Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos galak
Keributan di lobi kantor itu sampai ke telinga Kaivalya yang di datangi Langit karena urusan Dark Dragon, malam ini akan ada balapan tapi yang turun bukan Kaivalya, melainkan Liandanu putra dari Liam. Diandra juga tahu dari Langit karena saat Langit masuk ke ruangan Kaivalya, Diandra sedang berada di sana membahas undangan pernikahan yang akan di hadiri Kaivalya nanti malam.
"Aku pergi dulu ya adik ipar, kalian berdua yang anteng deh, ini sudah jam pulang kantor, segera ke butik urus pakaian untuk menghadiri undangan itu" pamit Langit
"Bang Langit juga ke sana kan?" tanya Kaivalya
"Iya, tapi Ola sudah menyiapkan semuanya makanya Abang mau pulang" jawab Langit
"Ya sudah sana pulang" balas Kaivalya membuatnya di tatap sinis Langit yang langsung pergi setelah mengedipkan matanya pada Diandra.
"Jangan tergoda, dia sudah punya istri, anak dan cucu" ucap Kaivalya
"Saya tahu pak, kan cucunya juga teman para keponakan saya" jawab Diandra
"Kamu sudah siapkan pakaian saya untuk ke acara resepsi itu?" tanya Kaivalya
"Sudah pak, semuanya sudah di siapkan tinggal langsung di pakai, ada di ruang istirahat bapak" jawab Diandra
"Kamu mau ikut?" tanya Kaivalya datar
"Hah...." Diandra seperti biasa hanya akan bengong setiap kali Kaivalya mengajaknya atau bertanya padanya mau ikut atau tidak, karena merasa tidak mungkin seorang Kaivalya mengajaknya, dan pasti hanya bercanda.
"Ya sudah kalau tidak mau cepat pulang sana, ngapain kamu berdiri di sini, mau lihat saya pakai baju?" tanya Kaivalya
"Eh... nggak ko, kalau begitu saya pamit pak, ini juga kado yang minta anda siapkan untuk acara malam ini" jawab Diandra menyimpan paper bag berisi kado pernikahan untuk kedua mempelai.
"Saya permisi pulang pak"
"Hati hati kamu di culik, sepertinya mantan pacar kamu itu belum menyerah, kalau dia ada di depan pos satpam, kamu balik lagi ke sini saja" ucap Kaivalya
"I.. iya pak, saya di jemput papa" jawab Diandra
"Baguslah, cepat keluar sana" jawabnya ketus
"Ya Allah luaskan hatiku" batin Diandra memelas
"Kenapa minta di luaskan hati? kamu mau menerima jadi istri kedua mantan pacar kamu itu?" tanya Kaivalya tiba tiba.
Diandra lupa dengan kemampuan Kaivalya yang bisa membaca isi hati orang, dia lalu menatap Kaivalya yang sedang menunggu jawaban darinya dengan wajah datar. Diandra hanya bisa tersenyum canggung karena tidak mungkin dia mengatakan kalau dia ingin di luaskan hati supaya sabar menghadapi sifat bos galaknya itu.
"Tidak pak, saya berdo'a supaya hati saya di luaskan karena teman teman saya sudah menikah sementara saya masih jomblo di usia dua puluh dua tahun, sangat menyedihkan" jawab Diandra tersenyum canggung
"Kamu menyindir saya?" tanya Kaivalya datar
"Tidak"
"Keluar"
"Pak saya benar benar tidak menyindir bapak, bapak jangan salah faham"
"Kamu bilang jomblo di usia kamu itu menyedihkan, lalu bagaimana dengan saya, kamu berarti sedang menyindir saya, keluar sana, besok kamu datang pukul enam pagi, siapkan kopi dan sarapan untuk saya, itu hukuman karena kamu sudah menyindir saya!" ucap Kaivalya menuntun Diandra keluar dan menutup pintu ruangannya.
Tok. Tok. Tok.
"Pak, jangan hukum saya pak, saya besok pagi mau ke tempat saudara saya pak, mau mengucapakan selamat ulang tahun" panggil Diandra terus mengetuk pintu ruangan Kaivalya tapi tidak di pedulikan.
Akhirnya Diandra pulang dengan perasaan kesal lagi karena ulah bosnya itu, ayahnya Deril Satria Alamsyah sampai tertawa melihat wajah memelas Diandra yang masuk ke dalam mobilnya sambil mengumpat terus menerus.
"Sudah sabar, anggap ini pengalaman untuk menjadi seorang istri" bujuk Deril
"Apa sih papa, nggak ada hubungannya jadi sekertaris sama jadi istri, jauh banget bedanya, kalau istri mah harusnya selalu bahagia" gerutu Diandra
"Sama nak, sekertaris kan tugasnya mengurus jadwal atasan, memastikan atasannya mengerjakan semua pekerjaan dengan baik, membantu mengatur pertemuan, mengurus makanan dan juga tempat meeting, bahkan kadang kamu mewakili Kaivalya presentase juga kan, sama saja dengan tugas istri beratnya" jawab Deril
"Tapi pa, mana ada istri yang kuat dengan kelakuan suaminya kalau modelannya kaya pak Kaivalya begitu, jahat dan kejam" ucap Diandra
"Itu cara dia untuk mendisiplinkan kamu, buktinya sekarang kamu selalu bangun pagi, sarapan tepat waktu, semua kebiasaan buruk kamu hilang dalam tujuh bulan ini" ucap Deril
"Diandra nggak punya kebiasaan buruk ya" gerutu Diandra
"Kamu itu karena sejak kecil di klaim sebagai saudara kembarnya Althaf membuat kalian jadi mirip perangko, kemana mana berdua bahkan saat Althaf patah hati dan berhenti kuliah, kamu juga hampir saja ikut berhenti kuliah kalau tidak di larang ayahnya Althaf, kamu juga sering bangun siang dulu, shalat selalu nanti nanti, sekarang kamu semuanya tepat waktu apalagi ibadah, itu artinya Kaivalya bawa pengaruh baik untuk kamu, malah minta resign" cibir Deril
"Papa nggak ngerti perasaan Diandra"
"Papa ngerti ko, ngerti banget malahan"
"Ish..." kesal Diandra memilih untuk melihat ke arah jalan saja.
••••••••••••
Di tempat Kaivalya, dia sedang menatap pantulan wajahnya di cermin. wajah itu adalah wajah orang yang dia panggil Daddy selama ini, tapi isi kepalanya terus memikirkan kejadian saat dia kerasukan sosok bernama Rajasa yang mengaku sebagai ayah kandungnya, itu membuat Kaivalya merasa bimbang apakah dia akan tetap mempertahankan nama Rajasa atau tidak.
"Kamu anak Daddy, dan selamanya kamu adalah anak Daddy, tidak akan ada yang berubah Kaivalya"
Itu adalah kata kata Sagara yang begitu dia ingat saat dirinya ingin melakukan tes DNA dengan Sagara, tapi Sagara menegaskan kalau Kaivalya adalah anak kandungnya dan tidak perlu di lakukan tes DNA, cukup dia melihat dirinya di pantulan cermin sudah menunjukkan kalau dirinya adalah anak Sagara seratus persen dengan wajah yang identik dengan Sagara Danendra.
"Kai" panggil Andromeda dan Altair kakak Kaivalya
"Kalian sudah siap?" tanya Kaivalya
"Sudah, ayo berangkat , mommy dan Daddy katanya langsung ke sana dengan istri kami" jawab Altair
"Ayo, Kai juga sudah siap" jawab Kaivalya merangkul dua abangnya itu.
"Bersiaplah, kamu akan di serbu para ibu ibu di sana" ucap Andromeda
"Orang tampan memang selalu jadi rebutan" jawab Kaivalya sombong
"Dasar, padahal sama karyawan dingin dan galak, tapi sama keluarganya dia manja" ledek Altair
"Kan bungsu, harus di manja" jawab Kaivalya mengedipkan matanya.