Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Langkah Kecil yang Kembali Dimulai
Hari-hari setelah aku ke taman itu pelan-pelan mulai terasa nggak seberat sebelumnya. Aku nggak bilang rasa sakitnya hilang begitu aja. Masih ada, kadang muncul tiba-tiba pas aku lihat sesuatu yang ngingetin aku sama dia. Tapi rasanya sekarang aku udah bisa bawa rasa itu tanpa harus berhenti napas kayak minggu-minggu pertama. Kayak ada luka yang lagi sembuh, bekasnya tetap ada, tapi lukanya nggak lagi berdarah setiap kali aku bergerak.
Kadang pas malam menjelang aku masih buka kotak peninggalannya. Nggak setiap hari, cuma kalau aku merasa rindu terlalu berat buat dipendam sendirian. Aku baca surat-suratnya pelan-pelan, satu per satu, nggak buru-buru kayak pertama kali. Setiap kali selesai baca, aku taruh lagi di tempatnya, tarik napas dalam, lalu tidur. Bima nggak mau aku terus-terusan sedih kan? Dia sendiri yang bilang aku harus hidup sebaik mungkin. Jadi aku coba, pelan-pelan aja, nggak perlu terburu-buru.
Suatu pagi aku bangun dan merasa ada yang beda. Matahari masuk lewat celah tirai jendelaku terasa lebih hangat dari biasanya. Aku berdiri, membuka jendela lebar-lebar, menghirup udara pagi yang masih segar banget. Burung-burung bunyi di luar, orang-orang mulai sibuk beraktivitas, dan untuk pertama kalinya sejak dia pergi, aku nggak merasa tersisih dari dunia ini. Aku merasa aku juga bagian dari semuanya, dan aku juga punya jalan yang harus kutempuh.
Hari itu aku putuskan buat mulai nulis lagi. Dulu aku suka nulis, sebelum semuanya terasa berat dan aku berhenti tanpa sadar. Aku ambil buku catatan baru yang halamannya masih putih bersih dan kosong. Duduk di meja belajarku, memegang pulpen lama banget sebelum akhirnya menulis kalimat pertama.
"Ada orang yang datang ke hidupmu cuma sebentar, tapi dia mengubah cara kamu melihat dunia selamanya. Bima adalah orang itu buat aku."
Aku berhenti di situ, baca kalimat itu berulang kali. Rasanya aneh banget menulis namanya tanpa merasa nyeri yang tajam. Masih ada rindu, tapi rindu itu sekarang terasa lembut, bukan menyakitkan. Lalu aku tulis lagi, lebih lama kali ini. Aku cerita soal pertemuan pertama kita di taman, soal pesan-pesan kecil di sela halaman buku, soal senyumnya yang selalu tenang walau dia sedang menanggung hal terberat seorang diri. Aku tulis semuanya dengan jujur, nggak menyembunyikan betapa sakitnya kehilangan dia, tapi juga nggak lupa menuliskan betapa bahagianya aku pernah dicintai sedemikian tulus.
Siang harinya aku keluar rumah buat ke kampus. Jalan kaki ke halte terasa biasa aja kali ini. Aku lihat orang-orang lewat, masing-masing punya urusan, masing-masing punya cerita. Ada ibu yang dorong kereta bayi sambil tersenyum ke anaknya, ada mahasiswa yang lari sedikit karena takut telat, ada penjual yang menata dagangannya dengan sabar. Semua hal kecil yang dulu jarang aku perhatikan sekarang terasa berarti banget. Bima pernah bilang kan kalau setiap orang yang kita temui itu punya cerita yang nggak kalah penting dari cerita kita sendiri. Sekarang aku benar-benar ngerti maksudnya.
Pas pulang aku mampir ke kedai kecil di pinggir jalan, tempat yang dulu pernah aku ceritakan ke Bima. Aku beli minuman dingin, duduk sebentar di bangku luar kedai sambil lihat kendaraan lewat. Rasanya dia duduk di sebelahku, diam aja, ikut menikmati sore tanpa perlu banyak ngomong. Aku senyum sendiri. Orang mungkin pikir aku aneh, tapi aku tahu dia di sini, bukan sebagai bayangan yang bikin takut, tapi sebagai kenangan yang menenangkan.
Beberapa hari kemudian Rian datang ke rumahku. Aku kaget pas lihat dia berdiri di depan pintu. Kita nggak pernah ngobrol banyak sebelumnya, cuma waktu dia kasih kotak itu ke aku. Dia kelihatan agak canggung, tangan dia genggam tas ranselnya erat-erat.
"Boleh aku masuk sebentar? Nggak lama kok," katanya pelan, matanya nggak berani menatapku langsung.
Aku mengangguk dan mempersilakan dia duduk di teras depan. Kita duduk diam sebentar, sampai Rian menghela napas panjang lalu mulai cerita.
"Aku sebenarnya takut ketemu kamu. Takut kamu tanya hal yang aku nggak tahu harus jawab gimana. Tapi aku pikir kamu berani tahu semuanya. Bima sering cerita soal kamu ke aku. Dia nggak pernah kasih tahu di mana taman itu atau siapa nama lengkap kamu, tapi dia cerita ada seseorang yang bikin hari-harinya terasa lebih ringan. Dia bilang kamu alasan dia mau bertahan lebih lama dari yang dokter prediksikan. Dia berjuang bukan cuma buat dirinya, tapi buat bisa ketemu kamu sekali saja. Itu impian terbesarnya, dan dia berhasil."
Air mataku menetes pelan, tapi kali ini aku nggak menyekanya. "Aku tahu. Dia berhasil sampai Rian. Dia sampai di tempat yang paling penting."
Rian mengangguk, matanya juga berkaca-kaca. "Dia orang paling baik yang aku kenal. Selalu mikirin orang lain dulu baru dirinya sendiri. Bahkan waktu dia sakit parah, dia masih kirim pesan buat nanya aku udah makan atau belum. Rasanya nggak adil dia yang pergi duluan kan? Dunia ini kadang nggak masuk akal."
"Nggak masuk akal emang," jawabku pelan. "Tapi aku bersyukur aku pernah ketemu dia. Walaupun sebentar, dia ngajarin aku banyak hal yang mungkin nggak akan aku pahami seumur hidup kalau nggak pernah ketemu dia."
Rian tersenyum sedih, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku sketsa tua yang warnanya udah pudar. "Ini milik Bima. Dia suka menggambar waktu dia merasa sakit atau sedih. Aku pikir ini seharusnya sama kamu."
Aku terima buku itu dengan hati yang berdebar. Saat aku buka halaman pertamanya, ada gambar bangku kayu di bawah pohon besar. Di bangku itu ada siluet cewek yang sedang membaca buku. Di sudut bawah tertulis tulisan tangannya yang aku kenal baik: "Tujuanku. Selamanya."
Halaman-halaman berikutnya penuh dengan gambar tempat-tempat yang pernah dia impikan untuk kita kunjungi bersama. Pemandangan dari atas bukit, pantai dengan ombak yang tenang, jalan setapak di antara kebun bunga. Semua tempat yang pernah dia ceritakan sore-sore di taman itu, dia gambar dengan begitu teliti dan penuh harapan seolah dia yakin suatu hari nanti kita benar-benar akan ke sana bersama-sama.
"Makasih Rian. Ini hadiah terindah yang pernah aku terima," ucapku tulus sambil memeluk buku sketsa itu di dada.
Rian berdiri dan menepuk pelan bahuku. "Jangan pernah merasa sendirian ya. Kalau butuh teman ngobrol atau teman jalan, aku ada. Bima pasti mau aku jaga kamu dari jauh."
Setelah Rian pergi aku duduk sendirian memandangi gambar-gambar itu lama banget. Dia sudah merencanakan semuanya dalam kepalanya. Dia sudah melihat masa depan yang nggak sempat dia jalani. Dan saat itulah aku memutuskan sesuatu. Aku nggak akan membiarkan impiannya hilang begitu saja. Kalau dia nggak bisa ke tempat-tempat itu bersamaku, aku akan pergi ke sana untuk kita berdua. Aku akan melihat pemandangan itu dengan mataku sendiri, dan di setiap tempat yang aku kunjungi, aku akan bercerita padanya. Bukan sebagai orang yang berduka, tapi sebagai orang yang melanjutkan perjalanan atas nama cinta yang tulus.
Malam itu aku tulis di akhir buku catatanku yang baru:
"Hari ini aku sadar, perjalanan Bima mungkin selesai, tapi perjalanan kita belum sepenuhnya berakhir. Aku akan pergi ke tempat yang kamu impikan Bima. Aku akan melihat apa yang kamu lihat, merasakan apa yang kamu rasakan. Satu langkah untukku, satu langkah untuk kita. 38.000 langkahmu sudah selesai, tapi langkahku baru saja dimulai. Dan kamu akan selalu berjalan di sampingku, di setiap langkah yang kuambil."
Aku menutup bukuku, tersenyum ke arah jendela yang menampilkan langit malam bertabur bintang yang terang. Di mana pun kamu sekarang, aku harap kamu tenang. Aku baik-baik saja. Aku mulai lagi. Pelan-pelan, tapi pasti.