NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: tamat
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

benci jadi cinta (bab 8) di ambang batas

Pintu ruang gawat darurat tertutup rapat di hadapannya. Lampu merah yang menyala di atas pintu itu seakan menatapnya dengan dingin, menegaskan satu hal yang tak bisa dia bantah — dia tak berdaya.

Marco berdiri mematung di sana. Bahunya yang selalu tegap kini terkulai lemas. Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bengkak, tatapannya kosong menatap pintu yang tak terbuka itu. Anak buahnya yang datang berdiri berjarak tak berani bersuara. Tidak ada yang berani mendekat. Tidak ada yang berani menatap mata pemimpin mereka yang kini tampak hancur berkeping-keping.

Jam berdetak. Menit terasa seperti jam. Setiap detik berlalu seperti siksaan yang tak berujung. Marco berjalan mondar-mandir dengan langkah berat, lalu berhenti mendadak, mencengkeram rambutnya dengan kasar, lalu meninju dinding di sebelahnya — sekali, dua kali — hingga buku-buku jarinya memerah dan berdarah. Rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibandingkan rasa hancur yang menggerogoti dadanya.

"Sabar, Marco... Yuna pasti kuat..." Yona mencoba menenangkan, suaranya sendiri pun bergetar dan penuh air mata.

Marco menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak jatuh. "Kuat? Dia di dalam sana berjuang mempertahankan nyawanya, dan aku di sini... tidak bisa melakukan apa-apa. Aku Qing yang ditakuti semua orang, tapi aku tidak berdaya menyelamatkan satu-satunya orang yang paling berarti bagiku." Suaranya pecah, lalu dia menunduk menutup wajah dengan kedua tangannya. "Ini hukuman untukku, bukan? Aku terlalu berdosa, jadi Tuhan ingin mengambilnya dariku."

"Tidak! Jangan bicara begitu!" Jisoo memegang bahunya, berusaha tegar. "Yuna berjuang untukmu. Dia rela mengorbankan nyawanya untukmu. Kalau dia tahu kamu menyerah sekarang, dia pasti sedih. Bertahanlah untuknya, Marco."

Marco terdiam. Dia duduk di bangku panjang di depan pintu UGD, menumpukan kedua sikunya di lutut, menatap lantai yang dingin. Dia teringat senyum Yuna. Kelembutannya. Cara dia menatapnya seakan dia bukan sosok yang menakutkan, tapi seseorang yang berharga. Semua itu terasa begitu dekat, namun kini terasa bisa lenyap kapan saja.

Lampu merah mati. Pintu terbuka.

Dokter keluar dengan wajah lelah namun penuh kesungguhan. Marco langsung berdiri, kakinya gemetar hebat, nyaris tak sanggup menopang tubuhnya. Napasnya tertahan, dia menatap dokter itu dengan mata berdebar kencang, takut mendengar kata-kata yang akan diucapkan.

"Dokter... bagaimana istriku?" tanyanya pelan, nyaris berbisik, takut mendengar jawabannya.

Dokter menghela napas panjang dengan berat. "Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Saat ini... kondisinya sangat kritis. Tekanan darahnya masih sangat rendah, pendarahan belum sepenuhnya terkontrol. Dia sedang dalam masa kritis 24 jam ke depan. Ini saat paling menentukan. Kalau dia bisa melewati malam ini... ada harapan. Kalau tidak... kami tidak bisa menjanjikan apa pun."

Kata-kata itu menghantam Marco lebih keras dari pukulan apa pun. Dunia seakan runtuh di bawah kakinya. Dia mundur selangkah, menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

"Bolehkah aku... menemuinya?" suaranya gemetar.

"Silakan. Tapi jangan lama-lama. Bicaralah padanya. Kadang suara orang yang dicintai bisa menjadi kekuatan terbesar bagi pasien yang sedang berjuang," kata dokter lembut.

Marco melangkah masuk perlahan, seakan takut langkah kakinya yang berat saja bisa membangunkan tidur panjangnya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alat pemantau jantung yang berdetak pelan dan teratur. Yuna terbaring di sana, begitu tenang, begitu pucat. Selang terhubung ke tubuh kecilnya. Wajahnya tanpa senyum.

Marco duduk perlahan di tepi ranjang. Dia menggenggam tangan Yuna yang terasa begitu dingin dan lemah. Dia menempelkan bibirnya ke punggung tangan itu, menutup matanya rapat-rapat.

"Sayang... aku di sini..." bisiknya parau, air mata akhirnya jatuh membasahi punggung tangan Yuna. "Aku tahu kamu lelah. Tapi kumohon... jangan tinggalkan aku. Dunia ini terlalu gelap tanpamu. Kamu baru saja mengajariku arti bahagia, jangan ambil itu kembali begitu cepat."

Dia menatap wajah tenang Yuna, matanya penuh permohonan yang tak pernah dia tujukan pada siapa pun sebelumnya.

"Kamu bilang kita akan menghadapi semuanya bersama-sama. Jangan jadi yang pertama menyerah. Aku akan menunggumu di sini. Sehari, semalam, seribu malam... aku tidak akan ke mana-mana. Tapi tolong... bangunlah. Sekali saja biarkan aku melihat senyummu lagi. Itu saja yang kumohon..."

Suara alat detak jantung tiba-tiba terdengar sedikit lebih lambat dari biasanya. Marco menegang, jantungnya mau berhenti berdetak.

"Dokter! Tolong! Dia butuh bantuan!" teriaknya panik, tidak melepaskan tangan Yuna sedikit pun.

Perawat dan dokter berlari masuk kembali. Ruangan itu berubah menjadi sibuk dan tegang. Marco dipaksa keluar. Dia berdiri di balik kaca jendela, menatap ke dalam dengan napas tertahan. Dia melihat mereka berusaha menjaga nyawa wanita yang dicintainya itu. Dia melihat tubuh kecil itu terbaring tak berdaya. Dan di luar sana, dia hanya bisa berdoa — berdoa sekuat jiwanya, memohon pada Tuhan yang dulu tak pernah dia temui.

Ambilah apa pun dariku. Kekuatanku, kekayaanku, masa depanku. Tapi kembalikan dia. Biarkan dia hidup. Aku rela menukar semuanya, asalkan dia tetap bernapas di sisiku.

Malam itu adalah malam terpanjang dalam hidupnya. Malam di mana dia berdiri di ambang kehilangan terbesar, menyadari bahwa cinta terbesar sekalipun tak bisa menahan takdir sendirian. Hanya tinggal berharap... berharap cahaya kecil dalam hidupnya itu cukup kuat untuk tidak padam di tengah badai ter gelapnya.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!