica mendongak menatapnya. "Kamu serius?"
Dirga mengangguk.
"Apa Vara nggak curiga kamu keluar malam-malam begini?"
Dirga tertawa kecil.
"Dia curiga?" Dirga menggeleng. "Aku bilang ada pertemuan dengan klien. Dia langsung percaya."
Monica ikut tertawa. "Bodoh banget."
"Makanya aku bilang, dia gampang dibohongi."
Monica menyandarkan tubuhnya lagu ke lengan Dirga. "Terus, bagaimana rencanamu?"
Dirga terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. "Aku akan mulai menyusun rencanaku. Tapi aku akan buat Vara dulu merasa terbang ke langit, lalu kujatuhkan ke tanah."
Monica mengangkat kepalanya. "Maksud kamu?"
"Besok aku akan liburan dengan Vara. Aku akan buat dia bahagia." Dirga menatap Monica dengan senyum puas. "Lalu, setelah itu, aku akan merebut semua miliknya."
Monica langsung tertawa. "Hahaha... Ide yang brilian. Kamu memang pintar, Sayang." Ia kembali memeluk Dirga dengan manja. "Jadi, besok kita nggak ketemu?"
"Iya, Sayang. Tenang saja. Cuma dua hari kok."
"Dua hari itu lama."
"Baru dua hari sudah mengeluh."
"Aku kan kangen."
Dirga tersenyum mendengar rengekan Monica. "Setelah itu aku kembali."
Monica menatapnya. "Janji?"
"Janji. Lagi pula, setelah liburan itu aku harus mengurus beberapa hal."
"Hal apa?"
"Aku juga harus memulai mempersiapkan Vara untuk kembali bekerja."
Monica mengernyitkan kening. "Vara mau kembali bekerja?"
"Iya. Dia bilang bosan terus di rumah dan ingin kembali ke perusahaan."
"Vara benar-benar mau kembali bekerja?"
"Iya."
"Kalau dia kembali ke perusahaan, kita bagaimana?" Monica langsung cemberut. "Kamu bakal lebih sering bersama dia."
Dirga menghela napas pelan. "Kamu sekretarisku, kita masih bisa tetap bersama."
"Tapi nggak bisa bebas, Sayang." Monica menatapnya dengan wajah kesal. "Kalau Vara ada di perusahaan, kita harus lebih hati-hati."
Dirga menggenggam tangan Monica. "Kamu tenang saja. Aku akan segera menyelesaikan semuanya."
Monica terdiam. Wajahnya masih terlihat kesal. "Aku nggak suka kalau harus sembunyi-sembunyi terus."
"Sayang, aku janji akan mengurus semuanya secepat mungkin."
"Memang bisa?"
"Aku akan usahakan. Aku akan pastikan perusahaan Vara menjadi milikku." Dirga menatap Monica dengan penuh keyakinan. "Kalau semuanya sudah berada di tanganku, kita nggak perlu lagi sembunyi seperti ini."
"Kamu janji?"
"Iya, Sayang. Aku ingin kita bisa bersama tanpa harus takut ada yang sama. Kamu juga nggak perlu lagi menjadi sekretarisku. Kamu nikmati saja uangku."
Monica mulai tersenyum. "Lalu setelah itu?"
"Kita akan hidup seperti yang kamu inginkan." Dirga mengusap pipi Monica. "Rumah besar, mobil mewah, perhiasan. Semua itu kamu akan memilikinya dan nggak akan tinggal di kontrakan ini lagi."
Mata Monica langsung berbinar mendengar ucapan itu. "Serius?"
"Tentu."
Monica yang sejak tadi cemberut mulai tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku mau rumah yang besar."
"Lebih dari itu, kamu akan mendapatkannya, Sayang." Dirga tersenyum. "Selama aku punya semuanya, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Monica semakin tergiur membayangkan kehidupan yang selama ini ia inginkan. Kehidupan mewah tanpa perlu kerja.
"Jadi nggak sabar deh, punya semua itu."
••••
Sementara itu, di rumah, Vara berdiri di balkon kamarnya. Ponsel berada di tangannya, menampilkan rekaman dari CCTV tersembunyi yang dipasang orang suruhannya di kontrakan Monica.
Vara mendengar seluruh percakapan Dirga dan Monica tanpa melewatkan satu kata pun. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Ck. Dia pikir dia bisa semudah itu merebut semua milikku?"
Vara melipat kedua tangannya di dada.
"Monica, sepertinya mimpimu terlalu tinggi."
Tatapannya berubah tajam.
"Kamu mungkin bisa merebut Dirga dariku. Tapi jangan pernah berpikir bisa mengambil apa yang menjadi milikku."