Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.
Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.
Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.
Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.
Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Pelit?"
Raka mengulang kata itu seolah itu hinaan dalam bahasa asing.
"Aku sudah membayar utang-utang judimu yang terkutuk, semua kesenanganmu di setiap negara yang kamu putuskan untuk kaukunjungi, begitu pula kesenangan kakakmu dan perhiasan yang sekarang kamu pakai... Kalau itu yang kamu sebut pelit, Kirana, aku tak mau membayangkan seperti apa kemurahan hati menurutmu."
Aku menyilangkan tangan dan memandang ke luar jendela untuk menyembunyikan rasa frustrasiku... Ia benar... Tapi pisah harta. Di duniaku, kalau kamu membunuh pemimpinnya, harta karunnya jadi milikmu, tapi di sini aturannya lebih... membosankan.
Tapi kalau ada satu hal yang kupelajari sebagai Laras, itu adalah kalau rampasan tak diberikan padamu, kamu yang menciptakannya.
"Terserah kamu saja."
Jawabku acuh tak acuh.
"Kita lihat saja apakah kamu berubah pikiran di sisa waktu pernikahan kita."
Mobil berhenti di depan gerbang besi megah yang terbuka secara otomatis.
Kami memasuki jalan yang diapit pohon-pohon yang dipangkas dengan sempurna, sampai muncul di hadapan kami sebuah bangunan dari batu dan kaca yang membuatku kehilangan napas.
Bangunan ini lebih besar daripada mansion adipati mana pun yang pernah kujarah, dan begitu indah.
"Kita sampai."
Kata Raka sambil turun dari mobil sebelum Santo sempat memutar untuk membukakan pintunya.
Aku melakukan hal yang sama dan turun dari kendaraan, merasakan tatapan setidaknya lima orang yang berjajar di depan pintu utama.
"Para pelayan rumah tangga."
Gumamku, dan wajah mereka tak menunjukkan kegembiraan, melainkan ketegangan yang bisa diiris dengan pisau.
"Selamat datang di rumah, Nyonya."
Kata seorang perempuan tua dengan rambut disanggul begitu ketat sampai seolah menarik seluruh pikirannya, suaranya datar, dingin, dan profesional.
"Terima kasih..."
Aku mencari-cari namanya dalam ingatanku.
"Bu Marni."
Perempuan itu mengerjap terkejut karena aku mengingat namanya tanpa membentaknya.
Tanpa berkata lagi aku masuk ke dalam mansion, dan kemewahannya langsung menghantamku... Lantai marmer yang berkilau bagai cermin, lampu-lampu kristal yang menggantung dari langit-langit, dan karya-karya seni yang, meski aku tak begitu paham, menguarkan bau uang.
Aku menatap lantai lekat-lekat untuk memastikan apakah bisa dicungkil... Tak ada yang tahu kapan aku terdesak dan membutuhkannya... Lebih baik aku berhenti berpikir soal itu.
"Di mana barang-barangku?"
Tanyaku sambil berbalik ke arah Raka yang memandangiku dari kaki tangga.
"Di kamarmu yang biasa, di ujung lorong sebelah kanan... Jauh dari kamarku, seperti yang kita sepakati setelah... insiden terakhirmu."
"Sempurna."
Aku tersenyum bahagia... Jarak menguntungkanku untuk merencanakan langkah-langkahku.
"Bu Marni, siapkan air mandi untukku, dan pakai banyak busa seperti yang kulihat di televisi."
Aku menaiki tangga dengan langkah mantap, merasakan mata Raka menancap di punggungku, tapi itu tak penting sekarang.
Saat tiba di kamarku, kubuka pintunya dan aku hampir mundur karena ngeri... Semuanya serba merah muda... Dengan bulu-bulu, bantal-bantal berkilau, dan foto-foto Kirana di mana-mana... Baunya seperti parfum manis yang menyengat.
"Betapa buruknya selera perempuan ini."
Bisikku sambil menutup pintu di belakangku, lalu memandang ke segala arah sambil menggeleng berulang kali.
"Apa ia mengira dirinya anak kecil? Selera yang sungguh menjijikkan."
Aku mendekati lemari besar itu dan membukanya, hati-hati kubuka sambil menatap ribuan gaun, tas, dan sepatu.
Aku tersenyum penuh niat jahat... Raka bilang harta kami terpisah, tapi semua yang ada di kamar ini secara teknis milikku.
"Baiklah, Raka... Kamu bilang tak akan memberiku satu rupiah pun."
Kataku sambil mengambil sebuah tas kulit buaya yang pasti bernilai selangit.
"Tapi kamu tak mengatakan apa pun soal menjual barang-barang mewah perempuan ini."
Kalau kontrak berakhir setahun lagi dan aku tak punya uang, aku harus menciptakan dana daruratku sendiri. Dan adakah cara yang lebih baik daripada memakai kelebihan milik bangsawan dungu ini?