NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24: Interogasi pagi hari dan skandal gigi palsu yang bikin geger

Keesokan paginya, matahari terbit dengan malu-malu di sela-sela rimbunnya pohon Hutan Terlarang. Kabut tipis sisa semalam masih melayang rendah, tetapi suasana di perkemahan pasukan khusus sudah sibuk luar biasa. Bau harum bubur gandum darurat yang dimasak para prajurit logistik mulai tercium, bersaing dengan aroma segar tanah basah.

Di dalam tenda interogasi, suasana justru terasa sangat pengap dan menegangkan. Si pembunuh bayaran terbangun dengan kondisi tubuh lemas, wajah sepucat kertas, dan yang paling mengenaskan mulut serta bibirnya masih belepotan sisa-sisa bubuk arang hitam kering dari aksi penyelamatan darurat semalam. Dia terlihat seperti hantu kelaparan yang habis mengunyah jelaga api unggun.

Pangeran Mo Cheng duduk tegap di kursi utama dengan jubah zirah ringannya yang sudah terpasang rapi, memancarkan aura wibawa yang menekan udara di sekitarnya. Di sampingnya, Xie Jian berdiri kokoh dengan tangan bertumpu pada gagang pedang.

Dan secara mengejutkan, di sudut tenda, Xie Yufei juga ikut hadir sambil memegang sebuah cangkir teh hangat. Kehadirannya di ruang interogasi militer sebenarnya sangat menyalahi aturan aturan dinasti, tetapi karena dialah "dokter dadakan" yang menyelamatkan nyawa tahanan ini, Pangeran Mo Cheng memberikan hak istimewa berupa kursi VIP untuknya.

Sembari menyesap tehnya, mata bulat Yufei menatap si pembunuh dengan pandangan penuh selidik layaknya detektif di serial kriminal TV modern:

(Buset, itu muka si abang pembunuh estetik banget ya, item-item mirip habis ikutan lomba makan kerupuk pake arang. Tapi gak apa-apa, yang penting nyawa lo selamet, mas. Sekarang buruan ngaku siapa yang bayar lo, biar kerjaan gue beres dan jatah lili salju premium gue dari Mas Jenderal gak ditarik lagi!)

Pangeran Mo Cheng yang mendengar celotehan batin Yufei terpaksa berdeham pelan untuk menahan sudut bibirnya agar tidak kedutan di depan tahanan. Dia langsung memasang wajah sangar andalannya dan menatap dingin ke arah si pembunuh.

"Kau sudah sadar," ucap Pangeran Mo Cheng, suaranya rendah namun bergaung penuh ancaman di dalam tenda. "Sebutkan namamu, organisasi tempatmu bernaung, dan siapa yang memerintahkanmu untuk merekayasa serangan babi hutan serta mengincar nyawaku."

Si pembunuh bayaran mencoba mendongak, tetapi tubuhnya yang masih lemas akibat efek kuras lambung semalam membuatnya hampir tersungkur ke depan jika tidak ditahan oleh tali yang mengikatnya. Dia batuk beberapa kali, mengeluarkan sisa bubuk hitam dari tenggorokannya.

"Uhuk... Yang Mulia... Pangeran Mo Cheng..." suara si pembunuh terdengar serak dan parau. Dia menatap sang jenderal dengan pandangan tidak percaya. "Bagaimana bisa... racun Gigi Jiwa runtuh milik organisasiku... bisa dinetralkan oleh pasukanmu? Tabib istana sekalipun butuh waktu berjam-jam untuk meracik penawarnya!"

Xie Jian mendengus sombong sambil menunjuk ke arah Yufei dengan jempolnya. "Kau harus berterima kasih pada Nona Xie. Kalau bukan karena metode 'arang sakti' miliknya, kau sudah membusuk sejak semalam!"

Si pembunuh langsung mengalihkan pandangannya yang bengkak akibat sisa minyak sereh semalam ke arah Yufei. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Yufei langsung memasang mode anggun, menundukkan kepalanya sedikit dengan senyum tipis yang sangat sopan nan misterius.

Namun, di dalam kepalanya, jeritan batin Yufei justru melonjak ke level maksimal:

(Hah? Gigi Jiwa Runtuh? Alay banget nama racunnya, kek nama jurus di komik silat! Padahal cuma taktik sembunyiin potas di gigi palsu. Untung semalam rahang lu gue ungel-ungel sampai mangap, kalau gak udah bablas lu, Mas!)

Pangeran Mo Cheng diam-diam menghela napas, berusaha tetap fokus pada interogasi meski kepalanya mulai dipenuhi istilah-istilah aneh dari Yufei seperti 'potas' dan 'komik silat'.

"Jangan mengalihkan pembicaraan," potong Pangeran Mo Cheng dingin, memotong tatapan si pembunuh pada Yufei. "Jawab pertanyaanku sebelumnya. Jika kau bekerja sama, aku bisa menjamin hukumanmu akan diringankan. Tetapi jika kau tetap bungkam... metode interogasi pasukan khusus tidak akan senyaman ramuan arang semalam."

Si pembunuh bayaran tampak gemetar. Kehilangan kemampuan untuk bunuh diri membuat mentalnya runtuh setengahnya. Di dunia persilatan gelap, seorang pembunuh yang gagal mati menggunakan racun rahasianya sendiri dianggap sebagai aib besar, dan organisasinya pasti akan memburunya untuk membungkamnya.

"Aku... aku tidak tahu nama asli orang yang menyewaku," aku si pembunuh akhirnya dengan terbata-bata. "Kami hanya menerima perintah lewat perantara di paviliun teh ibu kota. Tapi... orang itu memberikan kami peta pergerakan pasukan Anda di Hutan Terlarang, lengkap dengan penanda lokasi sarang babi hutan bertaring besi."

Xie Jian langsung menggebrak meja di depannya. Braaakk! "Peta pergerakan militer?! Itu adalah dokumen rahasia tingkat tinggi! Hanya orang-orang di dalam lingkar dalam istana atau kementerian pertahanan yang memilikinya!"

Mendengar hal itu, suasana di dalam tenda mendadak mendingin hingga beberapa derajat. Konspirasi ini ternyata jauh lebih besar dari yang mereka duga. Ini bukan sekadar pembunuhan biasa, melainkan pengkhianatan tingkat tinggi yang melibatkan orang dalam istana.

Pangeran Mo Cheng tidak tampak terkejut. Matanya justru menyipit penuh perhitungan. "Apakah ada ciri fisik atau barang bukti lain dari perantara tersebut?"

Si pembunuh berpikir sejenak, wajah hitam berarangnya tampak berkerut. "Orang itu... saat memberikan kantong berisi emas upah kami, tangannya tidak sengaja terlihat. Di pergelangan tangan kanannya, ada bekas luka bakar berbentuk bulan sabit. Dan... minyak wangi yang dia gunakan sangat aneh, baunya seperti bunga melati yang dicampur dengan aroma obat-obatan pahit."

Mendengar ciri-ciri tersebut, pupil mata Pangeran Mo Cheng seketika mengecil. Tangan kanannya yang berada di atas lutut perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tampaknya mengenali atau setidaknya mencurigai satu nama spesifik di ibu kota yang memiliki ciri-ciri tersebut.

Sementara itu, Yufei yang duduk di pojok tenda mendadak merasakan hawa dingin yang menusuk dari arah Pangeran Mo Cheng. Dia menurunkan cangkir tehnya, menatap profil samping wajah sang pangeran yang tampak luar biasa tegang dan penuh kemarahan terpendam.

(Waduh... aura Mas Jenderal mendadak pekat banget kek kopi hitam tanpa gula. Serem amat. Bau melati campur obat pahit? Kayaknya ini petunjuk krusial banget buat dia. Tapi bentar deh... kalau konflik istana ini makin ribet, berarti perjalanan pulang kita bakal makin bahaya dong? Aduh Mamaaaakkk, petualangan gue jadi drakor politik gini! Nyawa gue yang berharga ini tolong dilindungi ya, Gusti!)

Mendengar ketakutan Yufei yang tiba-tiba meninggi, amarah di dada Pangeran Mo Cheng entah bagaimana perlahan-lahan mengendur. Dia melirik sekilas ke arah Yufei, melihat gadis itu tengah meremas ujung jubahnya (yang sebenarnya adalah jubah milik Mo Cheng yang dipinjamkan semalam) dengan wajah cemas yang sangat natural.

Pangeran Mo Cheng berdiri dari kursinya, membuat semua orang di tenda langsung menegakkan tubuh.

"Xie Jian, kurung dia di kereta tahanan besi yang tertutup rapat. Berikan dia makanan dan obat pelapis lambung... agar dia tidak mati sebelum kita tiba di ibu kota," perintah Pangeran Mo Cheng, mengingat batin Yufei semalam tentang 'efek lambung'. "Jaga dia dengan ketat ganda. Jangan biarkan siapapun mendekatinya tanpa izin tertulis dariku."

"Siap, Jenderal!" jawab Xie Jian dengan tegas, lalu segera memberi isyarat kepada dua prajurit untuk menyeret si pembunuh keluar dari tenda.

Setelah tenda kembali sepi, hanya menyisakan Pangeran Mo Cheng dan Xie Yufei, sang pangeran melangkah mendekati meja Yufei. Dia menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa terima kasih, kagum, dan sedikit rasa bersalah karena telah menyeret gadis polos (meski isi kepalanya tidak polos sama sekali) ke dalam pusaran konflik politik yang berbahaya.

"Nona Xie," panggil Mo Cheng lembut.

Yufei buru-buru berdiri dari kursinya, langsung memasang wajah patuh andalannya. "Iya, Yang Mulia Pangeran?"

"Perjalanan kembali ke ibu kota setelah kita keluar dari Hutan Terlarang ini mungkin tidak akan tenang," ucap Pangeran Mo Cheng sambil menatap langsung ke dalam mata jernih Yufei. "Musuh di kegelapan sudah mulai bergerak secara terbuka. Apakah kau... merasa takut?"

Pertanyaan serius itu membuat Yufei tertegun sejenak. Di luar, dia menurunkan pandangannya, meremas saputangannya dengan drama tingkat tinggi. "Hamba... hamba hanyalah seorang gadis lemah, Yang Mulia. Tentu saja hamba merasa takut. Namun..." Yufei mendongak, menatap Mo Cheng dengan binar mata yang dibuat seolah penuh keyakinan sejati. "...selama hamba berada di samping Yang Mulia Jenderal yang agung, hamba yakin tidak ada satu pun bahaya yang bisa menyentuh hamba."

Pret! Tentu saja itu hanya skenario luar. Di dalam hatinya, Yufei langsung menyanyi dengan riang gembira demi menghibur dirinya sendiri yang ketakutan:

(Takut sih ada dikit, Mas. Tapi demi perlindungan gratis dari pasukan khusus, jaminan keamanan bintang lima, plus bonus pasokan bahan skincare lili salju dan bubuk mutiara impor gratis dari kas negara... gue rela deh jadi pemandu sorak di barisan belakang! Maju terus pantang mundur, Mas Jenderal! Gue dukung dari balik tameng prajurit!)

Pangeran Mo Cheng yang mendengar "kontrak kerja informal" di dalam otak Yufei langsung tidak bisa menahan dirinya lagi. Sebuah senyuman tipis namun sangat menawan akhirnya terukir di wajah tampannya, membuat aura dingin di dalam tenda runtuh seketika.

"Kalau begitu, pegang erat janjimu, Nona Xie," ucap Pangeran Mo Cheng dengan nada setengah berbisik yang terdengar sangat seksi di telinga Yufei. "Tetaplah berada di dekatku, dan aku pastikan tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang akan terluka... termasuk investasi kulit indahmu itu."

DEG!!!

Yufei langsung membatu di tempat, matanya membelalak lebar dengan mulut sedikit terbuka.

(LOH??? BENTAR!!! KOK DIA BISA NGOMONGIN INVESTASI KULIT INDAH?! APA JANGAN-JANGAN... DIA BENERAN BISA DENGER ISI PIKIRAN GUE DARI KEMAREN-KEMAREN?! MAMPUS GUEEE!!!)

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!