Di Roma, satu nama diucapkan dengan bisikan dan rasa takut: Il Macellaio. Matteo Vitalle, Don 'Ndrangheta yang berdarah dingin, sudah lama mengubur hatinya, sejak perempuan yang dicintainya lenyap tanpa jejak sembilan tahun silam.
Ribuan kilometer jauhnya, di sudut kumuh sebuah kota, Ágata berjuang mati-matian demi satu hal: mengumpulkan biaya operasi yang akan mengembalikan penglihatan putra kecilnya yang buta sejak lahir. Terdesak ke tepi jurang, ia mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya, menjual diri kepada seorang pria kaya raya. Yang tak ia duga, klien pertamanya adalah hantu dari masa lalunya sendiri, sang Don yang paling ia takuti.
Satu malam itu membuka kembali luka lama, cinta yang membara, dan sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah imperium: bocah cerdik berbola mata dua warna itu adalah darah daging Sang Jagal.
Namun bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar mati. Pengkhianat dalam keluarga, perintah pembunuhan yang tak kunjung padam, dan seorang musuh yang bersembunyi di antara orang-orang terdekat, semuanya mengintai. Untuk melindungi perempuan dan anak yang nyaris direnggut takdir darinya, Matteo siap menjungkirbalikkan dunia dan membakar siapa pun yang berani menghalangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Master Petak Umpet
Kedua bibi, Luna dan Yara, juga langsung memenangkan hati bocah itu sejak pagi. Pietro mengobrol dengan mereka dengan tenang, bercerita betapa ia suka mendengarkan kicau burung, dan menjawab semua pertanyaan dengan kelembutan yang tak seorang pun menyangka akan tampak setelah keributan tengah malam tadi.
Sampai Matteo masuk ke ruangan.
Bunyi sepatu kulit ayahnya menapak lantai kayu langsung membuat punggung Pietro menegak. Ekspresi lembut bocah itu lenyap dalam sekejap mata, berganti raut wajah masam mengunci dan tatapan penuh cemooh yang diarahkan ke sumber suara.
"Selamat pagi," ucap Matteo, berusaha menggunakan nada ramah sambil menarik kursi di samping putranya.
"Paginya tadi baik-baik saja sampai kau muncul," sembur Pietro tanpa berpikir dua kali, membanting garpunya keras-keras ke piring.
Matteo terpaku di tengah gerakan, mendengus lewat hidung sambil memandang putranya.
"Aku ini ayahmu, bocah, hormati aku."
"Kau bukan siapa-siapaku! Sudah kubilang jangan duduk dekat-dekat aku!" Pietro memalingkan wajahnya ke arah lain, merapatkan tubuhnya ke tubuh Ágata.
Matteo menatap pemandangan itu, tergoncang dan sangat frustrasi. Ia menunggu bocah itu teralih perhatiannya oleh Tante Luna, lalu menarik lengan Ágata, membawanya ke sudut ruangan.
"Kenapa dia begitu hanya padaku dan pada para pria?" tanya Matteo, suaranya rendah, tetapi sarat kepedihan yang tertahan. "Dia memperlakukan ibuku seperti ratu, sangat manis pada para bibinya, tetapi padaku dia seperti binatang liar yang waspada!"
Ágata memandang Matteo, menyilangkan lengan dan mengembuskan napas lelah.
"Dia bocah buta yang tumbuh di lingkungan berbahaya, Matteo. Anak-anak yang lebih besar mengganggunya, mencoba mencuri tongkatnya, memukulinya, dan mengejeknya karena tak bisa melihat. Pietro harus belajar membela diri sendiri. Dia tak percaya pada satu pria pun, terutama yang besar dan keras. Agresivitas adalah satu-satunya senjata yang dimilikinya untuk melindungi diri dan menyembunyikan rasa takutnya."
Matteo menelan ludah, memandang dari kejauhan ke arah putranya yang berusaha tampak tak tergoyahkan. Rasa bersalah menghunjam dalam-dalam ke dadanya, tetapi kekeraskepalaan Italianya bicara lebih lantang.
"Tak masalah, kita berangkat ke Italia hari ini," putus Matteo sambil membetulkan arloji di pergelangan tangannya. "Di Eropa ada dokter dan spesialis terbaik di dunia. Dia akan menjalani operasi di Roma dan tinggal bersamaku."
Ágata melangkah maju, menatap Matteo dengan ketegasan mutlak.
"Kami tak akan pergi ke mana pun, Matteo! Hidupku dan hidup Pietro ada di sini, di Amerika. Dia sudah terbiasa dengan dokter-dokter di New York, seluruh rencana perawatannya sudah tersusun di sini, dan aku tak akan mencabut anakku dari lingkungannya untuk kubawa ke tengah mafiamu!"
Pietro, yang mendengar semuanya dengan pendengaran tajamnya, melompat berdiri dari meja, meraih tongkat yang bersandar di kursi.
"Aku tak mau pergi ke Italia mana pun!" teriak bocah itu, suaranya menggema di seluruh ruangan hingga membuat Tomasso dan Júlia berhenti mengobrol. "Aku tetap bersama ibuku! Kalau kau coba membawaku, akan kugigit bahumu yang sebelah lagi lalu kulompat dari pesawat!"
"Kau tetap harus ikut!" bentak Matteo, melangkah lebar-lebar menghampiri putranya. "Aku Don keluarga ini dan kau seorang Vitalle! Kau pergi ke mana pun yang kuperintahkan!"
"Don apaan! Kau cuma pria menyebalkan berjas!" balas Pietro sambil menggebukkan ujung tongkatnya keras-keras ke kaki Matteo. "Coba paksa aku, biar kau lihat!"
"Aduh! Sialan, bocah!" Matteo menarik kakinya, memandang tak percaya pada putranya sementara Lorenzo, di kejauhan, menyembunyikan wajahnya di balik saputangan agar tak terpingkal keras-keras.
"Cukup, Matteo!" teriak Ágata, maju di depan putranya dan mendorong dada Matteo ke belakang. "Kau tak berhak memerintah kami! Pietro tetap di sini dan aku tetap bersamanya!"
Ruang makan itu berubah menjadi medan perang sejati, dengan Pietro kecil menggeram dari balik punggung Ágata dan Matteo yang murka, menyadari bahwa untuk pertama kalinya seumur hidup, ia bertemu seseorang yang kepalanya lebih keras darinya, dan orang itu baru berusia sembilan tahun.
Meja sarapan masih diselimuti atmosfer yang berat. Matteo menatap piringnya dengan wajah masam, sementara Pietro dengan tenang menghabiskan kunyahan panekuknya.
Dengan gerakan penuh perhitungan dan tanpa sepatah kata pun, bocah itu bangkit dari kursi. Ágata, yang mengenal setiap embusan napas putranya, hanya menyeruput kopinya panjang-panjang, mengamati dalam diam. Ia tahu persis apa yang akan Pietro lakukan dan tak menggerakkan satu otot pun untuk mencegahnya.
Namun Júlia memperhatikan gerak-gerik cucunya dan tersenyum penuh sayang.
"Mau ke mana, Cucuku?" tanya sang nenek.
"Mau ke kamar mandi, Nenek," jawab Pietro dengan suara manis yang terdengar seperti malaikat kecil yang polos.
Ia meraba meja, mengambil tongkatnya, dan berjalan dengan langkah ringan menuju lorong utama. Ia membelok di tikungan dan lenyap dari pandangan semua orang.
Sepuluh menit berlalu, lalu lima belas. Ketika jam menunjukkan tiga puluh menit sejak Pietro pergi, kecurigaan Matteo berubah menjadi kepanikan. Ia mendorong kursinya ke belakang, bunyi gesekan logam di lantai menarik perhatian Tomasso dan Lorenzo.
"Dia terlalu lama," geram Matteo, bangkit berdiri.
Ia mendatangi suite tamu, memeriksa semua kamar mandi di lantai dasar, naik ke lantai dua, menggeledah lorong-lorong sayap barat, dan akhirnya kembali ke ruang makan dengan wajah pucat pasi, keringat dingin mengalir di dahinya.
"Dia menghilang!" seru Matteo, suaranya nyaris gagal dalam campuran keputusasaan dan kejut. "Aku sudah menggeledah seluruh lantai! Bocah itu lenyap begitu saja, tak ada di kamar mandi mana pun!"
Yang mengejutkan Matteo dan membuat seisi keluarga Vitalle terperangah, Ágata malah melepas tawa pendek dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menuang lagi jus untuk dirinya.
"Dia melakukannya karena memang mau," ucap Ágata dengan ketenangan yang menjengkelkan. "Aku sudah terbiasa, Matteo. Kau hanya akan menemukan Pietro kalau dia memang ingin ditemukan."
Matteo menatap wanita itu, tak percaya, merasakan urat di dahinya menonjol.
"Apa maksudmu?! Bocah itu buta, berada di properti raksasa yang tak dikenalnya, penuh penjaga bersenjata, dan kau tak berbuat apa-apa?!"
"Aku sudah terbiasa dengan dia yang kabur, dengan dia yang berkelahi di jalanan dan bersembunyi dari semua orang," jawab Ágata tanpa kehilangan sikap tenangnya. "Pietro mengenal tubuh dan batas kemampuannya sendiri lebih baik daripada siapa pun di antara kita. Makin kau mengejarnya seperti orang gila, makin dia bersembunyi darimu."
Tak sabar dengan ketenangan Ágata, Matteo membalikkan badan dan memulai operasi pencarian sungguhan. Berjam-jam lamanya, ia menyisir properti keluarga Wisbech. Ia memeriksa balik semak-semak labirin taman, mengecek sayap medis, gudang-gudang, garasi SUV, bahkan ruang-ruang penyimpanan di bawah tanah. Seluruh mansion seolah menelan bocah itu bulat-bulat.
Malam turun menyelimuti Long Island, dan Matteo sudah nyaris ambruk oleh serangan saraf, siap memerintahkan para prajurit 'Ndrangheta menutup semua jalan tol negara bagian.
Saat itulah ia melintasi lorong lantai dasar dan mendengar bunyi desis samar dari arah dapur. Aroma khas mentega yang meleleh dan bumbu di udara membuat sang Don terpaku di tempat.
Ia mendorong pintu kayu itu perlahan dan tercekat di ambang pintu.
Pietro ada di sana. Bocah itu telah menyeret sebuah bangku kayu tinggi ke dekat kompor industri berbahan baja antikarat. Ia berdiri di atas bangku itu, memegang spatula silikon di satu tangan dan wajan di tangan lainnya, mengaduk telur dengan kelincahan dan keluwesan yang mengesankan. Bunyi desis api kecil menjadi pemandunya, dan aromanya memberitahunya tepat pada tingkat kematangan masakan.
Pemandangan putranya yang berusia sembilan tahun, buta, berjinjit di atas bangku di dekat kobaran api terbuka, membuat darah Matteo membeku ngeri.
"Pietro! Kau sudah gila?!" teriak Matteo, menyerbu masuk dapur dengan langkah lebar dan mematikan tungku kompor dalam sekali sentak cepat, menarik wajan itu menjauh. "Apa yang kaulakukan bermain-main dengan api?! Kau bisa terbakar habis!"
Pietro tak berkedip sedikit pun, ia memutar wajah ke arah suara ayahnya yang murka, memegang spatula seolah itu senjata dan menyilangkan lengan lainnya dengan lagak menyebalkan.
"Aku ini buta, bukan bodoh!" balas Pietro, suara tajamnya menggema di dapur yang luas. "Aku sudah bisa membuat telur orak-arik sendiri sejak umur tujuh tahun!"
"Kau anak berusia sembilan tahun dan tak seharusnya bermain-main dengan kompor tanpa ada orang dewasa di dekatmu, apalagi di rumah orang!" bentak Matteo sambil menunjuk kompor. "Aku menghabiskan seharian penuh mencarimu seperti orang gila di seluruh properti! Di mana kau bersembunyi?!"
Pietro melempar senyum meledek, mendongakkan dagu dan membetulkan posisinya di atas bangku.
"Aku di loteng lantai atas, berbaring di atas tumpukan karpet tua. Aku dengar kau lari kesana-kemari dan meneriakkan namaku sekitar dua puluh kali. Lumayan menghibur."
Matteo mengusap wajahnya dengan tangan, menarik napas dalam-dalam agar tak meledak.
"Kau bocah paling keras kepala dan paling berbahaya yang pernah kutemui seumur hidupku. Mulai hari ini akan ada pengawal yang mengikutimu dua puluh empat jam sehari!"
"Aku tak butuh pengawal, apalagi kau yang menyuruh-nyuruhku," Pietro turun dari bangku dengan lompatan mulus, menapak mantap ke lantai dan meraih piring yang sudah berisi roti panggang. "Aku punya kebebasan untuk melakukan apa pun yang kumau. Sekarang kembalikan telurku, aku lapar!"