Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Novia Dan Laura Mulai Memanas 16.
Riuh kantin SMA Pelita Bangsa mendadak seperti disedot ruang hampa.
Semua mata tertuju pada meja pojok dekat stan jus buah.
Novia bisa merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menghantam rongga dadanya dengan brutal.
Laura masih membungkuk, jemari lentiknya yang mengenakan kuteks merah muda kini memungut kotak makan biru langit yang terbalik.
Matanya menyipit, menelusuri huruf 'R' kecil yang diukir menggunakan spidol permanen di sudut wadah plastik itu.
"Inisial R," gumam Laura, suaranya pelan tapi terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Novia.
Laura menegakkan tubuh, menatap Novia dengan senyum miring yang sarat akan intimidasi.
"Sejak kapan nama bokap lo diawali huruf R, Novia? Setahu gue, nama ayah lo itu Baroto."
Novia mengepalkan tangan di balik rok abu-abunya. Keringat dingin mulai keluar di tengkuknya. "Bukan urusan lo. Balikin kotak makan gue."
"Gue cuma penasaran," Laura melangkah satu tapak lebih dekat, parfum vanilla menyengat miliknya beradu dengan hawa tegang di udara. "Minggu lalu gue nemu pin OSIS Reyhan di meja lo. Pagi ini, Reyhan datang telat dengan tangan dibalut perban. Dan sekarang... lo bawa bekal dengan kotak makan yang persis punya Reyhan. Lo pikir gue buta?"
"Laura, lo kalau mau bikin teori konspirasi mending join klub mading aja deh!" Caca menukas emosi, pasang badan di depan Novia. "Banyak kali orang yang punya kotak makan kayak gitu! Merek pasaran!"
"Tapi enggak dengan spidol permanen yang agak luntur di pojok kanan bawah itu, Caca," potong Laura tajam, matanya tak lepas dari Novia yang mendadak kelu. "Gue sering nemenin Reyhan rapat OSIS sampai malam. Gue tahu betul barang-barang dia."
Darah Novia terasa berhenti mengalir. Logika di kepalanya berputar cepat mencari alasan, tapi tatapan tajam Laura seperti mengunci semua ruang geraknya.
Rasa bersalah karena telah menumpahkan makanan buatan Reyhan—yang dimasak dengan tangan terluka demi dirinya—kini bercampur aduk dengan rasa takut rahasia pernikahan mereka terbongkar. Dada Novia sesak, seperti dihimpit batu besar.
Sebelum ketegangan itu meledak di tengah kantin, sebuah suara bariton yang familier memecah kerumunan.
"Ada apa ini?"
Reyhan berdiri di sana. Seragam OSIS-nya masih serapi tadi pagi, namun tatapan matanya yang dingin langsung menyapu area sekitar. Kehadirannya seketika membuat para siswa yang menonton langsung pura-pura sibuk dengan mangkuk bakso masing-masing.
Laura menoleh, ekspresi judesnya instan berubah menjadi manis yang dibuat-buat. "Rey! Ini... Novia sama temennya. Mereka naruh bekal sembarangan sampai tumpah kena sepatu gue. Terus pas gue tanya baik-baik, mereka malah nyolot."
Reyhan tidak langsung merespons. Matanya melirik nasi goreng yang berserakan di lantai, lalu beralih ke kotak makan biru di tangan Laura.
Sudut matanya berkedut samar saat melihat hasil kerja kerasnya tadi pagi berakhir menjadi sampah, tapi cowok itu dengan cepat menguasai emosinya. Wajahnya kembali sedatar tembok.
Terakhir, Reyhan menatap Novia. Ada jeda dua detik di mana sepasang manik mata mereka bertemu. Novia menatapnya dengan pandangan terluka dan bersalah, sementara Reyhan hanya menatapnya kosong, seolah mereka adalah dua orang asing yang tidak sengaja berpapasan. Tatapan asing itu, entah kenapa, membuat hati Novia berdenyut perih.
"Itu kotak makan gue," ucap Reyhan datar, sukses membuat Laura dan Caca terperangah.
"Hah? Kok bisa di Novia?" tanya Laura, suaranya mulai meninggi karena cemburu.
"Dia yang minjem kemarin buat wadah properti bakti sosial OSIS yang belum dibersihin," dusta Reyhan tanpa berkedip. Nada suaranya begitu meyakinkan, tipe suara Ketua OSIS yang tidak pernah bisa dipertanyakan kredibilitasnya. "Gue gak tahu kalau malah dipakai buat bawa makanan hari ini. Lagian, itu kotak makan udah lama hilang di ruang OSIS."
Reyhan mengulurkan tangan kirinya yang bebas dari perban, merebut kotak makan itu dari genggaman Laura dengan gerakan sekali sentak. "Lain kali kalau ada masalah internal, selesaikan di luar jam istirahat. Bikin macet jalan kantin aja. Dan lo, Novia... bersihin lantai ini sekarang. Gue gak suka area sekolah kotor."
Kalimat terakhir Reyhan terdengar begitu dingin dan mengintimidasi. Novia menggigit bibir dalamnya kuat-kuat hingga terasa anyir.
Dia tahu Reyhan sedang berusaha menyelamatkan rahasia mereka, tapi mendengar cowok itu memerintahnya seperti pembantu di depan umum tetap saja menorehkan luka kecil di hatinya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Reyhan berbalik dan berjalan pergi, memasukkan kotak makan kosong itu ke dalam tas rajutnya yang disampirkan di bahu kiri.
"Tuh, denger kan? Bersihin!" cibir Laura puas, merasa menang angin setelah mendapat pembelaan tak langsung dari Reyhan. Dia mengibaskan rambutnya dan melenggang pergi diikuti kedua anteknya.
Novia menghela napas berat. Dia berlutut, mengabaikan tatapan kasihan dari Caca, dan mulai memunguti sisa-sisa nasi goreng yang sudah kotor dengan tisu. Air matanya hampir runtuh, bukan karena gengsi harus membersihkan lantai, tapi karena dia gagal menghargai niat baik Reyhan pagi ini.
**
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, membawa kelegaaan bagi sebagian besar siswa, tapi tidak bagi Novia. Sepanjang sisa pelajaran, fokusnya benar-benar pecah. Pikiran tentang tatapan Laura dan sikap dingin Reyhan terus berputar layaknya kaset rusak.
Setelah memastikan Caca pulang duluan dengan jemputannya, Novia berjalan gontai menuju toilet perempuan di dekat lab biologi yang biasanya sepi saat pulang sekolah. Dia butuh membasuh wajahnya yang terasa gerah dan kusut.
Di depan cermin toilet, Novia menyalakan keran, menampung air dingin dengan kedua tangannya lalu membasuhkannya ke wajah. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung matanya menghitam karena kurang tidur semalam akibat mengobati tangan Reyhan yang terkena pecahan kaca.
Cklek.
Pintu utama toilet ditutup rapat dari dalam. Terdengar suara grendel pintu yang digeser, mengunci ruangan itu dari dunia luar.
Novia menegang. Dia mematikan keran dan menoleh cepat.
Laura berdiri di sana, bersandar pada daun pintu yang sudah terkunci dengan tangan terlipat di dada.
Senyum kemenangan yang tadi sempat hilang di kantin, kini kembali terukir di wajahnya.
Kali ini, tidak ada Reyhan yang bisa menginterupsi. Tidak ada Caca yang akan membela.
Suasana toilet yang lembap dan dingin mendadak terasa mencekik.
"Mau lari ke mana lagi lo sekarang, Novia?" tanya Laura, suaranya menggema rendah di antara dinding-dinding keramik toilet. Dia berjalan pelan, langkah sepatunya terdengar intimidatif. "Tadi di kantin, Reyhan mungkin bisa bikin cerita karangan yang bagus tentang baksos. Tapi gue gak sebodoh itu untuk percaya."
Novia memundurkan langkahnya hingga pinggulnya terbentur pinggiran wastafel yang dingin. "Gue gak punya waktu buat ngeladenin drama lo, Laura. Buka pintunya, gue mau pulang."
"Pulang ke mana? Ke rumah lo... atau ke tempat di mana Reyhan juga pulang?" tembak Laura telak, matanya berkilat tajam memedot ruang privasi Novia.
Jantung Novia mencelos. Rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat di bawah karpet, kini rasanya siap ditarik paksa ke permukaan.
......................
...****************...
Tbc,