NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Bayangan yang Mengintai

Di kediaman Klan Zhao, di sisi lain Kota Perbatasan Utara, seorang pemuda berlari terengah-engah memasuki ruang utama, wajahnya pucat pasi.

"Tuan Muda Zhao Feng! Ada... ada sesuatu yang harus Anda dengar!"

Zhao Feng—kakak tertua Zhao Yan, dan penerus sah Klan Zhao—meletakkan cangkir tehnya dengan malas. "Bicara."

Pemuda itu, salah satu mata-mata rendahan yang biasa disewa untuk mengawasi Klan Lin, menceritakan semua yang ia curi dengar di Halaman Belakang—tentang Tetua Qing, tentang pecahan pedang kuno bernama Penakluk Fajar, dan tentang nama yang diucapkan Lin Mu sendiri: Ye Xuan, Dewa Pedang Sembilan Langit.

Ruangan itu hening sesaat, lalu Zhao Feng tertawa keras. "Dewa Pedang? Legenda yang bahkan kakekku anggap dongeng anak kecil untuk menakuti murid malas? Dan kau percaya begitu saja pada ocehan seorang sampah cacat yang baru saja dipukuli adikku sendiri?"

"T-tapi Tuan Muda, Tetua Qing sendiri yang—"

"Tetua tua itu sudah pikun," potong Zhao Feng, meski nada suaranya sedikit goyah. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, berpikir. Sekalipun ia tak sepenuhnya percaya, ada satu hal yang tak bisa ia abaikan: adiknya sendiri melaporkan bahwa Lin Mu—pemuda yang bahkan tak sanggup membuka satu meridian penuh sepanjang hidupnya—berhasil menahan pukulan pedang kayu dengan tangan kosong tanpa terluka.

Itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh "keberuntungan".

"Kirim Hei San," katanya akhirnya, suaranya berubah dingin. "Bukan untuk membunuh—cukup untuk menguji seberapa jauh 'kebangkitan' sampah itu sebenarnya. Kalau memang hanya gertakan kosong, biar ia dihajar sampai tak bisa bangun lagi malam ini juga sebagai peringatan terakhir. Kita tidak bisa membiarkan aib ini terus bicara sembarangan tentang legenda yang bisa mempermalukan Klan Zhao lebih jauh."

Malam itu, jauh dari mata siapa pun, Lin Mu berdiri di tengah kebun obat Halaman Belakang, mengikuti instruksi Tetua Qing yang duduk mengawasi dari batu besar sambil menyesap teh.

"Napas Fondasi Sembilan Aliran hanyalah pintu masuk," kata Tetua Qing. "Tapi tubuhmu sekarang bukan tubuh Dewa Pedang yang dulu. Meridianmu masih rapuh, ototmu belum terbentuk. Kau harus melatihnya seperti pemula sejati, bukan seperti seorang legenda yang mengingat segalanya."

"Aku paham," Lin Mu menjawab, meski dalam hati ia sedikit gelisah—bukan karena latihan itu sulit, tapi karena betapa lambatnya proses ini dibandingkan kemampuannya dulu. Di kehidupan lalu, ia bisa membuka satu meridian hanya dalam semalam. Kini, dengan tubuh yang nyaris hancur sejak lahir, prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan hanya untuk mencapai fondasi yang layak.

Sabar, ia mengingatkan dirinya sendiri. Gunung tertinggi pun dimulai dari tanah paling rendah.

Ia baru saja hendak mengatur napas kembali ketika telinganya—yang kini jauh lebih tajam dari sebelumnya berkat qi yang mulai mengalir sempurna—menangkap suara langkah kaki yang berusaha meredam diri di balik tembok kebun.

Tetua Qing juga merasakannya, matanya menyipit tajam ke arah kegelapan.

"Keluarlah," kata Lin Mu tenang, tanpa menoleh. "Bersembunyi di balik tembok orang lain bukan kebiasaan yang sopan."

Sosok berjubah hitam melompat turun dari tembok, mendarat tanpa suara di tengah kebun. Wajahnya tertutup kain, hanya matanya yang tampak—tajam, dingin, terlatih. Hei San, pembunuh bayaran yang biasa disewa Klan Zhao untuk urusan-urusan kotor yang tak boleh diketahui klan lain.

"Klan Zhao mengirim salam perpisahan," katanya datar, tangan kanannya sudah menggenggam belati pendek yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Tetua Qing setengah bangkit, tapi Lin Mu mengangkat tangan, menghentikannya. "Biar aku yang menangani ini, Tetua. Sudah waktunya aku tahu sejauh mana kemajuanku sebenarnya."

Hei San menyerang tanpa aba-aba, belatinya melesat lurus ke arah leher Lin Mu dengan kecepatan yang jauh melebihi kultivator pemula mana pun di kota kecil ini.

Namun bagi seseorang yang pernah menari di antara ribuan pedang selama tiga abad, kecepatan itu terasa seperti gerakan lambat yang bisa dibaca dengan mudah.

Lin Mu memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan belati itu lewat sejengkal dari lehernya, lalu menangkap pergelangan tangan Hei San dengan cengkeraman yang jauh lebih kuat dari yang seharusnya dimiliki tubuh serapuh miliknya. Ia menyalurkan sedikit qi yang baru saja ia kumpulkan malam itu—jumlahnya kecil, nyaris tak berarti dibanding kekuatannya dulu, tapi cukup untuk membuat Hei San menjerit tertahan saat pergelangan tangannya terasa seperti diremas oleh cengkeraman besi.

Belati itu jatuh berdenting ke tanah.

"Kau bukan pembunuh terlatih tingkat tinggi," Lin Mu berkata tenang, menatap mata Hei San yang mulai dipenuhi ketakutan. "Kau hanya alat murahan yang disewa untuk menakut-nakuti orang lemah. Sayangnya, malam ini kau salah sasaran."

Ia melepaskan cengkeramannya, membiarkan Hei San terhuyung mundur, memegangi pergelangan tangannya yang bengkak.

"Pulang," lanjut Lin Mu, "dan sampaikan pada Klan Zhao—siapa pun yang mengirimmu malam ini—bahwa Lin Mu yang mereka kenal sudah mati bersama pukulan kayu itu di alun-alun kemarin. Yang tersisa sekarang adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka ganggu."

Hei San tidak menunggu ucapan kedua. Ia melompati tembok dan menghilang ke dalam kegelapan malam secepat yang ia bisa.

Tetua Qing menghela napas panjang, campuran antara lega dan khawatir. "Kau baru saja mengirim pesan yang sangat jelas pada Klan Zhao, anak muda. Mereka tidak akan diam saja setelah ini."

"Bagus," Lin Mu menjawab, menatap bulan yang tergantung tinggi di langit malam, pecahan Penakluk Fajar terselip aman di balik jubahnya. "Biar mereka datang. Aku sudah cukup lama menunggu untuk kembali menajamkan taringku.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!