Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju Pertama, Apartemen Sempit, dan Kencan Penebus Dosa
Akhir bulan Desember tiba membawa suhu beku yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Suasana Universitas Beijing perlahan mulai sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah menyelesaikan ujian akhir semester ganjil dan bersiap pulang ke kampung halaman untuk liburan musim dingin.
Di dalam ruang sidang tiruan Fakultas Hukum, Lin Xiao baru saja meletakkan mikrofonnya. Suara ketukan palu hakim bergema, menandakan berakhirnya kompetisi Peradilan Semu tingkat nasional. Tim Universitas Beijing keluar sebagai juara pertama, mengalahkan tim dari universitas hukum elit lainnya.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, namun yang bisa dirasakan Lin Xiao hanyalah rasa kantuk yang luar biasa berat. Beban berbulan-bulan yang membebani bahunya akhirnya terangkat. Ia memeluk teman-teman satu timnya dengan mata berkaca-kaca, lalu bergegas membereskan setumpuk dokumen setebal bantal ke dalam tas ranselnya.
Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah kasur asrama yang hangat dan tidur tanpa gangguan selama dua hari penuh.
Lin Xiao berjalan keluar dari gedung fakultas. Udara dingin langsung menampar wajahnya. Ia mendongak, dan matanya membelalak takjub.
Titik-titik putih yang sangat lembut perlahan turun dari langit abu-abu Beijing. Salju pertama tahun ini.
Mahasiswa di sekitarnya mulai berhenti berjalan, mengeluarkan ponsel untuk memotret momen magis tersebut. Lin Xiao tersenyum tipis, merapatkan syal abu-abu di lehernya. Ia mengambil ponsel, berniat memotret salju itu untuk dikirimkan pada Lu Feng. Sejak malam pertengkaran dan tangisan mereka di depan asrama sebulan yang lalu, komunikasi mereka jauh lebih membaik, meski frekuensi bertemu masih sangat jarang.
Namun, sebelum kamera ponselnya terbuka, sebuah bayangan tinggi menghalangi pandangannya dari belakang. Sebuah mantel panjang berbahan wol berwarna hitam pekat tiba-tiba disampirkan menutupi bahu dan tubuh Lin Xiao yang mungil, memberikan kehangatan yang instan.
Aroma mint dan maskulin yang sangat familiar langsung menyergap indra penciumannya.
"Selamat atas kemenanganmu, Nona Pengacara," bisik sebuah suara berat dan serak tepat di telinga kanannya.
Lin Xiao berbalik dengan cepat. Jantungnya berdetak kencang. Lu Feng berdiri di sana, mengenakan *turtleneck* putih yang dibalut kemeja flanel tebal. Rambut hitam cowok itu sedikit dihiasi serpihan salju putih, matanya yang sayu menatap Lin Xiao dengan senyum yang luar biasa lembut.
"Lu Feng!" seru Lin Xiao, refleks menabrakkan dirinya ke dada cowok itu. Ia mengabaikan tatapan beberapa teman jurusannya. "Kamu... bagaimana kamu tahu jadwalku selesai jam segini? Bukannya hari ini kamu ada *meeting* final dengan investor?"
Lu Feng membalas pelukan itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Lin Xiao. "Udah kelar dari jam dua tadi. Pendanaan putaran seri A gue tembus, Xiao. Perusahaan aman buat dua tahun ke depan, dan gue udah bisa narik napas."
Lin Xiao mendongak, matanya berbinar cerah melupakan rasa lelahnya. "Benarkah?! Ya ampun, Lu Feng, itu luar biasa! Aku sangat bangga padamu!"
"Gue jauh lebih bangga sama lo. Juara satu nasional, *not bad* buat pacar seorang berandal," goda Lu Feng, mengusap hidung Lin Xiao yang mulai memerah karena kedinginan menggunakan ibu jarinya. "Karena kita berdua sama-sama lagi ngerayain kemenangan, hari ini gue mau nyulik lo."
Lin Xiao mengernyit bingung. "Menculikku? Ke mana? Ini sedang turun salju, di luar dingin sekali."
Lu Feng tidak menjawab. Cowok itu hanya meraih tangan Lin Xiao, menyelipkannya ke dalam saku mantel wol hitam yang kini dipakai cewek itu—memastikan tangan mereka berdua bertaut hangat di dalam saku.
Lu Feng menuntun Lin Xiao berjalan keluar dari area kampus, menuju sebuah kompleks apartemen tua namun bersih yang berjarak sekitar lima belas menit berjalan kaki dari Universitas Beijing.
Mereka menaiki lift hingga ke lantai enam. Lin Xiao masih diliputi kebingungan saat Lu Feng berhenti di depan pintu bernomor 604, mengeluarkan sebuah kunci perak, dan membuka pintu itu.
"Masuk, Yang," ucap Lu Feng, mendorong pintu lebar-lebar.
Lin Xiao melangkah ragu ke dalam. Itu adalah sebuah apartemen tipe studio yang sangat kecil. Hanya ada satu ruangan yang berisi kasur lantai berukuran *queen*, sebuah meja lipat kecil di atas karpet berbulu warna abu-abu, sebuah televisi flat yang menempel di dinding, dan sebuah dapur mini di sudut ruangan. Meski sempit, tempat itu terasa luar biasa hangat, bersih, dan... nyaman.
Di atas meja lipat itu, terdapat sebuah vas kecil berisi setangkai mawar merah segar.
Lin Xiao berbalik menatap Lu Feng yang sedang melepas sepatunya di pintu masuk. "Lu Feng... tempat siapa ini?"
"Tempat gue," jawab Lu Feng santai, menutup pintu. "Gue baru tanda tangan kontrak sewa kemarin. Uang mukanya gue bayar pakai gaji pertama gue yang akhirnya bisa cair setelah pendanaan masuk. Gue resmi pindah dari sofa bau kaus kaki di kantor inkubator itu."
Mata Lin Xiao membulat. Ia menatap ke sekeliling ruangan kecil itu lagi. Ini bukan sekadar apartemen sewaan. Ini adalah hasil keringat, darah, dan kurang tidur pacarnya selama berbulan-bulan. Ini adalah 'rumah' pertama yang berhasil Lu Feng bangun dengan tangannya sendiri di ibu kota yang kejam ini.
Lu Feng berjalan mendekat, melepas syal dan mantel dari tubuh Lin Xiao, lalu menggantungnya di dekat pintu.
"Selamat datang di *basecamp* baru kita, Ketua Kelas," ucap Lu Feng, merangkul pinggang Lin Xiao dari belakang, menaruh dagunya di bahu cewek itu. "Lo orang pertama dan satu-satunya yang punya akses ke sini. Kalau lo lagi capek sama asrama, kalau lo butuh tempat buat nangis, atau cuma butuh tempat buat tidur seharian tanpa diganggu tugas... pintu ini selalu kebuka buat lo."
Lin Xiao tidak bisa menahan senyumnya. Matanya memanas. Ia berbalik di dalam pelukan Lu Feng, berjinjit, dan mengecup rahang cowok itu dengan lembut.
"Apartemennya sangat nyaman," bisik Lin Xiao tulus. "Terima kasih, Lu Feng. Aku sangat menyukainya."
"Gue seneng kalau lo suka," balas Lu Feng, mengecup kening Lin Xiao perlahan. "Sekarang, karena pacar gue ini pasti kelaparan setelah sidang seharian, saatnya koki eksekutif turun tangan."
Lu Feng melepaskan pelukannya, menggulung lengan kemeja flanelnya, dan berjalan menuju dapur mini. Lin Xiao duduk di atas karpet berbulu, melipat kakinya, dan memperhatikan punggung lebar Lu Feng yang sedang sibuk memotong daun bawang dan merebus air.
Setengah jam kemudian, suasana studio kecil itu dipenuhi aroma gurih kaldu.
Lu Feng membawa sebuah panci kecil berisi mi instan kuah pedas lengkap dengan telur setengah matang, potongan sosis, dan sayuran segar ke atas meja lipat. Ia juga membawa dua cangkir teh hijau hangat.
Mereka duduk berhadapan di atas karpet. Di luar jendela, salju pertama masih turun dengan lebat, menutupi atap-atap kota Beijing. Namun di dalam sini, semuanya terasa begitu hangat dan intim. Tidak ada restoran mewah, tidak ada pakaian mahal, hanya dua orang yang sedang saling menyembuhkan lelah setelah berperang melawan kerasnya dunia.
Lin Xiao meniup kuah mi itu dan menyesapnya. Rasa hangat dan pedas langsung menjalar ke perutnya yang kosong. "Enak sekali," gumamnya, matanya berbinar puas.
Lu Feng tersenyum menopang dagu, menatap Lin Xiao makan dengan rakus namun tetap terlihat menggemaskan. "Pelan-pelan makannya. Gue nggak bakal minta kok."
Setelah panci mi itu bersih tak bersisa, Lin Xiao bersandar kekenyangan di dekat bantal kasur. Televisi dibiarkan menyala menayangkan film komedi lama dengan volume rendah sebagai latar suara.
Lu Feng ikut berbaring di karpet, berbantalkan paha Lin Xiao. Cowok itu memejamkan matanya, menikmati usapan lembut jemari Lin Xiao di rambut hitamnya. Rasa lelah yang menggunung selama sebulan terakhir rasanya lenyap tak berbekas hanya dengan sentuhan sederhana ini.
"Capek ya?" tanya Lin Xiao pelan, terus menyisir rambut Lu Feng dengan jari-jarinya.
"Dulu iya," gumam Lu Feng dengan mata masih terpejam. "Sekarang udah hilang."
Lin Xiao tersenyum tipis. "Liburan musim dingin ini, kamu tidak pulang ke Jiangcheng?"
Lu Feng membuka matanya, mendongak menatap wajah Lin Xiao dari bawah. "Gue nggak bisa, Xiao. Perusahaan lagi fase krusial buat ekspansi. Gue harus *standby* di Beijing nyari gudang baru. Lo sendiri... bokap nyokap lo pasti nyuruh lo pulang, kan?"
Raut wajah Lin Xiao sedikit meredup. Ia mengangguk. "Ibuku sudah membelikan tiket kereta cepat untuk lusa. Aku akan berada di Jiangcheng selama tiga minggu penuh."
Keheningan melingkupi mereka berdua. Tiga minggu tanpa bertemu, di saat mereka baru saja menemukan waktu untuk kembali bersama, terasa seperti hukuman yang berat.
Lu Feng tiba-tiba bangkit dari posisinya. Ia duduk bersila menghadap Lin Xiao, menatap cewek itu dengan serius. Tangan besarnya meraih tangan kanan Lin Xiao.
"Xiao," panggil Lu Feng pelan.
"Ya?"
Cowok itu merogoh saku kemeja flanelnya. Ia mengeluarkan sebuah cincin perak yang sangat sederhana, tanpa berlian mencolok, hanya memiliki ukiran daun ginkgo kecil yang melingkar membentuk cincin. Pasangan dari kalung yang ia berikan saat malam perpisahan SMA.
Mata Lin Xiao membelalak kaget. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Lu Feng... ini..."
"Bukan cincin lamaran, jangan panik dulu," kekeh Lu Feng pelan, meski telinganya sendiri sedikit memerah karena gengsi. "Ini cuma... cincin janji. *Promise ring*."
Lu Feng memegang jari manis kanan Lin Xiao, dan dengan hati-hati menyelipkan cincin perak itu ke sana. Ukurannya pas dengan sempurna.
"Gue sadar, ke depannya kita bakal sering pisah karena kesibukan masing-masing. Lo dengan ambisi firma hukum lo, dan gue dengan ambisi perusahaan gue," ucap Lu Feng, suaranya memberat, mengunci pandangan Lin Xiao. "Tiga minggu di musim dingin ini bakal jadi simulasi pertama kita. Bakal ada saat di mana kita jarang ngobrol, jarang ketemu, dan mungkin kita bakal berantem lagi karena capek."
Lu Feng mengusap cincin perak di jari Lin Xiao dengan ibu jarinya, lalu menatap cewek itu dengan ketulusan yang luar biasa dalam.
"Tapi setiap kali lo ngerasa capek, setiap kali lo ngerasa dunia lo berantakan, atau setiap kali lo mulai ngerasa *insecure* soal hubungan kita... gue mau lo lihat cincin ini, Xiao. Gue mau lo inget, kalau di ujung kota Beijing, atau di ujung dunia mana pun gue berada, cowok berandal yang dulu sering tidur di belakang bangku lo itu... lagi kerja mati-matian buat ngebangun masa depan yang ada elo di dalamnya."
Air mata haru seketika menetes dari pelupuk mata Lin Xiao. Hatinya serasa meleleh seperti salju yang tersiram air hangat. Cincin di jarinya terasa sedikit dingin, namun makna di baliknya membakar seluruh keraguan di hatinya.
"Kamu ini selalu saja tahu cara membuatku menangis," isak Lin Xiao pelan, memukul bahu Lu Feng dengan tangan kirinya yang bebas, lalu menubrukkan dirinya ke pelukan cowok itu.
Lu Feng tertawa lepas, merengkuh tubuh mungil pacarnya dan merebahkan diri ke belakang hingga mereka berdua berbaring di atas karpet berbulu. Lu Feng menarik selimut tebal dari atas kasur, menutupi tubuh mereka berdua.
Di luar jendela apartemen kecil itu, salju pertama masih turun memutihkan ibu kota. Namun di dalam pelukan Lu Feng, Lin Xiao memejamkan matanya, merasakan damai yang tak ternilai harganya. Mereka tahu masa depan tidak akan mudah, namun dengan cincin janji yang kini melingkar di jarinya, Lin Xiao yakin, cinta masa muda mereka tidak akan pernah membeku oleh musim sedingin apa pun.